Oleh: bantahansalafytobat | Januari 5, 2011

BANTAHAN TERHADAP BUKU MENITI KESEMPURNAAN IMAN KARYA HABIB MUNZIR AL-MUSAWA (BAG I: ISTIGHOTSAH)


Pendahuluan

Buku ‘Meniti Kesempurnaan Iman’ yang ditulis Habib Munzir al-Musawa adalah tulisan sanggahan terhadap karya Syaikh Abdul Aziz bin Baz berjudul ‘Benteng Tauhid’. Banyak permasalahan tauhid yang dikritik oleh Habib Munzir terhadap buku Syaikh Bin Baz tersebut, namun sebenarnya kebenaran adalah apa yang disampaikan Syaikh Bin Baz rahimahullah. Silakan disimak penjelasan berikut ini yang akan menjabarkan kesalahan-kesalahan Habib Munzir dalam bukunya tersebut. Pada bagian ini yang disoroti adalah tentang istighotsah.

Istighotsah adalah permintaan tolong kepada sesuatu untuk suatu hal yang sangat mendesak. Syaikh Bin Baz menjelaskan manhaj Ahlussunnah sebagaimana yang dipahami para Sahabat Nabi, bahwa istighotsah tidak diperbolehkan ditujukan kepada orang-orang yang sudah meninggal.

Perbedaan Orang yang Hidup dengan Orang yang Mati

Habib Munzir menyanggah pendapat Syaikh Bin Baz yang menyatakan tidak boleh berdoa atau beristighotsah kepada orang yang sudah meninggal. Habib Munzir berpendapat bahwa tidak ada bedanya antara orang yang hidup maupun yang mati.

Habib Munzir menyatakan (pada halaman 4-5):

Istighatsah adalah memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongannya, untuk sebagian kelompok muslimin hal ini langsung di vonis syirik, namun vonis mereka itu hanyalah karena kedangkalan pemahamannya terhadap syariah islam, Pada hakekatnya memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongannya adalah hal yang diperbolehkan selama ia seorang Muslim, Mukmin, Shalih dan diyakini mempunyai manzilah di sisi Allah swt, tak pula terikat ia masih hidup atau telah wafat….

Pendapat Habib Munzir ini adalah pendapat yang salah. Jika kita simak perbuatan dan penjelasan para Sahabat Nabi berdasar atsar yang shahih, niscaya kita akan dapati bahwa mereka tidak pernah beristighotsah kepada orang-orang yang sudah meninggal, bahkan terhadap Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau telah wafat. Tidak ada Sahabat Nabi yang mendatangi kuburan Nabi untuk beristighotsah terhadap hal-hal yang mereka hadapi. Jika terdapat hadits-hadits yang menunjukkan para Sahabat beristighotsah kepada Nabi yang telah meninggal, maka itu adalah hadits-hadits yang lemah atau palsu.

Para Sahabat justru meminta tolong kepada orang sholih yang masih hidup untuk berdoa kepada Allah. Mereka juga ada yang berkesempatan berziarah ke makam Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam, namun yang dilakukan hanyalah mengucapkan salam, tidak berdoa di sisi kuburnya. Sebagian keturunan Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam ada yang melihat seseorang berdoa di makam Rasulullah, kemudian melarangnya. Beberapa atsar shohih yang menunjukkan hal itu di antaranya:

    1. Umar bin alKhottob meminta kepada Abbas paman Nabi yang masih hidup untuk istisqo’ (berdoa agar Allah menurunkan hujan). Umar tidak mengajak kaum muslimin untuk beristighotsah kepada Rasulullah shollallaahu alaihi wasallam yang sudah wafat.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ إِذَا قَحَطُوا اسْتَسْقَى بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا

    ‘Dari Anas bin Malik bahwasanya Umar bin alKhottob –semoga Allah meridlainya- jika tertimpa kekeringan bersitisqo’ dengan Abbas bin Abdil Muththolib dan berkata: Ya Allah, sesungguhnya dulu kami bertawassul kepadaMu dengan Nabi kami kemudian engkau turunkan hujan, dan sesungguhnya kami (saat ini) bertawassul kepadaMu dengan paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan kepada kami’(H.R alBukhari hadits no 954 juz 4 halaman 99).
    Dijelaskan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqolaany dengan menukil penjelasan az-Zubair bin Bakkar, bahwa Abbas kemudian berdoa :

اللَّهُمَّ إِنَّهُ لَمْ يَنْزِل بَلَاء إِلَّا بِذَنْبٍ ، وَلَمْ يُكْشَف إِلَّا بِتَوْبَةٍ ، وَقَدْ تَوَجَّهَ الْقَوْم بِي إِلَيْك  لِمَكَانِي مِنْ نَبِيّك ، وَهَذِهِ أَيْدِينَا إِلَيْك بِالذُّنُوبِ وَنَوَاصِينَا إِلَيْك بِالتَّوْبَةِ فَاسْقِنَا الْغَيْث

    “ Ya Allah sesungguhnya tidaklah turun bala’ kecuali karena dosa, dan tidaklah disingkap (bala’ tersebut) kecuali dengan taubat. Dan sungguh kaum ini telah menghadapkan diri mereka kepadaMu denganku karena kedudukanku dari NabiMu, dan tangan-tangan kami itu (berlumur) dosa, sedangkan ubun-ubun kami menghadap (menuju) Engkau dengan taubat, maka turunkanlah hujan kepada kami” (Lihat Fathul Baari juz 3 halaman 443).
2. Mu’awiyah bin Abi Sufyan  meminta kepada Yazid bin al-Awsad alJurasyi  untuk berdoa agar  Allah menurunkan hujan

عن سليم بن عامر قال: خرج معاوية يستسقي، فلما قعد على المنبر، قال: أين يزيد بن الأسود ؟ فناداه الناس، فأقبل يتخطاهم. فأمره معاوية، فصعد المنبر، فقال معاوية: اللهم إنا نستشفع إليك بخيرنا وأفضلنا يزيد بن الاسود، يا يزيد، ارفع يديك إلى الله.فرفع يديه ورفع الناس فما كان بأوشك من أن ثارت سحابة كالترس، وهبت ريح، فسقينا حتى كاد الناس أن لا يبلغوا منازلهم

    “ dari Sulaim bin ‘Amir beliau berkata : Mu’awiyah keluar untuk istisqa’, ketika telah naik ke atas mimbar beliau berkata : Mana Yazid bin al-Aswad ? Maka manusiapun memanggilnya, sehingga Yazid bin al-Aswad datang menghadap, maka Mu’awiyah memerintahkan kepadanya maka ia naik mimbar. Mu’awiyah berkata : Ya Allah sesungguhnya kami meminta syafaat kepadaMu dengan manusia yang terbaik dan paling utama di antara kami Yazid bin al-Aswad. Wahai Yazid, angkat tanganmu kepada Allah. Maka Yazid mengangkat tangannya (berdoa) dan manusiapun mengangkat tangannya (berdoa). Tidak berapa lama menjadi basahlah awan bagaikan at-tirs, dan angin bertiup kencang. Maka turunlah hujan kepada kami, sampai-sampai manusia hampir-hampir tidak bisa mencapai tempat tinggalnya” (Karomaatul Awliyaa’ karya Al-Laalikaa-i juz 1 halaman 191, juga disebutkan dalam Siyaar A’laamin Nubalaa’ karya al-Hafidz AdzDzahaby juz 4 halaman 137).

Kalau kita menyebutkan contoh dari Sahabat Mu’awiyah ini, akan ada yang mencibir : ‘kok pakai contoh Mu’awiyah?’ Kemudian dia akan mencela dan mencemooh Sahabat Nabi Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Demikian jauhnya umat dari bimbingan Ulama’ Ahlussunnah sehingga demikian mudah kaum muslimin termakan syubhat kaum syiah yang menjelek-jelekkan para Sahabat Nabi, termasuk Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

Maka pada kesempatan kali ini sedikit kami akan uraikan beberapa dalil yang menunjukkan keutamaan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Mu’awiyah bin Abi Sufyan adalah salah seorang sekertaris Nabi, penulis wahyu. Dalil yang menunjukkan bahwa Mu’awiyah adalah penulis wahyu yang mendampingi Nabi adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ibnu Abbas bahwa Abu Sufyan meminta 3 hal kepada Nabi, di antaranya agar Nabi menjadikannya sebagai penulisnya dan Nabi menyanggupinya (Lihat Shahih Muslim pada Bab min Fadhaaili Abi Sufyan bin Harb radliyallahu ‘anhu’)

Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam berdoa untuk Mu’awiyah bin Abi Sufyan :

اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ هَادِيًا مَهْدِيًّا وَاهْدِ بِهِ

Ya Allah jadikanlah ia sebagai pemberi petunjuk yang mendapatkan petunjuk, dan berilah ia hidayah dengannya” (H.R atTirmidzi).

اللَّهُمَّ عَلِّمْ مُعَاوِيَةَ الْكِتَابَ وَالْحِسَابَ وَقِهِ الْعَذَابَ

“ Ya Allah ajarkanlah kepada Mu’awiyah al-Kitab, perhitungan, dan lindungilah ia dari adzab” (H.R Ahmad).

Dua contoh perbuatan Sahabat Nabi di atas menunjukkan kedalaman ilmu mereka. Mereka tahu bahwa sebenarnya meminta kepada orang yang sudah meninggal adalah terlarang. Kalau tidak terlarang, niscaya mereka lebih memilih meminta langsung kepada Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam meski beliau telah meninggal.

Siapakah yang berani meragukan kecintaan dan pengagungan para Sahabat terhadap Nabi? Demikian besarnya pengagungan dan kecintaan tersebut, sampai – sampai para Sahabat merasa sangat tidak pantas jika mereka menjadi Imam sholat dalam keadaan Rasul menjadi makmum. Sungguh indah pelajaran yang bisa diambil dari hadits Muttafaqun ‘alaih dari Sahl bin Sa’ad as-Saa’idy ketika Rasulullah pergi ke Bani ‘Amr bin ‘Auf untuk mendamaikan perselisihan di sana. Pada saat sudah masuk waktu sholat dan Rasul belum datang, para Sahabat meminta Abu Bakar menjadi Imam. Abu Bakar pun maju menjadi Imam. Ketika Rasul datang dan masuk dalam shof, para Sahabat yang menjadi makmum memberi isyarat kepada Abu Bakar agar mundur dan memberikan peluang kepada Rasul untuk maju menjadi Imam. Ketika banyak Sahabat yang memberi isyarat dengan bunyi tepukan tangan, Abu Bakr menoleh dan beliau melihat Rasul ada pada shof. Rasul sebenarnya memerintahkan kepada Abu Bakr untuk tetap menjadi Imam, tapi Abu Bakar tidak mau. Beliau mundur, agar Rasul bisa maju menggantikannya sebagai Imam. Selepas sholat, Abu Bakr ditanya oleh Nabi : ‘Wahai Abu Bakar mengapa engkau tidak tetap saja di tempatmu (sebagai Imam) ketika aku perintahkan?’ Abu Bakar menjawab :

مَا كَانَ لِابْنِ أَبِي قُحَافَةَ أَنْ يُصَلِّيَ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“ tidak sepantasnya bagi Ibnu Abi Quhaafah (Abu Bakr) untuk sholat di depan Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam” ( muttafaqun ‘alaih).

Sehingga, terbantahlah persangkaan orang yang mengatakan : Sesungguhnya para Sahabat tidaklah berdoa kepada Nabi setelah meninggalnya sekedar berpindah dari suatu hal yang utama menuju suatu hal yang boleh (tidak lebih utama). Bukankah tidak mengapa bagi Abu Bakr untuk menjadi Imam bagi Rasul karena beliau sendiri yang memerintahkan untuk tetap pada tempatnya? Tapi Abu Bakr merasa tidak pantas. Sebagaimana jika meminta doa dan beristighotsah kepada Nabi adalah disyariatkan meskipun beliau sudah meninggal, maka para Sahabat tidaklah akan berpindah meminta kepada orang lain yang masih hidup untuk berdoa, karena demikian mulyanya kedudukan Nabi bagi para Sahabatnya, mereka tidak merasa pantas mendahulukan orang lain dibandingkan Nabi Muhammad shollallaahu ‘alaihi wasallam.

3. Nabi Muhammad shollallaahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada Umar bin alKhottob dan para Sahabat yang lain agar jika bertemu dengan Uwais, hendaknya meminta kepadanya untuk memohonkan ampunan kepada Allah. Perintah Nabi ini dilaksanakan oleh Umar dengan berusaha bertemu langsung dengan Uwais dan meminta kepadanya untuk berdoa kepada Allah memohonkan ampunan. Tidak ada seorangpun dari Sahabat Nabi setelah itu sepeninggal Uwais yang memohon ampunan di dekat makam Uwais.

عَنْ أُسَيْرِ بْنِ جَابِرٍ قَالَ كَانَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ إِذَا أَتَى عَلَيْهِ أَمْدَادُ أَهْلِ الْيَمَنِ سَأَلَهُمْ أَفِيكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ حَتَّى أَتَى عَلَى أُوَيْسٍ فَقَالَ أَنْتَ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ قَالَ نَعَمْ قَالَ مِنْ مُرَادٍ ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَكَانَ بِكَ بَرَصٌ فَبَرَأْتَ مِنْهُ إِلَّا مَوْضِعَ دِرْهَمٍ قَالَ نَعَمْ قَالَ لَكَ وَالِدَةٌ قَالَ نَعَمْ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ يَأْتِي عَلَيْكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ أَمْدَادِ أَهْلِ الْيَمَنِ مِنْ مُرَادٍ ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ كَانَ بِهِ بَرَصٌ فَبَرَأَ مِنْهُ إِلَّا مَوْضِعَ دِرْهَمٍ لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ فَإِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ فَاسْتَغْفِرْ لِي فَاسْتَغْفَرَ لَهُ

Dari Usair bin Jabir ia berkata: Umar bin al-Khottob jika datang sepasukan dari Yaman akan berkata: ‘Apakah di antara kalian ada Uwais bin Amir’? (Demikian seterusnya) sampai datang Uwais. Beliau bertanya: Apakah engkau Uwais bin Amir? Ia menjawab: Ya. Umar bertanya: dari Murod, kemudian ke Qoron? Ia berkata: Ya. Umar bertanya: Apakah engkau dulu memiliki penyakit (semacam) kusta kemudian sembuh, kecuali sebesar dirham. Ia berkata: Ya. Umar bertanya: Apakah engkau memiliki ibu? Ia berkata: Ya. Umar berkata: Aku mendengar Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: Akan datang kepada kalian Uwais bin Amir bersama sepasukan penduduk Yaman dari Murod kemudian Qoron, dulunya ia memiliki penyakit (semacam) kusta kemudian ia sembuh, kecuali sebesar dirham, ia memiliki ibu yang ia berbakti kepadanya. Kalau seandainya ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah perkenankan. Jika engkau bisa meminta agar ia memohon ampunan untukmu, lakukanlah. Maka (wahai Uwais) mohonkan ampun untukku. Kemudian (Uwais memohonkan ampunan untuk Umar). (H.R Muslim).

Dalam riwayat lain, Nabi memerintahkan dengan lafadz tidak khusus untuk Umar, namun untuk Sahabat-Sahabat lain secara umum, dengan Sabda: Nabi : “perintahkanlah dia agar beristighfar untuk kalian

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ خَيْرَ التَّابِعِينَ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ أُوَيْسٌ وَلَهُ وَالِدَةٌ وَكَانَ بِهِ بَيَاضٌ فَمُرُوهُ فَلْيَسْتَغْفِرْ لَكُمْ

Dari Umar bin al-Khottob beliau berkata : sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya sebaik-baik tabi’in adalah seorang laki-laki yang disebut Uwais, ia memiliki ibu dan ia memiliki tanda putih. Maka perintahkanlah dia agar beristighfar untuk kalian (H.R Muslim).

4. Ibnu Umar hanya mencukupkan mengucapkan salam saja kepada Nabi, Abu Bakr, dan Umar ketika berziarah ke makam mereka. Tidak lebih dari itu. Beliau tidak memanfaatkan kesempatan itu untuk berdoa di dekat makam mereka.

أنه كان إذا قدم من سفر صلى ركعتين في مسجد النبي صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم ثم أتى القبر فقال : السلام عليك يا رسول الله ، السلام عليك يا أبا بكر ، السلام عليك يا أبه.

رواه مُسَدَّد ومحمد بن يحيى بن أبي عُمَر والبيهقي موقوفًا بسند صحيح

(إتحاف الخيرة المهرة 3- 259)

Bahwasanya beliau (Ibnu Umar) jika baru datang dari safar sholat 2 rokaat di masjid Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam kemudian mendatangi kuburan (Nabi) dan berkata: Assalaamu ‘alaika yaa Rasulallaah (semoga keselamatan untukmu wahai Rasulullah), assalaamu’alaika yaa Abaa Bakr (semoga keselamatan untukmu wahai Abu Bakr), assalaamu ‘alaika ya abih (semoga keselamatan untukmu wahai ayahku)(riwayat Musaddad dan Muhmammad bin Yahya bin Abi Umar dan al-Baihaqy secara mauquf, lihat Ittihaaf alkhoiroh alMahroh juz 3 halaman 259 karya Imam al-Bushiri, seorang ahlul hadits bermadzhab asy-Syafi’i).

5. Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib (cucu Ali bin Abi Tholib) melarang seorang berdoa di makam Nabi

عن علي بن الحسين أنه رأى رجلا يجئ إلى فرجة كانت عند قبر النبي صلى الله عليه وسلم فيدخل فيها فيدعو فقال ألا أحدثك بحديث سمعته من أبي عن جدي عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : (لا تتخذوا قبري عيدا ولا بيوتكم قبورا وصلوا علي فإن صلاتكم تبلغني حيثما كنتم(

“ dari ‘Ali bin Husain bahwasanya ia melihat seorang laki-laki mendatangi sebuah celah dekat kuburan Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam kemudian ia masuk ke dalamnya dan berdoa. Maka Ali bin Husain berkata: ‘Maukah anda aku sampaikan hadits yang aku dengar dari ayahku dari kakekku dari Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: ‘Janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai ‘ied, dan jangan jadikan rumah kalian sebagai kuburan. Dan bersholawatlah kepadaku karena sholawat kalian akan sampai kepadaku di manapun kalian berada’ (diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnaf-nya(2/268), dan Abdurrozzaq dalam mushonnaf-nya juz 3 halaman 577 hadits nomor 6726).

Hadits tersebut dihasankan oleh al-Hafidz As-Sakhowy (murid Ibnu Hajar al-‘Asqolaany). Silakan dilihat pada kitab al-Qoulul Badi’ fis Sholaati ‘ala habiibisy Syafii’ halaman 228.

Perlu dicermati bahwa Ali bin Husain bin Ali bin Abi Tholib adalah cucu Ali bin Abi Tholib dan tidak lain adalah cicit Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam. Beliau adalah keturunan langsung Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam.

Secara umum, alQur’an telah mengisyaratkan perbedaan keadaan orang yang hidup dengan orang yang mati:

وَمَا يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ (19) وَلَا الظُّلُمَاتُ وَلَا النُّورُ (20) وَلَا الظِّلُّ وَلَا الْحَرُورُ (21) وَمَا يَسْتَوِي الْأَحْيَاءُ وَلَا الْأَمْوَاتُ إِنَّ اللَّهَ يُسْمِعُ مَنْ يَشَاءُ وَمَا أَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَنْ فِي الْقُبُورِ (22)

Tidaklah sama antara orang buta dengan orang yang melihat(19) Tidak pula sama kegelapan dengan cahaya (20) Tidak pula naungan dengan sesuatu yang panas (21) Dan tidak sama antara orang yang hidup dengan orang yang mati. Sesungguhnya Allah memperdengarkan kepada orang –orang yang dikehendakiNya, dan tidaklah engkau mampu memperdengarkan kepada orang yang berada di (alam) kubur(22)(Q.S Fathir :19-22).

Jika kita simak tafsir alBaghowy (salah seorang Imam yang bermadzhab asy-Syafi’i) akan kita dapati penjelasan bahwa dalam ayat tersebut Allah mempermisalkan keadaan orang yang beriman dengan orang kafir seperti orang yang hidup dengan orang mati. Orang kafir tidak akan bermanfaat dakwah dan nasehat kepadanya, sebagaimana orang-orang yang telah dikubur tidak akan bisa menjawab (seruan).

Berdalil dengan Permintaan Syafaat kepada Nabi-Nabi Hari Kiamat

Habib Munzir juga menyanggah penjelasan Syaikh Bin Baz dengan dalil permintaan syafaat orang-orang pada hari kiamat ke para Nabi. Bermula dari Nabi Adam, kemudian Nuh, dan seterusnya hingga Nabi Muhammad shollallaahu ‘alaihi wasallam.

Habib Munzir menyatakan (halaman 6-7):

Rasul saw memperbolehkan Istighatsah, sebagaimana hadits beliau saw: “Sungguh matahari mendekat di hari kiamat hingga keringat sampai setengah telinga, dan sementara mereka dalam keadaan itu mereka beristighatsah (memanggil nama untuk minta tolong) kepada Adam, lalu mereka beristighatsah kepada Musa, Isa, dan kesemuanya tak mampu berbuat apa apa, lalu mereka beristighatsah kepada Muhammad saw” (Shahih Bukhari hadits no.1405), juga banyak terdapat hadits serupa pada Shahih Muslim hadits No.194, shahih Bukhari hadits No.3162, 3182, 4435, dan banyak lagi hadist–hadits shahih yang Rasul saw menunjukkan ummat manusia beristighatsah pada para Nabi dan Rasul, bahkan Riwayat Shahih Bukhari dijelaskan bahwa mereka berkata pada Adam, Wahai Adam, sungguh engkau adalah ayah dari semua manusia.. dst.. dst…

Dan Adam as berkata: “Diriku..diriku.., pergilah pada selainku.., hingga akhirnya mereka berIstighatsah memanggil–manggil Muhammad saw, dan Nabi saw sendiri yg menceritakan ini, dan menunjukkan beliau tak mengharamkan Istighatsah.

Maka hadits ini jelas-jelas merupakan rujukan bagi istighatsah, bahwa Rasul saw menceritakan bahwa orang-orang beristighatsah kepada manusia, dan Rasul saw tidak  mengatakannya syirik, namun jelaslah Istighatsah di hari kiamat ternyata hanya untuk Sayyidina Muhammad saw. (selesai perkataan Habib Munzir).

Pernyataan Habib Munzir di atas sebenarnya tidak tepat jika digunakan untuk menyanggah penjelasan Syaikh Bin Baz. Sebab, hadits tersebut adalah dalil bolehnya meminta tolong kepada seorang yang masih hidup yang hadir di dekat kita. Dalam hal ini Syaikh Bin Baz tidak mengingkari kebolehan meminta tolong atau beristighotsah kepada seorang yang masih hidup dan dipandang mampu untuk memberikan pertolongan saat itu.

Syaikh Bin Baz menyatakan:

Adapun meminta tolong kepada seseorang yang masih hidup serta hadir untuk melakukan seseuatu yang dalam batas kemampuannya, tidaklah termasuk perbuatan syirik. Akan tetapi itu merupakan hal–hal biasa yang boleh dilakukan sesama kaum muslimin, sebagaimana yang diabadikan Allah dalam kisah Nabi Musa.

“Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan orang yang dari  musuhnya” QS. Al Qashash : 15. (Selesai penjelasan Syaikh Bin Baz, dinukil dari buku yang sama halaman 1).

Hal yang dilakukan oleh orang-orang pada hari kiamat tersebut adalah mereka mendatangi Nabi-Nabi yang dipandang mampu memberikan syafaat, mendekatinya dan berbicara di hadapannya. Bukannya memanggil-manggil nama Nabi-Nabi tersebut dari kejauhan dan tidak terlihat atau Nabi itu berada di alam lain. Berbeda dengan seorang yang beristighotsah di makam Nabi, pada saat mereka di alam dunia, sedangkan Nabi-Nabi itu telah berada di alam barzakh. Jelas hal demikian tidak diperbolehkan. Telah lewat penjelasan tentang tidak diperbolehkannya hal tersebut sebagaimana para Sahabat Nabi tidak ada yang melakukannya. Juga telah dijelaskan di atas bahwa cucu Ali bin Abi Tholib sendiri mengingkari perbuatan seorang yang berdoa di sisi makam Nabi Muhammad shollallaahu ‘alaihi wasallam.

Sehingga, Habib Munzir dalam hal ini telah menyanggah tulisan Syaikh Bin Baz dengan pendalilan yang tidak pada tempatnya.

Kesalahan dalam Berhujjah dengan Hadits yang Sangat Lemah

Habib Munzir menyatakan (halaman 7):

Demikian pula diriwayatkan bahwa dihadapan Ibn Abbas ra ada seorang yang keram kakinya, lalu berkata Ibn Abbas ra: “Sebut nama orang yang paling kau cintai..!”, maka berkata orang itu dengan suara keras.. : “Muhammad..!”, maka dalam sekejap hilanglah sakit keramnya (diriwayatkan oleh Imam Hakim, Ibn Sunniy, dan diriwayatkan oleh Imam Tabrani dengan sanad hasan) dan riwayat ini pun diriwayatkan oleh Imam Nawawi pada Al Adzkar.

Jelaslah sudah bahwa riwayat ini justru bukan mengatakan musyrik pada orang yang memanggil nama seseorang saat dalam keadaan tersulitkan, justru Ibn Abbas ra

yang mengajari hal ini (selesai perkataan Habib Munzir).

Kisah tentang seorang yang kram kakinya kemudian diminta untuk menyebut nama orang yang paling dicintai, dalam hal ini Habib Munzir berdalil dengan hadits yang sangat lemah. Hadits tersebut adalah:

وعن مجاهد قال: خدرت رِجْلُ رَجُلٍ عند ابن عباس رضي الله عنهما فقال له ابن عباس: اذكر أحب الناس إليك. فقال: محمد ( فذهب خدره، فأخرجه ابن السني في “عمل اليوم والليلة” (169)، وفي إسناده: غياث بن إبراهيم كذبوه. قال ابن معين: كذاب خبيث

Dari Mujahid ia berkata: Kaki seorang laki-laki kram ketika ia berada di sisi Ibnu Abbas, kemudian Ibnu Abbas berkata: Sebutlah (nama) orang yang paling kamu cintai. Kemudian orang itu berkata:’ Muhammad’. Maka sembuhlah orang itu dari kramnya. (Diriwayatkan oleh Ibnus Sunni dalam amalul yaum wallailah).

Hadits ini tidak bisa dijadikan sebagai hujjah, karena di dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama Ghoyyats bin Ibrohim. Ia adalah perawi yang pendusta. Imam Ahmad bin Hanbal berkata: Ghoyyats bin Ibrohim matrukul hadits, manusia (Ahlul hadits) meninggalkan hadits darinya. Yahya bin Ma’in berkata:  “Pendusta tidak bisa dipercaya” (Lihat kitab al-Jarh wat Ta’dil karya Ibnu Abi Hatim juz 7 halaman 57 no perawi 327). Sehingga tidak benar jika dikatakan bahwa sanad hadits tersebut hasan.

Berdalil dengan Kisah Tsunami Aceh

Habib Munzir menyatakan (halaman 7-8):

Kita bisa melihat kejadian Tsunami di aceh beberapa tahun yang silam, bagaimana air laut yang setinggi 30 meter dengan kecepatan 300km dan kekuatannya ratusan juta ton, mereka tak menyentuh masjid tua dan makam makam shalihin, hingga mereka yg lari ke makam shalihin selamat, inilah bukti bahwa Istighatsah dikehendaki oleh Allah swt, karena kalau tidak lalu mengapa Allah jadikan di makam–makam shalihin itu terdapat benteng yang tak terlihat membentengi air bah itu, yang itu sebagai isyarat Ilahi bahwa demikianlah Allah memuliakan tubuh yang taat pada Nya swt, tubuh tubuh tak bernyawa itu Allah jadikan benteng untuk mereka yang hidup.., tubuh yang tak bernyawa itu Allah jadikan sumber Rahmat dan perlindungan Nya swt kepada mereka–mereka yang berlindung dan lari ke makam mereka.

Kesimpulannya: mereka yang lari berlindung pada hamba–hamba Allah yang shalih mereka selamat, mereka yang lari ke masjid–masjid tua yang bekas tempat sujudnya orang–orang shalih maka mereka selamat, mereka yang lari dengan mobilnya tidak selamat, mereka yang lari mencari tim SAR tidak selamat. Pertanyaannya adalah: kenapa Allah jadikan makam sebagai perantara perlindungan-Nya swt? kenapa bukan orang yang hidup? kenapa bukan gunung? kenapa bukan perumahan?.

Jawabannya bahwa Allah mengajari penduduk bumi ini beristighatsah pada shalihin (selesai pernyataan Habib Munzir).

Dari penjelasan tersebut, Habib Munzir ingin mengajak pembaca berpikir dan mengambil pelajaran dari kisah di balik bencana Tsunami Aceh. Habib Munzir menyatakan: bagaimana air laut yang setinggi 30 meter dengan kecepatan 300km dan kekuatannya ratusan juta ton, mereka tak menyentuh masjid tua dan makam makam shalihin, hingga mereka yg lari ke makam shalihin selamat, inilah bukti bahwa Istighatsah dikehendaki oleh Allah swt, karena kalau tidak lalu mengapa Allah jadikan di makam–makam shalihin itu terdapat benteng yang tak terlihat membentengi air bah itu.

Perlu diketahui bahwa pada saat bencana Tsunami Aceh yang lalu, terdapat beberapa masjid (bukan hanya satu) yang selamat saat bangunan sekelilingnya hancur. Yang lebih perlu dicermati lagi, bangunan-bangunan tempat ibadah yang selamat saat sekelilingnya hancur ternyata bukan hanya masjid. Tapi juga beberapa gereja dan kelenteng-kelenteng. Apakah dari fenomena ini kemudian akan diambil kesimpulan bahwa tempat-tempat ibadah yang lain tersebut juga diridlai oleh Allah Subhaanahu Wa Ta’ala?

Perlu dipahami, bahwa keselamatan dari ancaman kematian bukanlah khusus untuk orang-orang yang beriman. Pada saat terjadi bencana Tsunami Aceh, sebagian orang-orang yang tidak beriman juga Allah beri kesempatan hidup. Bahkan, orang kafir yang kokoh dalam kekafirannya ada yang Allah selamatkan sebagai bentuk tipu daya dan istidraj dari Allah, kemudian ia mengira bahwa dengan sebab kekafiran tersebut ia terselamatkan. Sebaliknya, tidak sedikit orang-orang yang shalih dan beriman Allah takdirkan meninggal dengan sebab peristiwa itu.

Tidak sedikit pula orang yang Allah selamatkan di tempat-tempat yang bukan tempat ibadah. Ada yang selamat karena berpegangan dengan pohon kelapa, dan sebagainya.

Keselamatan dari kematian karena peristiwa tertentu bukanlah khusus untuk orang beriman saja. Bukankah dalam banyak pertempuran beberapa kali Nabi dan para Sahabat mengalami kekalahan. Tidak sedikit Sahabat Nabi yang Allah pilih sebagai syahid. Tidak sedikit pula dari orang musyrikin Quraisy yang berkali-kali ikut pertempuran namun terus Allah berikan kehidupan.

Hal-hal semacam itu bukanlah patokan untuk menilai apakah perbuatan itu syar’i atau tidak. Patokan utama bagi seorang muslim adalah dalil syar’i dari alQuran dan hadits yang shahih dengan pemahaman para Sahabat Nabi. Jika seorang telah mengamalkan Sunnah Nabi dengan tepat dan niat yang ikhlas kemudian dengan sebab itu Allah berikan keselamatan, maka itulah yang bisa dijadikan ibroh (pelajaran). Namun, jika seseorang sedang melakukan perbuatan yang melanggar syariat Allah dengan kemaksiatan (baik itu kesyirikan, kebid’ahan, atau dosa-dosa lain), namun justru Allah beri keuntungan-keuntungan duniawi kepadanya, maka dikhawatirkan itu  adalah istidraj.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنْ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ

“Jika engkau melihat Allah memberikan (kenikmatan) dunia kepada seorang hamba karena kemaksiatannya, dalam hal-hal yang disenangi hamba tersebut. Ketahuilah sesungguhnya itu adalah istidraj (H.R Ahmad).

(Abu Utsman Kharisman)

sumber :

http://itishom.web.id/index.php?option=com_content&view=article&id=22%3Abag-i-istighotsah&catid=1%3Aaqidah&Itemid=2

About these ads

Responses

  1. bantahan yg ilmiah..lanjutkan akh.semoga Alloh memberi taufiq.

  2. Seorang habib munzir membantah Syaikh ibn Baz….musibah..!!! siapa habib munzir,siapa syaikh bin baz.bagi para penuntut ilmu tentu tau siapa yg Ulama sebenarnya..

    • ulama yang sebenarnya adalah ulama yang memiliki sanad, mengikuti gurunya, di cintai gurunya, gurunya juga orang mulia (terkenal) dan memiliki sanad keguruan yang tidak terputus kepada para muhadisin, mufassirin, imam2 mazhab, hingga ke Rasulullah saw

      • Yup setuju mas, hanyasanya memiliki sanad keilmuan hingga ke Rasulullah pun tidak menjamin seseorg itu ma’shum. Kita lihat skrg, yg mengaku2 dan gembar gembor punya sanad itu berdalil dengan bnyk hadits dho’if bahkan hadits maudhu’!! tentunya ini sebuah kecelakaan yg besar dan musibah bagi umat. Parahnya lg ketika ada sebagian saudara2 kita berusaha menjelaskan bahwa hadits2 itu adalah dho’if/maudhu’, saudara2 kita itu malah dicerca, berbagai tuduhan pun mampir padanya diantaranya dituduh memecah belah umat, dituduh takfiri, dituduh ekstrimis. Tanya kenapa mas???

  3. Sbnrnya tidak ada batasan seseorg membantah seseorg, bahkan penuntut ilmu pun boleh membantah syaikhnya bila apa yg diutarakan syaikhnya bertentangan dengan kebenaran. Yg dilihat justru adalah isi bantahannya. Bila isi bantahannya justru malah bertentangan dengan kebenaran atau berpatokan pada hadits2 dhoif jiddan dan hadits2 palsu, ya wes ewes ewes.

  4. Jangan menilai kebenaran dari ulama, tetapi nilailah ulama itu dengan kebenaran (Imam Ali)

  5. Kalau melihat tulisan beliau ini (Habib munzir) dalam tulisannya “Kenalilah Aqidahmu” yg bisa didownload di http://www.m*j*lisrasulullah.org, kita akan melihat bahwa beliau membanggakan sanadnya yg sampai kepada imam bukhori, tetapi sangat kita sayangkan karya tulisnya tidak menunjukkan demikian… sebagaimana antum bisa lihat ketika beliau menguatkan tentang adanya BID’AH HASANAH…. wallohul musta’an

    ishbir yaa ahlussunnah innalloha ma’anaa

  6. Pengen ketawa melihat cara pendalilan Habib (palsu) Munzir emang dasar penggemar kuburan.. Alhamadulillah aku bukan “kerbau” nya Habib palsu :-D

  7. sepertinya lebih baik penulis di atas langsung bertemu muka atau berdiskusi langsung dgn habib,jadi nanti kita semua akan tahu ke ilmuan seseorang tsb, bgm punya penjelasan yg benar dr si empunya penjelasan (krn sanad keilmuan yg jelas) dan berantai, atau hanya hawa nafsu atas kedangkalan pemahaman,atau penyelewengan makna dsb,…kiranya kita2 yg awam ini Insya Allah dapat memtik hikmahnya jika hal tsb ada…

  8. orang2 seperti itu merasa dasn mengaku2 mencintai nabi, tapi mereka mengamalkan hal2 yang dilarang oleh nabi, itulah para perusak agama dengan menambah nambah agama yang sudah semepurna ini. semoga kita diberi hidayah oleh Allah. Amin

  9. Semoga Habib Munzir di beri hidayah dan taufiq oleh Allah agar diberikan pemahaman Islam yang lurus, Om Habib…Kenalilah aqidahmu…baru buat bukunya,Peace

  10. “Dari Anas bin Malik bahwasanya Umar bin alKhottob –semoga Allah meridlainya- jika tertimpa kekeringan bersitisqo’ dengan Abbas bin Abdil Muththolib dan berkata: Ya Allah, sesungguhnya dulu kami bertawassul kepadaMu dengan Nabi kami kemudian engkau turunkan hujan, dan sesungguhnya kami (saat ini) bertawassul kepadaMu dengan paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan kepada kami’(H.R alBukhari hadits no 954 juz 4 halaman 99).”
    Kata-kata “dengan Paman Nabi Kami..”, itu berarti bertawasul boleh dong mas ya ???
    Mereka berdua adalah seorang ulama, sedangkan kita apa ??? mereka saling mengkoreksi dengan ilmu, sedangkan kita dengan apa ??? rata-rata kita mengkoreksi hanya dengan nafsu dan amarah.
    Ulama sehebat apapun pastilah ada kesalahannya, sedalam apapun ilmunya pastilah ada beberapa hal yang ia tidak ketahui juga. Tapi bagaimanapun, sanad itu juga perlu. Kalulah tidak mengapa Imam Bukhari selalu menyebutkan jalur sanad Hadits yg diriwayatkannya sampai ke Rasululullah ?? Ini dimaksudkan agar orang mengetahui kalau ia tidak berbohong & agar Hadits serta keilmuannya terpercaya/dipercaya orang lain. Jalur sanad memang bukan untuk dibanggakan tapi juga perlu diberitahukan agar orang mengetahui dari mana ia mendapatkan ilmu itu. Janganlah kita berkata-kata seperti itu lagi, sedangkan kita tidak mempunyai satupun jalur sanad yang sampai ke Rasulullah.
    Berhati-hatilah dengan Hadits dhoif, karena kita bukan ahli hadits, bukanlah mustahil hadits-hadits yang sekarang dhoif, justru pada zaman tabi’in dan sahabat adalah hadits shohih, mungkin saja dikarenakan kurangnya orang yang meriwayatkan, atau lemahnya hafalan orang yang menyimpannya menyebabkan hadits itu sekarang jadi dhoif. Berapa ribu atau juta Hadits yg sekarang sudah punah?? dikarenakan tidak ada lagi yg meriwayatkan atau menghafalnya…, Imam Bukhari hafal lebih dari 700.000 Hadits Shohih pada Usia 16 tahun, tapi berapa Hadits yang mampu beliau tulis di kitab Shohih Bukhari ?? Hanya 7.000an Hadits, lalu kemana sisanya? hanya ada di hafalan murid-muridnya. Dan Muridnya pun banyak yang tidak mampu menghafal seperti beliau. Imam Ahmad bin Hambal Hafal lebih dari satu juta Hadits. Tapi berapa yg mampu beliau tulis dalam musnadnya? hanya sekitar 2.000an Hadits, kemana sisanya? hanya ada di hafalan murid-muridnya, dan sisanya lenyap musnah.
    Berapa Haditskah yang sudah kita Hafal dengan sanad atau riwayat yg sampai ke Rasulullah (Hadits Mursalsal), atau minimal dengan sanad atau riwayat yg sampai ke pengarang/penulis kitab hadits tersebut..??

    • Hadits diatas justru menjadi dalil dibolehkan meminta do’a kepada yang masih hidup dan tidak disyariatkan minta do’a dan bertawasul kpd yang sudah meninggal, meskipun kpd nabi salallahu ‘alaihis wassalam. anda perlu belajar lagi ttg ilmu hadits, knp hadits itu dikatakan shohih atau doif. para ulama seperti Imam Bukhari dll sangatlah ketat llmiyah dlm menshahihkan dan mendhoifkan hadits, apa anda mau membantah metode beliau2?
      Hadits adalah juga wahyu, dan hadits senantiasa terjaga sebagaimana Al-Qur’an terjaga. Ketika dlm ayat disebutkan Allah menjaga Al-Qur’an maka yang termasuk dalam penjagaan tsb adalah penjagaan tafsirnya. dan hadits adalah pentafsir Al-Qur’an.maka hadits juga terjaga. jika Hadits tidak terjaga maka Al-Qur’an juga tidak terjaga. siapapun yang membuat hadits palsu pasti akan ketahuan. dari zaman ke zaman ulama ahlul hadits telah meneliti dan membongkar pemalsuan hadits, memisahkan antara hadits shohih dengan dhoif untuk menjaga agama ini, untuk menjaga kemurnian agama ini, untuk menjaga pemahaman dan penafsiran Al-Qur’an dari tangan-tanganyang ingin menghancurkan islam dari dalam (pemalsu hadits). Barokallohu fiikum..

      • Saya memang bukan ahli hadits, makanya saya tidak mau sembarangan bilang hadits ini dhoif, ini palsu,dsb. Anda mengatakan ..”apa anda mau membantah metode beliau2?..”, Siapa yg berani mas ngelawan & membantah Imam Bukhari. Hadits yg beliau sampaikan sangatlah Shohih, beliau hafal 700.000 Hadits diusia belum 17 tahun, dan hanya mampu mencatat 7.000an Hadits saja di Kitab Shohihnya. Mereka lah yg berjasa menciptakan metode ilmu haits, sehingga kita bisa membedakan hadits Shohih, Dhoif, Mardud. Bahkan Imam Ibn Tabrani mengklasifikasikan lagi menjadi Hasan, Hasan Shahih. Saya sekali lagi bukanlah ahli hadits, saya tidak banyak hafal hadits seperti anda, apalagi sampai ratusan ribu hadits. Saya juga tdk memegang Hadits Mursalsal (yg mampu saya sebutkan riwayatnya sampai ke Rasulullah). Anda mungkin memiliki sanad yg samapai ke Imam Bukhari?? kalau anda tdk memilkinya lebih baik jangan meremehkan ulama-ulama yang memang memiliki & mampu menyebutkan sanad mereka yg sampai ke Imam Bukhari. dan Imam-Imam Muhaditsin lainnya.mungki

  11. Deeeuuuh Habib Palsu Mundzir al musawa as-shufi ga tobat2 dari kelakuannya kasian org awam di bohongin sama habib2 palsu model beginian..suruh cium tangannya, safari berhala kubur malam2, jualan rawi2 ga jelas tuntunanya ..yg lebih herannya koq pengikut habib palsu mundzir ini ga pada kritis ya naudzubillah

    • Thoriq , buktinya apa Jika Habib Mundzir adalah Habib Palsu….? jangan suka menuduh tanpa bukti , itu namanya Fitnah.

      • sekarang apa buktinya kalau habib beneran? terus kalau bener2 habib emang kenapa? bukankah yang mulia di sisi Allah adalah ketaqwaan, bukan gelar habib?? lagian ulama salaf seperti Imam syafii yang jelas-jelas keturunan Nabi saja tidk memakai gelar habib..?!

  12. Satu lagi Imam Bukhari bukan penyembah kubur dan tidak doyan ke kuburan untuk ibadah.. apalagi sampe tabaruk sama kuburan

    Di bohongin kalian sama Habib palsu mundzir jangankan ngaku2 sanandnya sampe Imam Bukhari bahkan sampe ke Rasulullah yang ngaku Nabi aja banyak koq Indonesia (dan pengikutnya juga banyak) bahkan ada yg ngaku Jibril hehe..

  13. @thoriq
    istighfar dan tobat lah,tak usah antum berkata2 kurang sopan habib Munzir,smp mengatakan habib palsu…dsb…
    silahkan antum atau para ustadz salafi menanyakan hal apa saja thp nya, dari sanad s/d penjelasan2 lainnya..insya Allah Beliau akan menjawabnya..
    ia tak MENYURUH cium tangan nya,tapi para muridnya lah yg ingin mencium nya,…dan Beliau juga bukan penyembah kubur…

    Apakah AKHLAK yg demikian itu yg antum dapat kan dr belajar mengaji dengan para ustadz Salafy…?? astaghfirulloh…

  14. Afwan sdr2ku, mengapa kalian begitu gampang menafikkan pendapat para imam dan muhaditssin??

    Na’uzdubillah, siapa yang kalian ikuti? berdasarkan apa pemahaman kalian?, apakah kalian mengikuti seorang yg disebut imam padahal ia tak mencapai derajat hafidh atau muhaddits?, atau hanya ucapan orang yg tak punya sanad, hanya menukil menukil hadits dan mentakwilkan semaunya tanpa memperdulikan fatwa fatwa para Imam?

    Ketahuilah, kelompok yg benar adalah pemilik ilmu, ahlussanad, mereka yg bukan menukil nukil dari buku, tapi rijalussanad, mereka telah sampai pada derajat Al Hafidh, yaitu hafal lebih dari 100 ribu hadits dg sanad dan hukum matannya.

    atau derajat Hujjatul Islam yaitu telah hafal 300 ribu hadits dg sanad dan hukum matan, seperti Imam Ghazali, Imam Nawawi, Imam Ibn Hajar,. Imam Bukhari dll.

    Cuma orang wahabi saja mendustakan Hujjatul Islam Al Ghazali, mendustakan karena bodohnya mereka terhadap sejarah dan ilmu hadits.

    lihatlah ucapan Imam Malik Rahimahullah atas orang semacam wahabi :

    Berkata Almuhaddits Hujjatul Islam Al Imam Malik rahimahullah ketika datang seseorang yg bertanya makna ayat : ”Arrahmaanu ’alal Arsyistawa”, Imam Malik menjawab : ”Majhul, Ma’qul, Imaan bihi wajib, wa su’al ’anhu bid’ah (tdk diketahui maknanya, dan tidak boleh mengatakannya mustahil, percaya akannya wajib, bertanya tentang ini adalah Bid’ah Munkarah), dan kulihat engkau ini orang jahat, keluarkan dia..!”, demikian ucapan Imam Malik pada penanya ini, hingga ia mengatakannya : ”kulihat engkau ini orang jahat”, lalu mengusirnya, tentunya seorang Imam Mulia yg menjadi Muhaddits Tertinggi di Madinah Almunawwarah di masanya yg beliau itu Guru Imam Syafii ini tak sembarang mengatakan ucapan seperti itu, kecuali menjadi dalil bagi kita bahwa hanya orang orang yg tidak baik yg mempermasalahkan masalah ini.

    Jangan kalian seperti mereka ini wahai saudaraku, segera bertaubatlah. Ingat peringatan Rasulullah ini :

    قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ(صحيح البخاري)

    Sabda Rasulullah saw :
    “Sebesar – besar kejahatan muslimin (pada muslim lainnya) adalah yang mempermasalahkan suatu hal yang tidak diharamkan, namun menjadi haram sebab ia mempermasalahkannya (Shahih Bukhari).

    Jangan kalian memisahkan diri dari jama’ah. Ketahuilah sesungguhnya kelompok Ahlussunnah waljama’ah itu mempunyai senjata ampuh dan sangat kuat. Ia adalah sanad. Ilmu yang benar harus mempunyai sanad.

    Berkata Imam Syafii radhiyallahu’anhu : orang yang mencari ilmu tanpa sanad adalah bagaikan pencari kayu bakar dimalam hari yang gelap dan membawa pengikat kayu bakar yang padanya ular berbisa yang mematikan dan ia tak mengetahuinya”, dan berkata Imam Atsauri : “Sanad adalah senjata orang mukmin, jika kau tak punya senjata maka bagaimana kau akan melawan kejahatan?”, berkata Ibnu Mubarak : “Ilmu tanpa sanad bagaikan yang menaiki loteng tanpa tangga, dan Allah telah memuliakan ummat ini dengan sanad, dan menjadikannya kekhususan diantara hamba-hamba Nya”. (Faidhul Qadir oleh Imam Abdurrauf Al Manawiy.Juz 1 hal 433)

    Maka ambillah guru yang mempunyai sanad, sanad gurunya yg bersambung kepada para Imam dan Rasul Sholallahu ‘alaihi wasallam. Jika seseorang berpedoman pada gurunya dalam hal yang ia ragukan dan tak ia fahami, maka gurunya tentunya bertanggungjawab, pun jika gurunya salah maka ia bertanggungjawab di hari kiamat.

    • ulama Ahlussunnah /salafy adalah yang paling alim tentang hadits. Hal ini bisa dibuktikan dengan banyaknya mereka menulis kitab tentang hadits, mantahqik kitab dan sebagainya. sebut saja muhaditsin abad ini Syaikh Albani beliau menulis sekian banyak kitab hadits 1. Adabuz Zifaaf fis Sunnah Muthaharrah – karangan2. Ahkaamul Janaaiz – karangan3. Irwaaul Ghalil fi Takhrij Ahaadits Manaaris Sabiil – karangan 8 jilid4. Tamaamul Minnah fi Ta’liq ‘Alaa Fiqh Sunnah – karangan5. Silsilah Ahaadits Ash-Shahihah wa syai-un min fiqiha wa fawaa-iduha6. Silsilah Ahaadits Adh-Dhaifah wal Maudhuu’ah wa Atsaaruha As-Sayyi’ fil Ummah7. Shifat salat Nabi shallahu’alaihi wasallam minat Takbiir ilat Taslim kaannaka taraaha 8. Shahih At-Targhib wat Tarhiib9. Dha’if At-Targhib wat Tarhiib10. Fitnatut Takfiir11. Jilbaab Al-Mar’atul muslimah12. Qishshshah Al-Masiih Ad-Dajjal wa Nuzuul Isa ‘alaihis sallam wa qatluhu iyyahu fi akhiriz Zaman dll. karya beliau lebih dari 200 kitab dan naskah. dan ahlussunnah / salafy setiap membawakan hadits selalu menukil pendapat para ulama salaf. sebutkan contoh dimana salafy hanya mentakwil sendiri hadits-hadits?
      Sementara yg lain hanya bisa mengaku, tanpa ada buktinya. Mana bukti kitab yang mereka tulis tentang ilmu hadits jika memang mereka ahli hadits?? adakah ceramah mereka yang selalu membawakan hadits sebagai landasan ucapannya??
      kebanyakan mereka ketika berceramah miskin dalil, miskin hadits…
      Siapakah yang mendapat gelar Al hafidz ?? Apakah benar Hujatul Islam itu gelas dalam keilmuan hadits??
      Setahu ana, Imam ghozali tenggelam dalam filsafat, kemudian pindah ke tasawuf, dan hanya diakhir hayatnya beliau mulai mempelajari Shohih Bukhari muslim, tanda rujuknya beliau dari faham sufi.
      Anda telah memanipulasi / mengkorupsi perkataan Imam Malik…!!
      Perkataan Imam Malik :
      Dari Yahya bin Yahya, beliau berkata : “Ketika kami berada di sisi Malik bin Anas maka datang seorang laki-laki kemudian dia mengatakan : “Wahai Abu ‘Abdillah (kunyah Imam Malik)

      الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

      “(Rabb) Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy.” (QS. Thoha : 5)

      bagaimana istiwa` ?”. Maka Imam Malik menundukan kepalanya sampai beliau bercucuran keringat kemudian beliau mengatakan : “Al-ISTIWA’U MAKLUM (Istiwa` sudah difahami maknanya , yaitu diatas), WAL KAIFU MAJHUL (kaifiyatnya (bagaimananya) tidak diketahui WA IMANU BIHI WAJIBUN (sedangkan beriman dengannya wajib )dan WA SUALU ANHU BID’ATUN (bertanya tentangnya adalah bid’ah), dan saya tidak melihatmu kecuali seorang mubtadi’.”. Maka Imam Malik memerintahkan agar orang itu dikeluarkan.” Lihat : Syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah 2/398, Al-Asma` wa Ash-Shifat karya Al-Baihaqy 2/150-151, Ar-Rod ‘Alal Jahmiyah karya Ad-Darimy hal. 33 dan Al-‘Uluw hal. 102 dan selainnya.

      INI JUSTRU MENEGASKAN AKIDAH AHLUSSUNNAH BAHWA AHLUSSUNNAH MENETAPKAN ALLAH TA’ALA ISTIWA’ DIATAS ARSY SESUAI KEAGUNGAN DAN KEMULIAANNYA, BAGAIMANA ISTIWA’NYA ALLAH ITU TIDAK DIKETAHUI, MENGIMANINYA ADALAH WAJIB, DAN BERTANYA BAGAIMANA ISTIWA’NYA ALLAH ADALAH BID’AH …! perhatikan ini wahai ikhwan pokok akidah ahlussunnah wal jama’ah dalam akidah asma’ wa sifat. kaidah ini bisa diterapkan untuk sifat-sifat lain..

      Bicara masalah hafalan dan sanad, saya hanya akan mencontohkan seorang ulama muda Syaikh Abu ali Muhammad sulaiman Az zabidy, beliau baru berumur 28 tahun, namun sudah dipercaya menjadi Imam besar Masjid Darul hadits ma’rib Yaman. kekuatan beliau tampak dengan beliau mampu menghafal shohih bukhari dan muslim dalam Aljam’u baina shohihan yang sebanyak 6 jilid hanya dalam waktu 30 hari. selain itu beliau juga menghafal sunan abu daud. silahkan hitung sendiri berapa hadits yang beliau hafal. Selain itu beliau juga hafal Qiro’ah Asry, dan mempunyai beberapa jalur sanad bacaan. sehingga bisa memberikan sanad kepada murid beliau. itu baru ulama muda di Yaman yang beliau ini adalah murid Syaikh Abul Hasan Al Ma’ribi. Belum lagi Syaikh Amin As-Sinqity rahimahulloh yang digelari “perpustakaan berjalan” karena sangkin banyaknya kitab yang beliau hafal. Ga usah jauh2, para Ustadz salafy mereka sudah lazim jika menghafal Riyadus shalihin, Umdatul ahkam, Bulughul maram dll. Bahkan ada seorang anak seorang ustadz yang baru seusia SMA, dia ikut ayahnya mulazamah di Yaman, telah mampu menghafal Shohih bukhari dan mUslim. Maka sanad, keilmuan, dan kekuatan hafalan dari ulama salafy tidak diragukan lagi.

      HAdits yang antum bawa tidak bisa diambil kesimpulan “tidak boleh mempertanyakan ritual-ritual bid’ah yang sudah menyebar dimasyarakat, karena mempertanyakan hal yang halal menjadi haram”. ini adalah memahami hadits tidak pada tempatnya. SIAPAKAH YANG MENGATAKAN PRAKTEK RITUAL BID’AH YG TERSEBAR ITU PERKARA YANG DIHALALKAN??!. hadits tsb mengingatkan kepada sahabat agar tidak mempertanyakan sesuatu yang tidak diharamkan yang bisa berubah hukum menjadi haram karena pertanyaan. Karena memang dizaman nabi pensyariatan itu masih berjalan, hukum masih bisa berubah, ada naskh dan mansukh. maka sahabat dianjurkan tidak banyak bertanya. Namun setelah Nabi wafat maka hukum sudah jelas dan tidak akan berubah selama-lamanya hingga akhir zaman.
      Wallahu a’lam

      • copas ante asal potong sebuah kisah ulama muktabar sekelas imam Malik, cob ente perhatikan:
        “Suatu ketika kami berada di majelis al-Imam Malik, tiba-tiba seseorang datang menghadap al-Imam, seraya berkata: Wahai Abu Abdillah, ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa, bagaimanakah Istawa Allah?. Abdullah ibn Wahab berkata: Ketika al-Imam Malik mendengar perkataan orang tersebut maka beliau menundukan kepala dengan badan bergetar dengan mengeluarkan keringat. Lalu beliau mengangkat kepala menjawab perkataan orang itu: “ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa sebagaimana Dia mensifati diri-Nya sendiri, tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana, karena “bagaimana” (sifat benda) tidak ada bagi-Nya. Engkau ini adalah seorang yang berkeyakinan buruk, ahli bid’ah, keluarkan orang ini dari sini”. Lalu kemudian orang tersebut dikeluarkan dari majelis al-Imam Malik (Al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 408)”.

      • dan ini lajutannya dari serpihan kisah itu:

        “Adapun riwayat al-Lalika-i dari Ummu Salamah; Umm al-Mu’minin, dan riwayat Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman (salah seorang guru al-Imam Malik) yang mengatakan: “al-Istiwa Ghair Majhul Wa al-Kayf Ghairu Ma’qul (al-Istiwa sudah jelas diketahui dan adanya al-Kayf (sifat benda) bagi Allah adalah sesuatu yang tidak masuk akal)”, yang dimaksud “Ghair Majhul” di sini ialah bahwa penyebutan kata tersebut benar adanya di dalam al-Qur’an. Ini dengan dalil riwayat lain dari al-Lalika-i sendiri yang mempergunakan kata “al-Istiwa madzkur”, artinya kata Istawa telah benar-benar disebutkan dalam al-Qur’an. Dengan demikian menjadi jelas bahwa yang dimaksud “al-Istiwa Ghair Majhul” artinya benar-benar telah diketahui penyebutan kata Istawa tersebut di dalam al-Qur’an.

      • coba ente perhatikan cerita tersebut, “Ketika al-Imam Malik mendengar perkataan orang tersebut maka beliau menundukan kepala dengan badan bergetar dengan mengeluarkan keringat” kenapa imam Malik seperti keadaanya? apakag imam Malik marah? penadapat saya tidak. apa imam malik takut? pendapat saya Ya, ya beliau takut, apakah imam malik tidak mengetahui ayat lisya kamitslihi syaiun, atau ayat walam yakullahu kuffuan ahad.

        orang yang bertanya tersebut adalah orang mengetahui ayat tersebut namun menguji imam Malik, dia mereka adalah orang2 pelaku bid’ah sepaham dengan khawarij.

        allhua’lam

  15. al banni bukan muhaddist,ustadz admin…
    antum tahu nggak sih siapa yg layak di sebut muhaddist..?
    albani itu hanya penukil,dan pentelaah kitab2 klasik..begitu..hmm..

  16. kenapa ya Wahabiyyun suka melarang perbuatan tanpa Dalil…. ?apa wahabiyyun ini pada pengen jadi tuhan kaya fir`aun…?

    • Kenapa anda suka dengan perbuatan ibadah orang yang tanpa dalil ?! bukankah semua ibadah itu harus punya dasar hukumnya? kalau tidak buat apa diturunkan Al-Qur’an dan diutus nabi kalau tidak untuk menjelaskan bagaimana ibadah yang benar, mana halal haram, dan semuanya harus ada dasar hukumnya, karena kita tidak boleh ibadah seenak / semau kita sendiri, semua ibadah telah diatur oleh Allah dan memang hanya Allah lah yang berhak menentukan tatacara ibadah. jika anda membolehkan ibadah tanpa dalil maka justru anda yang yang ingin menandingi Tuhan yaitu membuat syariat baru. Wong dalam ilmu kedokteran dsb saja harus ada dasar ilmiyahnya kok apalagi ini masalah surga neraka.. Barokallohu fiikum.

      • siapa bilang bertawasul dan beristhigosah dengan orang wafat tanpa dalil, banyak hadist yang sampai kepada kita. Dan semua itu membuktikan bahwa perbuatan ini ada dari zaman salaf dan diketahui para imam salaf dan pengikutnya. Bahkan para imam banyak yang mensahihkan hadist-hadist ini. Adapun yang berbeda pendapat tidak juga mengatakan haram atau syirik atas perbuatan ini.
        Yang mengatakan haram dan syirik dimulai dari ibnu taimiyah dan pengikutnya saja. maka jelaslah kaum wahabi tidak mengikuti jalan salaf tapi taklid pada ulama wahabi yang ilmunya masih jauh daripada para ulama dan imam islam yang mensahihkan hadist-hadist tentang tawasul dan tidak pernah mengatakan haram atau syirik perbuatan ini.

      • @bantahansalafytobat

        jika sudah ada dalil apa yang ente tuduhkan apakah ente juga menyetujui amaln aswaja atau menentangnya?

        ingat banyak kitab aswaja dipalsukan oleh ulama wahabiun

  17. tesss……….

  18. @HasanSyahab

    good and nice post

  19. Dan dalam Shahih Muslim dari ‘Abdaan, ia berkata :

    سمعت عبد الله بن المبارك يقول : الإسناد عندي من الدين ولو لا الإسناد لقال من شاء ما شاء.

    “Aku mendengar ‘Abdullah bin Al-Mubaarak berkata : ‘Sanad bagiku termasuk bagian dari agama. Jika sanad tidak ada, niscaya orang akan berkata sesuka hatinya”.

    Adapun ttg sanad, perlu di ketahui bahwa sanad hanya bermanfaat dalam menilai keabsahan suatu hadits/riwayat, namun bukan menjadi syarat sahnya menuntut ilmu.

  20. gelar hujatul islam bukanlah gelar bagi ahli hadits. anda salah paham dalam hal ini. gelaran bagi orang2 yang hafal hadits beserta sanadnya lebih dari 300.000 hadits adalah Al Hujjah bukan hujjatul islam.
    adapun muhaddits tidak disyaratkan bertemu dengan perawi hadits.muhaddits adalah orang2 yang mengetahui seluk beluk hadits dari sisi riwayah dan diroyah, mengetahui jarh wa ta’dil, meneliti kemuttashilan hadits,dsb. tidak disyaratkan bertemu dengan perawi hadits.
    namun demikian, kita tidak perlu mengurusi gelar apapun yang ditempelkan pada seseorang atau mengurusi sanad ilmu seseorang sampai atau tidak kepada Nabi. karena bisa saja manusia mengarang sanad dan kalaupun ia punya sanad apakah dari keseluruhan rawi dalam sanad itu dinilai tsiqoh/kredible? siapa yang menilai? bagaimana metode penilaiannya? apakah seperti metode para ahli jarh wa ta’dil? atau bagaimana?
    yang terpenting adalah buah dari ilmu yang dipelajari. jika seseorang mengaku bersanad sampai Imam Bukhory tapi dalam penyampaian hadits atau dalil dia tidak menjalankan metodenya Imam Bukhory ( yang terkenal ketat ), lalu apa manfaat sanadnya? kalau Imam Bukhory hanya memasukkan hadits2 shohih yang disepakati keshohihannya, sedangkan orang yang mengaku bersanad sampai Al Bukhory justru gemar memasukkan hadits2 dhoif atau palsu atau hadits yang tidaj jelas asal usulnya, lantas apa gunanya sanad sampai ke Al Bukhory tadi?
    kalau cuman untuk pemberitahuan bahwa ia punya sanad tapi dia tidak mengenal dan mempraktikan metode penilaian Al Bukhory, lantas apa bedanya dia punya sanad atau tidak?

    • Wan abunida : waduh, mengenai gelar2 ilmu hadits antum belajar dari kitab apa? Ane khawatir antum baca kitab2 masa kini yg udah di gunting tambal sama wahabiyun.

      Sanad ga perlu diurusi? wah, sangat bahaya jika kita berguru/berilmu tanpa memperhatikan sanad. Justru karena ulama2 ahlussunah punya sanad makanya mereka tidak sembarangan mengeluarkan fatwa2 sesat dan gampang mengecap suatu kaum bid’ah, syirik, kafir dsb. Dengan sanad mereka bersatu dalam rantai yang kokoh yang tersambung ke Rasul SAW. Jika satu rantai bergerak, maka semua yang tersambung juga ikut bergerak. Bukan macam kelompok yang memisahkan diri dari jama’ah. Naudzubillah.

      Nurut antum, siapa yang bisa mengarang sanad? apakah ada bukti seorang ulama ada yang memalsukan sanad?

      Antum kurang paham tentang hadits dhaif. hadits dhaif itu hadits yg lemah sanad periwayatnya, atau pada matannya, namun bukan berarti ia adalah palsu, karena hadits palsu dinamai hadits munkar, atau mardud, batil, bukan hadits dhaif.

      Tidak sepantasnya kita menafikan hadits dhaif karena hadits dhaif diakui sebagai ucapan Rasul saw, dan tak satu muhaddits pun yg berani menafikannya, karena menafikannya berarti mendustakan ucapan Rasul saw dan hukumnya kufursebagaimana sabda Nabi SAW, “Barangsiapa yg sengaja berdusta dengan ucapanku, maka hendaknya ia bersiap siap mengambil tempatnya di neraka” (Shahih Bukhari hadits no.110), sabda beliau saw pula : “sungguh dusta atasku tidak sama dengan dusta atas nama seseorang, barangsiapa yg sengaja berdusta atas namaku maka ia bersiap siap mengambil tempatnya di neraka” (Shahih Bukhari hadits no.1229),

      Cobalah antum bayangkan, mereka yg melarang beramal dengan hadits dhoif berarti mereka mendustakan ucapan Rasul saw, dan merekapun jelas jelas menuduh para periwayat itu telah berdusta dan telah kufur karena meriwayatkan hadits palsu.

      Ketahuilah, bahwa hukum hadits dan Ilmu hadits itu tak ada di zaman Rasul saw, ilmu hadits itu adalah Bid’ah hasanah, baru ada sejak Tabi’in, mereka membuat syarat perawi hadits, mereka membuat kategori periwayat yg hilang dan tak dikenal, namun mereka sangat berhati hati, karena mereka mengerti hukum, bila mereka salah, walau satu huruf saja, mereka bisa menjebak ummat hingga akhir zaman dalam kekufuran, maka tak sembarang orang menjadi muhaddits.

      • Sebenarnya saya malas menanggapi komentar anda, karena nampak jelas kebodohan anda dalam ilmu hadits. anda katakan : hadits dhaif diakui sebagai ucapan Rasul saw, dan tak satu muhaddits pun yg berani menafikannya”. COBA TOLONG TUNJUKKAN BAHWA PENGERTIAN HADITS DHOIF SEPERTI APA YANG ANDA MAKSUD, DAN SIAPAKAH ULAMA MUHADITSIN YG BERKATA SEPERTI ITU, JIKA ANDA ADLAAH ORANG YG BENAR…!
        SATU LAGI jika anda dan guru anda mengaku memiliki sanad, maka jawablah pertanyaan berikut :
        1. tunjukkan sanad anda dan guru anda..
        2. tunjukkan satu saja ulama ahli hadits yang telah meneliti sanad anda dan guru anda tsb, apakah sanadnya shahih apa dhoif atau justru palsu !!!
        3. Tunjukkan pula jarh wa ta’dhilnya dari rijal anda dan guru anda..!

  21. untuk super nova silahkan baca
    http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/07/dimanakah-allah-ini-jawaban-al-imaam.html

    • @abu nida
      ane orang awam,coba terangkan dlm kitab klasik mana,keterangan ente yg mengatakan:
      #.adapun muhaddits tidak disyaratkan bertemu dengan perawi hadits.muhaddits adalah orang2 yang mengetahui seluk beluk hadits dari sisi riwayah dan diroyah, mengetahui jarh wa ta’dil, meneliti kemuttashilan hadits,dsb. tidak disyaratkan bertemu dengan perawi hadits.

      hanya sebegitu yg ente tahu muhaddist?

  22. @ bantahansalafytobat yg mudah2an cepet tobat, amin :

    ane juga males debat ma ente. terkesan ente pakar hadits.tapi ente yg terlalu pede dan sombong sm ilmu ente. buktinya ente ga paham apa itu hadits dhoif. Ane saranin ente belajar lagi sama guru yang bener. Hadits dhoif di atas itu bukan pemahaman ane bro. Tapi pendapat ulama. Ni salah satu contohnya :

    Dan telah sepakat jumhur para ulama untuk menerapkan beberapa hukum dengan berlandaskan dengan hadits dhoif, sebagaimana Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, menjadikan hukum bahwa bersentuhan kulit antara pria dan wanita dewasa tidak membatalkan wudhu, dengan berdalil pada hadits Aisyah ra bersama Rasul saw yang Rasul saw menyentuhnya dan
    lalu meneruskan shalat tanpa berwudhu, hadits ini dhoif, namun Imam Ahmad memakainya sebagai ketentuan hukum thaharah. (kedudukan hadits ini selengkapnya dibahas di buku link yang ane kasih dibawah)

    Semakin dangkal ilmu seseorang, maka tentunya ia semakin mudah berfatwa dan menghukumi, semakin ahli dan tingginya ilmu seseorang, maka semakin ia berhati – hati dalam berfatwa dan tidak ceroboh dalam menghukumi.

    Maka mereka – mereka yang segera menafikan atau menghapus hadits dhoif maka mereka itulah yang dangkal pemahaman haditsnya, mereka tak tahu mana hadits dhoif yang palsu dan mana hadits dhoif yang masih tsiqah untuk diamalkan. Contohnya hadits dhoif yang periwayatnya maqthu’ (terputus), maka dihukumi dhoif, tapi makna haditsnya misalnya keutamaan suatu amal, maka para Muhaddits akan melihat para perawinya, bila para perawinya orang – orang yang shahih, tsiqah, apalagi ulama hadits, maka hadits itu diterima walau tetap dhoif, namun boleh diamalkan karena perawinya orang – orang terpercaya, cuma satu saja yang hilang, dan yang lainnya diakui kejujurannya, maka mustahil mereka dusta atas hadits Rasul saw. Namun tetap dihukumi dhoif dan paling tidak
    ia adalah amalan para sahabat, yang tentu mereka tak punya guru lain selain Rasulullah saw, dan masih banyak lagi contoh – contoh lainnya.

    Masya Allah dari gelapnya kebodohan.. sebagaimana ucapan para ulama salaf : “dalam kebodohan itu adalah kematian sebelum kematian, dan tubuh mereka telah terkubur (oleh dosa dan kebodohan) sebelum dikuburkan”.

    Sebenernya ane kurang suka menunjuk2kan sanad. Tapi paling tidak ane tampilkan sanad ilmu guru ane, Alhabib Munzir Almusawa disini :

    http://www.majelisrasulullah.org/media/kenalilah_akidahmu_2.pdf

    (bab paling akhir adalah sanad ilmu2 beliau kepada para imam dan muhaddits. Sekalian kalo ente mau jawaban pertanyaan ente yg ente g paham bisa ente cari di rujukan buku ini. Inget, dipahami sama hati dan iman, jangan pake emosi bro).

    Nah, sekarang ente. Sanad ente atau guru2 ente nyambung sama siapa? coba tunjukin kalo ente ngerasa ilmu ente luas!

  23. Coba Mas HasanSyahab baca artikel “Ijazah Hadits Imam Al Albani” di blog ini…. di situ disebutkan sanad hadits Syaikh Al Albani secara musalsal sampai Imam Ahmad rohimahumalloh dan tentunya sanad Imam Ahmad sampai ke rosululloh…ini bukti bahwa bukan hanya Habib Munzir saja yang punya sanad, inget ya Mas…masalah berikutnya, jika memang Habib Munzir benar-benar memilki sanad sampai rosululloh, apakah bisa dipastikan sanad Habib Munzir itu shohih dan semua rawi-rawinya terpercaya???? Kenyataan yang ada dalam kitab-kitab hadits, banyak orang yang menyampaikan hadits dengan sanad yang lengkap sampai rosul tetapi para ulama ahlul hadits menolak dan mengingkari haditsnya karena ada rawinya yang pendusta atau majhul (tidak dikenal) atau alasan lain bisa dilihat di kitab-kitab mustholah hadits…jadi,. Sanadnya Habib Munzir sudah diteliti belum oleh ulama ahlul hadits????? jangan-jangan sanadnya dho’if atau bahkan palsu….

    Masalah berikutnya….Apakah disyaratkan dalam berdakwah untuk menyampaikan ilmu dan kebenaran harus memiliki sanad dulu baru berdakwah????? Saya yakin kebanyakan guru-guru Anda juga tidak memiliki sanad….tetapi kenapa Anda hanya menghujat Syaikh Al Albani dan tidak menghujat guru Anda yang lain yang tidak memiliki sanad???? malah menuduh Syaikh Al Albani tidak memiliki sanad….. tidak lain Anda hanya mencari alasan untuk menjatuhkan Syaikh Al Albani karena tidak mungkin bisa dibandingkan kapasitas ilmu Syaikh Al Albani dan kapasitas ilmu orang-orang seperti Anda…dan kemudian membangga-banggakan guru Anda yang katanya memiliki sanad walaupun kenyataanya ilmunya jauh dari Syaikh Al Albani…kalau kita melihat dan menelaah kitab-kitab Syaikh Al Albani dibanding buku-buku Habib Munzir, sudah bisa dibaca tingkat keilmiahan dan kapasitas ilmu masing-masing…subhanalloh…..

    • afwan, kayanya ente juga ga ngerti apa itu sanad. Apa seperti itu sanad yg dipunya Albani? sepertinya itu cuma rentetan biografi dan karya2 bukunya saja. Sanad itu mestinya berantai, ia menerima/berguru dari siapa, gurunya menerima ilmu dari gurunya terus sampai para muhaddits dan para imam, kemudian para imam dari sahabat, dan pangkalnya sahabat dari Rasulullah saw. Apa Albani punya sanad seperti itu? bukan karena ane merendahkan sosok Albani, tetapi ane tidak mau sembarangan memilih panutan/guru. Takut ane sesat.

      Ane ingetin, sanad guru itu jauh lebih kuat dari pada berpedoman sama buku, karena guru itu berjumpa dengan gurunya, melihat gurunya, menyaksikan ibadahnya, sebagaimana ibadah yang tertulis di buku, mereka tak hanya membaca, tapi melihat langsung dari gurunya, maka selayaknya tidak berguru kepada sembarang guru, mesti selektif dalam mencari guru, karena bila guru ente salah maka ibadah ente juga ikut salah.

      Maka hendaknya kita memilih guru yang mempunyai sanad silsilah guru, yaitu ia mempunyai riwayat guru – guru yang bersambung hingga Rasul saw dan ente mesti betul – betul tahu
      bahwa ia benar – benar memanut gurunya.

      Hingga kini ahlussunnah waljamaah lebih berpegang kepada silsilah guru daripada buku – buku, walaupun masih merujuk pada buku dan kitab, namun aswaja tak berpedoman penuh pada buku semata, kita berpedoman kepada guru – guru yang bersambung sanadnya kepada Nabi saw ataupun kita berpegang pada buku yang penulisnya mempunyai sanad guru hingga Nabi saw.

      Maka muncullah dimasa kini pendapat pendapat dari beberapa saudara kita yang membaca satu, dua buku, lalu berfatwa bahwa ucapan Imam Syafii Dhoif, ucapan Imam Hakim dhoif, hadits ini munkar, hadits itu palsu, hadits ini batil, hadits itu mardud atau berfatwa dengan semaunya dan fatwa – fatwa mereka itu tak ada para Imam dan Muhaddits yang menelusurinya sebagaimana Imam – imam terdahulu yang bila fatwanya salah maka sudah diluruskan oleh Imam – Imam berikutnya, sebagaimana berkata Imam Syafii : “Orang yang belajar ilmu tanpa sanad guru bagaikan orang yang mengumpulkan kayu bakar digelapnya malam, ia membawa pengikat kayu bakar yang terdapat padanya ular berbisa dan ia tak tahu” (Faidhul Qadir juz 1 hal 433).

      Berkata pula Imam Atsauri : “Sanad adalah senjata orang mukmin, maka bila kau tak punya senjata maka dengan apa kau akan berperang?”, berkata pula Imam Ibnul Mubarak : “Pelajar ilmu yang tak punya sanad bagaikan penaik atap namun tak punya tangganya, sungguh telah Allah muliakan ummat ini dengan sanad” (Faidhul Qadir juz 1 hal 433).

  24. bismillah…Mas HasanSyahab -semoga Alloh merohmati kita-…..ane setuju dengan antum tentang masalah pentingnya mengambil ilmu dari guru (ulama) secara langsung dan ini memang maerupakan metode ulama-ulama salaf dahulu….ane juga mengakui keutamaan ilmu sanad dalam Islam sebagaimana atsar-atsar dari ulama yang Mas sebutkan…jadi kita sudah sepakat Alhamdulillah…jazakumulloh khoiron Mas masukannya…yang masih mengganjal di hati saya…2 pertanyaan saya yang di atas…mohon di jawab yang singkat saja ya dan to the point biar saya mudah memahami….saya ulangi Mas :
    1) seorang yang memiliki sanad apakah langsung bisa dipastikan bahwa sanadnya shohih dan harus diterima? setahu saya di kitab-kitab hadits banyak riwayat-riwayat hadits yang bersanad tapi para ulama ahlul hadits menolaknya, terkadang melemahkan sanadnya dan bahkan ada ulama yang menilai sanadnya palsu…Allohua’lam mungkin Mas lebih tau
    2) apakah seorang yang belum memiliki sanad, ilmunya ditolak secara mutlak ataukah bisa diterima? karena kenyataanya di medan dakwah banyak sekali ustadz, da’i dan kyai yang belum memiliki sanad seperti Habib Munzir guru antum….
    Semoga Alloh memberikan taufik kepada kita…amin

  25. [...] Oleh sebab itu, sebelum membaca catatan ini hendaknya membaca artikel tersebut. disini [...]


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 39 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: