<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Bantahan salafytobat</title>
	<atom:link href="http://bantahansalafytobat.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bantahansalafytobat.wordpress.com</link>
	<description>Bantahan Ilmiyyah untuk Penghujat Manhaj Salaf</description>
	<lastBuildDate>Sat, 25 Feb 2012 05:40:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='bantahansalafytobat.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Bantahan salafytobat</title>
		<link>http://bantahansalafytobat.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://bantahansalafytobat.wordpress.com/osd.xml" title="Bantahan salafytobat" />
	<atom:link rel='hub' href='http://bantahansalafytobat.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kiyai NU Membantah Hujatan Keji Said Aqiel Siradj terhadap Para Sahabat Nabi</title>
		<link>http://bantahansalafytobat.wordpress.com/2012/01/17/kiyai-nu-membantah-hujatan-keji-said-aqiel-siradj-terhadap-para-sahabat-nabi/</link>
		<comments>http://bantahansalafytobat.wordpress.com/2012/01/17/kiyai-nu-membantah-hujatan-keji-said-aqiel-siradj-terhadap-para-sahabat-nabi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jan 2012 13:14:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bantahansalafytobat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahlul Bait]]></category>
		<category><![CDATA[KH Said Aqil Sirajd]]></category>
		<category><![CDATA[Kiyai NU Membantah Hujatan Keji Said Aqiel Siradj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bantahansalafytobat.wordpress.com/?p=443</guid>
		<description><![CDATA[&#160; عن جابر بن عبد الله رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لاَ غِيْبَةَ لِفَاسِقٍ &#8220;Tidaklah dilarang menggunjing orang fasiq&#8221; (HR Turmudzi). عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إِذَا مُدِحَ اْلفَاسِقُ غَضِِبَ الرَّبُّ &#8220;Apabila orang fasiq telah disanjung-sanjung, maka Allah SWT [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bantahansalafytobat.wordpress.com&amp;blog=16552009&amp;post=443&amp;subd=bantahansalafytobat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>عن جابر بن عبد الله رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لاَ غِيْبَةَ لِفَاسِقٍ</p>
<p><em>&#8220;Tidaklah dilarang menggunjing orang fasiq&#8221;</em> (HR Turmudzi).</p>
<p>عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إِذَا مُدِحَ اْلفَاسِقُ غَضِِبَ الرَّبُّ</p>
<p><em>&#8220;Apabila orang fasiq telah disanjung-sanjung, maka Allah SWT akan murka&#8221;</em> (HR Baihaqi).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>PENGANTAR PENERBIT</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>الحَمدُ لله ربِّ العاَلمين، والصَّلاةُ والسَّلامُ على أشْرفِ الأنبيَاءِ والمرُسَلين، سيّدِنا ومَولانا محمَّدٍ وعلى آلهِ وصَحْبهِ أجمَعين. أما بعد:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Buku yang kami terbitkan ini adalah kumpulan dari dua makalah KH. Abdul Hamid Baidlowi yang disampaikan pada acara pertemuan Ulama dan Habaib di Pondok Pesantren Ath-Thohiriyyah Jakarta pada tanggal 14 Rojab 1416 H/ 7 Desember 1995 M. yang berjudul: <em>&#8220;Kritik Terhadap Gus Dur dan Sa&#8217;id Aqil&#8221;</em> dan makalah beliau yang berjudul: <em>&#8220;Menyiasati Bahaya Syi&#8217;ah di Kalangan Nahdlatul Ulama di penghujung Abad Ini&#8221; </em>yang disampaikan pada acara sarasehan IPNU-IPPNU cabang Jombang pada tanggal 1 Shafar 1417 H/ 17 Juni 1996 M.</p>
<p><span id="more-443"></span></p>
<p>Makalah tersebut hadir disaat umat Islam mulai resah atas bahaya pemikiran Gus-Dur yang pada saat itu berkapasitas sebagai Ketua Umum organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama, dan membongkar kerancauan ideologi Syi&#8217;ah Rafidloh yang dipasarkan lewat pemikiran Said Aqil Siradj yang pada saat itu menjabat Katib Am Nahdlatul Ulama. Mereka mencoba menyesatkan umat Islam dari ajaran yang benar, ajaran yang bertentangan dengan nash-nash al-Quran, Sunnah Rasul dan ajaran-ajaran Salafussholih.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Semoga dengan hadirnya buku ini, dapat memberikan manfaat untuk kita dalam rangka ikut andil membentengi aqidah umat Islam dari faham-faham sesat dan dari segala bentuk kesesatan berfikir yang berupaya menghancurkan agama Islam. Semoga Allah SWT selalu melindungi kita, amin.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>KRITIK TERHADAP SA&#8217;ID AQIL</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Segala puji bagi Allah SWT, semoga kita dalam rahmat dan lindungan-Nya, shalawat dan salam semoga bertaburan di pusara Nabi Muhammad SAW dan berhembus kepada keluarga dan shahabat Nabi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Yang terhomat shahibul bait KH Thohir Rokhili, pengasuh Pondok Pesantren at-Thohiriyyah Jakarta.<br />
Yang terhomat KH. Yusuf Hasyim.<br />
Yang terhomat para ulama dan pejabat pemerintah sipil maupun militer .<br />
Serta hadirin semua yang saya hormati.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sesungguhnya kritikan, kecaman, penghinaan terhadap Khalifah Utsman RA itu semenjak dulu sudah dilakukan oleh golongan Saba&#8217;iyah di bawah pimpinan Abdullah bin Saba&#8217; dan golongan Syi&#8217;ah. Apalagi Sa&#8217;id Aqil mengatakan dalam makalahnya: bahwa Abdullah bin Saba&#8217; adalah tidak hanya dibuat kambing hitam oleh sejarah atas dasar keterangan dari Dr. Thoha Husain dll-nya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Padahal sebenarnya pegingkaran terhadap keberadaan Abdullah bin Saba&#8217; tak ubahnya sama dengan mengingkari wujudnya matahari, tak seorangpun ahli sejarah masa lalu baik dari kalangan Syi&#8217;ah atau Ahlussunnah wal Jama&#8217;ah mengingkari kehadiran Abdullah bin Saba&#8217; dalam proses sejarah yang panjang. Siapakah yang lebih tahu tentang hakikat keberadan Ibnu Saba&#8217;, apakah ulama masa lalu atau masa kini yang lebih tahu? Bukankah ulama&#8217; Syi&#8217;ah sendiri yang namanya Abu Ishaq bin Muhammad Ats-tsaqofi Al-kufi telah mengakui adanya Abdullah bin Saba&#8217;, sebagaimana dijelaskan dalam kitabnya <em>al-Ghaarat</em> jilid 1 halaman 302-303, kitab ini ditulis pada tahun 250 H dan <em>an-Naubakhti</em> wafat tahun 288 H dalam kitabnya <em>Firoqus Syi&#8217;ah</em>, kemudian disusul oleh Ibnu Abil Khadid dalam <em>Nahjul Balaqhoh</em>-nya dan <em>al-Hulli</em> dalam Khulashohnya dan kitab-kitab yang lain, demikian pula dari kalangan Ahlussunnah wal Jama&#8217;ah diantaranya adalah <em>ath-Thobari</em>, Ibnul Atsir, Ibnu Katsir, Ibnu Kholdun dan banyak lagi yang lain. Paham pengingkaran atas adanya Ibnu Saba&#8217; adalah upaya jaringan-jaringan Yahudi dalam rangka melepaskan diri dari keterlibatannya sebagai pelopor penghancuran terhadap Islam dan umat Islam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Para ulama dan hadirin yang saya hormati, karena waktu sangat terbatas, kiranya tidak patut jika saya memperpanjang pembahasan pokok makalah, tetapi hanya sebagian yang penting yang insya Allah akan saya sampaikan, maka saya akan mencoba menolak fitnah yang dialamatkan kepada sayyidina Utsman dan shahabat Marwan bin Hakam dan Amar bin Yasir.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Marilah kita simak bersama, apakah kecaman dan hinaan terhadap khalifah Utsman itu benar? Apakah benar khalifah Utsman membagi-bagikan pengurusan wilayah-wilayah kepada keluarganya? Ataukah tuduhan dan kecaman itu sekedar buatan kaum Saba&#8217;iyah yang mereka ada-adakan guna mendorong orang lain untuk beroposisi yang kemudian memberontak dan selanjutnya membunuh khalifah?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ahli sejarah kaum Syi&#8217;ah al-Ya&#8217;qubi menyatakan: bahwa khalifah Utsman dibenci orang adalah karena mengutamakan keluarga dalam pengangkatan Gubenur wilayah, kemudian Al-Ya&#8217;qubi sendiri membuat perincian wilayah-wilayah dengan Gubenur masing-masing, dan ternyata dapat kita lihat bahwa sebagian besar yang diangkat oleh khalifah Utsman adalah bukan dari keluarga khalifah Utsman, maka marilah kita lihat keterangan Al-Ya&#8217;qubi di bawah ini sebagai berikut:</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Ya&#8217;la bin Mun-yah at-Tamimi untuk Yaman.</li>
<li>Abdullah bin Amr al-Hadlromi untuk Makkah .</li>
<li>Jarir bin Abdullah al-Bajali untuk Hamdan .</li>
<li>Al-Qosim bin Robi&#8217;ah ats-Tsaqofi untuk Thoif.</li>
<li>Abu Musa al-Asy&#8217;ari untuk Kufah.</li>
<li>Abdullah bin &#8216;Amir bin Kariz untuk Bashrah.</li>
<li>Abdullah bin Sa&#8217;ad bin Abi Saroh untuk Mesir.</li>
<li>Mu&#8217;awiyyah bin Abi Sofyan di Syam.</li>
</ol>
<p>Sejarawan terkenal ath-Thobari dan Ibnul Atsir menambahkan nama-nama Gubernur untuk daerah lainnya serta para pemangku jabatan tinggi Negara yang diangkat oleh khalifah Utsman RA sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Untuk Hims Abdurrahman bin Kholid bin Walid.</li>
<li>Untuk Qinnasrin Habib bin Maslamah.</li>
<li>Untuk Palestina &#8216;Alqomah bin Hakim al-Kanani</li>
<li>Untuk Yordania Abul A&#8217;war as-Salami.</li>
<li>Untuk Laut Merah Utara Abdullah bin Qois al-Fazari.</li>
<li>Untuk Azerbajian al-Asy&#8217;ats bin Qois al-Kindi.</li>
<li>Untuk Hulwan Utaibah bin an-Nahhas.</li>
<li>Untuk Mah Malik bin Habib.</li>
<li>Untuk Roy Sa&#8217;id bin Qois.</li>
<li>Untuk Asbahan as-Saib bin Aqra&#8217;.</li>
<li>Untuk Masabdzan Hubaisy.</li>
<li>Untuk Qorqisia Jarir bin Abdullah.</li>
</ol>
<p>Kemudian jabatan tinggi Negara yang lain adalah:</p>
<ol>
<li>Pengadilan: Zaid bin Tsabit</li>
<li>Baitul mal : &#8216;Uqbah bin Amir</li>
<li>Urusan jizyah dan pajak: Jabir bin Fulan al-Mazani</li>
<li>Pertahanan dan peperangan: al-Qo&#8217;qo&#8217; bin &#8216;Amr</li>
<li>Pimpinan haji : Abdullah bin Abbas.</li>
<li>Kepala polisi : Abdullah Qunfudz</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jadi hanya tiga keluarga Utsman yang menjadi Gubernur dari 20 Gubernur dan 6 jabatan tinggi Negara, itu saja hanya dua Gubernur yang dilantik oleh khalifah Utsman, yaitu yang untuk Bashroh dan Mesir, sedang yang satu yaitu untuk Muawiyyah di Syam dilantik oleh khalifah sebelum Sayyidina Utsman menjabat sebagai khalifah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kemudian apakah pengangkatan dua Gubernur itu cukup menjadi alasan untuk mencela dan mengecam kepada khalifah Utsman? Sebagaimana dilakukan oleh golongan Saba&#8217;iyah, Syi&#8217;ah, dan Sa&#8217;id Aqil serta orang yang mengikutinya, mengekor mereka. Apakah haram menurut syari&#8217;ah seorang khalifah mengangkat salah satu keluarga yang dipandang ahli dalam jabatannya, hanya karena ia salah satu dari keluarganya? Jawabanya hanyalah satu, <em>&#8220;tidak haram&#8221;.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jika hal itu dapat dijadikan alasan untuk mengecam khalifah Utsman, mengapa kaum Syi&#8217;ah dan penulis makalah diam membisu tanpa komentar apalagi mengecam ketika khalifah Ali mengangkat Qustam bin Abbas (pernah menjabat pimpinan haji tahun 37 H) sebagai Gubernur di Makkah, dan mengangkat Abdullah bin Abbas sebagai Gubernur di Yaman (al-Ya&#8217;qubi juz 2 halaman 179), dan Muhammad bin Abu Bakar (anak tiri Sayyidina Ali) untuk Mesir, Ya&#8217;ad Ibnu Hubairoh (putra saudara perempuan sayyidina Ali bin Abi Thalib yang bernama Ummu Hani&#8217;) sebagai Gubernur di Kharasa, dan mengangkat Muhammad Ibnu Hanafiyah sebagai panglima. Mengapa kalian diam membisu, padahal khalifah Ali banyak mengangkat keluarganya?.</p>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p>&#8230;.Sa&#8217;id Aqil gegabah menuduh shahabat Ammar bin Yasir <em>rodliallahu &#8216;anhuma</em> sebagai pemompa semangat memberontak. Sungguh tuduhan ini palsu dan penuh kebohongan. Bukankah Allah SWT dengan firman-Nya yang indah telah berjanji memberikan pahala yang baik terhadap mereka yang dalam kategori shahabat?&#8230;.</p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dengan penjelasan-penjelasan tersebut di atas, maka keterangan dan memutarbalikkan fakta yang dipropagandakan lingkaran setan yang dibuat oleh mereka, mereka adalah bohong dan dusta serta merupakan fitnah yang keji terhadap khalifah Utsman RA.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Marwan bin Hakam RA: ia adalah sasaran kecaman dan pusat caci maki yang dilontarkan oleh golongan Saba&#8217;iyah dan Syi&#8217;ah. Tuduhan dan kecaman yang paling bayak dilontarkan kepadanya antara lain: diangkatnya Marwan bin Hakam oleh khalifah Utsman sebagai sekretarisnya, penguasa seperlima harta rampasan perang di Afrika, surat Marwan bin Hakam yang isinya perintah untuk membunuh pemberontak yang dari Mesir, dan dikembalikannya Marwan bin Hakam ke Madinah dari tempat pembuangan di Thoif oleh khalifah Utsman.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saya insya Allah dalam pertemuan hari ini akan memberikan jawaban satu persatu berdasarkan dari keterangan-keterangan ulama: tentang perizinan bagi Marwan bin Hakam meninggalkan tempat pembuangannya di Thoif, kemudian pindah ke Madinah. Maka hal itu sepanjang kenyataanya: bahwa Nabi Muhammad SAW pada saat-saat terakhir telah mengizinkan kembalinya shahabat Marwan ke Madinah atas usul permohonan sayyidina Utsman, namun beliau mendadak wafat sebelum terlaksana pemindahan Marwan ke Madinah. Perizinan itu didengar dan diterima langsung oleh sayyidina Utsman.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jikalau pada saat sayyidina Abu Bakar menjadi khalifah menolak kembalinya Marwan ke Madinah demikian pula khalifah Umar, maka hal itu sesuai dengan ketentuan syariat Islam: bahwa kesaksian satu orang itu tidak diterima. Tetapi pada saat sayyidina Utsman menjabat sebagai khalifah dan beliau yakin sepenuhnya bahwa perizinan itu sungguh telah diberikan oleh Nabi Muhammad SAW, maka khalifah Utsman melaksanakan (artinya beliau tidak salah), (dari kitab ath-Thobari fi Manaqibil &#8216;Asyroh).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tentang harta rampasan perang di Afrika yang dikatakan dijual dengan harga tidak layak kepada shahabat Marwan bin Hakam yakni sejumlah 500.000 dinar, maka sebenarnya adalah sebagai berikut: Dari rampasan perang yang bersifat emas, perak, mata uang, panglima Abdullah bin Abi Saroh mengeluarkan <em>khumus</em> (seperlima) yaitu sebesar 500.000 dinar, karena <em>khumus</em> merupakan hak baitul mal, maka jumlah itu dikirimkan panglima kepada khalifah Utsman di Madinah. Kemudian khalifah menyerahkan kepada baitul mal. Masih adalagi khumus dari harta rampasan perang yakni seperlima dari peralatan dan seperlima dari jumlah ternak hewan. Maka jumlah seperlima dari jumlah benda dan ternak itu sulit diangkut karena jauhnya jarak, maka jumlah itulah yang dijual pada shahabat Marwan bin Hakam dengan harga 100.000 dirham, dan merupakan hak baitul mal di Madinah, kemudian empat seperlima dari harta rampasan perang itu dibagi-bagikan kepada anggota pasukan yang ikut dalam perang, karena itu adalah hak mereka.</p>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p>&#8230;.Mengapa Sa&#8217;id Aqil dengan lancang menghina shahabat Utsman dan shahabat Ammar, padahal Rasulullah SAW bersabda: Jangan kalian mencaci-maki Shahabat-Shahabatku&#8230;.</p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tentang surat Ibnu Khaldun mengatakan, mereka (kaum pemberontak dari Kufah, Bashrah, Mesir) berangkat meninggalkan Madinah tetapi tidak lama kemudian mereka kembali lagi dengan membawa surat yang dipalsukan yang mereka katakan: bahwa mereka mendapatkannya dari tangan pembawanya untuk di sampaikan kepada Gubernur Mesir, sedang surat itu berisikan perintah membunuh pemberontak. Khalifah Utsman bersumpah ia tidak tahu-menahu tentang surat yang dimaksud, mereka berkata kepada khalifah: berilah kuasa kepada kami untuk bertindak terhadap Marwan bin Hakam, sebab ia adalah sekretaris Anda. Tetapi Marwan bersumpah bahwa ia tidak melakukannya, ia berkata: tidak ada dalam hukum Lebih dari pada ucapan saya (Ibnu Khaldun hal 135).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jauh sebelum itu, sayyidina Ali telah mengatakan: bahwa surat itu hanya karangan belaka yang diada-adakan, beliau mengatakan: bagaimana kalian wahai ahli Kufah dan ahli Basroh dapat mengetahui apa yang dialami ahli Mesir, padahal kalian telah menempuh jarak beberapa marhalah dalam perjalanan pulang, tetapi kemudian kalian berbalik menuju Madinah, demi Allah persengkokolan ini diputuskan di Madinah, mereka menjawab: terserah bagaimana kalian menanggapi, kami tidak membutuhkan orang itu biarkanlah ia meninggalkan kami (Ath-Thabari juz 11 hal 150).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sedangkan analisisnya apakah mungkin orang seperti shahabat Marwan bin Hakam menjadi sekretaris khalifah Utsman jika dianggap orang yang tidak baik tanpa mendapat reaksi tokoh-tokoh shahabat, seperti sayyidina Ali bin Abi Tholib pahlawan perang Khaibar, Sa&#8217;ad bin Abi Waqqos, penakluk Persia termasuk sepuluh orang yang dijamin masuk surga, Tolhah Ibnu Ubaidillah yang menjadi perisai Rasulullah SAW di perang Uhud dan lain-lainnya, jawabannya: tidak mungkin. Padahal kenyataan sejarah membuktikan mereka tokoh-tokoh shahabat sama sekali tidak memberikan reaksi bahkan tidak protes sama sekali.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Oleh karena itu cerita buruk tentang shahabat Marwan bin Hakam adalah Isu, fitnah yang di hembuskan oleh kaum Saba&#8217;iyah dan Syi&#8217;ah. Bukankah Romlah bin Ali dikawinkan mendapatkan anak shahabat Marwan bin Hakam yang bernama Muawiyyah bin Marwan bin Hakam, bukankah putra Hasan yang kedua (Hasan bin Hasan bin Ali) telah dikawinkan mendapat cucu Marwan bin Hakam yaitu Walid bin Abdul malik bin Marwan, seandainya Marwan bin Hakam betul-betul orang jelek, saya kira tidak bakal terjadi hubungan kekeluargaan (besanan) antara sayyidina Ali dengan shahabat Marwan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Oleh karena itu, Ibnul Arobi, Ibnu Hajar, Ibnu Taimiyah, adz-Dzahabi dan lain-lainnya mengata-kan: Bahwa riwayat-riwayat tentang peristiwa-peristiwa itu saling bertentangan dan sedikitpun tidak dapat dipakai sebagai dalil yang sohih (al-Awashim hal 100, as-Shawa&#8217;iq hal 68, Minhajus Sunnah juz III hal 192)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sehubungan dengan itu, para ulama hadits ketika membaca riwayat palsu menjelaskan bahwa kebanyakan riwayat mengenai kecaman terhadap shahabat Mu&#8217;awiyah, Amr Ibnul &#8216;Ash dan Bani Umayyah, begitu pula kecaman terhadap Walid bin Uqbah dan Marwan bin Hakam, adalah riwayat palsu dan dusta yang dibuat serta yang diada-adakan oleh golongan pendusta yang menjadi kebohongan dan kedustaan sebagai agama mereka. Demikian menurut Ibnul Qoyyum dan lain-lainnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tentang Ammar bin Yasir yang dituduh menghembuskan sikap anti khalifah, memompakan semangat memberontak oleh Said Aqil. Jawabannya: sungguh saya amat sangat terkejut pada saat saya membacanya, sungguh kejam apa yang dituduhkan kepadanya, bukankah dia putra Yasir? Bukankah Nabi Muhammad SAW telah memberikan jaminan sebagai penghuni surga kepada Yasir dan keluarganya? (<em>shobron yaa ala Yasir inna mau&#8217;idakum al-jannah</em>) Artinya: sabarlah wahai keluarga Yasir sesungguhnya janji kalian di surga.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Memang telah terjadi perselisihan antara Ammar dengan khalifah Utsman akan tetapi perselisihannya tidak sampai memompakan semangat memberontak. Buktinya, pada saat pembangkang bersenjata mengepung rumah khalifah Utsman dan mereka menghalang-halangi masuknya air dirumah Khalifah, maka marahnya Ammar dan berteriak sambil berkata: maha suci Allah, akankah kalian menghalangi air kepada orang yang membeli sumur Raumah dan memberikannya kepada kaum muslimin.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kemudian Ammar membawa air itu sendiri tanpa mendapat halangan dari mereka, karena mereka takut, segan dengan sebab kebesarannya. Jadi perselisihan tokoh-tokoh shahabat terhadap sayyidina Utsman tidak bakal mendorong mereka untuk berontak sebab mereka telah mewarisi ukhuwwah Islamiyah yang ditanamkan Nabi Muhammad SAW kepada mereka. Sa&#8217;id Aqil gegabah menuduh shahabat Ammar bin Yasir <em>rodliallahuanhuma</em> sebagai pemompa semangat memberontak, bahkan melakukan penghinaan terhadap shahabat Utsman RA. Lebih jauh Said Aqil menuduh bahwa runtuhnya khalifah Utsman dan akhirnya menjadi bencana bagi Islam adalah disebabkan adanya kelompok-kelompok munafiqin yang sebagian besar dari Bani Umayyah. Sungguh semua tuduhan tersebut adalah palsu dan penuh kebohongan terhadap mereka. Pernahkah Allah SWT dan Rasul-Nya serta tokoh-tokoh shahabat menuduh mereka seperti yang dilakukan oleh Said Aqil? Bukankah Allah SWT dengan firman-Nya yang indah telah berjanji memberikan pahala yang baik terhadap mereka yang dalam kategori shahabat serta yang lain jika perilakunya sama dengan shahabat-shahabat Nabi Muhammad SAW.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>&#8220;Tidak sama diantara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Makkah). Mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.&#8221;</em> (Q. Al-Hadid: 10 )</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bahwa ayat ini adalah sekaligus menolak tuduhan palsu Saudara Sa&#8217;id Aqil kepada penduduk Makkah (bukan karena Allah), tapi karena slogan yang digunakan oleh Abu Bakar di Bani Tsaqifah al-Aimmatu Min Quraisy (halaman tiga makalah Sa&#8217;id Aqil).</p>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p>&#8230;.Sungguh ini adalah <em>su&#8217;udhon</em> terburuk terhadap shahabat-shahabat Nabi Muhammad SAW sepanjang sejarah NU dan musibah berat bagi NU, seterusnya akan berubah menjadi malapetaka bagi NU dan warga NU&#8230;.</p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sungguh ini adalah <em>su&#8217;udhon</em> terburuk terhadap shahabat-shahabat Nabi Muhammad SAW sepanjang sejarah NU dan musibah berat bagi NU, seterusnya akan berubah menjadi malapetaka bagi NU dan warga NU. Oleh karena itu, semua ini harus dihentikan tidak boleh terus berkepanjangan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bukankah shahabat Utsman RA dan Ammar bin Yasir RA termasuk arti makna kandungan firman Allah:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>&#8220;Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar&#8221;.</em> (QS. At-Taubah: 100 )</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bukankah beliau (Utsman RA) kawan Nabi Muhammad SAW di surga sebagaimana di sabdakan oleh Nabi Muhammad SAW:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>لِكُلِّ نَبِىٍّ رَفِيْقٌ وَرَفِيْقِيْ – يعنى في الجنة – عثمان</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mengapa Sa&#8217;id Aqil dengan lancang menghina shahabat Utsman? Dan secara serampangan menuduh shahabat Ammar sebagai pelopor pemberontakan terhadap khalifah Utsman.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>مَنْ عَادَى عَمَّارًَا عَادَاهُ اْللهُ – وَمَنْ أبْغَضَ عَمَّارًا أبْغَضَهُ اللهُ</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>&#8220;Barangsiapa yang memusuhi Ammar, maka Allah memusuhinya dan barangsiapa yang membenci Ammar, maka Allah membecinya&#8221;.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Betapa indahnya Allah menyampaikan perihal mereka dalam Ayat-Ayat tersebut dan Ayat-Ayat yang lain dan sebaliknya betapa buruknya kata-kata yang keluar dari mulut Sa&#8217;id Aqil terhadap mereka.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bukankah Nabi Muhammad SAW bersabda :</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>لاََتََسُبُّوْا أصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ اَحَدَكُمْ اَنْفَقَ مِثلَ اُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ اَحَدِهِمْ</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>&#8220;Jangan kalian mencaci-maki Shahabat-Shahabatku, maka jika seandainya salah satu orang diantara kalian menginfaqkan emas sebesar gunung Uhud, maka pahalanya tidak akan sampai satu mud dibanding dengan pahala mereka&#8221;.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p>&#8230;.Betapa indahnya Allah menyampaikan perihal mereka dalam ayat-ayat Al-Quran, dan sebaliknya betapa buruknya kata-kata yang keluar dari mulut Sa&#8217;id Aqil terhadap mereka&#8230;.</p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Betapa besar penghargaan Nabi Muhammad terhadap Ammar dan jasa mereka dan dalam hadits ini Nabi Muhammad juga secara langsung memperingatkan dengan keras kepada generasi sesudah shahabat agar mereka hati-hati, tidak asal bicara, apalagi sampai menuduh, menghina, dan mencaci maki terhadap shahabat dan Nabi Muhammad SAW.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Disini saya yang dlaif, penuh kekurangan sudah memperingatkan dan menasehati semua pihak khususnya pada Sa&#8217;id Aqil agar jangan gegabah terhadap shahabat Nabi Muhammad SAW dan jika tidak menghiraukan maka saya terpaksa mengatakan:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>لعْنَةُ اللهِ عَلَى شرِّكُمْ</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>&#8220;Semoga Allah melaknat kejahatan kalian&#8221;</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sungguh masih banyak hal-hal yang penting untuk dikemukakan dalam masalah Gus-Dur dan Sa&#8217;id Aqil, tetapi sekali lagi waktu sangat terbatas sekali. Oleh karena itu penjelasan dan penolakan kami akhiri sekian saja dan mohon maaf.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>(Disadur dari buku: “Kritik terhadap Gus Dur dan  Sa’id Aqil &amp; Menyiasati Bahaya Syi&#8217;ah di Kalangan Nahdlatul Ulama di Penghujung Abad ini, karya KH. Abdul Hamid Baidlowi, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Wahdah Sumber Girang Lasem Rembang Jawa Tengah, Penerbit Pondok Pesantren Al-Wahdah, Rajab 1431/Juni  2010, halaman 13-26).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bantahansalafytobat.wordpress.com/443/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bantahansalafytobat.wordpress.com/443/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bantahansalafytobat.wordpress.com/443/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bantahansalafytobat.wordpress.com/443/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bantahansalafytobat.wordpress.com/443/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bantahansalafytobat.wordpress.com/443/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bantahansalafytobat.wordpress.com/443/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bantahansalafytobat.wordpress.com/443/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bantahansalafytobat.wordpress.com/443/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bantahansalafytobat.wordpress.com/443/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bantahansalafytobat.wordpress.com/443/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bantahansalafytobat.wordpress.com/443/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bantahansalafytobat.wordpress.com/443/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bantahansalafytobat.wordpress.com/443/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bantahansalafytobat.wordpress.com&amp;blog=16552009&amp;post=443&amp;subd=bantahansalafytobat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bantahansalafytobat.wordpress.com/2012/01/17/kiyai-nu-membantah-hujatan-keji-said-aqiel-siradj-terhadap-para-sahabat-nabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ea85548627490456d5731e02afd96799?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bantahansalafytobat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nasehat DR Said Aqiel Siradj, MA untuk Ketua PBNU Kiyai Haji Said Aqiel Siradj</title>
		<link>http://bantahansalafytobat.wordpress.com/2011/12/10/nasehat-dr-said-aqiel-siradj-ma-untuk-ketua-pbnu-kiyai-haji-said-aqiel-siradj/</link>
		<comments>http://bantahansalafytobat.wordpress.com/2011/12/10/nasehat-dr-said-aqiel-siradj-ma-untuk-ketua-pbnu-kiyai-haji-said-aqiel-siradj/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Dec 2011 02:18:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bantahansalafytobat</dc:creator>
				<category><![CDATA[BANTAHAN SAID AQID SIRAJD]]></category>
		<category><![CDATA[KH Said Aqil Sirajd]]></category>
		<category><![CDATA[Bantahan Dr. Said Aqil Sirajd]]></category>
		<category><![CDATA[MA.]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bantahansalafytobat.wordpress.com/?p=440</guid>
		<description><![CDATA[Cukup tersentak hati saya tatkala membaca pernyataan-pernyataan berani yang diungkapkan oleh Prof DR Kiyai Haji Said Aqiel Siradj, MA, sebagaimana yang diberitakan dalam www.voa-islam.com. Pernyataan-pernyataan tersebut adalah: Pertama : Pernyataan beliau bahwa syi&#8217;ah di Indonesia tidak berbahaya, sebagaimana bisa dilihat di (http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/12/06/16929/aneh-said-agil-siraj-bilang-syiah-di-indonesia-tidak-berbahaya/) Dan ternyata memang beliau pernah bertemu dan menyambut tokoh syi&#8217;ah Hasan Nasrullah, silahkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bantahansalafytobat.wordpress.com&amp;blog=16552009&amp;post=440&amp;subd=bantahansalafytobat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cukup tersentak hati saya tatkala membaca pernyataan-pernyataan berani yang diungkapkan oleh Prof DR Kiyai Haji Said Aqiel Siradj, MA, sebagaimana yang diberitakan dalam www.voa-islam.com. Pernyataan-pernyataan tersebut adalah:</p>
<p><strong>Pertama </strong>: Pernyataan beliau bahwa syi&#8217;ah di Indonesia tidak berbahaya, sebagaimana bisa dilihat di (<a href="http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/12/06/16929/aneh-said-agil-siraj-bilang-syiah-di-indonesia-tidak-berbahaya/" target="_blank">http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/12/06/16929/aneh-said-agil-siraj-bilang-syiah-di-indonesia-tidak-berbahaya/</a>)</p>
<p>Dan ternyata memang beliau pernah bertemu dan menyambut tokoh syi&#8217;ah Hasan Nasrullah, silahkan lihat (<a href="http://www.dp-news.com/pages/detail.aspx?articleid=57160" target="_blank">http://www.dp-news.com/pages/detail.aspx?articleid=57160</a>).</p>
<p><span id="more-440"></span>Demikian pula beliau pernah menjadi pembicara tingkat internasional di Teheran (pusatnya Syi&#8217;ah Roafidhoh) selama dua kali, pada tahun 1999 dengan materi : Al-Taqriib baina al-Madzaahib, Al-Islam al-din al-tasamuh (Pendekatan antara madzhab-madzhab, Islam adalah agama toleransi), dan pada tahun 2000 dengan materi : Al-Taqriib baina al-Madzaahib, Huquq al-Insan fi al-Islam (Pendekatan antara madzhab-madzhab, Hak-hak manusia dalam Islam). Silahkan lihat <a href="http://www.firanda.com/%28http:/nubinong.blogspot.com/2010/03/riwayat-hidup-prof-dr-kh-said-aqiel.html" target="_blank">(http://nubinong.blogspot.com/2010/03/riwayat-hidup-prof-dr-kh-said-aqiel.html</a>). Selain itu beliau juga memberi kata pengantar dan menganjurkan masyarakat muslim Indonesia untuk membaca sebuah buku yang berisi banyak kedustaan karya Idahram, yang dalam buku tersebut sang penulis (Idahram) berkata :  &#8220;Dalam Islam sedikitnya ada tujuh madzhab yang pernah dikenal, yaitu <strong>madzhab Imam Ja&#8217;far As-Shiddiq (madzhab Ahlul Bait)</strong>, madzhab Imam Abu Hanifah An-Nu&#8217;man, madzhab Imam Malik ibnu Anas, madzhab Imam As-Syafii, madzhab Imam Ahmad Ibnu Hanbal, <strong>madzhab Syi&#8217;ah Imamiah</strong>, dan madzhab Dawud Azh-Zhahiri. Sedangkan madzhab salaf tidak pernah ada&#8221;<br />
<strong>Kedua </strong>: Penyamaan beliau antara trinitas ortodoks Kristen dengan tauhid Islam, sebagaimana bisa dilihat di (<a href="http://www.voa-islam.com/counter/christology/2011/10/06/16278/koreksi-aqidah-kh-said-aqil-sirajd-jangan-samakan-tauhid-islam-dengan-trinitas-kristen/" target="_blank">http://www.voa-islam.com/counter/christology/2011/10/06/16278/koreksi-aqidah-kh-said-aqil-sirajd-jangan-samakan-tauhid-islam-dengan-trinitas-kristen/</a>), lihat juga (<a href="http://www.voa-islam.com/news/citizens-jurnalism/2011/11/24/16804/santri-menggugat-kenuan-ketua-umum-pbnu-kh-said-aqiel-siradj" target="_blank">http://www.voa-islam.com/news/citizens-jurnalism/2011/11/24/16804/santri-menggugat-kenuan-ketua-umum-pbnu-kh-said-aqiel-siradj</a>)</p>
<p><strong>Ketiga </strong>: Pernyataan beliau bahwasanya salafy wahabi penebar terorisme, sebagaimana bisa dilihat di (<a href="http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/12/07/16943/ketum-pbnu-said-aqil-siradj-melempar-fitnah-ustadz-membalas-tausiyah/" target="_blank">http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/12/07/16943/ketum-pbnu-said-aqil-siradj-melempar-fitnah-ustadz-membalas-tausiyah/</a>), lihat juga (<a href="http://nahimunkar.com/9926/kayak-bocah-bercerita-gendruwo-saja-said-agil-siradj-menuding-yayasan-yayasan-islam/" target="_blank">http://nahimunkar.com/9926/kayak-bocah-bercerita-gendruwo-saja-said-agil-siradj-menuding-yayasan-yayasan-islam/</a>)</p>
<p>Beliau DR Said Aqiel Siroj telah menghabiskan banyak usia beliau untuk mendalami bidang aqidah di karajaan Arab Saudi. Dari S1 hingga S3 beliau menuntut ilmu di Arab Saudi dan di bidang ushuul ad-diin (aqidah).</p>
<p>-         S1, beliau tempuh Universitas King Abdul Aziz, Jurusan Ushuluddin dan Dakwah, tamat 1982.</p>
<p>-         S2 beliau tempuh Universitas Ummu al-Qura, jurusan Perbandingan Agama, tamat 1987, dengan tesis yang berjudul رَسَائِلُ الرُّسُلِ وَأَثَرُهَا فِي انْحِرَافِ الْمَسِيْحِيَّةِ (Pengaruh Surat-Surat para rasul dalam Bibel terhadap penyimpangan Agama Kristen).</p>
<p>-         S3 Universitas Ummu al-Qura, jurusan Aqidah/Filsafat Islam, tamat 1414 H (1994 M), dengan judul disertasi : صِلَةُ اللهِ بِالْكَوْنِ فِي التَّصَوُّفِ الْفَلْسَفِي (Hubungan antara Allah dan alam menurut perspektif tasawwuf falsafi), yang disertasi beliau ini dibimbing oleh dosen beliau yang bernama As-Syaikh DR. Mahmuud Ahmad Khofaaji</p>
<p>Dari sini kita tahu bahwasanya beliau ini adalah seorang yang pakar dalam bidang aqidah, baik dalam memahami kesesatan kaum Kristen maupun kesesatan kaum sufi.</p>
<p>Berikut ini saya terjemahkan <em>muqoddimah </em>dari disertasi doktoral yang ditulis oleh Prof DR Said Aqiel Siraj (Desertasi tersebut bisa di download di <a href="http://resalty.waqfeya.com/index.php/category-96/thesis-51" target="_blank">http://resalty.waqfeya.com/index.php/category-96/thesis-51</a>).</p>
<p>Muqoddimah ini sangat layak untuk dibaca kembali oleh penulisnya sendiri, yang merupakan nasehat yang sangat indah bagi sang penulis sendiri dan juga kaum muslimin di tanah air, terutama kaum yang dipimpin oleh beliau sekarang. Hal ini mengingat dalam muqoddimah disertasi tersebut beliau (Prof DR Said Aqiel Siradj) telah mentaqrir dan menetapkan landasan-landasan aqidah salaf, karena memang desertasi tersebut beliau tulis untuk membantah kaum sufi. Terlebih lagi dalam desertasi tersebut beliau sering menukil perkataan-perkataan Ibnu Taimiyyah untuk membantah pemikiran sufiah. Semoga bermanfaat bagi kaum muslimin Indonesia.</p>
<p><strong>DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :</strong><br />
<img src="http://www.firanda.com/images/stories/pict-article/sas1/01.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;<strong>Islam menolak segala bentuk kesyirikan, dan menolak perantara-perantara antara Allah dan manusia kecuali perantara kenabian dan kerasulan</strong>, dengan demikian Islam menetapkan keterpisahan yang sempurna antara Allah dan yang lainNya, antara Pencipta dan Makhluk, bahkan malaikat tidak terhubungkan dengan Allah melalui hubungan apapun selain hubungan yang tegak antara Allah dengan makhluk yang lain baik yang materi maupun ruh, yaitu hubungan antara makhluk dan Penciptanya, yaitu hubungan keterpisahan dan bukan hubungan ketersambungan&#8221;</p>
<p><strong>Komentar </strong>:</p>
<p>Pernyataan Kiyai Haji Prof DR di atas persis sama dengan penjelasan Ibnu Taimiyyah dan Muhammad bin Abdil Wahhaab rahimahumallah, bahwasanya Allah tidak butuh kepada washitoh (perantara) dalam penyembahan dan dalam meminta manfaat dan menolak mudhorot. Menjadikan washitoh (perantara) kepada Allah merupakan kesyirikan. <strong>Yang ada hanyalah perantaraan dalam hal risalah dan kenabian</strong>, yaitu para nabi dan para rasul merupakan perantara antara Allah dan manusia dalam menyampaikan risalah/wahyu Allah ta&#8217;alaa.</p>
<p>Ibnu Taimiyyah berkata : &#8220;Dan hal ini merupakan perkara yang disepakati oleh seluruh pemeluk agama dari kalangan kaum muslimin, yahudi, dan nashrani, mereka menetapkan adanya perantara antara Allah dengan hamba-hambaNya. Perantara-perantara tersebut adalah para Rasul yang mereka menyampaikan dari Allah perintah Allah dan khabar dari Allah….&#8221;</p>
<p>Beliau juga berkata, &#8220;Adapun jika yang dimaksudkan dengan perantara adalah bahwasanya harus ada perantara dalam mendatangkan manfaat-manfaat dan menolak kemudorotan, seperti perantara dalam mendatangkan rizki para hamba, dan pertolongan kepada mereka dan hidayah untuk mereka, yang mereka meminta hal-hal tersebut kepada perantara ini dan mengharap kepada perantara ini maka ini merupakan kesyirikan yang paling besar yang karena kesyirikan inilah Allah mengkafirkan kaum musyrikin (Arab), dimana mereka menjadikan selain Allah sebagai penolong-penolong mereka dan para pemberi syafaat kepada mereka&#8221; (Majmuu&#8217; al-Fataawaa 1/122-123). Adapun perkataan Muhammad bin Abdil Wahhaab yang semakna dengan ini maka bisa dibaca di risalah beliau &#8220;Kasyf Asy-Syubhaat&#8221;</p>
<p><strong>DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :</strong><br />
<img src="http://www.firanda.com/images/stories/pict-article/sas1/02.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Dan jika kita mengamati Al-Qur&#8217;aan Al-Kariim maka kita akan mendapati Al-Quran menekankan keterpisahan yang sempurna ini, <strong>maka tidak ada sesuatupun yang berfungsi sebagai suatu perantara antara Allah dan makhlukNya</strong>. Sebagaimana Al-Qur&#8217;an berkali-kali dan berulang-ulang menafikan sifat uluhiyah dari selain Allah ta&#8217;aala dengan penafian secara mutlak, dan menekankan <strong>bahwasanya para nabi dan para rasul mereka dari golongan manusia dan dari tabi&#8217;at manusia</strong>. Inilah yang ditetapkan oleh rukun Islam yang pertama yaitu Syahadah (Persaksian) bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah melainkan Allah dan bahwasanya Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya. Dan ini adalah syahadah penafian dan penetapan (itsbaat), menafikan secara mutlak uluhiah (ketuhanan) dari selain Allah dan tidak ditetapkan kecuali hanya untuk Allah semata, dan menetapkan bahwasanya Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, dan <strong>Muhammad adalah manusia sebagaimana seluruh manusia (*yang lain). Dan seluruh perbedaan antara Muhammad dan mereka adalah beliau diberi wahyu aqidah tauhid</strong>&#8220;</p>
<p><strong>Komentar :</strong></p>
<p>Dalam paragraf ini DR Said menekankan perkara yang sangat penting yaitu tentang aqidah yang benar terhadap Nabi Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, bahwasanya beliau adalah manusia biasa sebagaimana seluruh manusia yang lain yang memiliki tabi&#8217;at manusia. Yang membedakan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dengan manusia yang lain hanyalah Nabi telah diberi wahyu berupa aqidah tauhid. Hal ini tentunya bertentangan dengan keyakinan sebagian kaum sufi yang terlalu berlebih-lebihan kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. (silahkan lihat <a href="http://www.firanda.com/index.php/artikel/aqidah/116-berlebih-lebihan-kepada-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-hingga-mengangkat-beliau-pada-derajat-ketuhanan" target="_blank">http://www.firanda.com/index.php/artikel/aqidah/116-berlebih-lebihan-kepada-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-hingga-mengangkat-beliau-pada-derajat-ketuhanan</a>)</p>
<p><strong>DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :</strong><br />
<img src="http://www.firanda.com/images/stories/pict-article/sas1/03.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Dan aqidah tauhid yang dibawa oleh Islam <strong>menolak seluruh kesyirikan, sama saja apakah kesyirikan yang tegak di atas pendapat berbilangnya Tuhan atau kesyirikan yang dibangun di atas keimanan kepada adanya perantara-perantara antara Allah dan manusia. </strong>Dari situ maka hubungan antara Allah dengan alam –termasuk di dalamnya adalah manusia- adalah hubungan keterpisahan. Allah maha Esa tidak ada syarikat baginya, terpisah dari alam dengan keterpisahan yang sempurna dengan ke-Esa-anNya dalam Dzatnya, sifat-sifatNya, dan perbuatan-perbuatanNya, dan Allah tersucikan dari seluruh bentuk penyamaan dengan makhluk-makhlukNya.</p>
<p>Aqidah ini dialah aqidah yang telah disepakati oleh seluruh kaum muslimin, baik salaf mereka (*golongan terdahulu) maupun kholaf mereka (*golongan belakangan), kecuali sufiah filsafat, sebagaimana akan kita lihat di tengah lembaran-lembaran pembahasan ini&#8221;</p>
<p><strong>Komentar :</strong></p>
<p>Dalam paragraph ini kembali DR Said Aqiel menekankan bahwasanya Islam menolak segala bentuk kesyirikan. Dan bentuk-bentuk kesyirikan ada dua:</p>
<p><em>Pertama </em>: Dengan menjadikan Tuhan berbilang, sebagaimana trinitasnya kaum Nasrani, dan juga dewa-dewa Kaum Hindu.</p>
<p><em>Kedua </em>: Menjadikan perantara antara Allah dan manusia. Hal ini sebagaimana keysirikan kaum musyrikin Arab (silahkan lihat kembali : <a href="http://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/126-bantahan-terhadap-abu-salafy-seri-5-hakikat-kesyirikan-kaum-muysrikin-arab" target="_blank">http://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/126-bantahan-terhadap-abu-salafy-seri-5-hakikat-kesyirikan-kaum-muysrikin-arab</a>)</p>
<p><strong>DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :</strong></p>
<p><img src="http://www.firanda.com/images/stories/pict-article/sas1/04.jpg" alt="" border="0" /></p>
<p>&#8220;Kemudian Islam adalah berpegang teguh dengan perintah-perintah Allah dan perintah-perintah RasulNya shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan menjauhi apa yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, dan meneladani kehidupan Rasulullah dan <strong>mengikuti jalan-jalan dan sunnah-sunnah yang telah ditempuh oleh para sahabatnya –semoga Allah meridhoi mereka</strong>-</p>
<p>Allah berfirman : <em>&#8220;Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat&#8221;</em> (QS Al-Ahzaab : 21)</p>
<p>Dan Allah ta&#8217;aala juga berfirman : <em>&#8220;Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah&#8221;</em> (QS Al-Hasyr : 7)</p>
<p>Allah juga berfirman : <em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari pada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya)&#8221;</em> (QS Al-Anfaal : 20)&#8221;</p>
<p><strong>Komentar :</strong></p>
<p>Dalam paragraf ini DR Said Aqiel menekankan untuk mengikuti jalan para sahabat Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, bahkan beliau mendoaakan para sahabat agara diridhoi oleh Allah. Dan ini tentunya bertentangan dengan aqidah Syi&#8217;ah yang justru berdoa agar Allah melaknat para sahabat dan juga mengkafirkan para sahabat.</p>
<p><strong><br />
DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :</strong><br />
<img src="http://www.firanda.com/images/stories/pict-article/sas1/05.jpg" alt="" border="0" /><br />
Dan perintah-perintah Allah dan RasulNya –demikian pula larangan-larangan Allah dan RasulNya- terjaga dalam Al-Qur&#8217;an Al-Kariim dan Sunnah-sunnah Nabi yang mulia. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p>&#8220;Aku meninggalkan pada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh dengan kedua perkara tersebut, <strong>yaitu kitabullah dan sunnah NabiNya&#8221;</strong></p>
<p><strong>Komentar :</strong></p>
<p>Dalam paragraf ini DR Said Aqiel menegaskan akan pentingnya berlandaskan kepada Al-Qur&#8217;an dan Sunnah-Sunnah Nabi, yang keduanya merupakan sumber hukum kaum muslimin. Hal ini tentunya berbeda dengan:</p>
<p>-         Keyakinan sebagian kaum sufi yang terkadang berdalil dengan kisah-kisah…yang tidak tahu juntrung keabsahannya. Tidak jarang berupa cerita-cerita karomah yang masih dipertanyakan akan kevalidannya lantas cerita-cerita tersebut dijadikan dalil utama sehingga ditolaklah pendalilan dengan Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah</p>
<p>-         Sikap sebagian sufi yang taklid buta kepada gurunya, meskipun pemikiran-pemikiran gurunya bertentangan dengan Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah. Sehingga seakan-akan perkataan gurunya merupakan salah satu sumber hukum</p>
<p><strong>DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :</strong><br />
<img src="http://www.firanda.com/images/stories/pict-article/sas1/06.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;<strong>Dan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah mentarbiah (membina) para sahabatnya dibawah naungan dan petunjuk kitabullah dan sunnahnya, yaitu dengan tarbiah percontohan agar mereka menjadi teladan bagi orang-orang yang datang setelah mereka hingga hari kiamat. Maka mereka adalah praktek nyata (hidup) dari ajaran-ajaran Allah dan arahan-arahan RasulNya. Mereka berittiba&#8217; dan meneladani serta tidak melakukan bid&#8217;ah dan mengada-ngadakan. Mereka adalah para wali-wali Allah yang tidak kawatir dan tidak bersedih. Mereka adalah teladan dan tolak ukur untuk mengenal al-haq (kebenaran) dari kebatilan, dan untuk membedakan petunjuk dari kesesatan</strong>&#8220;.</p>
<p><strong>Komentar </strong>:</p>
<p>Dalam paragraf ini beliau menekankan kembali akan mulianya para sahabat dari beberapa sisi:</p>
<p><em>Pertama </em>: Para sahabat telah ditarbiyah/dibina dan dididik <strong>langsung </strong>oleh Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Tentunya guru sangat berpengaruh kepada murid-muridnya</p>
<p><em>Kedua </em>: Tarbiyah tersebut berdasarkan naungan dan cahaya al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah</p>
<p><em>Ketiga </em>: Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mentarbiyah para sahabat dengan tarbiyah khusus yaitu <strong>tarbiyah percontohan</strong>, dengan maksud agar para sahabat menjadi contoh bagi generasi-generasi setelah mereka</p>
<p><em>Keempat </em>: Amalan para sahabat adalah praktek hidup/nyata terhadap ajaran Al-Qur&#8217;an dan sunnah Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>Hal ini tentu sangatlah jelas ditinjau dari beberapa sisi</p>
<p>-         Para sahabatlah yang paham tentang maksud Allah dan RasulNya.</p>
<p>-         Ayat-ayat al-Qur&#8217;an yang pertama kali mempraktekannya adalah para sahabat.</p>
<p>-         Tatkala para sahabat menerapkan ayat-ayat Allah mereka dibimbing langsung oleh Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam, sehingga jika mereka salah praktek, atau salah paham tentang Al-Qur&#8217;an maka akan ditegur langsung oleh Allah atau melalui Rasulullah yang merupakan guru dan pengawas mereka</p>
<p>Kelima : Para sahabat tidak melakukan bid&#8217;ah dan tidak mengadakan perkara-perkara baru dalam agama, akan tetapi mereka meneladani guru mereka Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</p>
<p>Keenam : Para sahabat adalah wali-wali Allah…maka yang memusuhi dan membenci mereka…apalagi mengkafirkan mereka tentunya wali-wali syaitan</p>
<p>Ketujuh : (Dan ini merupakan poin yang terpenting) yaitu DR Said Aqiel menjelaskan bahwa para sahabat adalah <strong><em>tolak ukur </em></strong>kebenaran, sehingga terbedakan hak dari kebatilan, dan terbedakan petunjuk dari kesesatan.</p>
<p>Sungguh ini adalah manhaj yang selalu dan senantiasa diserukan dan dipropagandakan oleh kaum wahabi (salafy) yaitu agar kembali kepada pemahaman dan manhaj para sahabat yang jauh dari bid&#8217;ah dan perkara-perkara baru dalam agama.</p>
<p>Dan inilah juga yang selalu diserukan oleh kaum yang disebut-disebut oleh orang yang memusuhinya “Salafy wahabi” agar senantiasa mencintai para sahabat dan memusuhi orang-orang yang membenci (bahkan mengkafirkan) para sahabat seperti kaum syi&#8217;ah. Jika para sahabat yang sedemikian mulianya (sebagaimana penjabaran DR Said Aqiel diatas) itu saja dikafirkan maka bagaimana lagi dengan para pengikut mereka yang jauh dari kemuliaan para sahabat Nabi radhiallahu &#8216;anhum.</p>
<p><strong>DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :</strong><br />
<img src="http://www.firanda.com/images/stories/pict-article/sas1/07.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Dan dibawah cahaya al-kitab dan as-sunnah dan siroh Rasulullah serta amalan para sahabatnya ditimbang amalan-amalan kaum muslimin dan perkataan mereka. Maka apa yang ada sandarannya dan dalil maka dihukumi dengan amalan/perkataan yang sah dan benar. &#8220;<strong>Dan apa yang menyelisihi al-kitab dan as-sunnah dan tidak atsarnya dalam kehidupan para sahabat maka dihukumi dengan fasad (rusak) dan batil. Dan semua yang keluar dari manhaj ini maka sungguh telah sesat dan menyesatkan</strong>&#8220;.</p>
<p><strong>Komentar :</strong></p>
<p>Dalam paragraf ini kembali DR Said Aqiel menekankan akan pentingnya manhaj salaf yaitu manhaj yang berlandaskan kepada Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman para sahabat. Beliau juga kembali menegaskan bahwa seluruh perkataan/pendapat dan amal perbuatan manusia harus ditimbang di atas manhaj salaf ini. Jika ada suatu pemikiran atau amal perbuatan yang tidak diriwayatkan ada di masa kehidupan para sahabat maka pemikiran dan amal perbuatan tersebut batil. <strong>Ini merupakan seruan yang tegas dari beliau kepada kaum muslimin –terutama di Indonesia- untuk kembali menimbang amal-amalan yang sering mereka lakukan. Apakah amalan-amalan tersebut pernah dilakukan dan diamalkan oleh para sahabat??, jika tidak pernah maka hal itu adalah batil dan sesat, bahkan pelakunya sesat dan menyesatkan</strong>.</p>
<p><strong><br />
DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :</strong><br />
<img src="http://www.firanda.com/images/stories/pict-article/sas1/08.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Dan tatkala saya adalah salah seorang mahasiswa di jurusan Aqidah saya melihat bahwasanya merupakan <strong>kewajiban atas saya untuk mencari-cari/mengikuti dan menyelidiki manhaj-manhaj yang sesat dan jauh dari al-kitab dan as-sunnah</strong>. Dan telah beberapa lama saya menyelidiki manhaj-manhaj tersebut untuk saya jelaskan penyimpangan dan kesesatannya dan jauhnya manhaj tersebut dari Islam. <strong>Termasuk merupakan perkara yang menyusahkan dan menggelisahkan aku adalah apa yang aku dapati dari manhaj-manhaj para sufi ahli filsafat yang mereka telah jauh dari Islam</strong>, yaitu tentang pemahaman mereka tentang hubungan alam dengan penciptanya, dengan pemikiran-pemikiran mereka yang sesat berupa hulul dan ittihad dan wihdatul wujud (yiatu hulul/menempatinya Allah ke alam, dan ittihad/menyatunya alam dengan Allah, dan wihdah/kesatuan alam bersama Allah), yang hal itu melalui metode filsafat al-fanaa&#8217; dan fanaa al-fanaa, dan seluruhnya merupakan pemikiran-pemikiran yang aneh dan muhdatsah (diada-adakan) serta menyusup di tengah-tengah masyarakat islami&#8221;</p>
<p><strong>Komentar :</strong></p>
<p>Dalam paragraf ini DR Said Aqiel memaparkan bagaimana semangat beliau untuk bernahi mungkar. Beliau terpanggil bahkan beliau merasa wajib untuk mengikuti dan menyelidiki manhaj-manhaj yang sesat. Bahkan sangat menggelisahkan beliau kesesatan yang terdapat dalam manhaj kaum sufi philosofi, yang kesesatan ini merupakan perkara muhdats (bid&#8217;ah) yang telah menyusup dalam masyarakat islam.</p>
<p><strong>DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :</strong><br />
<img src="http://www.firanda.com/images/stories/pict-article/sas1/09.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Dan permulaan munculnya pemikiran filsafat sesat tersebut di akhir-akhir abad kedua hijriah. Lalu berkembang dengan pesat di tengah abad ketiga hijriah. Dimulai dari Jabir bin Hayyan dan Abu Hasyim dan Abduk hingga Ibnu &#8216;Arobi sang fhilosofi besar, Al-Ghunushy Al-Khothiir, dan melewati Dzu An-Nuun Al-Mishriy, Abi Yaziid Al-Busthoomy, Al-Hallaaj, Al-Junaid, An-Nafary, Al-Gozhaaly, lalu As-Sahrowardi yang terbunuh&#8221;.</p>
<p><strong>Komentar :</strong></p>
<p>Dalam paragaf ini beliau menjelaskan tentang tokoh-tokoh sufi filsafat yang memiliki pemahaman sesat wihdatul wujud. Yang diantara tokoh-tokoh tersebut ada yang digandrungi oleh kaum sufi di Indonesia. Diantaranya adalah <strong>Ibnu &#8216;Arobi</strong> dan <strong>Al-Ghozali</strong>.</p>
<p>Adapun <em>Ibnu &#8216;Arobi</em> maka DR Said Aqiel telah menjelaskan kesesatannya dalam disertasinya tersebut pada hal 446 hingga hal 450. Beliau menjelaskan tentang pemikiran Ibnu Arobi dalam dua kitabnya yang berisikan tentang pemikiran wihdatul wujud (bersatunya Allah dengan alam). Kitab yang pertama adalah kitab <em>Al-Futuhaat Al-Makkiyah</em>, yang dimana Ibnu Arobi mengaku bahwa apa yang dituliskannya dalam kitab tersebut adalah wahyu dan didikte oleh Allah. Adapun kitab yang kedua adalah <em>Fushus Al-Hikam </em>maka Ibnu Arobi mengaku bahwa kitab tersebut datangnya dari Rasulullah. Dalam kitab Fushus Al-Hikam inilah Ibnu Arobi mengatakan bahwa Fir&#8217;aun adalah orang beriman dan masuk surga !!, hal ini karena tatkala Fir&#8217;aun mengatakan :&#8221;Aku adalah Tuham kalian yang maha tinggi&#8221; menunjukan bahwa Fir&#8217;aun paham bahwasanya Allah telah bersatu dengan alam, telah bersatu dengan dirinya. Jadi perkataan Fir&#8217;aun tersebut adalah perkataan yang hak dan benar</p>
<p>Adapun Abu Hamid <em>Al-Ghozaali</em>, maka kesesatannya tentang pemahaman wahdatul Wujud telah dijelaskan oleh DR Said Aqiel Siraj dalam disertasinya pada hal 168 hingga hal 172. Pemikiran wihdatul wujud Al-Ghozaali sangat nampak dalam kitabnya <em>Ihyaa Uluumiddiin</em> (yang kitab ini sangat digandrungi oleh kaum sufi di Indonesia) dan kitabnya Misykaat al-Anwaar. Adapun bantahan terhadap pemikiran Al-Ghozali ini maka telah ditulis dengan panjang lebar oleh DR Said Aqiel dalam disertasinya dari hal 199 hingga hal 221.</p>
<p><strong><br />
DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :</strong><br />
<img src="http://www.firanda.com/images/stories/pict-article/sas1/10.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Dan merupakan perkara yang diketahui bahwasanya kaum muslimin di Indonesia menghadapi problematika-problematika besar baik problematika politik, ekonomi, social dan problematika aqidah. <strong>Di hadapan mereka musuh-musuh mereka yang menanti-nanti (*keburukan bagi) kaum muslimin berupa gerakan kristenisasi, sekuler, bathiniyah, dan sekte-sekte sesat –Syi&#8217;ah, Ahmadiyah, dan Bahaaiyah, lalu Sufiyah</strong>&#8220;</p>
<p><strong>Komentar :</strong></p>
<p>Pada paragraf ini DR Said Aqiel menegaskan bahwasanya diantara musuh-musuh kaum muslimin Indonesia adalah gerakan kristenisasi dan sekuler. Selain itu juga sekte-sekte yang sesat seperti Syi&#8217;ah dan Ahmadiyah qodyaniah. Dan musuh kaum muslimin Indonesia yang terakhir beliau sebutkan adalah <strong>kaum sufi</strong>.</p>
<p>Ini merupakan nasehat yang sangat penting dari beliau akan bahayanya kaum <strong>Syi&#8217;ah</strong> dan kaum <strong>Sufi</strong>, karena mereka adalah musuh-musuh yang senantiasa menanti-nanti keburukan kaum muslimin Indonesia.</p>
<p><strong>DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :</strong><br />
<img src="http://www.firanda.com/images/stories/pict-article/sas1/11.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;<strong>Dan sufiyah di Indonesia sungguh telah sukses besar dalam menyebarkan ajaran-ajaran mereka yang sesat -meskipun kebanyakan mereka tidak beriman dengan aqidah hulul dan ittihad serta wihdatul wujud-. Dan ajaran sufiah ini senantiasa masih termasuk ajaran yang paling berbahaya yang tersebar di negeri Indonesia, hal ini disebabkan kejahilan kaum muslimin di Indonesia terhadap aqidah yang benar</strong>&#8220;<br />
<strong><br />
Komentar :</strong></p>
<p>Pada paraghraf ini, beliau menyatakan bahwa kaum sufi telah sukses besar dalam menyebarkan pemahaman dan ajaran-ajaran mereka di Indonesia. <strong>Namun timbul pertanyaan di benak saya, &#8220;Siapakah kaum sufi dimaksud oleh beliau??</strong>, yang telah berhasil menyebarkan ajaran mereka ke penjuru Indoesia??&#8221;, Apakah maksud beliau gerakan Muhammadiah?, ataukah Persis?, <strong>ataukah NU (Nahdatul Ulama) </strong>yang sedang beliau pimpin sekarang ini?, ataukah yang lainnya?. Semoga beliau bisa menjelaskan hal ini, dan semoga para pembaca juga mungkin bisa membantu menjelaskan maksud beliau. Terlebih lagi ada tariqah mu&#8217;tabar yang berada di bawah naungan NU, lihat (<a href="http://nu.or.id/page/id/dinamic_detil/1/34341/Warta/Habib_Luthfy__Pengurus_Thoriqoh_jangan_Seperti_Krupuk___.html" target="_blank">http://nu.or.id/page/id/dinamic_detil/1/34341/Warta/Habib_Luthfy__Pengurus_Thoriqoh_jangan_Seperti_Krupuk___.html</a>) dan (<a href="http://alfiananda.wordpress.com/2010/07/17/thariqah-al-mutabarah-dari-waktu-ke-waktu/" target="_blank">http://alfiananda.wordpress.com/2010/07/17/thariqah-al-mutabarah-dari-waktu-ke-waktu/</a>, dan <a href="http://alfiananda.wordpress.com/2010/07/23/lambang-jam%E2%80%99iyyah-ahlith-thoriqoh-al-mu%E2%80%99tabarah-an-nahdliyyah/" target="_blank">http://alfiananda.wordpress.com/2010/07/23/lambang-jam%E2%80%99iyyah-ahlith-thoriqoh-al-mu%E2%80%99tabarah-an-nahdliyyah/</a>, serta lihat <strong>komentar DR Said Aqiel tentang tasawwuf</strong> di <a href="http://nu.or.id/page/id/dinamic_detil/12/34786/Buku/Urgensi_Tasawuf_di_Era_Globalisasi.html" target="_blank">http://nu.or.id/page/id/dinamic_detil/12/34786/Buku/Urgensi_Tasawuf_di_Era_Globalisasi.html</a>)</p>
<p><strong>Dan saya sangat setuju dengan pendapat beliau bahwa ajaran-ajaran sesat seperti ini tersebar disebabkan karena kejahilan kaum muslim di Indonesia terhadap akidah yang benar sehingga mudah mereka terjangkiti ajaran-ajaran sufiah</strong>.</p>
<p><strong>DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :</strong><br />
<img src="http://www.firanda.com/images/stories/pict-article/sas1/12.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Dikarenakan hal ini seluruhnya dan setelah aku menulis tesisku untuk meraih gelar Master di bidang aqidah tentang <strong>bantahan kepada Kristen </strong>maka aku memilih pembahasan desertasiku untuk meraih gelar Doktor <strong>tentang bantahan kepada sufiah</strong>, terukhususkan sufiah filsafat, dengan judul :</p>
<p>&#8220;Hubungan Allah dengan alam menurut sufi filsafat, penelitian dan kritikan&#8221;</p>
<p><strong>DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :</strong><br />
<img src="http://www.firanda.com/images/stories/pict-article/sas1/13.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Dan telah ditulis banyak pembahasan dan telah tersebar banyak risalah-risalah ilmiah seputar perkara ini, akan tetapi saya melihat perkaranya masih butuh untuk ditinjau kembali, dengan tinjauan islami dengan <strong>timbangan/tolak ukurnya yang benar dan analogi yang benar, yaitu kitabullah dan sunnah Rasulullah, dan ditambah dengan manhaj para ulama salafus sholeh</strong>&#8220;</p>
<p><strong>Komentar :</strong></p>
<p>Pada paragraf ini beliau menegaskan kembali bahwasanya tolak ukur yang benar untuk digunakan dalam mengukur kebenaran yaitu Al-Qur&#8217;an, As-Sunnah dengan manhaj Salaf.</p>
<p><strong>Setelah itu DR Sa&#8217;id Aqiel Siraj menyebutkan khuttoh bahas disertasinya lalu beliau berkata :</strong><br />
<img src="http://www.firanda.com/images/stories/pict-article/sas1/14.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Adapun sisi kritikan maka saya memperhatikan manhaj/metode pengkritikan yang ilmiyah yang benar, maka saya mengkritik pendapat-pendapat mereka (kaum sufi) dan <strong>saya menjelaskan kebatilan pemikiran-pemikiran mereka dengan al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah, dan dengan dalil akal yang shahih, dan dengan perkataan para ulama yang sholihin. Dan dalam hal ini saya berusaha untuk menjauh dari fanatisme/ta&#8217;asshub dan sikap tidak inshoof (tidak adil)</strong>&#8220;</p>
<p><strong>Komentar:</strong></p>
<p>Pada paragraf ini DR Said Aqiel Siroj menjelaskan bahwa beliau menjauhi sikap fanatik dan sikap tidak inshoof (adil) dalam menulis disertasinya. Karenanya saya sangat berharap para pembaca membaca disertasi yang ditulis beliau ini yang sarat dengan faedah dan jauh dari sikap fanatik buta tanpa dalil. Bahkan dalam paragraf ini beliau (DR Said Aqiel) menegaskan bahwa beliau menjelaskan kebatilan pemikiran sufi falsafi dengan <strong>berdasarkan perkataan ulama yang sholihin. Siapakah yang dimaksud oleh beliau dengan Ulama yang sholihin ini??</strong>. Jika para pembaca menelaah disertasi karya DR Said Aqiel Siroj ini maka para pembaca akan menemukan bahwasanya perkataan alim ulama yang paling dijadikan landasan oleh DR Said Aqiel dalam membatilkan pemikiran sufi falsafi adalah perkataan <strong>Ibnu Taimiyyah </strong>rahimahullah yang dituduh sebagai dedengkotnya salafy. Jadi sangat jelas bahwasanya DR Said Aqiel menganggap Ibnu Taimiyyah adalah sosok alim ulama yang sholih, karenanya DR Said Aqiel menjadikan perkataan-perkataannya untuk membantah tokoh-tokok sufi seperti Ibnu Arobi dan Al-Ghozali.</p>
<p><strong>DR Said Aqiel Siradj berkata :</strong><br />
<img src="http://www.firanda.com/images/stories/pict-article/sas1/15.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Dan tujuanku dalam disertasiku ini adalah menampilkan dirosah/penelitian yang sungguh-sungguh dan teliti/detail dengan harapan untuk menampakan dan menjelaskan hakikat/kebenaran, yang selanjutnya adalah untuk membela kebenaran dan untuk meninggikan kalimat Allah yang tinggi. <strong>Maka aku meminta kepada Allah Azza wa Jalla untuk merealisasikan harapan tujuan desertasi ini dan agar memberi faedah kepada para pembacanya dan menjadikannya ikhlash karena mengharapkan wajahNya</strong>, dan aku beristighfar kepada Allah atas seluruh kesalahanku yang ada dalam disertasiku ini, dan aku bersyukur kepadaNya atas kebenaran yang Allah hidayahkan kepadaku, dan segala puji bagi Allah di permulaan dan di akhir, dan Dialah cukup bagiku, dan sebaik-baik tempat bertawakal, dan semoga shalawat dan shalam tercurahkan bagi sayyidinaa Muhammad dan keluarganya serta para sahabatnya&#8221;</p>
<p><strong>Komentar :</strong></p>
<p>Semoga artikel yang saya paparkan ini membantu mewujudkan terkabulnya harapan DR Said Aqiel Siroj, sehingga risalah disertasi yang bagus ini bisa dipetik faedahnya oleh para pembaca sekalian, khususnya kaum muslimin di Indonesia.</p>
<p>Demikianlah muqoddimah yang ditulis oleh DR Said Aqiel Siraj di muqoddimah disertasi beliau dan sedikit komentar dari saya. Sungguh muqoddimah  yang sarat dengan penjelasan pokok-pokok usul aqidah Ahlus Sunnah yang dibangun di atas manhaj salaf.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kota Nabi -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam-, 14-01-1433 H / 09 Desember 2011 M</p>
<p>Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja</p>
<p>www.firanda.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bantahansalafytobat.wordpress.com/440/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bantahansalafytobat.wordpress.com/440/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bantahansalafytobat.wordpress.com/440/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bantahansalafytobat.wordpress.com/440/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bantahansalafytobat.wordpress.com/440/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bantahansalafytobat.wordpress.com/440/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bantahansalafytobat.wordpress.com/440/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bantahansalafytobat.wordpress.com/440/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bantahansalafytobat.wordpress.com/440/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bantahansalafytobat.wordpress.com/440/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bantahansalafytobat.wordpress.com/440/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bantahansalafytobat.wordpress.com/440/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bantahansalafytobat.wordpress.com/440/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bantahansalafytobat.wordpress.com/440/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bantahansalafytobat.wordpress.com&amp;blog=16552009&amp;post=440&amp;subd=bantahansalafytobat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bantahansalafytobat.wordpress.com/2011/12/10/nasehat-dr-said-aqiel-siradj-ma-untuk-ketua-pbnu-kiyai-haji-said-aqiel-siradj/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ea85548627490456d5731e02afd96799?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bantahansalafytobat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.firanda.com/images/stories/pict-article/sas1/01.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.firanda.com/images/stories/pict-article/sas1/02.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.firanda.com/images/stories/pict-article/sas1/03.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.firanda.com/images/stories/pict-article/sas1/04.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.firanda.com/images/stories/pict-article/sas1/05.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.firanda.com/images/stories/pict-article/sas1/06.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.firanda.com/images/stories/pict-article/sas1/07.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.firanda.com/images/stories/pict-article/sas1/08.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.firanda.com/images/stories/pict-article/sas1/09.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.firanda.com/images/stories/pict-article/sas1/10.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.firanda.com/images/stories/pict-article/sas1/11.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.firanda.com/images/stories/pict-article/sas1/12.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.firanda.com/images/stories/pict-article/sas1/13.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.firanda.com/images/stories/pict-article/sas1/14.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.firanda.com/images/stories/pict-article/sas1/15.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Pendalilan Habib Munzir Untuk Membolehkan Bersitighotsah Kepada Mayat (Seri 1)</title>
		<link>http://bantahansalafytobat.wordpress.com/2011/11/26/pendalilan-habib-munzir-untuk-membolehkan-bersitighotsah-kepada-mayat-seri-1/</link>
		<comments>http://bantahansalafytobat.wordpress.com/2011/11/26/pendalilan-habib-munzir-untuk-membolehkan-bersitighotsah-kepada-mayat-seri-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Nov 2011 14:51:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bantahansalafytobat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bantahan Ilmiyyah]]></category>
		<category><![CDATA[HABIB MUNZIR AL-MUSAWA]]></category>
		<category><![CDATA[ISTIGHOTSAH]]></category>
		<category><![CDATA[istighosah kepada kuburan]]></category>
		<category><![CDATA[menyingkap penyimpangan habib munzir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bantahansalafytobat.wordpress.com/?p=435</guid>
		<description><![CDATA[PERTAMA : Pendalilan Habib Munzir dengan hadits syafaat Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pada hari kiamat Habib Munzir berkata : &#8220;Rasul saw memperbolehkan Istighatsah, sebagaimana hadits beliau saw : “Sungguh matahari mendekat dihari kiamat hingga keringat sampai setengah telinga, dan sementara mereka dalam keadaan itu mereka ber-istighatsah (memanggil nama untuk minta tolong) kepada Adam, lalu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bantahansalafytobat.wordpress.com&amp;blog=16552009&amp;post=435&amp;subd=bantahansalafytobat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://bantahansalafytobat.files.wordpress.com/2011/11/perahu-ed.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-436" title="perahu-ed" src="http://bantahansalafytobat.files.wordpress.com/2011/11/perahu-ed.jpg?w=150&#038;h=101" alt="" width="150" height="101" /></a>PERTAMA : Pendalilan Habib Munzir dengan hadits syafaat Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pada hari kiamat</strong></p>
<p><strong>Habib Munzir</strong> berkata :</p>
<p>&#8220;Rasul saw memperbolehkan Istighatsah, sebagaimana hadits beliau saw : “Sungguh matahari mendekat dihari kiamat hingga keringat sampai setengah telinga, dan sementara mereka dalam keadaan itu mereka ber-istighatsah (memanggil nama untuk minta tolong) kepada Adam, lalu mereka beristighatsah kepada Musa, Isa, dan kesemuanya tak mampu berbuat apa apa, lalu mereka beristighatsah kepada Muhammad saw” (Shahih Bukhari hadits no.1405),<span id="more-435"></span><br />
juga banyak terdapat hadits serupa pada Shahih Muslim hadits No.194, Shahih Bukhari hadits No.3162, 3182, 4435, dan banyak lagi hadist2 shahih yang Rasul saw menunjukkan ummat manusia beristighatsah pada para Nabi dan Rasul, bahkan Riwayat Shahih Bukhari dijelaskan bahwa mereka berkata pada Adam, Wahai Adam, sungguh engkau adalah ayah dari semua manusai.. dst.. dst&#8230;dan Adam as berkata : “Diriku..diriku.., pergilah pada selainku.., hingga akhirnya mereka ber Istighatsah memanggil – manggil Muhammad saw, dan Nabi saw sendiri yang menceritakan ini, dan menunjukkan beliau tak mengharamkan Istighatsah.</p>
<p>Maka hadits ini jelas – jelas merupakan rujukan bagi istighatsah, bahwa Rasul saw menceritakan orang – orang ber-istighatsah kepada manusia, dan Rasul saw tak mengatakannya syirik, namun jelaslah Istighatsah diperbolehkan bahkan hingga dihari kiamat kepada para hamba yg dekat pada Allah di hari kiamat, dan ternyata dihari kiamat Istighatsah diizinikan Allah swt hanya untuk Sayyidina Muhammad saw&#8221; (Kenalilah aqidahmu 2 hal 76-77)<br />
<strong></p>
<p>Sanggahan :</strong><br />
Hadits yang dijadikan dalil oleh Habib Munzir ini adalah tentang istighotsah pada waktu di padang mahsyar.</p>
<p>Marilah para pembaca yang budiman kita melihat lafal hadits tersebut secara utuh, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p>يَجْمَعُ اللهُ النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُوْلُوْنَ لَوِ اسْتَشْفَعْنَا عَلَى رَبِّنَا حَتَّى يُرِيْحَنَا مِنْ مَكَانِنَا، فَيَأْتُوْنَ آدَمَ فَيَقُوْلُوْنَ أَنْتَ الَّذِي خَلَقَكَ اللهُ بِيَدِهِ وَنَفَخَ فِيْكَ مِنْ رُوْحِهِ وَأَمَرَ الْمَلَائِكَةَ فَسَجَدُوْا لَكَ فَاشْفَعْ لَنَا عِنْدَ رَبِّنَا، فَيَقُوْلُ لَسْتُ هُنَاكُمْ وَيَذْكُرُ خَطِيْئَتَهُ وَيَقُوْلُ ائْتُوْا نُوْحًا أَوَّلَ رَسُوْلٍ بَعَثَهُ اللهُ، فَيَأْتُوْنَهُ فَيَقُوْلُ لَسْتُ هُنَاكُمْ وَيَذْكُرُ خَطِيْئَتَهُ ائْتُوْا إِبْرَاهِيْمَ الَّذِي اتَّخَذَهُ اللهُ خَلِيْلاً، فَيَأْتُوْنَهُ فَيَقُوْلُ : لَسْتُ هُنَاكُمْ وَيَذْكُرُ خَطِيْئَتَهُ ائْتُوا مُوْسَى الَّذِي كَلَّمَهُ اللهُ فَيَأْتُوْنَهُ فَيَقُوْلُ لَسْتُ هُنَاكُمْ فَيَذْكُرُ خَطِيْئَتَهُ ائْتُوا عِيْسَى فَيَأْتُونَهُ فَيَقُوْلُ لَسْتُ هُنَاكُمْ ائْتُوا مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ فَيَأْتُوْنِي فَأَسْتَأْذِنُ عَلَى رَبٍّي</p>
<p>Allah mengumpulkan manusia pada hari kiamat, maka mereka berkata, &#8220;Bagaimana kalau kita mencari syafaat agar Allah mengistirahatkan kita dari tempat kita ini&#8221;. Maka merekapun mendatangi Adam, mereka berkata : &#8220;Engkaulah orang yang telah Allah diciptakan oleh dengan tanganNya dan Allah telah meniupkan dari ruh ciptaanNya kepadamu dan memerintahkan para malaikat maka merekapun sujud kepadamu, maka berilah syafaat bagi kami di sisi Rob kami&#8221;. Maka Adam berkata, &#8220;Aku tidak pantas&#8221; dan Adam menyebutkan kesalahannya dan berkata, &#8220;Pergilah ke Nuuh, rasul yang pertama kali Allah utus !&#8221;. Maka merekapun mendatangi Nuuh, dan beliau berkata, &#8220;Aku tidak pantas&#8221;, lalu ia menyebutkan kesalahannya, ia berkata, &#8220;Pergilah kalian ke Ibrahim yang telah dijadikan Allah sebagai kekasih Allah !&#8221;. Maka merekapun mendatanginya dan ia berkata, &#8220;Aku tidak pantas&#8221;, dan ia menyebutkan kesalahannya, (dan berkata) : &#8220;Datangilah Musa yang Allah telah berbicara dengannya&#8221;. Maka merekapun mendatanginya, lalu ia berkata, &#8220;Aku tidak pantas&#8221; dan ia menyebutkan kesalahannya, (dan berkata), &#8220;Datangilah Isa&#8221;. Maka merekapun mendatangi Isa, lalu ia berkata, &#8220;Aku tidak pantas, pergilah ke Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang telah diampuni dosa-dosanya yang lampau dan yang mendatang&#8221;. Maka merekapun mendatangiku, lalu aku meminta izin kepada Robku….&#8221;  (<em>HR Al-Bukhari no 6565 dan Muslim no 193</em>)</p>
<p>Jawaban dari pendalilan ini dari beberapa sisi :</p>
<p><strong>Pertama </strong>: Kondisinya jelas tatkala itu, Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dalam keadaan hidup –setelah dibangkitkan dari kuburan beliau- dan manusia juga dalam keadaan hidup karena telah dibangkitkan dari kuburan mereka. Mereka berbicara dengan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan Nabi juga berbicara dengan mereka. Tentunya ini berbeda dengan kondisi seseorang beristighootsah kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang dalam keadaan telah wafat dan dalam keadaan di kuburan.</p>
<p><strong>Kedua </strong>: Dalam hadits ini manusia tidak meminta kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam untuk menghilangkan kesulitan dan kepayahan yang mereka hadapi, akan tetapi mereka hanya meminta kepada Nabi untuk berdoa kepada Allah agar menghilangkan kesulitan yang mereka hadapi (dan para ulama telah sepakat akan bolehnya bertawassul dengan meminta kepada seorang mukmin untuk mendoakannya kepada Allah), maka apakah sama dengan orang yang datang kepada kuburan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam kemudian minta agar diberi rizki atau pekerjaan, atau diberi keturunan, dll ??!! apalagi yang datang kepada kuburan selain Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam??!!.</p>
<p><strong>Ketiga </strong>: Lihatlah dalam hadits ini ternyata manusia telah meminta pertolongan kepada para nabi &#8216;alaihim salaam, mereka meminta pertolongan mulai dari Nabi Adam &#8216;alaihis salaam hingga akhirnya kepada Nabi Muhammad. Semua nabi menolak untuk memberi pertolongan untuk memberi syafaat kecuali Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Kalau para nabi saja seluruhnya menolak memberi bantuan bahkan para nabi menyebutkan kesalahan-kesalahan yang pernah mereka lakukan, lantas coba bandingkan dengan….</p>
<p>-         Orang-orang yang pergi ke kuburan orang sholeh yang kesholehannya sangatlah jauh dan tidak bisa dibandingkan dengan kesholehan para nabi??, lantas dengan <em>pede</em>-nya merasa orang sholeh tersebut akan membantunya??!!</p>
<p>-         Bahkan sebagian para pemakmur kuburan terkadang meminta ke kuburan orang yang tidak jelas…bahkan terkadang meminta ke kuburan orang yang menyeru kepada pluralisme?? Yang menyatakan semua agama sama !!!, yang menyatakan bahwa orang yahudi dan nashrani juga masuk surga !!!!</p>
<p>-         Bahkan sebagian orang yang mewasiatkan agar kuburannya kelak dikunjungi ??!!, sebagaimana yang disampaikan oleh As-Sya&#8217;rooni dalam Tobaqootnya, dimana ada salah seorang tokoh sufi yang berkata tatkala sakit akan meninggal : &#8220;Barangsiapa yang memiliki hajat (kebutuhan) maka hendaknya ia datang ke kuburanku dan hendaknya ia meminta hajatnya maka aku akan memenuhi hajatnya&#8221; (At-Thobaqoot Al-Kubroo karya Asy-Sya&#8217;rooni 2/518).</p>
<p><strong>Keempat </strong>: Tidak semua permintaan pertolongan (istighootsah) yang ditujukan kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dipenuhi oleh Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Nabi pernah bersabda :</p>
<p>لاَ أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَومَ الْقِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ شَاةٌ لَهَا ثُغَاءٌ عَلَى رَقَبَتِهِ فَرَسٌ لَهُ حَمْحَمَةٌ يَقُوْلُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ أَغِثْنِي، فَأَقُوْلُ لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ وَعَلَى رَقَبَتِهِ بَعِيْرٌ لَهُ رُغَاءٌ يَقُوْلُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ أَغِثْنِي، فَأَقُوْلُ : لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ، وَعَلَى رَقَبَتِهِ صَامِتٌ فَيَقُوْلُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ أَغِثْنِي فَأَقُوْلُ : لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ أَوْ عَلَى رَقَبَتِهِ رقَاعٌ تُخْفِقُ فَيَقُوْلُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ أَغِثْنِي، فَأَقُوْلُ : لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ</p>
<p>&#8220;Sungguh aku tidak ingin mendapati salah seorang dari kalian –pada hari kiamat- di atas lehernya ada seekor kambing yang mengembek, di atas lehernya ada seekor kuda yang meringkik, seraya berkata (*beristighotsah kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam), &#8220;Wahai Rasulullah tolonglah aku&#8221;, maka aku berkata, &#8220;Aku tidak bisa berbuat sesuatupun kepadamu, aku telah menyampaikannya kepadamu&#8221;, dan (*salah seorang dari kalian) yang di atas lehernya ada seekor untuk yang bersuara lalu ia berkata, &#8220;Wahai Rasulullah agitsni (tolonglah aku) !&#8221;, maka aku berkata, &#8220;Aku tidak bisa berbuat sesuatupun kepadamu, aku telah menyampaikan kepadamu. Dan (*salah seorang dari kalian) di atas lehernya emas dan perak, seraya berkata, &#8220;Wahai Rasulullah tolognlah aku&#8221;, maka aku berkata, &#8220;Aku tidak bisa berbuat sesuatupun kepadamu, aku telah menyampaikan.  Atau (*salah seorang dari kalian) di atas lehernya ada kertas-kertas yang melambai-lambai (*yaitu kertas tempat catatan hak-hak orang lain yang tidak ia tunaikan atau ia akhirkan), lalu berkata, &#8220;Wahai Rasulullah, tolonglah aku&#8221;, maka aku berkata, &#8220;Aku tidak bisa berbuat sesuatupun kepadamu, aku telah menyampaikan kepadamu&#8221; (<em>HR Al-Bukhari no 3073 dan Muslim no 1831</em>)</p>
<p>(bersambung…!!!)</p>
<p>Kota Nabi -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam-, 18-11-1432 H / 16 Oktober 2011 M</p>
<p>Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bantahansalafytobat.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bantahansalafytobat.wordpress.com/435/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bantahansalafytobat.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bantahansalafytobat.wordpress.com/435/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bantahansalafytobat.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bantahansalafytobat.wordpress.com/435/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bantahansalafytobat.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bantahansalafytobat.wordpress.com/435/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bantahansalafytobat.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bantahansalafytobat.wordpress.com/435/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bantahansalafytobat.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bantahansalafytobat.wordpress.com/435/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bantahansalafytobat.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bantahansalafytobat.wordpress.com/435/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bantahansalafytobat.wordpress.com&amp;blog=16552009&amp;post=435&amp;subd=bantahansalafytobat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bantahansalafytobat.wordpress.com/2011/11/26/pendalilan-habib-munzir-untuk-membolehkan-bersitighotsah-kepada-mayat-seri-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ea85548627490456d5731e02afd96799?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bantahansalafytobat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bantahansalafytobat.files.wordpress.com/2011/11/perahu-ed.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">perahu-ed</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendalilan Habib Munzir Untuk Membolehkan Istighootsah Kepada Mayat (Seri 2)</title>
		<link>http://bantahansalafytobat.wordpress.com/2011/11/26/pendalilan-habib-munzir-untuk-membolehkan-istighootsah-kepada-mayat-seri-2/</link>
		<comments>http://bantahansalafytobat.wordpress.com/2011/11/26/pendalilan-habib-munzir-untuk-membolehkan-istighootsah-kepada-mayat-seri-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Nov 2011 14:48:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bantahansalafytobat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bantahan Ilmiyyah]]></category>
		<category><![CDATA[HABIB MUNZIR AL-MUSAWA]]></category>
		<category><![CDATA[ISTIGHOTSAH]]></category>
		<category><![CDATA[istighosah kepada kuburan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bantahansalafytobat.wordpress.com/?p=432</guid>
		<description><![CDATA[Habib Munzir berkata : &#8220;Demikian pula diriwayatkan bahwa dihadapan Ibn Abbas ra ada seorang yang keram kakinya, lalu berkata Ibn Abbas ra : “Sebut nama orang yg paling kau cintai..!”, maka berkata orang itu dengan suara keras.. : “Muhammad..!”, maka dalam sekejap hilanglah sakit keramnya (diriwayatkan oleh Imam Hakim, Ibn Sunniy, dan diriwayatkan oleh Imam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bantahansalafytobat.wordpress.com&amp;blog=16552009&amp;post=432&amp;subd=bantahansalafytobat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://bantahansalafytobat.files.wordpress.com/2011/11/42.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-433" title="42" src="http://bantahansalafytobat.files.wordpress.com/2011/11/42.jpg?w=150&#038;h=101" alt="" width="150" height="101" /></a>Habib Munzir</strong> berkata :</p>
<p>&#8220;Demikian pula diriwayatkan bahwa dihadapan Ibn Abbas ra ada seorang yang keram kakinya, lalu berkata Ibn Abbas ra : “Sebut nama orang yg paling kau cintai..!”, maka berkata orang itu dengan suara keras.. : “Muhammad..!”, maka dalam sekejap hilanglah sakit keramnya (diriwayatkan oleh Imam Hakim, Ibn Sunniy, dan diriwayatkan oleh Imam Tabrani dengan sanad hasan) dan riwayat ini pun diriwayatkan oleh Imam Nawawi pada Al Adzkar.<br />
<span id="more-432"></span><br />
Jelaslah sudah bahwa riwayat ini justru bukan mengatakan musyrik pada orang yang memanggil nama seseorang saat dalam keadaan tersulitkan, justru Ibn Abbas ra yang mengajari hal ini&#8221; (Kenalilah akidahmu 2 hal 77)</p>
<p><strong>SANGGAHAN</strong></p>
<p>Riwayat dari Ibnu Abbas ini dijadikan dalil oleh Habib Munzir akan bolehnya beristighootsah kepada mayat, bahkan dianjurkan dan diajari oleh Ibnu Abbas radhiallahu &#8216;anhumaa. Sisi pendalilan adalah karena orang tersebut tatkala menghadapi kesulitan lantas ia menyebut nama Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang telah meninggal dunia.</p>
<p>Sanggahan terhadap pendalilan ini dari beberapa sisi :<br />
<strong>PERTAMA </strong>: Riwayat ini adalah riwayat yang lemah.</p>
<p>Ibnu Sunniy meriwayatkan dalam kitabnya &#8216;amal al-Yaum wa al-Lailah dengan sanadnya :<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun7/1.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;…Ada seseorang yang keram kakinya di sisi Ibnu Abbaas, maka Ibnu Abbaas berkata, &#8220;Sebutlah orang yang paling engkau cintai&#8221;, maka orang tersebut berakata, &#8220;Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam&#8221;, maka hilanglah keramnya tersebut&#8221; (&#8216;Amal al-Yaum wa al-Lailah karya Ibnu Sunniy 88-89 no 169)</p>
<p>Dari jalan Ibnu Sunniy juga diriwayatkan oleh Imam An-Nawawi dalam kitabnya al-Adzkaar hal 261.</p>
<p>Dalam sanad riwayat ini ada seorang perawi yang bernama Ghiyaats bin Ibraahiim. Dan perawi ini dinilai lemah oleh para ahli hadits, bahkan tertuduh sebagai pendusta. Berikut saya sebutkan perkataan para Ahli Hadits.</p>
<p>Adz-Dzahabi As-Syaafi&#8217;i berkata :<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun7/2.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Ghiyaats bin Ibraahiim An-Nakho&#8217;iy meriwayatkan dari Al-A&#8217;masy dan yang lainnya.</p>
<p>Imam Ahmad berkata, &#8220;Orang-orang meninggalkan haditsnya Ghiyaats&#8221;.</p>
<p>&#8216;Abbaas meriwayatkan dari Imam Yahya, ia berkata : &#8220;Ghiyaats tidak tsiqoh/terpercaya&#8221;.</p>
<p>Al-Juzjaaniy berkata, &#8220;Aku mendengar lebih dari satu orang  berkata, &#8220;Ghiyaats memalsu hadits&#8221;. Imam Al-Bukhari berkata, &#8220;Mereka (para ahli hadits) meninggalkannya&#8221; (Miizaan Al-I&#8217;tidaal fi naqd ar-Rijaal 3/337)</p>
<p>Ibnu Hajar Al-&#8217;Asqolaani As-Syaafi&#8217;i berkata :<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun7/3.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Dan Al-Aajurriy berkata : &#8220;Aku bertanya kepada Abu Dawud (*tentang Ghiyaats) maka ia berkata : &#8220;Kadzdzaab (Pendusta)&#8221;, dan ia suatu kali pernah berkata, &#8220;Tidak tsiqoh/dipercaya dan tidak amanah&#8221;. Ibnu Ma&#8217;iin berkata, &#8220;(*Ghiyaats) pendusta yang buruk. As-Saajiy berkata, &#8220;Mereka meninggalkannya&#8221;, Sholeh Jazrah berkata : &#8220;Ia memalsukan hadits&#8221; (Lisaan Al-Miizaan 6/311)</p>
<p>Dari perkataan para Imam ahli hadits di atas yang disampaikan oleh Adz-Dzahabi dan Ibnu Hajr rahimahumullah maka bisa kita simpulkan bahwasanya riwayat dari Ibnu Abbas ini adalah <strong>riwayat yang dusta</strong>, karena dalam sanadnya ada perawi yang pendusta yaitu Ghiyaats bin Ibroohiim An-Nakho&#8217;iy Al-Kuufiy.</p>
<p><strong>KEDUA </strong>: Habib Munzir mengatakan bahwa <strong>atsar ini diriwayatkan oleh Imam Al-Haakim dan At-Thobrooniy dengan sanad yang hasan</strong>. Maka bisakah Habib Munzir menyebutkan dalam buku-buku apa saja mereka berdua meriwayatkan atsar ini? Agar kita bisa mendapat faedah lebih banyak dan bisa mengecek sanad riwayat ini. Kemudian Ulama Ahli hadits siapakah yang telah menghukumi bahwasanya sanad riwayat ini adalah hasan? Ataukah Habib Munzir sendiri (yang konon merupakan pakar hadits dan ahli sanad) yang telah menyatakan riwayat ini hasan??!!. Karena riwayat yang terdapat dalam kitab Ibnu Sunniy riwayatnya maudhuu&#8217; (palsu), dan Habib menyatakan bahwasanya riwayat atsar ini sanadnya hasan, saya menunggu jawaban Habib Munzir…, jika Habib Munzir bisa mendatangkan sanad periwayatannya maka kita berusaha menilai keabsahan sanad tersebut Alhamdulillah, akan tetapi jika tidak ada maka berarti riwayat ini adalah riwayat yang palsu..!!!.</p>
<p><strong>KETIGA </strong>: Jika kita mengatakan bahwa riwayat ini shahih maka inipun tidak bisa dijadikan dalil untuk membolehkan meminta kepada mayat. Hal ini nampak dari beberapa sisi :</p>
<p>Pertama : Ibnu Abbaas berkata kepada orang tersebut &#8220;Sebutlah orang yang paling engkau cintai !&#8221;. Ibnu Abbaas tidak berkata, &#8220;Berisitghotsahlah engkau kepada orang yang engkau cintai !!&#8221;. Dan jawaban orang tersebut adalah, &#8220;Muhammad&#8221;, sesuai dengan anjuran Ibnu Abbaas. Ia tidak berkata, &#8220;Yaa Muhammad tolonglah aku..!!&#8221;, atau berkata, &#8220;Yaa Muhammad sembuhkanlah aku !!&#8221;, akan tetapi ia hanya sekedar menyebut nama orang yang paling dia cintai yaitu &#8220;Muhammad&#8221;.</p>
<p>Kedua : Tentunya berbeda antara istighootsah dengan hanya sekedar menyebut nama. Kalau istighootsah adalah seruan (memanggil) yang disertai dengan tolabul ghouts (permohonan pertolongan). Dan dalam atsar Ibnu Abbaas ini sangat jelas, lelaki tersebut sama sekali tidak sedang meminta pertolongan kepada Nabi Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Bahkan lelaki tersebut tidak menyeru Nabi dan berkata, &#8220;Wahai atau Yaa Muhammad&#8221;, akan tetapi ia hanya menyebut nama &#8220;Muhammad&#8221; tanpa disertai dengan seruan &#8220;wahai&#8221; atau &#8220;yaa&#8221;. Kalaupun lelaki tersebut mengatakan &#8220;Wahai Muhammad&#8221; maka inipun bukan istighootsah karena tidak disertai dengan permohonan pertolongan.</p>
<p>Ketiga : Kalau hanya sekedar menyebut nama atau menyeru nama seseorang tanpa permohonan pertolongan sudah dikatakan istighootsah, maka jika seseorang sedang stress lantas menyebut nama istrinya (yang sangat ia cintai) agar pikirannya tenang, maka apakah orang ini dikatakan telah beristighootsah dengan istrinya?, dengan beristighootsah dengan wanita yang jauh lebih lemah darinya??</p>
<p>Keempat : Dalam kisah ini, Ibnu Abbaas menyarankan untuk menyebut seorang yang paling dicintai oleh lelaki tersebut. Ibnu Abbas tidak mempersyaratkan bahwasanya orang yang paling dicintai tersebut harus merupakan ruh orang yang sudah wafat atau orang yang sedang hadir di situ. Bahkan Ibnu Abbaas sama sekali tidak mempersyaratkan bahwa orang yang dicintai tersebut harus merupakan ruh orang yang sholeh yang dipersangkakan memiliki manzilah di sisi Allah</p>
<p>Lantas jika tenyata lelaki tersebut ternyata menyebutkan nama istrinya atau anaknya yang sangat dia cintai, maka bukankah ia telah melaksanakan anjuran Ibnu Abbaas??, lantas…</p>
<p>-         Apakah ini adalah istighootsah menurut Habib Munzir???:</p>
<p>-         Apakah dikatakan ia beristighootsah dengan anaknya atau istrinya yang jauh lebih lemah darinya??</p>
<p>-        Lantas apakah Habib Munzir membolehkan untuk beristighootsah dengan orang yang tidak hadir di situ dan tidak bisa mendengarkan permintaan tolong lelaki tersebut??. Tentunya Habib Munzir sepakat jika seseorang sedang sakit terbaring di rumah sakit lantas ia mengingat orang yang paling dicintainya (seperti istrinya atau anaknya atau ibunya), lalu ia menyebut namanya, dan ternyata orang yang dicintainya tersebut masih hidup dan posisinya jauh dari rumah sakit, maka ini tentunya bukanlah isitighootsah</p>
<p><strong>KEEMPAT </strong>: Apa sih sisi pendalilan dari kisah Ibnu Abbaas ini sehingga bisa dijadikan dalil akan bolehnya berisitighootsah kepada mayat?</p>
<p>Tentunya berdasarkan pemahaman orang-orang yang membolehkan meminta tolong dan beristighootsah kepada mayat maka sisi pendalilannya sebagai berikut : &#8220;Lelaki tersebut sedang menghadapi kesulitan yaitu kakinya keram, dan Ibnu Abbas menganjurkannya untuk meminta tolong (beristighootsah) kepada orang yang dicintainya. Ternyata lelaki tersebut beristighootsah kepada Nabi Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang telah meninggal dunia. Dan hal ini tidak diingkari oleh Ibnu Abbaas, bahkan merupakan bentuk pengamalan dari anjuran Ibnu Abbaas&#8221;.</p>
<p>Demikianlah kira-kira sisi pendalilannya. Karena jika sisi pendalilannya tidak seperti ini maka atsar (kisah) ini sama sekali tidak bisa dijadikan dalil untuk beristighootsah kepada mayat orang sholeh.</p>
<p>Lantas sekarang saya jadi bertanya, Apakah menurut Habib Munzir seseorang boleh beristighootsah kepada Nabi Muhammad meskipun tidak dihadapan kuburan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam?? Bukankah ini merupakan kesyirikan yang nyata??, Karena tidaklah seorang hamba yang ada di Indonesia yang terkena musibah dan kesulitan lantas beristighootsah kepada Nabi shallallahu &#8216;alaih wa sallam kecuali ia memiliki keyakinan-keyakinan berikut :</p>
<p>-         Meyakini bahwa Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mendengar permintaan tolongnya meskipun jasad Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam terkubur di Madinah sementara sang hamba berada di Indonesia</p>
<p>-         Meyakini bahwa Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bukan hanya sekedar mendengar, bahkan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengetahui kondisinya yang sedang menghadapi kesulitan. Dan inilah yang diyakini oleh seorang habib yang lebih senior dan mendunia daripada Habib Munzir, yaitu Habib Alawi Al-Maliki Al-Hasanni, ia berkata dalam kitabnya &#8220;Mafaahiim yajibu an Tushohhah&#8221; tentang Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam:</p>
<p>فَإِنَّهُ حَيِّيُ الدَّارَيْنِ دَائِمُ الْعِنَايَةِ بِأُمَّتِهِ، مُتَصَرِّفٌ بِإِذْنِ اللهِ فِي شُؤُوْنِهَا خَبِيْرٌ بِأَحْوَالِهَا</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam hidup di dunia dan akhirat, senantiasa memperhatikan umatnya, <strong>mengatur urusan umatnya dengan izin Allah dan mengetahui keadaan umatnya</strong>&#8220;</p>
<p>-         Meyakini bahwa Nabi shalallahu &#8216;alaihi wa sallam mampu untuk menghilangkan kesulitan yang sedang dihadapinya dengan izin Allah.</p>
<p>Lantas bagaimana jika ruuh yang dimintai tolong tersebut adalah selain Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam maka apakah Habib Munzir juga membolehkan untuk beristighootsah kepada ruh tersebut …meskipun tidak di hadapan kuburannya?? Dengan berkeyakinan bahwasanya ruh-ruh orang sholeh bisa menghilangkan kesulitan dengan izin Allah?? Sebagaimana juga yang diyakini oleh Alawi Al-Maliki pendukung kesyirikan…??. <strong>Alawi Al-Maaliki Al-Hasani berkata :</strong></p>
<p>والحاصل أنه لا يكفر المستغيث إلا إذا اعتقد الخلق والإيجاد لغير الله تعالى ، والتفرقة بين الأحياء والأموات لا معنى لها فإنه من اعتقد الإيجاد لغير الله كفر &#8230;</p>
<p>وأنت تعلم أن غاية ما يعتقد الناس في الأموات هو أنهم متسببون ومكتسبون كالأحياء لا أنهم خالقون موجدون كالإله</p>
<p>&#8220;Intinya sesungguhnya orang yang beristighootsah (*kepada mayat) tidaklah kafir kecuali jika ia meyakini ada selain Allah yang menciptakan. <strong>Dan pembedaan antara orang-orang yang hidup dengan mayat-mayat tidak ada artinya</strong>, karena barangsiapa yang meyakini ada yang menciptakan selain Allah maka kafir….dan engkau mengetahui bahwasanya puncak dari apa yang diyakini manusia tentang mayat-mayat bahwasanya mayat-mayat tersebut hanyalah sebagai sebab dan usaha saja sebagaimana orang-orang hidup, dan bukanlah mayat-mayat tersebut adalah para pencipta sebagaimana Tuhan&#8221;</p>
<p>Habib Alawi Al-Maaliki Al-Hasani berpendapat sama seperti Habib Munzir bahwa mayat-mayat merupakan sebab untuk mendatangkan pertolongan, dan tidak ada perbedaan antara orang hidup dan orang mati. Bahkan Habib Alawi Al-Maaliki Al-Hasani berpendapat seseorang boleh beristighootsah kepada mayat sholeh dan tidak akan dikatakan perbuatannya syirik selama ia meyakini bahwa mayat tersebut hanya sebab atau telah diberi izin oleh Allah. Lihat kembali artikel (http://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/128-bantahan-terhadap-abu-salafy-seri-7-perkataan-abu-salafy-berdoa-kepada-selain-allah-tidak-mengapa-selama-tidak-syirik-dalam-tauhid-rububiyah)</p>
<p><strong>KELIMA </strong>: Kalaupun atsar ini shahih lantas apakah bisa menjadi dalil bagi kelompok orang yang bermadzhab Aysa&#8217;ari untuk membangun suatu aqidah??!!!. Bukankah orang-orang Asya&#8217;ari mempersyaratkan bahwasanya yang bisa dijadikan dalil untuk permasalahan aqidah haruslah dalil yang mutawaatir dan bukan dalil yang ahad??!! (yang persayaratan ini adalah warisan yang diambil oleh orang-orang Asyaairoh dari kaum mu&#8217;tazilah, dan insyaa Allah akan ada pembahasannya secara khusus !!)</p>
<p><strong>Ini semua jika riwayat tersebut shahih, ternyata seperti yang sudah dijelaskan bahwa riwayat tersebut adalah PALSU.<br />
</strong><br />
(bersambung…)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kota Nabi -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam-, 19-11-1432 H / 17 Oktober 2011 M</p>
<p>Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bantahansalafytobat.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bantahansalafytobat.wordpress.com/432/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bantahansalafytobat.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bantahansalafytobat.wordpress.com/432/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bantahansalafytobat.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bantahansalafytobat.wordpress.com/432/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bantahansalafytobat.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bantahansalafytobat.wordpress.com/432/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bantahansalafytobat.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bantahansalafytobat.wordpress.com/432/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bantahansalafytobat.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bantahansalafytobat.wordpress.com/432/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bantahansalafytobat.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bantahansalafytobat.wordpress.com/432/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bantahansalafytobat.wordpress.com&amp;blog=16552009&amp;post=432&amp;subd=bantahansalafytobat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bantahansalafytobat.wordpress.com/2011/11/26/pendalilan-habib-munzir-untuk-membolehkan-istighootsah-kepada-mayat-seri-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ea85548627490456d5731e02afd96799?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bantahansalafytobat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bantahansalafytobat.files.wordpress.com/2011/11/42.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">42</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun7/1.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun7/2.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun7/3.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Pendalilan Habib Munzir Untuk Membolehkan Istighootsah Kepada Mayat (Seri 3)</title>
		<link>http://bantahansalafytobat.wordpress.com/2011/11/26/pendalilan-habib-munzir-untuk-membolehkan-istighootsah-kepada-mayat-seri-3/</link>
		<comments>http://bantahansalafytobat.wordpress.com/2011/11/26/pendalilan-habib-munzir-untuk-membolehkan-istighootsah-kepada-mayat-seri-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Nov 2011 14:46:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bantahansalafytobat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bantahan Ilmiyyah]]></category>
		<category><![CDATA[ISTIGHOTSAH]]></category>
		<category><![CDATA[istighosah kepada kuburan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bantahansalafytobat.wordpress.com/?p=430</guid>
		<description><![CDATA[Habib Munzir berkata : &#8220;Kita bisa melihat kejadian Tsunami di aceh beberapa tahun yang silam, bagaimana air laut yang setinggi 30 meter dengan kecepatan 300km dan kekuatannya ratusan juta ton, mereka tak menyentuh masjid tua dan makam makam shalihin, hingga mereka yang lari ke makam shalihin selamat. Inilah bukti bahwa Istighatsah dikehendaki oleh Allah swt, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bantahansalafytobat.wordpress.com&amp;blog=16552009&amp;post=430&amp;subd=bantahansalafytobat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Habib Munzir berkata :</p>
<p>&#8220;Kita bisa melihat kejadian Tsunami di aceh beberapa tahun yang silam, bagaimana air laut yang setinggi 30 meter dengan kecepatan 300km dan kekuatannya ratusan juta ton, mereka tak menyentuh masjid tua dan makam makam shalihin, hingga mereka yang lari ke makam shalihin selamat. Inilah bukti bahwa Istighatsah dikehendaki oleh Allah swt, karena kalau tidak lalu mengapa Allah jadikan di makam–makam shalihin itu terdapat benteng yang tak terlihat membentengi air bah itu, yang itu sebagai isyarat Illahi bahwa demikianlah Allah memuliakan tubuh yang taat pada-Nya swt, tubuh – tubuh tak bernyawa itu Allah jadikan benteng untuk mereka yang hidup.., tubuh yang tak bernyawa itu Allah jadikan sumber Rahmat dan perlindungan-Nya swt kepada mereka mereka yang berlindung dan lari ke makam mereka.<br />
mereka yang lari berlindung pada hamba–hamba Allah yang shalih mereka selamat, mereka yang lari ke masjid–masjid tua yang bekas tempat sujudnya orang–orang shalih maka mereka selamat, mereka yang lari dengan mobilnya tidak selamat, <strong>mereka yang lari mencari tim SAR tidak selamat..</strong><br />
Pertanyaannya adalah : kenapa Allah jadikan makam sebagai perantara perlindungan-Nya swt?, kenapa bukan orang yang hidup?, kenapa bukan gunung?, kenapa bukan perumahan?.<span id="more-430"></span></p>
<p>Jawabannya <strong>bahwa Allah mengajari penduduk bumi ini beristighatsah pada shalihin</strong>. Walillahittaufiq&#8221; (Meniti Kesempurnaan Iman hal 7-8))</p>
<p><strong>SANGGAHAN</strong></p>
<p>Sungguh ini merupakan pendalilan yang sangat aneh bin ajaib dari Habib Munzir, dan sanggahan terhadap pendalilan beliau ini dari beberapa sisi :</p>
<p><strong>PERTAMA </strong>: apakah begini berdalil yang benar dalam beragama? Mana dalil dari Al Quran dan hadits habibuna Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ataupun perkataan para shahabat dengan riwayat yang benar? Apakah karena sebuah keyakinan yang sudah mengakar lalu menghalalkan segala cara agar keyakinan bisa diterima?!!. Tidak bisa disangka pendalilan seperti ini keluar dari Habib Munzir. Benar-benar aneh bin ajaib!!! Subhanallah wallahul musta’an!!!.</p>
<p><strong>KEDUA </strong>: Apakah Habib Munzir sudah melakukan sensus data orang-orang yang selamat dari bencana tsunami di Aceh secara keseluruhan dengan memperhatikan sebab kenapa mereka selamat?, apakah yang selamat karena berdoa kepada Allah tanpa beristighootsah kepada mayat lebih sedikit daripada yang selamat karena beristighootsah kepada mayat?.</p>
<p><strong>KETIGA </strong>: Perkataan Habib Munzir &#8220;<strong>Mereka yang lari mencari tim SAR tidak selamat</strong>&#8220;, ini merupakan pernyataan yang aneh bin ajaib yang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan :</p>
<p>-         Apakah waktu terjadi bencana tsunami yang terjadi secara tiba-tiba sudah ada tim SAR di lokasi kejadian tatkala itu?. Ataukah tim SAR tiba di lokasi kejadian setelah selesai tsunami?.</p>
<p>-         Lantas kalaupun seandainya ada tim SAR tatkala itu maka apakah terbetik di pikiran masyarakat untuk mencari tim SAR sementara tsunami begitu cepat menyerang???</p>
<p>-         Lantas jika tim SAR ada tatkala itu, dimanakah lokasi mereka?, apakah mereka selamat ataukah tidak selamat terkena tsunami?</p>
<p><strong>KEEMPAT </strong>: Perkataan Habib Munzir &#8220;<strong>mereka yang lari ke makam shalihin selamat. Inilah bukti bahwa Istighatsah dikehendaki oleh Allah swt, karena kalau tidak lalu mengapa Allah jadikan di makam–makam shalihin itu terdapat benteng yang tak terlihat membentengi air bah itu</strong>&#8221; ini merupakan pernyataan yang menimbulkan banyak pertanyaan :</p>
<p>-         Apakah ada data valid yang bisa dipertanggungjawabkan bahwasanya sebagian kaum muslimin selamat karena beristighootsah kepada mayat?</p>
<p>-         Dimanakah lokasi kuburan-kuburan tersebut sehingga orang-orang yang berlindung ke kuburan-kuburan tersebut selamat?. Apakah lokasinya di dataran tinggi? Ataukah di dataran rendah?. Jika kuburan-kuburan tersebut di dataran tinggi maka bisa jadi sebab keselamatan bukanlah karena kuburan-kuburan tersebut akan tetapi karena lokasi kuburan yang berada di dataran tinggi</p>
<p>-         Jika seandainya lokasi kuburan di dataran rendah maka inilah yang ajaib, menunjukkan bahwa air tsunami terhalang dinding yang tidak nampak sebagaimana perkataan Habib Munzir. Karenanya kami sangat butuh informasi akurat dengan data yang valid dari Habib Munzir…, jangan lupa jumlah orang yang selamat tersebut karena kuburan?</p>
<p>-         Kami ingin tahu data kuburan-kuburan tersebut, benar-benar orang shalihkah atau shalih-shalihan?</p>
<p>-         Lantas jika memang benar banyak yang selamat karena berlindung di kuburan, maka apakah mereka selamat karena beristighootsah kepada penghuni kuburan??, kami butuh bukti nyata akan hal ini…dan berapakah jumlah mereka tersebut??. Ataukah mereka beristighootsah langsung kepada Allah ta&#8217;aalaa?</p>
<p><strong>KELIMA </strong>: Perkataan Habib Munzir &#8220;<strong>mereka yang lari ke makam shalihin selamat. Inilah bukti bahwa Istighatsah dikehendaki oleh Allah swt</strong>&#8220;.</p>
<p>Sungguh ini merupakan pernyataan yang sangat berani sekali…ini adalah berbicara tentang sesuatu yang ghaib yang hanya diketahui oleh Allah. Karenanya saya mengajak Habib Munzir untuk merenungkan hal-hal berikut :</p>
<p>-         Perkataannya “Inilah bukti bahwa istighatsah dikehendaki oleh Allah SWT”: bukti bahwa sesuatu dikehendaki Allah apakah hanya dengan perkiraan seperti ini? Di saat banyak sekali ayat-ayat suci Al Quran dan hadits-hadist yang menyatakan bahwa istighatsah, meminta sesuatu, meminta pertolongan hanya kepada Allah Ta’ala. Mau dikemanakan ayat-ayat dan hadits-hadits tersebut?!?”</p>
<p>-         Bukankah ada juga laporan dalam sebagian situs internet bahwasanya ada gereja tua yang selamat?, apakah ini bukti bahwasanya Allah menghendaki dan meridhoi kesyirikan kaum nashroni?</p>
<p>-         Apakah orang-orang yang tidak selamat dalam peristiwa tsunami –meskipun mereka beristighootsah langsung kepada Allah- lebih buruk daripada orang-orang yang selamat karena beristighootsah kepada mayat penghuni kuburan??. Orang yang terkena musibah belum tentu lebih buruk daripada orang yang selamat. Karena yang tidak selamat bisa jadi musibah merupakan penghapus dosa-dosanya dan meninggikan derajatnya, sementara yang selamat bisa jadi merupakan istidrooj dari Allah !!!</p>
<p>-         Kalau seandainya kita berdalil dengan kenyataan maka bisa saja seoerang wahabi akan berkata kepada Habib Munzir : &#8220;Tuh lihat, kerajaan Arab Saudi telah puluhan tahun mengatur Masjid Nabawi dan Al-Masjid Al-Haroom, serta kepengurusan haji dan Umroh, bukankah ini bukti bahwasanya Allah meridhoi kaum Wahabi?, dan Allah mengajarkan kepada umat Islam agar meneladani mereka??&#8221;, dan seorang wahabi yang lain berkata, &#8220;Tuh lihat bukankah kerajaan Saudi pusat wahabi dalam kondisi aman dan makmur, sementara Negara-negara lain seperti yaman –yang pusatnya kaum sufi dan tempat belajarnya para habib (diantaranya habib Munzir)- dalam kondisi kacau dan tidak aman, serta perekonomian terbelakang, bukankah ini adalah menunjukkan bahwa Allah mengajar umat Islam agar meneladani kerajaan Saudi pusat wahabi??&#8221;</p>
<p><strong>KEENAM </strong>: Apakah Habib Munzir mengajarkan dan menganjurkan jika kaum muslimin menghadapi musibah yang sangat besar yang mengancam kematian –seperti tsunami- maka apakah mereka segera mencari kuburan orang sholeh untuk beristighootsah kepada mayat-mayat? Dan meninggalkan  beristighootsah langsung kepada Allah??</p>
<p>Bukankah Allah berfirman</p>
<p>أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ</p>
<p>Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan (QS An-Naml : 62)</p>
<p>Bukankah Allah juga berfirman :</p>
<p>وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ</p>
<p>Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku (QS Al-Baqoroh : 186)</p>
<p>Ar-Roozi berkata :<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Allah subhaanahu wata&#8217;aala berfirman <em>((Dan jika hamba-hambaKu bertanya kepadamu (wahai Muhammad) tentang aku <strong>maka sesungguhnya aku dekat</strong>))</em>, dan Allah subhaanahu wa ta’aala tidak berkata ((<strong>Katakanlah </strong>aku dekat)), maka ayat ini menunjukkan akan pengagungan kondisi tatkala berdoa dari banyak sisi. Yang pertama, seakan-akan Allah subhaanahu wa ta’aala berkata : <strong>HambaKu engkau hanyalah membutuhkan washithoh (perantara) di selain waktu berdoa&#8217; adapun dalam kondisi berdoa maka tidak ada perantara antara Aku dan engkau</strong>&#8221; (Mafaatihul Goib 5/106)</p>
<p><strong>Renungkanlah wahai Habib Munzir…:</strong></p>
<p>Kalau istighatsah seperti ini dikehendaki Allah Ta’ala, sebagaimana angan-angan Habib, maka kenapa ketika:</p>
<p>-         Terjadi perselisihan antara kaum muhajirin dan anshar dalam pemilihan khalifah setelah wafatnya Habibuna Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kaum muhajirin dan anshar tidak istighatsah ke kuburan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam padahal keadaan sangat genting dan penting.</p>
<p>-         Terjadi perperangan melawan orang-orang murtad yang menyebabkan banyak meninggal dari para ahli baca Al Quran, kemudian Umar radhiyallahu ‘anhu menyarankan Abu Bakar agar dikumpulkannya Al Quran di dalam satu mushaf, kenapa Abu Bakar tidak istighatsah kuburan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hal ini minta pertolongan, padahal ini adalah kejadian yang sangat penting.</p>
<p>-         Terjadi tha’un di zaman pemerintahan umar radhiyallahu ‘anhu, yang menyebabkan banyak kaum muslim yang meninggal kenapa mereka tidak beristighatsah ke kuburan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.</p>
<p>-         Terjadi penyerangan kaum khawarij terhadap kepemimpinan Utsman radhiyallahu ‘anhu yang menyebabkan syahidnya utsman radhiyallahu ‘anhu, kenapa para shahabat radhiyallahu ‘anhu tidak istighatsah ke kuburan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.</p>
<p>-         Terjadi beberapa pertempuran di zaman pemerintah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan keadaan kaum muslim saat itu sangat genting dan kacau, kenapa para shahabat radhiyallahu ‘anhum tidak beristighatsah ke keburan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.</p>
<p>Masih banyak lagi habib…kejadian-kejadian genting dan penting tetapi kenapa para shahabat radhiyallahu ‘anhum tidak beristighatsah ke kuburan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ?!!!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kota Nabi -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam-, 24-11-1432 H / 22 Oktober 2011 M</p>
<p>Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bantahansalafytobat.wordpress.com/430/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bantahansalafytobat.wordpress.com/430/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bantahansalafytobat.wordpress.com/430/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bantahansalafytobat.wordpress.com/430/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bantahansalafytobat.wordpress.com/430/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bantahansalafytobat.wordpress.com/430/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bantahansalafytobat.wordpress.com/430/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bantahansalafytobat.wordpress.com/430/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bantahansalafytobat.wordpress.com/430/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bantahansalafytobat.wordpress.com/430/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bantahansalafytobat.wordpress.com/430/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bantahansalafytobat.wordpress.com/430/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bantahansalafytobat.wordpress.com/430/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bantahansalafytobat.wordpress.com/430/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bantahansalafytobat.wordpress.com&amp;blog=16552009&amp;post=430&amp;subd=bantahansalafytobat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bantahansalafytobat.wordpress.com/2011/11/26/pendalilan-habib-munzir-untuk-membolehkan-istighootsah-kepada-mayat-seri-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ea85548627490456d5731e02afd96799?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bantahansalafytobat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Habib Munzir Berbicara Tentang Ilmu Hadits (Seri 2)</title>
		<link>http://bantahansalafytobat.wordpress.com/2011/11/26/habib-munzir-berbicara-tentang-ilmu-hadits-seri-2/</link>
		<comments>http://bantahansalafytobat.wordpress.com/2011/11/26/habib-munzir-berbicara-tentang-ilmu-hadits-seri-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Nov 2011 14:37:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bantahansalafytobat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bantahan Ilmiyyah]]></category>
		<category><![CDATA[HABIB MUNZIR AL-MUSAWA]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[bantahan habib munzir]]></category>
		<category><![CDATA[habib munzir bicara hadits]]></category>
		<category><![CDATA[menyingkap penyimpangan habib munzir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bantahansalafytobat.wordpress.com/?p=426</guid>
		<description><![CDATA[Di bawah ini empat pernyataan Habib Munzir yang berkaitan dengan ilmu hadits beserta sanggahan-sanggahan terhadap pernyataan-pernyataan tersebut. Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita memahami agamaNya dengan baik dan benar…Allahumma aamiin. &#160; &#160; PERNYATAAN PERTAMA : Habib Munzir berkata : &#8220;Sebagaimana para pakar hadits bukanlah sebagaimana yang terjadi dimasa kini yang mengaku–ngaku sebagai pakar hadits. Seorang ahli [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bantahansalafytobat.wordpress.com&amp;blog=16552009&amp;post=426&amp;subd=bantahansalafytobat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_427" class="wp-caption alignleft" style="width: 111px"><a href="http://bantahansalafytobat.files.wordpress.com/2011/11/mustalah1.jpeg"><img class="size-thumbnail wp-image-427" title="mustalah" src="http://bantahansalafytobat.files.wordpress.com/2011/11/mustalah1.jpeg?w=101&#038;h=150" alt="" width="101" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Musthalah Hadits</p></div>
<p>Di bawah ini empat pernyataan Habib Munzir yang berkaitan dengan ilmu hadits beserta sanggahan-sanggahan terhadap pernyataan-pernyataan tersebut.</p>
<p>Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita memahami agamaNya dengan baik dan benar…Allahumma aamiin.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>PERNYATAAN PERTAMA :</strong></p>
<p>Habib Munzir berkata :</p>
<p>&#8220;Sebagaimana para pakar hadits bukanlah sebagaimana yang terjadi dimasa kini yang mengaku–ngaku sebagai pakar hadits. <strong>Seorang ahli hadits mestilah telah mencapai derajat Al Hafidh. Al Hafidh dalam para ahli hadits adalah yang telah hafal 100.000 hadits berikut hukum sanad dan matannya</strong>, sedangkan 1 hadits yang bila panjangnya hanya sebaris saja itu bisa menjadi dua halaman bila ditulis berikut hukum sanad dan hukum matannya, lalu bagaimana dengan yang hafal 100.000 hadits?<span id="more-426"></span></p>
<p>Diatas tingkatan Al Hafidh ini masih adalagi yang disebut Al Hujjah (Hujjatul Islam) yaitu yang hafal 300.000 hadits dengan hukum matan dan hukum sanadnya, diatasnya adalagi yang disebut : Al Hakim, yaitu pakar hadits yang sudah melewati derajat Al Hafidh dan Al Hujjah, dan mereka memahami banyak lagi hadits – hadits yang teriwayatkan. (Hasyiah Luqathuddurar Bisyarh Nukhbatulfikar oleh Hujjatul Islam Al Imam Ibn Hajar Al Atsqalaniy)&#8221;</p>
<p><strong>SANGGAHAN</strong></p>
<p>Pernyataan Habib Munzir diatas perlu ditinjau kembali.</p>
<p>Sebelumnya perlu diketahui –oleh para pembaca sekalian- bahwa kitab Hasyiah Luqathuddurar Bisyarh Nukhbatulfikar bukan karangan Hujjatul Islam Al Imam Ibn Hajar Al Atsqalaniy.</p>
<p>Seseorang yang tidak pernah menelaah kitab Hasyiah Luqathuddurar ketika membaca perkataan Habib Munzir &#8220;Hasyiah Luqathuddurar Bisyarh Nukhbatulfikar oleh Hujjatul Islam Al Imam Ibn Hajar Al Atsqalaniy&#8221; akan menyangka bahwa pengarang kitab ini adalah Al-Imam Ibnu Hajar.</p>
<p>Akan tetapi yang benar, pengarang kitab tersebut adalah Abdullah bin Husain Khoothir. Adapun Imam Ibnu Hajar adalah pengarang Nukhbatul Fikar dan juga syarahnya Nuzhaton Nazhor.</p>
<p>Adapun pernyataan Habib Munzir :</p>
<p><strong>&#8220;Seorang ahli hadits mestilah telah mencapai derajat Al Hafidh. Al Hafidh dalam para ahli hadits adalah yang telah hafal 100.000 hadits berikut hukum sanad dan matannya&#8221;</p>
<p>Pernyataan ini tidak pernah ditemukan dalam buku-buku mustholah al-hadits (ilmu yang membahas kaedah-kaedah hadits).</strong></p>
<p>Para pembaca sekalian setelah merujuk ke kitab Luqathudduror ternyata penulis kitab tersebut tidak pernah menyatakan apa yang dinyatakan oleh Habib Munzir <strong>bahwa seorang tidak bisa jadi ahli hadits kecuali setelah mencapai derajat Al-Hafizh yang menghapal 100 ribu hadits</strong>.</p>
<p>Penulis kitab kitab Hasyiah Luqoth Ad-Duror berkata :<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun9/01.jpg" alt="" border="0" /></p>
<p>&#8220;Aku melihat di sebagian kitab dinukil dari Al-Munaawi bahwasanya <strong>ahli hadits bertingkat-tingkat</strong>. Tingkatan pertama adalah At-Thoolib –dan dia adalah pemula-, kemudian Al-Muhaddits, dan ia adalah seorang yang membawa (menerima periwayatan) hadits dan memiliki perhatian terhadap hadits baik dari sisi periwayatan maupun sisi dirooyah (*makna hadits). Tingkatan berikutnya adalah Al-Haafizh, ia adalah orang yang menghafal 100 ribu hadits baik matannya maupun isnadnya, meskipun dengan jalan-jalan periwayatan yang berbilang, serta ia memahami apa yang ia butuhkan. Tingkatan berikutnya adalah Al-Hujjah, ia adalah orang yang menguasai 300 ribu hadits. Tingkatan selanjutnya adalah Al-Haakim, ia adalah orang yang ilmunya menguasai seluruh hadits-hadits yang diriwayatkan baik matan maupun isnad, baik ilmu jarh wa ta&#8217;dilnya, serta sejarahnya, sebagaimana dikatakan oleh sekelompok ahli tahqiq&#8221; (Haasyiyah Luqot Ad-Duror bi Syarh Matn Nukhbah Al-Fikr, karya Abdullah bin Husain Khoothir As-Samiin, ulama abad 14 hijriyah).</p>
<p><strong>Jadi dari perkataan di atas, terlihat jelas bahwa seorang ahli hadits tidak mesti harus menjadi seorang Al Hafizh, akan tetapi seseorang telah dikatakan sebagai muhaddits jika telah memiliki perhatian terhadap hadits baik riwayat maupun diroyahnya.</strong></p>
<p><strong>PERNYATAAN KEDUA :</strong></p>
<p>Habib Munzir berkata:</p>
<p>&#8220;Perlu diketahui bahwa Imam Syafii ini lahir jauh sebelum Imam Bukhari, Imam Syafii lahir pada tahun 150 Hijriyah dan wafat pada tahun 204 Hijriyah, sedangkan Imam Bukhari lahir pada tahun 194 Hijriyah dan wafat pada 256 Hijriyah. <strong>Maka sebagaimana sebagian kelompok banyak yang meremehkan Imam syafii, dan menjatuhkan fatwa–fatwa Imam Syafii dengan berdalilkan Shahih Bukhari, maka hal ini salah besar, karena Imam Syafii sudah menjadi Imam sebelum usianya mencapai 40 tahun, maka ia telah menjadi Imam besar sebelum Imam Bukhari lahir ke dunia.</strong>&#8220;</p>
<p><strong>SANGGAHAN</strong></p>
<p>Pernyataan Habib Munzir ini merupakan pernyataan <strong>yang sangat aneh.</strong> Apakah kalau Imam Syafii yang sudah jadi imam sebelum imam Al-Bukhari lahir ke dunia, lantas fatwa beliau tidak boleh dikritik oleh hadits-hadits shahih yang terdapat dalam shahih al-Bukari??!!</p>
<p>Pernyataan yang aneh ini melazimkan banyak kerancuan, diantaranya :</p>
<p><em><strong>Pertama</strong></em><em><strong> </strong></em>: Pernyataan bahwa fatwa-fatwa Imam As-Syafi&#8217;i tidak boleh dikritik atau dikalahkan dengan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari merupakan pernyataan yang <strong>SANGAT BERBAHAYA !!!!</strong>. Karena hal ini melazimkan mengedepankan dan mendahulukan perkataan Imam As-Syafii daripada sabda-sabda Habiibuna Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang shahih yang diriwayatkan dalam shahih al-Bukhari!!, yang merupakan kitab yang paling shahih setelah Al-Qur&#8217;an !!!.</p>
<p>Allah berfirman :</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ</p>
<p><em>Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. </em>(QS Al-Hujuroot : 1)</p>
<p><em><strong>Kedua</strong></em>: Hal ini <strong>bertentangan dengan wasiat  Imam As-Syafi&#8217;i</strong>, beliau rahimahullah telah berkata<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun9/02.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Tidak ada seorangpun keculai ada sunnah Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang tidak ia ketahui. Maka bagaimanapun aku berpendapat dengan suatu perkataan atau aku membuat kaidah yang ternyata ada hadits Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang menyelisihi perkataanku maka pendapat yang benar adalah sabda Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, dan itulah pendapatku.&#8221; (Taariikh Dimasyq 51/389)<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun9/03.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Jika kalian mendapati sunnah dari Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang menyelisihi perkataanku maka ambillah sunnah dan tinggalkanlah perbuatanku, karena aku berpendapat dengan sunnah tersebut&#8221; (Taariikh Dimasq 51/389)<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun9/04.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Seluruh hadits dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam maka itu adalah pendapatku, meskipun kalian tidak mendengarnya dariku&#8221; (Taariikh Dimasyq 51/389)</p>
<p>Imam An-Nawawi berkata :<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun9/05.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Telah sah dari Imam As-Syafii rahimahullah bahwasanya beliau berkata : &#8220;Jika kalian mendapati dalam kitabku penyelisihan terhadap sunnah Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam maka berpendapatlah dengan sunnah Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan tinggalkanlah pendapatku&#8221;. Dan diriwayatkan dari Imam As-Syafi&#8217;i : &#8220;Jika telah shahih sebuah hadits yang bertentangan dengan pendapatku maka amalkanlah hadits dan tinggalkanlah pendapatku&#8221;, atau Imam As-Syafii berkata, &#8220;Itulah mdzhabku&#8221;, dan telah diriwayatkan makna seperti ini dengan lafal-lafal yang bermacam-macam.</p>
<p>Para sahabat kami (*dari kalangan ulama besar madzhab syafi&#8217;i) telah mengamalkan hal ini (*yaitu wasiat Imam As-Syafii untuk mengikuti hadits dan menginggalkan pendapatnya) dalam permasalahan at-Tatswiib dan mempersyaratkan untuk bertahallul dari ihrom karena sakit dan permasalahan-permasalahan yang lain yang sudah ma&#8217;ruuf dalam buku-buku madzhab&#8221; (Al-Majmuu&#8217; syarh Al-Muhadzdzab 1/104)</p>
<p>Imam An-Nawawi juga berkata :<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun9/06.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Dan kami telah meriwayatkan dari Imam Abu Bakr Muhammad bin Ishaaq bin Khuzaimah yang dikenal sebagai imamnya para imam. Dan karena tingkat beliau yang tinggi dalam hafalan haditsnya dan pengetahuan tentang sunnah-sunnah Nabi maka beliau ditanya : &#8220;Apakah engkau tahu ada sunnah yang shahih yang tidak dicantumkan oleh Imam As-Syafii dalam kitab-kitab beliau?&#8221;, maka beliau (*Ibnu Khuzaimah) menjawab :<br />
Tidak ada&#8221;.</p>
<p>Namun meskipun demikian Imam As-Syafii rahimahullah tetap berhati-hati –karena menguasai seluruh hadits-hadits Nabi yang shahih merupakan perkara yang mustahil bagi manusia-, maka beliaupun mengatakan wasiat beliau -yang telah diriwayatkan dari berbagai sisi- untuk mengamalkan hadits yang shahih dan meninggalkan pendapat beliau yang menyelisihi nas yang shahih dan jelas.</p>
<p>Wasiat beliau ini telah dilaksanakan oleh para sahabat kami dalam banyak permasalahan fikih yang masyhuur. Seperti permasalahan at-tatswiib dalam adzan subuh, mempersyaratkan untuk bertahallul dalam haji karena ada udzur, dan masalah-masalah yang lainnya&#8221;(Al-Majmuu&#8217; syarh Al-Muhadzdzab 1/28)</p>
<p><em><strong>Ketiga</strong></em>: Pernyataan Habib Melazimkan bahwa orang yang sudah menjadi imam terdahulu tidak boleh dikritik oleh orang setelahnya. Dan kelaziman ini berarti:</p>
<p>-         Melazimkan Imam As-Syafi&#8217;i tidak boleh mengkritik Imam Malik, yang merupakan gurunya Imam As-Syafi&#8217;i</p>
<p>-         Terlebih lagi Imam As-Syafii tidak boleh mengkritik Imam Abu Hanifah yang lebih senior lagi daripada Imam Malik</p>
<p>-         Bahkan para pengikut madzhab As-Syafi&#8217;i tidak boleh menikam fatwa-fatwa Imam Malik dan Imam Abu Hanifah karena kedua Imam tersebut lebih senior dan lebih dahulu jadi imam daripada imam As-Syafi&#8217;i</p>
<p><em><strong>Keempat</strong></em>:  Apakah ada metode pentarjihan seperti ini dalam kitab-kitab fikih? Yang lebih tua dan lebih dulu jadi imam tidak boleh dikritik dengan perkataan yang lebih muda dan lebih terbelakang jadi imam??,</p>
<p>Adakah kitab ushul fiqh yang membahas dan menyatakan metode ini…?, dalam madzhab apakah metode seperti ini??.</p>
<p>Ataukah ini hanya madzhab khusus Habib Munzir –yang konon ilmunya diperoleh dengan sanad-??.</p>
<p><em><strong>Kelima</strong></em>: Pernyataan Habib Munzir ini melazimkan bahwasanya Imam As-Syafii ma&#8217;suum (tidak mungkin bersalah).</p>
<p>Ingat para pembaca budiman…yang saya sebutkan adalah sebuah kelaziman dari sebuah pernyataan Habib Munzir, jadi jangan sampai keliru dipahami bahwa Habib Munzir yang menyatakannya, tapi ini kelaziman dari pernyataan Habib.</p>
<p>Perlu untuk dipahami oleh para pembaca sekalian :</p>
<p>1.      Bahwa setiap Imam, siapapun dia –bahkan shahabat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu- tidak maksum dari kesalahan.</p>
<p>2.      Setiap ulama yang tidak sependapat dengan Imam Asy Syafi&#8217;iy rahimahullah bukan berarti beliau meremehkan Imam Asy Syafi&#8217;iy, akan tetapi ulama tersebut memilih pendapat yang menurutnya lebih dekat dengan dalil dari Al Quran dan Sunnah yang shahih berdasarkan pemahaman para shahabat radhiyallahu ‘anhum.</p>
<p><strong>PERNYATAAN KETIGA :</strong></p>
<p>Habib Munzir berkata :</p>
<p>&#8220;Lalu bagaimana dengan saudara-saudara kita masa kini yang mengeluarkan fatwa dan pendapat kepada hadits–hadits yang diriwayatkan oleh para Imam ini? Mereka menusuk fatwa Imam Syafii, menyalahkan hadits riwayat Imam-Imam lainnya.</p>
<p>Seorang periwayat mengatakan hadits ini dhoif, maka muncul mereka ini memberi fatwa bahwa hadits itu munkar, darimanakah ilmu mereka? Apa yang mereka fahami dari ilmu hadits? Hanya menukil-nukil dari beberapa buku saja, lalu mereka sudah berani berfatwa…&#8221;</p>
<p>&#8220;Saudara–saudaraku yang kumuliakan, <strong>kita tidak bisa berfatwa dengan buku-buku, karena buku tidak bisa dijadikan rujukan untuk mengalahkan fatwa para Imam terdahulu, </strong>bukanlah berarti kita tidak boleh membaca buku,<strong> namun maksud saya bahwa buku yang ada zaman sekarang ini adalah pedoman paling lemah dibandingkan dengan fatwa-fatwa Imam-Imam terdahulu&#8221;</strong></p>
<p><strong>SANGGAHAN :</strong></p>
<p>Pernyataan Habib Munzir: &#8220;Saudara–saudaraku yang kumuliakan, <strong>kita tidak bisa berfatwa dengan buku-buku, karena buku tidak bisa dijadikan rujukan untuk mengalahkan fatwa para Imam terdahulu</strong>, bukanlah berarti kita tidak boleh membaca buku, <strong>namun maksud saya bahwa buku yang ada zaman sekarang ini adalah pedoman paling lemah dibandingkan dengan fatwa-fatwa Imam-Imam terdahulu</strong>&#8220;</p>
<p><strong>Pertama</strong>: Ini adalah pernyataan sangat berbahaya karena menimbulkan keraguan terhadap buku-buku yang ada di zaman sekarang ini. Dan hal ini tentunya akan meninggalkan keraguan terhadap agama, karena untuk mempelajari agama di zaman sekarang ini melalui buku-buku yang ada.</p>
<p><strong>Kedua</strong>: Ada beberapa pertanyaan yang saya tanyakan kepada Habib Munzir dan ini adalah sanggahan dengan pertanyaan:</p>
<p>-         Jika buku-buku agama yang digunakan untuk mengkritik fatwa-fatwa imam-imam dahulu tidak bisa dijadikan pedoman, lantas bagaimana cara kaum muslimin belajar agama?, apakah harus dengan sistem sanad yang digembar-gemborkan oleh para pendukung Habib Munzir??</p>
<p>-         Bukankah fatwa-fatwa imam-imam tersebut juga termaktub dan terdapat dalam buku-buku?, ataukah Habib Munzir mendapatkan fatwa-fatwa tersebut tidak melalui buku-buku?. Jika tidak melalui buku-buku, lantas dari mana? Melalui sanad guru??!!</p>
<p>-         Jika ternyata fatwa-fatwa tersebut dinukil dari buku-buku lantas bukankah buku-buku tersebut juga tidak bisa menjadi pedoman?</p>
<p><strong>Ketiga </strong>: Habib sendiri menyelisihi metode yang dia canangkan sendiri.</p>
<p>Bukankah Habib Munzir tatkala membolehkan beristighootsah kepada mayat juga berpedoman kepada buku-buku zaman sekarang???!!. Demikian pula, bukankah Habib Munzir tatkala membolehkan membangun kuburan di masjid juga berpedoman dengan fatwa Imam Syafii yang terdapat dalam buku Faidhul Qodiir, (lihat kembali <a href="http://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/183" target="_blank">http://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/183</a>). Yang lebih parah ternyata Habib Munzir salah menukil dan akhirnya terjerumus dalam kekeliruan. Jadi ternyata bukan bukunya yang keliru akan tetapi Habib Munzir yang salah menukil dari buku tersebut !!!!. , atau mungkin saja Habib Munzir menukil dari buku Faidhul Qodiir dalam cetakan lain yang tidak diragukan, dan bukan cetakan zaman sekarang yang tidak bisa dijadikan pedoman??!!</p>
<p><strong>PERNYATAAN KEEMPAT :</strong></p>
<p>Habib Munzir berkata :</p>
<p>&#8220;Sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal ini hafal 1.000.000 hadits, lalu berapa luas pemahaman si penerjemah atau pensyarah yang ingin menerjemahkan keluasan ilmu Imam Ahmad dalam terjemahannya?</p>
<p>Bagaimana tidak? Sungguh sudah sangat banyak hadits &#8211; hadits yang sirna masa kini, bila kita melihat satu contoh kecil saja, bahwa Imam Ahmad bin Hanbal hafal 1.000.000 hadits, lalu kemana hadits hadits itu? Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad haditsnya hanya tertuliskan hingga hadits No.27.688, maka <strong>kira kira 970.000 hadits yang dihafalnya itu tak sempat ditulis…!</strong></p>
<p>Lalu bagaimana dengan ratusan Imam dan Huffadh lainnya? Lalu logika kita, <strong>berapa juta hadits yang sirna dan tak sempat tertuliskan?</strong></p>
<p>Kesimpulan dari pernyataan Habib Munzir ini adalah :</p>
<p>-         Imam Ahmad menghapal 1 juta hadits, dan yang termaktub dalam musnad Imam Ahmad hanya 27.688 hadits, jadi ada sekitar 970.000 hadits yang tidak sempat ditulis oleh Imam Ahmad</p>
<p>-         Selain imam Ahmad masih ada imam-imam hufaadz yang lainnya yang juga hapalannya banyak, sehingga kesimpulannya berarti ada jutaan hadits yang sirna dan tidak sempat tertuliskan.</p>
<p><strong>SANGGAHAN</strong></p>
<p>Sanggahan dari pernyataan Habib Munzir ini dari dua sisi ;</p>
<p><strong><br />
Pertama: Maksud dari Imam Ahmad menghafal sejuta hadits bukanlah maksudnya beliau menghapal sejuta matan hadits dengan sejuta sanad.</p>
<p></strong> <strong></p>
<p>Para ulama telah menjelaskan bahwa maksud dari hafalan Imam Ahmad sejuta hadits adalah disertai dengan pengulangan dan jalan-jalan haditsnya.</strong> Karena bisa jadi satu matan hadits memiliki banyak jalan-jalan periwayatan. Jika satu matan (teks hadits) memiliki 10 jalur periwayatan maka mereka menganggapnya 10 hadits. Bahkan terkadang satu hadits memiliki seratus atau lebih jalur periwayatan.</p>
<p>Oleh karenanya diriwayatkan juga bahwasanya Al-Imam Al-Bukhari menghafal 100 ribu hadits shahih, dan maksudnya adalah dengan pengulangan serta jalan-jalan hadits.</p>
<p>Berkata Al-Haafizh Al-&#8217;Irooqi :<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun9/07.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;…Perkataan Imam Al-Ju&#8217;fiy (*yaitu Imam Al-Bukhari) : &#8220;Aku menghafal dari hadits shahih 100 ribu hadits&#8221;. Dan mungkin saja maksud Imam Al-Bukhari adalah dengan pengulangan dan juga (*termasuk) atsar-atsar mauquuf…&#8221; (Lihat Alfiyah Al-&#8217;Irooqiy)</p>
<p>Al-Hafizh As-Sakhoowi As-Syafii tatkala menyarah perkataan Al-&#8217;Irooqi ini berkata :<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun9/08.jpg" alt="" border="0" /></p>
<p>&#8220;Maksud Imam Al-Bukhariy tercapainya bilangan tersebut (100 ribu hadits shahih) dengan menghitung pula hadits-hadits yang berulang, dan juga menghitung hadits-hadits mauquf  dan juga atsar-atsar para sahabat dan para tabi&#8217;in dan selain mereka, serta fatwa-fatwa mereka. Karena para salaf mereka menyebut seluruhnya (*hadits marfu&#8217;, hadits mauquf, dan atsar sahabat) dengan nama hadits. Dan dengan demikian mudah perkaranya, karena bisa jadi satu hadits memiliki 100 jalan atau lebih.<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun9/09.jpg" alt="" border="0" /><br />
Lihatlah hadits &#8220;Al-A&#8217;maalu binniyyaat&#8221; …telah dinukilkan dari Al-Haafiz Abu Ismaa&#8217;iil Al-Anshooriy Al-Harowiy bahwasanya ia telah menulis hadits ini dari 700 para perawi yang meriwayatkan dari Yahyaa bin Sa&#8217;iid Al-Anshooriy. Dan Al-Ismaa&#8217;iliy mengomentari perkataan Al-Bukhari : &#8220;Hadits-hadits shahih yang aku tinggalkan lebih banyak&#8221; dengan perkataan beliau : &#8220;Seandainya Imam Al-Bukhariy mengeluarkan seluruh hadits yang ada padanya maka ia akan menggumpulkan dalam satu bab hadits jama&#8217;ah (banyak orang) dari sahabat, dan Imam Al-Bukhari akan menyebutkan jalan-jalan (*periwayatan) dari masing-masing sahabat tersebut jika shahih&#8221;</p>
<p>Al-Jauzaqiy berkata bahwasanya telah dilakukan istikhrooj terhadap hadits-hadits dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim (*yaitu meriwayatkan hadits-hadits yang terdapat dalam shahih al-Bukhari dan shahih Muslim akan tetapi tidak melalui jalur Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim), maka bilangannya mencapai 25.480 jalan&#8221;</p>
<p>Kemudian As-Sakhoowi menukil perkataan gurunya Ibnu Hajar, ia berkata :<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun9/10.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Guru kami (Ibnu Hajar al-&#8217;Asqolaaniy) berkata : Jika Al-Bukhari dan Muslim –dengan begitu ketatnya persyaratan mereka berdua- telah mencapai bilangan tersebut (*yaitu sekitar 14 ribu hadits) dengan pengulangan, maka hadits-hadits yang tidak dikeluarkan oleh mereka berdua berupa jalan-jalan (riwayat) dari matan-matan hadits yang telah dikeluarkan oleh mereka berdua bisa jadi juga mencapai jumlah bilangan tersebut atau lebih. Dan matan hadits-hadits yang shahih yang sesuai dengan persyaratan (kriteria) Al-Bukhari dan Muslim bisa juga mencapai jumlah bilangan tersebut, atau mendekatinya. Lalu jika bilangan-bilangan tersebut ditambah dengan atsar para sahabat dan tabiin maka bilangannya akan mencapai bilangan yang telah dihafal Imam Al-Bukhari (*yaitu sekitar 100 ribu hadits shahih), dan bisa jadi lebih banyak.</p>
<p><strong>Dan harus demikian penjelasannya, </strong>karena jika tidak demikian maka jika dihitung hadits-hadits yang terdapat dalam musnad-musnad, jami&#8217;-jami&#8217;, sunan-sunan, mu&#8217;jam-mu&#8217;jam, al-fawaaid dan juz-juz, dan yang selainnya yang ada pada tangan kita baik yang hadits-hadits shahih maupun tidak shahih maka tidak akan mencapai bilangan tersebut (*100 ribu) jika tanpa pengulangan. Bahkan tidak akan sampai setengahnya (*50 ribu)&#8221; (Fathul Mughiits 1/56-57)</p>
<p>Demikianlah penjelasan yang sangat gamblang dari Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-&#8217;Asqolaaniy As-Syafi&#8217;i.</p>
<p>Oleh karenanya jangan sampai seseorang berfikir bahwasanya jika Imam Al-Bukhari menghafal 100 hadits shahih padahal jumlah hadits-hadits dalam Shahih Al-Bukhari (disertai pengulangan) adalah sekitar 7000 dan tanpa pengulangan sekitar 4000 hadits, maka berarti masih tersisa 93.000 hadits shahih !!!, ini tentunya pemahaman yang keliru sebagaimana penjelasan Ibnu Hajr tadi.</p>
<p>Jadi dengan demikian maka maksud dari para imam tatkala mereka menyatakan telah menghafal atau menulis ratusan ribu hadits maka maksudnya adalah jumlah jalan-jalan haditsnya.</p>
<p>Ibnu Hajar juga berkata :<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun9/11.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Sa&#8217;iid bin Abi Maryam berkata : Aku mendengar Imam Malik bin Anas berkata : &#8220;Aku menulis dengan tanganku 100 ribu hadits&#8221;.</p>
<p>Al-Qoodhi Ibnu al-Muntaab mengomentari : &#8220;Dan seratus ribu yang didengar oleh Imam Malik maka semakin berlipat-lipat jumlahnya hingga di masa kami dan bercabang-cabang lebih banyak dari satu juta jalan&#8221; (An-Nukat &#8216;alaa Ibni as-Sholaah 1/184-185)</p>
<p>Berkata Imam Adz-Dzhabi As-Syafii :<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun9/12.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Dalam kitab &#8220;Taariikh Dimasyq&#8221; dari jalan Muhammad bin Nashr, ia mendengar dari Yahya bin Ma&#8217;iin ia berkata : &#8220;Aku telah menulis dengan tanganku satu juta hadits&#8221;. Aku (Imam Adz-Dzahabi) berkata : &#8220;Yaitu dengan berulang-ulang, tidakkah engkau melihatnya berkata : &#8220;Kalau kami tidak menulis hadits 50 kali maka kami tidak mengetahui hadits tersebut&#8221; (Siyar A&#8217;laam An-Nubalaa 11/84-85).</p>
<p><strong>Kedua </strong>: Pernyataan logika Habib Munzir bahwasanya ada jutaan hadits yang sirna…, maka ini bisa menimbulkan keraguan kepada kaum muslimin akan kesempurnaan Islam dan penjagaan Allah Ta’ala terhadap Islam. Karena hal ini melazimkan bahwa ada hadits-hadits tentang amalan-amalan dan penjelasan-penjelasan Islam yang telah hilang. Kalau hadits-hadits yang ada di buku-buku hadits seluruhnya (tanpa perulangan) tidak sampai 50 ribu hadits -sebagaimana penjelasan Ibnu Hajar tadi- padahal jumlah hadits yang sirna menurut Habib Munzir adalah jutaan maka tentunya yang terjaga dalam islam kurang dari 5% !!!. Tentunya hal ini sangat menimbulkan keraguan akan kesempurnaan Islam.</p>
<p>Dan yang benar adalah bahwasanya seluruh hadits-hadits Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang shahih pasti sampai kepada kita dan terjaga, tidak ada satu hadits shahihpun yang hilang dan sirna –tidak sebagaimana persangkaan Habib Munzir-.</p>
<p>Hal ini dijelaskan dari <em><strong>tiga </strong></em>sisi pendalilan :</p>
<p><em>Pendalilan Pertama</em><em> </em>: Kita diperintahkan oleh Allah untuk mentadabburi dan mengamalkan al-Qur&#8217;an. Dan Allah telah menjelaskan kepada kita bahwasanya Allah telah menyerahkan penjelasan dan praktek isi al-Qur&#8217;an kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Allah berfirman :</p>
<p>وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ</p>
<p><em>Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan</em> (QS An-Nahl : 44)</p>
<p>وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ</p>
<p><em>Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.</em> (QS An-Nahl : 64)</p>
<p>Karenanya penjagaan Allah kepada Al-Qur&#8217;an melazimkan penjagaan Allah terhadap hadits-hadits Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang merupakan penjelasan bagi Al-Qur&#8217;an. Dan penjagaan Al-Qur&#8217;an mencakup penjagaan terhadap lafal-lafalnya dan juga penjelasannya melalui hadits-hadits Nabi yang shahih.</p>
<p><em>Pendalilan Kedua</em> : Dalam banyak ayat Allah memerintahkan kita untuk taat kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, diantaranya firman Allah</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ (٥٩)</p>
<p><em>Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya)</em> (QS An-Nisaa : 59)</p>
<p>مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ</p>
<p><em>Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah.</em> (QS An-Nisaa : 80)</p>
<p>Dan Allah memerintah kita untuk kembali kepada Al-Qur&#8217;an dan sunnah Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tatkala terjadi perselisihan.</p>
<p>فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ</p>
<p><em>Kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.</em> (QS An-Nisaa : 59)</p>
<p>Allah memerintahkan kita untuk meneladani Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</p>
<p>لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا</p>
<p><em>Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.</em> (Al-Ahzaab : 21)</p>
<p>Lantas bagaimana kita bisa melaksanakan perintah-perintah Allah ini jika kemudian Allah tidak menjaga hadits-hadits Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam??. Kalau kita meyakini ada hadits-hadits (apalagi berjuta-juta) hadits yang hilang maka berarti Allah telah membebankan kepada kita apa yang tidak mungkin bisa kita laksanakan !!!. Kalau berjuta-juta hadits hilang dan yang tersisa hanya 50 ribu hadits lantas bagaimana kita bisa meneladani Nabi?, bagaimana kita bisa merujuk kepada sunnah tatkala berselisih?, bagaimana kita bisa menghindari larangan-larangan Nabi??!!. Oleh karenanya pengraguan akan terjaganya hadits-hadits Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengantarkan pada pengraguan terhadap Al-Qur&#8217;aan !!!</p>
<p><em><br />
Pendalilan Ketiga</em> : Sabda-sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam merupakan wahyu dari Allah sebagaimana Al-Qur&#8217;an, karenanya sabda-sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam termasuk adz-dzikr yang akan dijamin oleh Allah penjagaannya.</p>
<p>Ibnu Hazm rahimahullah berkata<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun9/13.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Allah berfirman :</p>
<p>إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ</p>
<p><em>Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya</em> (QS Al-Hijr : 9)</p>
<p>Dan Allah berfirman :</p>
<p>قُلْ إِنَّمَا أُنْذِرُكُمْ بِالْوَحْيِ<br />
<em><br />
Katakanlah (hai Muhammad): &#8220;Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kamu sekalian dengan wahyu&#8221;</em> (QS Al-Anbiyaa&#8217; : 45)</p>
<p>Allah mengabarkan –sebagaimana telah lalu- bahwasanya sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam seluruhnya adalah wahyu, dan tidak ada perselisihan bawhasanya wahyu merupakan adz-dzikr. Dan Adz-Dzikr terjaga (oleh Allah) berdasarkan nash dari al-Qur&#8217;an. Maka dengan demikian benarlah bahwa seluruh sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam terjaga dengan penjagaan Allah, terjamin bagi kita bahwa tidak ada sedikitpun yang hilang, karena sesuatu yang dijaga oleh Allah maka kita yakin bahwa tidak akan ada sedikitpun yang hilang, seluruh sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah dinukilkan kepada kita&#8221; (Al-Ihkaam fi Ushuul al-Ahkaam 1/98)</p>
<p>Ibnu Hazm rahimahullah juga berkata :<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun9/14.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Sesungguhnya Allah telah berfirman :</p>
<p>إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ<br />
<em><br />
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya</em> (QS Al-Hijr : 9)</p>
<p>Maka telah terjamin di sisi setiap orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat bahwasanya sesuatu yang telah dipegang oleh Allah untuk menjaganya maka selamanya tidak akan hilang. Dan tidak seorang muslimpun yang ragu akan hal ini. Dan sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam seluruhnya adalah wahyu berdasarkan firman Allah</p>
<p>وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (٣)إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى (٤)</p>
<p><em>Dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)</em> (QS An-Najm : 2-4).</p>
<p>Dan umat seluruhnya telah bersepakat bahwa wahyu adalah dzikr, dan adz-Dzikr dijaga oleh Allah berdasarkan nash al-Qur&#8217;an, maka sabda-sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pasti dijaga oleh Allah, pasti seluruh sabda-sabda Nabi telah dinukil kepada kita&#8221; (Al-Ihkaam fi Ushuul al-Ahkaam 2/71)</p>
<p>Dari penjelasan di atas maka dipahami bahwasanya meskipun para ulama menghafal ratusan ribu hadits atau bahkan sejuta hadits maka mereka memilih dari jalan-jalan jalur periwayatan hadits-hadits shahih tersebut. Sehingga apa yang mereka tulis telah mewakili kebanyakan apa yang tidak mereka tuliskan dari hadits-hadits shahih.</p>
<p>Ibnu Hajr Al-&#8217;Asqolaaniy berkata:<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun9/15.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Abu Hafsh Umar bin Abdil Majiid Al-Mayaanisi dalam kitabnya &#8220;Iidhooh ma laa yasa&#8217;u al-muhadditsa jahluhu&#8221; menyebtukan : Kandungan hadits-hadits dalam shahih al-Bukhari yang jumlahnya 7600 sekian hadits telah dipilih oleh Imam Al-Bukhari dari satu juta 600 ribu sekian hadits&#8221; (An-Nukat &#8216;alaa Ibni as-Sholaah 1/190)</p>
<p>Kota suci Mekah 30 Oktober 2011 (3 Dzulhijjah 1432 H)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja</p>
<p>www.firanda.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bantahansalafytobat.wordpress.com/426/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bantahansalafytobat.wordpress.com/426/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bantahansalafytobat.wordpress.com/426/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bantahansalafytobat.wordpress.com/426/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bantahansalafytobat.wordpress.com/426/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bantahansalafytobat.wordpress.com/426/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bantahansalafytobat.wordpress.com/426/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bantahansalafytobat.wordpress.com/426/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bantahansalafytobat.wordpress.com/426/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bantahansalafytobat.wordpress.com/426/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bantahansalafytobat.wordpress.com/426/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bantahansalafytobat.wordpress.com/426/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bantahansalafytobat.wordpress.com/426/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bantahansalafytobat.wordpress.com/426/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bantahansalafytobat.wordpress.com&amp;blog=16552009&amp;post=426&amp;subd=bantahansalafytobat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bantahansalafytobat.wordpress.com/2011/11/26/habib-munzir-berbicara-tentang-ilmu-hadits-seri-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ea85548627490456d5731e02afd96799?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bantahansalafytobat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bantahansalafytobat.files.wordpress.com/2011/11/mustalah1.jpeg?w=101" medium="image">
			<media:title type="html">mustalah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun9/01.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun9/02.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun9/03.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun9/04.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun9/05.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun9/06.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun9/07.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun9/08.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun9/09.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun9/10.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun9/11.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun9/12.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun9/13.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun9/14.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun9/15.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Habib Munzir Berbicara Tentang Ilmu Hadits (Seri 1)</title>
		<link>http://bantahansalafytobat.wordpress.com/2011/11/26/habib-munzir-berbicara-tentang-ilmu-hadits-seri-1/</link>
		<comments>http://bantahansalafytobat.wordpress.com/2011/11/26/habib-munzir-berbicara-tentang-ilmu-hadits-seri-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Nov 2011 14:33:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bantahansalafytobat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bantahan Ilmiyyah]]></category>
		<category><![CDATA[HABIB MUNZIR AL-MUSAWA]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[habib munzir bicara hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Menilai keilmuan hadits habib munzir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bantahansalafytobat.wordpress.com/?p=423</guid>
		<description><![CDATA[Berikut ini beberapa kritikan terhadap pemikiran dan ilmu Habib Munzir tentang ilmu hadits. PERTAMA : Habib Munzir berkata ; &#8220;Sebagian besar hadits dhoif adalah hadits yang lemah sanad perawinya atau pada matannya, tetapi bukan berarti secara keseluruhan adalah palsu, karena hadits palsu dinamai hadits munkar, atau mardud, batil&#8220;. (Kenalilah Akidahmu 2 hal 13) SANGGAHAN Istilah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bantahansalafytobat.wordpress.com&amp;blog=16552009&amp;post=423&amp;subd=bantahansalafytobat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_424" class="wp-caption alignleft" style="width: 111px"><a href="http://bantahansalafytobat.files.wordpress.com/2011/11/mustalah.jpeg"><img class="size-thumbnail wp-image-424" title="mustalah" src="http://bantahansalafytobat.files.wordpress.com/2011/11/mustalah.jpeg?w=101&#038;h=150" alt="" width="101" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Musthalah Hadits</p></div>
<p>Berikut ini beberapa kritikan terhadap pemikiran dan ilmu Habib Munzir tentang ilmu hadits.</p>
<p><strong>PERTAMA </strong>: Habib Munzir berkata ;</p>
<p>&#8220;Sebagian besar hadits dhoif adalah hadits yang lemah sanad perawinya atau pada matannya, tetapi bukan berarti secara keseluruhan adalah palsu, karena <strong>hadits palsu dinamai hadits munkar, atau mardud, batil</strong>&#8220;. (Kenalilah Akidahmu 2 hal 13)</p>
<p>SANGGAHAN</p>
<p>Istilah <strong>hadits mardud </strong>dan hadits munkar bukanlah istilah yang digunakan oleh para ahli hadits untuk mengungkapkan hadits palsu.<br />
<span id="more-423"></span><br />
Hadits Mardud : adalah hadits yang tertolak untuk diamalkan sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Ibnu Hajar al-&#8217;Asqolaaniy. Setelah menyebutkan tentang hadits maqbul yaitu hadits-hadits yang bisa dijadikan hujah dan diterima, Ibnu Hajar berkata :<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/01.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Kemudian al-Marduud, dan penyebab tertolaknya karena ada yang terjatuh dari sanad atau karena celaan terhadap perawi dengan berbagai model sisi pencelaan, dan pencelaan tersebut lebih umum dari sekedar celaan yang dikarenankan diin sang perawi atau kredibilitas hapalannya&#8221; (Nuzhatun Nadzor syarh Nukhbah Al-Fikar hal 80)</p>
<p>Tatkala menjelaskan perkataan Ibnu Hajar dalam Nukhbatul Fikar, Abdullah bin Husain Khoothir berkata :<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/02.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Perkataan Ibnu Hajr al-&#8217;Asqolaaniy &#8220;<strong>Kemudian al-Marduud dst</strong>&#8220;, telah lalu bahwasanya hadits maqbuul adalah hadits yang diamalkan, dan ada empat macam; (1) shahih li dzaatihi, yaitu kuat dhobit nya dan tersambung sanadnya, atau (2) shahih lighoirihi, yaitu lemah dhobit nya, dan dia adalah (3) hasan li dzaatihi, dan jika hasannya karena banyaknya jalan-jalannya maka dia adalah (4) hasan lighoirihi.</p>
<p>Perkataan Ibnu Hajar al-&#8217;Asqolaaniy &#8220;<strong>Dan penyebab tertolaknya</strong>&#8221; yaitu penyebab yang menyebabkan konsekuensi dari hadits mardud yaitu <strong>haram untuk diamalkan</strong>&#8221; (Haasyiah Luqoth Ad-Duror hal 71)</p>
<p>Dari sini jelas bahwa Habib Munzir telah keliru tatkala menyebutkan bahwa diantara nama-nama hadits palsu adalah hadits marduud</p>
<p><strong>Hadits Munkar</strong> : Yaitu periwayatan perawi yang dhoif yang menyelisihi periwayatan para perawi yang tsiqoh. Adapun hadits Syaadz adalah periwayatan perawai yang tsiqoh yang menyelisihi periwayatan perawi yang lebih tsiqoh darinya.</p>
<p>Ibnu Hajar al-&#8217;Asqolaaniy berkata ;<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/03.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Dengan demikian jelas bahwasanya antara hadits Syaadz dan hadits Munkar ada keumuman dan kekhususan dari satu sisi, karena keduanya bersepakat pada sisi adanya penyelisihan dan keduanya berbeda dari sisi bawhasanya hadits Syaadz adalah periwayatan peerawi yang tsiqoh atau shoduuq, dan hadits munkar adalah periwayatan perawi yang dhoiif. Dan telah lalai orang yang menyamakan antara keduanya, wallahu a&#8217;lam&#8221; (Nuzhatun Nador hal 73)</p>
<p>Bahkan sebagian ulama hadits –seperti Imam Ahmad bin Hanbal- menamakan periwayatan perawi yang tsiqoh yang bersendirian dalam periwayatannya sebagai hadits yang munkar, tanpa memandang apakah perawi terebut menyelisihi perawi yang lebih tsiqoh darinya ataukah tidak menyelisihi (lihat penjelasan Ibnu Hajar dalam Hadyus Saary hal 392).</p>
<p><strong>KEDUA </strong>:</p>
<p>Habib Munzir berkata, &#8220;Maka tidak sepantasnya kita menggolongkan semua hadits dhaif adalah hadits palsu, dan menafikan (menghilangkan) hadits dhaif karena sebagian hadits dhaif masih diakui sebagai ucapan Rasul saw, <strong>dan tak satu muhaddits pun yang berani menafikan keseluruhannya, karena menuduh seluruh hadist dhoif sebagai hadits yang palsu berarti mendustakan ucapan Rasul saw dan hukumnya kufur</strong>.</p>
<p>Rasulullah Saw bersabda : “<em>Barangsiapa yang sengaja berdusta dengan ucapanku maka hendaknya ia bersiap &#8211; siap mengambil tempatnya di neraka</em>” (Shahih Bukhari hadits No.110).</p>
<p>Sabda beliau SAW pula : “<em>sungguh dusta atasku tidak sama dengan dusta atas nama seseorang, barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku maka ia bersiap siap mengambil tempatnya di neraka</em>” (Shahih Bukhari hadits No.1229).</p>
<p><strong>Cobalah anda bayangkan, mereka yang melarang beramal dengan seluruh hadits dhoif berarti mereka melarang sebagian ucapan atau sunnah Rasul saw, dan mendustakan ucapan Rasul saw&#8221;</strong></p>
<p><strong>SANGGAHAN</strong></p>
<p>Sungguh tidak ada seorangpun -yang mengerti sedikit saja ilmu hadits- lantas mengatakan bahwa semua hadits dhoif adalah hadits palsu. Bahkan banyak ahli hadits yang menyatakan bahwa hadits palsu tidak boleh dimasukkan dalam klasifikasi hadits dhoif, karena hadits palsu bukanlah hadits.</p>
<p>Akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah pernyataan Habib Munzir <strong>&#8220;mereka yang melarang beramal dengan seluruh hadits dhoif berarti mereka melarang sebagian ucapan atau sunnah Rasul saw, dan mendustakan ucapan Rasul saw&#8221;</strong>. Padahal Habib Munzir telah menjelaskan sebelumnya bahwa mendustakan ucapan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam merupakan kekufuran.</p>
<p><strong>Apakah Habib Munzir tidak tahu bahwasanya banyak para ulama yang menyatakan tidak boleh mengamalkan hadits dhoif secara mutlak??</strong></p>
<p>Diantara para ulama tersebut adalah :</p>
<p><strong>Pertama </strong>; Yahya bin Ma&#8217;iin. Ibnu Sayyid An-Naas menjelaskan dalam bukunya &#8216;Uyyunul Atsar bahwasanya sebagian ulama –seperti Imam Ahmad- memberi rukhsoh/keringanan untuk meriwayatkan hadits-hadits dhoif tentang sejarah, nasab, kondisi Arab, dan lain-lain yang tidak berkaitan dengan hukum-hukum (halal dan haram). Lalu beliau menyebutkan bahwasanya diantara para ulama yang tidak memberi keringanan sama sekali adalah Yahya bin Ma&#8217;iin. Ibnu Sayyid An-Naas berkata:<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/04.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Dan diantara yang diriwayatkan darinya penyamaan tentang hal ini antara hukum-hukum dan yang lainnya (*yaitu tentang sejarah dan peperangan) adalah Yahyaa bin Ma&#8217;iin&#8221; (&#8216;Uyuunul Atsar fi Funuun Al-Maghoozi wa as-Syamaail wa as-Siyar 1/65)</p>
<p><strong>Kedua </strong>: Imam Muslim, beliau berkata di muqoddimah shahih Muslim :<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/05.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Kemudian daripada itu –semoga Allah merahmatimu-, Maka kalau bukan karena yang kami lihat dari buruknya sikap banyak orang yang menyatakan dirinya sebagai muhaddits pada perkara yang mengharuskan mereka untuk membuang hadits-hadits dhoif dan riwayat-riwayat munkar, dan membiarkan mereka untuk mencukupkan diri dengan hadits-hadits yang shahih yang masyhuur yang telah diriwayatkan oleh orang-orang yang tsiqoot yang dikenal dengan kejujuran dan amanah…&#8221; (Shahih Muslim 1/6 pada muqoddimah)</p>
<p>Imam Muslim juga berkata:<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/06.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Ketahuilah –semoga Allah memberi taufiiq kepadamu- sesungguhnya yang wajib bagi setiap orang yang mampu membedakan antara riwayat-riwayat yang shahih dengan riwayat-riwayat yang lemah, juga membedakan antara para tsiqoot yang menukil riwayat-riwayat dengan orang-orang yang tertuduh (*tidak tsiqoot) agar tidak meriwayatkan kecuali dari riwayat yang ia tahu shahihnya jalan-jalan sanadnya dan ketsiqohan para perawinya, dan agar ia menjauhi riwayat-riwayat yang diriwayatkan oleh para perawi yang tertuduh dan para penentang dari kalangan ahlul bid&#8217;ah&#8221; (Shahih Muslim 1/6 pada muqoddimah)</p>
<p>Ibnu Rojab berkata :<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/07.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Dzohir dari apa yang disebutkan oleh Imam Muslim dalam muqoddimah kitabnya (*Kitab Shahih Muslim) menkonsekuensikan bahwasanya tidaklah diriwayatkan hadits-hadits tentang targhiib wa tarhiib (*tentang fadhooil al-a&#8217;maal) kecuali dari para perawi yang diriwayatkan dari mereka ahkaam (*tentang halal dan haram)&#8221; (Syarh &#8216;Ilal At-Thirimidzi 1/74)</p>
<p><strong>Ketiga </strong>: Abu Zur&#8217;ah Ar-Roozi</p>
<p><strong>Keempat </strong>: Abu Haatim Ar-Roozi</p>
<p><strong>Kelima </strong>: Ibnu Abi Haatim, beliau berkata :<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/08.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Aku mendengar Ayahku (*yaitu Abu Haatim Ar-Roozi) dan Abu Zur&#8217;ah mereka berdua berkata ; &#8220;Hadits-hadits mursal tidak dijadikan hujah, dan tidaklah tegak hujah kecuali dengan sanad-sanad yang shahih yang muttasil (bersambung)&#8221;, demikian pula pendapatku&#8221; (Al-Maroosiil li Ibni Abi Haatim hal 7)</p>
<p><strong>Keenam </strong>: Ibnu Hibbaan, beliau berkata<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/09.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Dan seorang perawi jika tidak ada seorang perawi yang tsiqoh yang meriwayatkan darinya maka ia adalah majhuul, tidak boleh berhujah dengannya, karena riwayat perawi yang dhoif tidak mengeluarkan seorang yang tidak &#8216;adl dari barisan para perawi majhuul kepada barisan para perawi yang &#8216;adl. <strong>Seakan-akan apa yang diriwayatkan oleh parawi yang dhoif dengan apa yang tidak diriwayatkannya hukumnya sama saja</strong>&#8221; (Al-Majruuhiin 1/327-328)</p>
<p>Dan dipahami dari perkataan Ibnu Hibbaan ini bahwasanya beliau menganggap periwayatan perawi yang dhoif sama hukumnya seperti tidak ada, sehingga tidak bisa dijadikan hujjah. Wallahu a&#8217;lam</p>
<p><strong>Ketujuh </strong>: Abu Sulaimaan Al-Khottoobi (wafat tahun 388 H)</p>
<p>Beliau rahimahullah telah mencela para fuqohaa (ahli fikih) yang tidak membedakan antara hadits yang shahih dengan hadits yang dhoif. Beliau berkata :<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/10.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Adapun tingkatan yang lain mereka adalah para ahli fikih, sesungguhnya mayoritas mereka tidak menyinggung hadits kecuali sangatlah sedikit, dan hampir-hampir mereka tidak membedakan antara hadits shahih dengan hadits dho&#8217;if, dan mereka tidak mengetahui mana hadits yang baik dengan hadits hadits yang buruk, dan mereka tidak perduli untuk berhujah dengan hadits dhoif yang sampai kepada mereka –untuk mengalahkan musuh mereka- jika hadits dhoif tersebut sesuai dengan madzhab yang mereka anut dan sesuai dengan pendapat-pendapat yang mereka yakini. Mereka telah membuat kesepakatan diantara mereka untuk menerima hadits dhoif dan hadits munqoti&#8217; (*terputus sanadnya) jika hadits tersebut sudah masyhuur di sisi mereka dan sering diucapkan oleh lisan-lisan di antara mereka, tanpa mengecek dulu atau tanpa keyakinan ilmu tentang hadits tersebut&#8221; (Ma&#8217;aalim As-Sunan 1/3-4)</p>
<p><strong>Kedelapan </strong>: Ibnu Hazm (wafat 456 H)</p>
<p>Tatkala beliau membantah ahlul kitab, beliau berkata tentang cara kaum muslimin dalam penukilan khabar  :<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/11.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Khobar yang dinukil –sebagaimana kami sebutkan-, yaitu dengan penukilan penduduk timur dan barat, atau penukilan banyak orang dari banyak orang, atau penukilan perawi tsiqoh dari perawi tsiqoh hingga sampai kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Kecuali jika di sanadnya ada seorang perawi yang majruuh (tercela) pendusta atau perawi yang lalai atau perawi yang majhuul al-haal, maka penukilan seperti ini dijadikan hujah oleh sebagian kaum muslimin. Dan tidak halal di sisi kami berpendapat dengan penukilan seperti ini dan membenarkannya, dan tidak halal mengambil sedikitpun dari penukilan seperti ini&#8221; (Al-Fishol fi al-milal wa al-Ahwaa wa an-Nihal 2/222)</p>
<p><strong>Kesembilan </strong>: Abu Syaamah Al-Maqdisi As-Syafi&#8217;i (wafat tahun 665 H)</p>
<p>Beliau mengingkari Al-Haafiz Abul Qoosim Ibnu &#8216;Asaakir yang membawakan hadits &#8220;<em>Barangsiapa yang berpuasa pada tanggal 27 Rojab maka Allah akan mencatat baginya puasa selama 60 bulan</em>&#8220;, beliau berkata :<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/12.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Aku sangat berharap kalau Al-Haafiz (*Ibnu &#8216;Assakir) tidak mengatakan demikian, karena pada perkataannya tersebut terdapat penetapan hadits-hadits yang munkar. Sesungguhnya kedudukan beliau lebih tinggi dari untuk menyampaikan dari Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sebuah hadits yang menurutnya adalah dusta. <strong>Akan tetapi beliau dalam hal ini berjalan sesuai kebiasaan sekelompok ahli hadits dimana mereka bermudah-mudah pada hadits-hadits fadhooil a&#8217;maal. Dan hal ini menurut ahli tahqiiq dari kalangan ahli hadits dan juga para ulama ushuul dan fiqh merupakan kesalahan</strong>. Dan hendaknya ia menjelaskan perkara (*kelemahan) hadits tersebut jika ia mengetahuinya, kalau tidak maka ia akan termasuk dalam ancaman pada sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam : &#8220;Barangsiapa yang menyampaikan dariku sebuah hadits yang menurutnya adalah dusta maka ia adalah salah seorang dari para pendusta&#8221; (Al-Baa&#8217;its &#8216;alaa inkaar Al-Bida&#8217; wa Al-Hawaadits hal 72)</p>
<p><strong>Kesepuluh </strong>: As-Syaukaaniy (wafat 1250 H)</p>
<p>Beliau mengkritik perkataan Ibnu Abdil Barr yang menyatakan bahwa para ulama bermudah-mudah pada periwayatan hadits dhoif dalam fadhoo&#8217;il a&#8217;maal, mereka hanyalah ketat dalam hadits-hadits yang berkaitan dengan hukum.</p>
<p>As-Syaukaaniy berkata ;<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/13.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Sesungguhnya hukum-hukum syari&#8217;at sama saja (*baik masalah hukum maupun masalah fadhooil a&#8217;maal), tidak ada perbedaan diantaranya, maka tidak halal menetapkan suatu hukum dari hukum-hukum syari&#8217;at kecuali dengan dalil yang bisa dijadikan hujjah. Jika tidak maka ini merupakan bentuk pengada-ngadaan apa yang tidak dikatakan oleh Allah, dan hukuman perbuatan ini sudah jelas&#8221; (Al-Fawaaid Al-Majmuu&#8217;ah hal 254)</p>
<p><strong>Kesebelas </strong>: Sidhiiq Hasan Khoon</p>
<p>Beliau berkata :<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/14.jpg" alt="" border="0" /><img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/14b.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Dan yang benar yang tidak ada pilihan selainnya bahwasanya hukum-hukum syari&#8217;at sama saja, maka tidak boleh beramal dengan suatu hadits hingga hadits tersebut shahih atau hasan lidzaatihi atau hasan lighoirihi atau dhoifnya terangkat hingga naik menjadi hasan lidzaatihi atau lighoirihi&#8221; (Nuzul Al-Abroor bi al-&#8217;Ilm al-Ma&#8217;tsuur min al-Ad&#8217;iyah wa al-Adzkaar hal 7-8)</p>
<p>Apakah para ulama ini menurut Habib Munzir telah mendustakan hadits-hadits Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam?? Lantas apakah selanjutnya mereka dihukum kafir oleh Habib Munzir..??!!. Saya sampai bingung menghadapi vonis-vonis nekat dari Habib Munzir. Membedakan antara mayat dan orang hidup dikatakan kufur dan kesyirikan yang nyata?? (lihat kembali), menolak mengamalkan hadits-hadits dhoif dikatakan mendustakan ucapan Nabi dan merupakan kekufuran??!!</p>
<p>Apakah ada satu saja ulama…atau satu saja ustadz yang berpendidikan yang berpendapat seperti pendapat Habib Munzir ini bahwasanya menolak mengamalkan seluruh hadits dhoif melazimkan mendustakan ucapan Nabi??? Yang hal ini merupakan kekufuran??. Bukankah Habib Munzir memiliki sanad hingga Imam As-Syafii, bahkan hingga Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam, lantas apakah ada para ulama yang sanad Habib Munzir sampai kepada mereka yang berpendapat seperti Habib Munzir ini??!!!!</p>
<p>Permasalahan mengamalkan hadits dhoif dalam fadhooil a&#8217;maal merupakan permasalah khilafiyah diantara para ulama. Hal ini telah dijelaskan oleh As-Sakhoowiy dalam kitabnya Al-Qoul Al-Badii&#8217; fi as-Sholaat &#8216;alaa al-Habiib As-Syafii&#8217; hal 363-366). Mayoritas Ulama membolehkan untuk mengamalkan hadits-hadits dho&#8217;iif dalam fadhooil a&#8217;maal dan untuk at-targhiib wa at-tarhiib (bukan dalam hukum-hukum), akan tetapi mereka memberi persyaratan untuk mengamalkannya.</p>
<p>Al-Haafizh As-Sakhoowi menyebutkan bahwasanya guru beliau –yaitu Imam Ibnu Hajr Al-&#8217;Asqolaani- memberi 3 persayaratan untuk mengamalkan hadits dhoif.</p>
<p>Beliau berkata :<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/15.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Sungguh aku telah berulang kali mendengar guruku (*Ibnu Hajar al-&#8217;Asqolaaniy) berkata, -dan ia telah menulis dengan khot (*tulisan tangan) beliau :</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya syarat mengamalkan hadits dho&#8217;if ada tiga :</p>
<p>Pertama : Persyaratan yang disepakati yaitu kedhoifannya tidak boleh parah, karenanya tidak termasuk periwayatan bersendirian dari para pendusta dan para perawi yang tertuduh dusta serta perawi yang parah kesalahannya</p>
<p>Kedua : Amalan yang dilakukan berada di bawah asal (*hukum) yang umum, karenanya tidak termasuk amalan yang diada-adakan yang tidak memiliki asal hukum sama sekali</p>
<p>Ketiga : Tatkala mengamalkannya hendaknya ia tidak meyakini shahihnya hadits tersebut agar ia tidak menyandarkan (menisbahkan) kepada Nabi apa yang tidak diucapkan oleh Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>Ibnu Hajar berkata : Dua syarat yang terakhir dari Al-&#8217;Izz bin Abdis Salaam dan sahabatnya Ibnu Daqiiq al-&#8217;Iid, dan adapun syarat yang pertama maka Al-&#8217;Alaai menukilkan adalah kesepakatan akan syarat ini&#8221; (Al-Qoul al-Badii&#8217; 363-364)</p>
<p>Keempat : Agar orang yang mengamalkannya tidak menampak-nampakkan amalannya. Persyaratan ini disebutkan oleh Ibnu Hajar al-Asqolaaniy dalam kitabnya Tabyiinul &#8216;Ajab Bi Maa Waroda fi Fadhli Rojab. Beliau berkata :<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/16.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Bersamaan dengan itu (*yaitu bolehnya membawakan hadits dhoif dalam fadhooil a&#8217;maal) hendaknya disyaratkan <strong>agar orang yang mengamalkannya meyakini bahwa hadits tersebut dhoif, </strong>dan <strong>hendaknya ia tidak menampak-nampakan (menyohorkan) hal itu</strong>, agar seseorang tidak mengamalkan hadits dhoif sehingga <strong>iapun mensyari&#8217;atkan apa yang bukan syari&#8217;at</strong>. Atau ada sebagian orang jahil yang melihatnya (*mengamalkan hadits dhoif) sehingga iapun menyangka bahwa amalan tersebut adalah sunnah yang shahih.</p>
<p>Makna ini telah dijelaskan oleh Al-Ustaadz Abu Muhammad Ibni Abdis Salaam dan yang lainnya. Dan hendaknya seseorang berhati-hati agar tidak termasuk dalam sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ; &#8220;Barangsiapa yang menyampaikan dariku sebuah hadits yang menurutnya adalah dusta maka ia adalah salah seorang dari para pendusta&#8221;, <strong>maka bagaimana lagi dengan orang yang mengamalkannya.??</strong></p>
<p><strong>Dan tidak ada perbedaan dalam mengamalkan hadits dalam ahkaam (hukum-hukum) dan dalam fadhooil a&#8217;maal, karena semuanya adalah syari&#8217;at</strong>&#8221; (Tabyiinul &#8216;Ajab hal 11-12)</p>
<p>Maka apakah Habib Munzir dan demikian juga para pengikutnya tatkala mengamalkan dan menyampaikan hadits-hadits dhoiif sudah menelaah dan mengamalkan persyaratan-persyaratan yang dipasang oleh Ibnu Hajar di atas??!!<br />
Bahkan dari penjelasan Ibnu Hajar pada persyaratan yang keempat (dalam kitabnya Tabyiinul &#8216;Ajab) nampak bahwa beliau condong pada pendapat untuk tidak mengamalkan hadits dhoif sama sekali baik dalam masalah hukum maupun masalah fadhooil a&#8217;maal karena kedua-duanya merupakan syari&#8217;at, dan syari&#8217;at tidaklah dibangun di atas hadits yang dhoiif.</p>
<p><strong>KETIGA </strong>: Habib Munzir berkata :</p>
<p><strong>&#8220;Karena menuduh seluruh hadist dhoif sebagai hadits yang palsu berarti mendustakan ucapan Rasul saw dan hukumnya kufur.</strong></p>
<p>Rasulullah Saw bersabda : “<em>Barangsiapa yang sengaja berdusta dengan ucapanku maka hendaknya ia bersiap &#8211; siap mengambil tempatnya di neraka</em>” (Shahih Bukhari hadits No.110).</p>
<p>Sabda beliau SAW pula : <em>“sungguh dusta atasku tidak sama dengan dusta atas nama seseorang, barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku maka ia bersiap siap mengambil tempatnya di neraka” </em>(Shahih Bukhari hadits No.1229)&#8221;</p>
<p>SANGGAHAN</p>
<p>Habib Munzir membawakan dua hadist sebagai dalil bahwa mendustakan ucapan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam merupakan kekufuran.</p>
<p>Para pembaca yang budiman, ini merupakan pendalilan yang tidak pada tempatnya bahkan pemutarbalikan fakta, hal ini jelas dari dua sisi :</p>
<p><strong><em>Pertama </em></strong>: Hadits-hadits ini digunakan oleh para ulama untuk menjelaskan bahayanya orang yang memalsukan hadits dan menyandarkannya kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>Dalam sebuah riwayat dengan lafal</p>
<p>مَنْ يَقُلْ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ</p>
<p>&#8220;<em>Barangsiapa yang mengatakan atas nam</em><em>aku <strong>apa yang tidak aku ucapkan </strong>maka persiapkanlah tempatnya di neraka</em>&#8221; (HR Al-Bukhari no 109)</p>
<p>Maka sangatlah jelas bahwa hadits-hadits ancaman tersebut berkaitan dengan orang yang menyampaikan suatu perkataan (hadits) yang tidak pernah diucapkan oleh Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Hal ini berbeda dengan orang yang menolak hadits Nabi karena ragu dengan kesahihannya. <strong>Menolak hadits berbeda dengan memalsukan hadits</strong>, dan dua hadits di atas yang habib sebutkan serta hadits yang saya sebutkan berkaitan dengan orang yang memalsukan hadits.</p>
<p>Karenanya tolong Habib Munzir untuk menyebutkan siapakah para ulama yang berdalil dengan hadits ini untuk mengancam orang yang menolak hadits Rasulullah ? dan juga terlebih lagi Ulama siapakah yang telah berdalil dengan hadits ini untuk mengancam orang yang menolak seluruh hadits dhoif??!!. Apakah Habib Munzir tidak membaca perkataan para ulama tentang syarh (penjelasan) isi dalil ini??!!</p>
<p><strong>Kedua </strong>: Bahkan sebagian ulama justru berdalil dengan hadits ini untuk mengancam orang-orang yang menyampaikan hadits-hadits dho&#8217;if kemudian menyatakan bahwa Rasulullah telah menyabdakan hadits-hadits dhoif tersebut, tanpa menjelaskan kedhoifannya, karena hadits dhoif adalah hanya merupakan persangkaan yang marjuuh.</p>
<p>Allah telah mencela persangkaan (zhon) yang tidak kuat (marjuh) dalam banyak ayat, diantaranya : firman Allah</p>
<p>وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلا ظَنًّا إِنَّ الظَّنَّ لا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا</p>
<p><em>Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran </em>(QS Yuunus : 36)</p>
<p>إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ</p>
<p><em>Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka</em> (QS Al-An&#8217;aam : 116)</p>
<p>Al-Qoodhi Abul Mahaasin yusuf bin Muusaa Al-Hanafi berkata dalam kitabnya &#8220;Al-Mu&#8217;tashor&#8221;, pada sub judul ; &#8220;Tentang berdusta atas Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam&#8221;<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/17.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Allah berfirman ((Bukankah Perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, Yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali dengan al-haq/yang benar)), dan perkataan dari Rasulullah adalah perkataan atas nama Allah. Al-Haq pada ayat ini seperti al-Haq dalam firman Allah</p>
<p>إِلا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ</p>
<p><em>Kecuali orang yang menyaksikan dengan al-Haq/kebenaran</em> (QS Az-Zukhruf : 86)</p>
<p>Maka setiap orang yang mempersaksikan dengan zhon (prasangka) maka ia telah mempersaksikan dengan selain al-Haq, karena zhon tidaklah memberikan kebenaran sama sekali. <strong>Maka demikian pula orang yang menyampaikan sebuah hadits dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dengan zhon/persangkaan maka ia telah menyampaikan dari Nabi dengan selain al-Haq, maka hal ini merupakan kebatilan, dan kebatilan adalah dusta</strong>. Maka jadilah ia salah seorang dari para pendusta atas nama Nabi, dan termasuk orang-orang yang masuk dalam sabda Nabi ((<strong>Barangsiapa yang berdusta atasku maka bersiaplah mengambil tempatnya di neraka</strong>)), dan kita berlindung dari hal ini&#8221; (Al-Mu&#8217;tashor min al-Mukhtashor min Musykil al-Aatsaar 2/262)</p>
<p>Dan perkataan al-Qoodhi Abul Mahaasin ini merupakan ringkasan dari perkataan Abu Ja&#8217;far At-Thowaawi Al-Hanafi (wafat 321 H) sebagaimana termaktub dalam kitabnya &#8220;Musykil al-Aatsaar 1/373-375) silahkan para pembaca merujuk kitab tersebut (saya tidak menukilnya di sini karena terlalu panjang untuk diterjemahkan)</p>
<p>Dan paling tidak –sebagaimana menurut sebagian ulama- jika seseorang bermudah-mudahan menyandarkan hadits dhoif kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tanpa menjelaskan kedhoifannya maka dikawatirkan ia telah terjerumus dalam kedustaan. Telah lalu perkataan Al-Haafiz Ibnu Hajar al-&#8217;Asqolaaniy : &#8220;Bersamaan dengan itu (*yaitu bolehnya membawakan hadits dhoif dalam fadhooil a&#8217;maal) hendaknya disyaratkan <strong>agar orang yang mengamalkannya meyakini bahwa hadits tersebut dhoif, </strong>dan <strong>hendaknya ia tidak menampak-nampakan (menyohorkan) hal itu</strong>, agar seseorang tidak mengamalkan hadits dhoif sehingga <strong>iapun mensyari&#8217;atkan apa yang bukan syari&#8217;at</strong>. Atau ada sebagian orang jahil yang melihatnya (*mengamalkan hadits dhoif) sehingga iapun menyangka bahwa amalan tersebut adalah sunnah yang shahih.</p>
<p>Makna ini telah dijelaskan oleh Al-Ustaadz Abu Muhammad Ibni Abdis Salaam dan yang lainnya. Dan hendaknya seseorang berhati-hati agar tidak termasuk dalam sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ; &#8220;<em><strong>Barangsiapa yang menyampaikan dariku sebuah hadits yang menurutnya adalah dusta maka ia adalah salah seorang dari para pendusta&#8221;, maka bagaimana lagi dengan orang yang mengamalkannya.??</strong></em>&#8221; (Tabyiinul &#8216;Ajab hal 11)</p>
<p>Al-Munaawi As-Syafii tatkala menjelaskan hadits ((<em>Barangsiapa yang menyampaikan dariku sebuah hadits yang menurutnya adalah dusta maka ia adalah salah seorang dari para pendusta</em>)) beliau berkata :<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/18.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;(*Sabda Nabi) &#8220;<em>Maka ia adalah salah seorang dari para pendusta</em>&#8221; dengan konteks jamak (*أحد الكَاذِبِيْنَ= salah seorang dari para pendusta) yaitu ditinjau dari jumlah banyak orang-orang yang meriwayatkan, dan dengan konteks tasniyah/dua (*أحد الكَاذِبَيْنِ = salah seorang dari dua pendusta) yaitu ditinjau dari pendusta (pencetus hadits palsu tersebut) dan yang menukil dari sang pendusta. Yang lebih masyhuur adalah dengan konteks jamak sebagaimana dalam kitab Ad-Diibaaj.</p>
<p><strong>Maka tidak boleh bagi seseorang yang meriwayatkan hadits untuk berkata : &#8220;Rasulullah bersabda&#8221; kecuali jika ia mengetahui shahihnya hadits tersebut, dan ia berkata pada hadits dhoif : &#8220;Telah diriwayatkan..&#8221; atau &#8220;Telah sampai kepada kami…&#8221;</strong>. Jika ia meriwayatkan hadits yang ia tahu atau ia persangkakan merupakan hadits palsu lantas ia tidak menjelaskan keadaannya maka ia termasuk dalam barisan pendusta, karena ia telah membantu sang pemalsu hadits dalam menyebarkan kedustaannya, maka iapun ikut menanggung dosa, seperti seseorang yang menolong orang yang dzolim. Oleh karenanya sebagian tabi&#8217;in takut untuk menyandarkan hadits kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, akan tetapi ia menyandarkan hadits kepada sahabat dan berkata, &#8220;Dusta atas nama shahabat lebih ringan&#8221; (Faidhul Qodiir 6/116).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Al-Imam An-Nawawi berkata<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/18x1.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Para ulama ahli tahqiq (*ahli peneliti) dari kalangan ahli hadits dan yang lainnya telah berkata : Jika hadits dho&#8217;if maka tidak boleh dikatakan pada hadits tersebut :&#8221;Telah bersabda Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam&#8221;, atau &#8220;Telah mengerjakan&#8221; atau &#8220;Telah memerintahkan&#8221;, atau &#8220;Telah melarang&#8221;, atau &#8220;Rasulullah telah berhukum&#8221;, dan yang semisalnya dari shigoh al-jazm&#8221; (Al-Majmuu&#8217; syarh Al-Muhadzdzab 1/104)<br />
Beliau juga berkata :<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/18x2.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Mereka (*para ulama ahli tahqiq) berkata : Shigoh jazm diletakan untuk hadits-hadits yang shahih atau hasan, dan shigoh tamriidl digunakan untuk selain hadits-hadits shahih dan hasan. Hal ini karena shigoh jazm mengharuskan shahihnya perkataan dari yagn disandarkan perkataan tersebut. <strong>Karenanya tidak semestinya digunakan kecuali pada hadits yang shahih, dan jika tidak, maka seseorang maknanya telah berdusta atas namanya. </strong>Dan adab ini telah dilanggar oleh penulis (As-Syiroozy) dan mayoritas ahli fikih dari madzhab syafii dan yang selainnya, bahkan dilanggar oleh mayoritas para ahli ilmu-ilmu secara mutlak, kecuali para ahli hadits yang cerdik. Dan hal ini merupakan sikap bermudah-mudahan yang buruk. Sering mereka berkata pada hadits yang shahih : &#8220;Telah diriwayatkan dari Nabi&#8221;, dan (sebaliknya) mereka berkata tentang hadits dhoif, &#8220;Rasulullah telah bersabda&#8221;, &#8220;Si fulan telah meriwayatkan&#8221;, dan ini merupakan bentuk penyimpangan dari kebenaran&#8221; (Al-Majmuu&#8217; Syarh Al-Muhadzdzab 1/104)</p>
<p>Al-Baghowiy berkata, &#8220;Segolongan dari para sahabat dan para tabiin membenci untuk terlalu banyak menyampaikan hadits dari Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam khawatir terjatuh dalam penambahan lafal hadits atau pengurangan atau kesalahan. Bahkan diantara para tabiin ada yang takut menisbahkan hadits kepada Rasulullah, lalu iapun menisbahkannya kepada sahabat dan berkata, &#8220;Dusta atas nama seorang sahabat lebih ringan dari pada dusta atas nama Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam…semua itu karena penghormatan kepada hadits-hadits Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan kekawatiran terjerumus dalam ancaman&#8221; (Syarh As-Sunnah 1/255-256)</p>
<p>Karenanya barangsiapa yang memilih pendapat bolehnya meriwayatkan hadits dhoif dalam fadhoilul a&#8217;maal maka hendaknya ia menjelaskan kedhoifan hadits tersebut dan juga memperhatikan empat persyaratan yang disebutkan oleh Al-Haafiz Ibnu Hajar al-&#8217;Asqolaaniy.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Sebagai penutup artikel ini maka saya menyebutkan bahwasanya diantara manaqib Imam As-Syafi&#8217;i rahimahullah –sebagaimana yang ditegaskan oleh Imam An-Nawawi- bahwasanya Imam As-Syafii sangat bersungguh-sungguh dalam menolong hadits-hadits Nabi dan mengikuti sunnah, serta sangat berusaha mengamalkan hadits-hadits yang shahih dan membuang hadits-hadits yang dhoif.<br />
Imam An-Nawawi berkata :<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/19.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Dan diantara manaqib (kebaikan-kebaikan) Imam As-Syafii adalah ijtihad (kesungguhan) beliau dalam menolong hadits-hadits Nabi dan dalam mengikuti sunnah-sunnah Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam…sampai-sampai tatkala beliau datang ke Iraq maka beliau dijuluki dengan penolong hadits-hadits Nabi&#8221;(Al-Majmuu&#8217; 1/27)<br />
Imam An-Nawawi juga berkata :<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/20.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Dan diantara manaqib Imam As-Syafii rahimahullah adalah berpegang teguhnya beliau terhadap hadits-hadits yang shahih dan berpalingnya beliau dari hadits-hadits yang lemah dan dhoif. Dan kami tidak mengetahui seorangpun dari para ahli fikih yang memberi perhatian dalam berhujjah dengan membedakan antara hadits yang shahih dengan hadits yang dhoif sebagaimana perhatian Imam As-Syafii&#8221; (Al-Majmuu&#8217; hal 28)<br />
(Bersambung…)<br />
Mekah, 28 Dzulqo&#8217;dah 1423 H /26 Oktober 2011 M</p>
<p>Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja</p>
<p>Artukel: www.firanda.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bantahansalafytobat.wordpress.com/423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bantahansalafytobat.wordpress.com/423/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bantahansalafytobat.wordpress.com/423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bantahansalafytobat.wordpress.com/423/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bantahansalafytobat.wordpress.com/423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bantahansalafytobat.wordpress.com/423/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bantahansalafytobat.wordpress.com/423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bantahansalafytobat.wordpress.com/423/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bantahansalafytobat.wordpress.com/423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bantahansalafytobat.wordpress.com/423/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bantahansalafytobat.wordpress.com/423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bantahansalafytobat.wordpress.com/423/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bantahansalafytobat.wordpress.com/423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bantahansalafytobat.wordpress.com/423/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bantahansalafytobat.wordpress.com&amp;blog=16552009&amp;post=423&amp;subd=bantahansalafytobat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bantahansalafytobat.wordpress.com/2011/11/26/habib-munzir-berbicara-tentang-ilmu-hadits-seri-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ea85548627490456d5731e02afd96799?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bantahansalafytobat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bantahansalafytobat.files.wordpress.com/2011/11/mustalah.jpeg?w=101" medium="image">
			<media:title type="html">mustalah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/01.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/02.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/03.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/04.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/05.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/06.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/07.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/08.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/09.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/10.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/11.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/12.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/13.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/14.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/14b.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/15.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/16.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/17.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/18.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/18x1.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/18x2.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/19.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/habmun8/20.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Habib Munzir Mencela Imam Masjidil Haram Syaikh Dr. Abdurrahman as-Sudais !!!!</title>
		<link>http://bantahansalafytobat.wordpress.com/2011/11/26/habib-munzir-mencela-imam-masjidil-haram-syaikh-dr-abdurrahman-as-sudais/</link>
		<comments>http://bantahansalafytobat.wordpress.com/2011/11/26/habib-munzir-mencela-imam-masjidil-haram-syaikh-dr-abdurrahman-as-sudais/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Nov 2011 14:26:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bantahansalafytobat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Syaikh Dr. Abdurrahman as-Sudais]]></category>
		<category><![CDATA[Habib Munzir mencela Syaikh Dr. Abdurrahman as-Sudais]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bantahansalafytobat.wordpress.com/?p=419</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum saya memaparkan celaan-celaan Habib Munzir ada baiknya kita kembali mengingat akan bahaya lisan… Allah berfirman : مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir. (QS : Qoof : 18) يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (٢٤) Pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bantahansalafytobat.wordpress.com&amp;blog=16552009&amp;post=419&amp;subd=bantahansalafytobat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bantahansalafytobat.files.wordpress.com/2011/11/fitnah.jpeg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-420" title="fitnah" src="http://bantahansalafytobat.files.wordpress.com/2011/11/fitnah.jpeg?w=150&#038;h=99" alt="" width="150" height="99" /></a>Sebelum saya memaparkan celaan-celaan Habib Munzir ada baiknya kita kembali mengingat akan bahaya lisan…</p>
<p>Allah berfirman :</p>
<p>مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ<br />
<em><br />
Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir.</em> (QS : Qoof : 18)<br />
<span id="more-419"></span></p>
<p>يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (٢٤)<br />
<em><br />
Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. </em>(QS An-Nuur : 24)</p>
<p>وعن أبي موسى &#8211; رضي الله عنه &#8211; قال: قلت يا رسول الله أي الإسلام أفضل؟ قال: &#8220;من سَلِمَ المسلمون من لسانه ويده&#8221;.<br />
<em><br />
Dari Abu Muusa radhiallahu &#8216;anhu berkata : &#8220;Aku berkata, Wahai Rasulullah, islam mana yang paling mulia?&#8221;. Nabi berkata : &#8220;Yaitu orang yang kaum muslimin selamat dari (kejahatan) lisannya dan tangannya&#8221;</em>(HR Al-Bukhari no 11 dan Muslim no 42)<br />
عن أبي هريرة – رضي الله عنه – قال: سُئِل رسول الله – صلى الله عليه وسلم – عن أكثر ما يدخل الناس الجنة؟ قال: &#8220;تقوى الله، وحسن الخلق&#8221;. وسئل عن أكثر ما يدخل الناس النار؟ قال: &#8220;الأجوفان: الفم، والفرج&#8221;.</p>
<p><em>Dari Abu Hurairoh radhiallahu &#8216;anhu berkata, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ditanya tentang perkara yang paling banyak memasukan manusia ke dalam surga?. Rasulullah berkata, &#8220;Ketakwaan kepada Allah dan akhlak yang baik&#8221;. Dan Rasulullah ditanya tentang perkara yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka?, maka beliau berkata, &#8220;Dua lubang, mulut dan kemaluan&#8221; </em>(HR Ahmad no 9097, Ibnu Majah no 4246, Ibnu Hibbaan no 476 dengan sanad yang hasan)</p>
<p>Al-Imam An-Nawawi berkata :</p>
<p>وينبغي لمن أراد النطق بكلمة أو كلام، أن يتدبره في نفسه قبل نطقه، فإن ظهرت مصلحته تكلم، وإلا أمسك.</p>
<p>&#8220;Hendaknya orang yang ingin berucap dengan suatu kalimat atau perkataan agar merenungkannya dalam hatinya sebelum ia mengucapkannya. Jika nampak ada kemaslahatannya maka hendaknya ia berbicara, namun jika tidak maka hendaknya ia diam&#8221; (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 18/117)</p>
<p><strong><br />
Habib Munzir ditanya oleh pengagumnya :</p>
<p>&#8220;ustad-ustad kelompok sawah ( salafi wahabi )</strong> &#8211; 2009/11/04 18:10 Assalamualaikum Wr Wb,</p>
<p>Habib munzir yang ku cintai, mohon penjelasan sbb :</p>
<p>Siapa sih ustad &#8211; ustad yang dijadikan rujukan oleh kelompok sawah (*yaitu singkatan dari salafy wahabi). Sekarang banyak buku yang diterjemahkan oleh kelompok salafi yang katanya banyak kandungannya yang selewengkan arti dan maksudnya. Bib mohon diijinkan saya menjadi murid dan mohon ujajah seluruh amalan, mohon admin dapat menyebutkan amalannya. Demikian terima kasih&#8221;</p>
<p><strong>Habib Munzir </strong>menjawab :</p>
<p>&#8220;Saudaraku yg kumuliakan, banyak sekali, namun pimpinannya adalah Ibn Abdul wahab yg mereka jadikan Imam padahal tak sampai ke derajat Al Hafidh sekalipun apalagi Hujjatul Islam (Al Hafidh adalah yg telah hafal 100.000 hadits berikut sanad dan matannya, hujjatul islam adalah yg hafal lebih dari 300.000 hadits dg sanad dan hukum matannya).</p>
<p>yg masa kini diantaranya Ibn Baz, dan <strong>Abdurrahman assudaisiy</strong>, yg suaranya banyak di stel oleh masjid masjid ahlussunnah waljamaah, tanpa mereka tahu bahwa <strong>Abdurrahman assudeisiy itu wahabi yg telah mengarang suatu buku yg menjatuhkan hadits hadits shahih pada Shahih Bukhari</strong>.<br />
banyak muslimin ahlussunnah waljamaah tidak tahu itu, dan menganggapnya suaranya bagus dan merdu, <strong>padahal Rasul saw sudah memperingatkan bahwa kelak akan muncul mereka yg membaca alqur;an dg baik namun hanya sampai tenggorokan saja, (hatinya tidak tersentuh kemuliaan dan kesucian Alqur;an) mereka semakin jauh dari agama islam seperti cepatnya menjauhnya anak panah dari busurnya</strong>, mereka sibuk memerangi orang islam dan membiarkan penyembah berhala (mereka membuat jutaan buku untuk memerangi akidah orang islam, dan tidak membuat itu untuk membenahi para agama lain), jika aku menemui mereka akan kuperangi mereka (Shahih Bukhari)</p>
<p>semoga Allah swt memberikan mereka hidayah, <strong>kita terus memerangi mereka</strong>, bukan dg senjata tentunya, karena mereka adalah saudara muslimin kita namun salah arah karena kedangkalannya dalam syariah, kita berusaha membenahinya semampunya.</p>
<p>(Lihat : http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&amp;Itemid=&amp;func=view&amp;catid=8&amp;id=24504#24504)</p>
<p><strong>Kesimpulan-kesimpulan yang diutarakan oleh Habib Munzir dan beserta sanggahannya:</strong></p>
<p><strong>Kesimpulan Pertama</strong> : Syeikh As Sudais telah mengarang suatu buku yang menjatuhkan hadits-hadits shahih pada shahih Bukhari</p>
<p>Habib Munzir berkata : <strong>Abdurrahman assudeisiy itu wahabi yg telah mengarang suatu buku yg menjatuhkan hadits hadits shahih pada Shahih Bukhari.</strong></p>
<p><strong>SANGGAHAN</strong></p>
<p>Dalam Islam, yang menuduh harus mendatangkan bukti. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p>الْبَيِّنَةُ عَلَى الْمُدَّعِي<br />
<em><br />
&#8220;Yang menuduh wajib mendatangkan bukti&#8221;</em> (HR At-Thirimidzi no 1341)</p>
<p>Semoga Habib bisa mendatangkan buktinya…</p>
<p><strong><br />
Kesimpulan Kedua </strong>: Habib Munzir menerapkan hadits Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tentang khawarij kepada Syaikh Abdurrahman As-Sudais. Habib Munzir berkata: banyak muslimin ahlussunnah waljamaah tidak tahu itu, dan menganggapnya suaranya bagus dan merdu, <strong>padahal Rasul saw sudah memperingatkan bahwa kelak akan muncul mereka yg membaca alqur;an dg baik namun hanya sampai tenggorokan saja, (hatinya tidak tersentuh kemuliaan dan kesucian Alqur;an) mereka semakin jauh dari agama islam seperti cepatnya menjauhnya anak panah dari busurnya.</strong></p>
<p><strong>SANGGAHAN</strong></p>
<p>Hadits yang disebutkan oleh Habib ini adalah tentang khawarij berdasarkan kesepakatan para ulama.</p>
<p>-         Imam Al-Bukhari membawakan hadits ini (no 6930 dan 6931) dalam باب قتل الخوارج والملحدين بعد إقامة الحجة عليهم (Bab tentang membunuh khawarij dan kaum ilhaad/kafir setelah ditegakkannya hujjah kepada mereka)</p>
<p>-         Imam Muslim membawakan hadits ini (no 1063) dalam sebuah bab (yang dibuat oleh Imam An-Nawawi) : باب ذكر الخوارج وصفاتهم (Bab penyebutan tentang khawarij dan sifat-sifat mereka)</p>
<p>-         Imam Abu Dawud membawakan hadits ini (no 4767) dalam bab : باب فِى قِتَالِ الْخَوَارِجِ (Bab tentang memerangi kaum khawarij)</p>
<p>-         Imam At-Thirimidzi membawakan hadits ini (no 2188) dalam bab :  باب في صفة المارقة (Bab tentang sifat kaum Maariqoh/khowarij)</p>
<p>-         Imam Ibnu Maajah membawakan hadits ini (no ) dalam bab : باب في ذكر الخوارج (Bab penyebutan tentang khawarij)</p>
<p><strong>Apakah hadits tentang khawarij ini pantas untuk ditujukan kepada As-Syaikh Abdurrahman As-Sudais Imam Al-Masjid Al-Haroom??,</strong></p>
<p>Apakah As-Syaikh As-Sudais memiliki aqidah Khawarij??</p>
<p>Apakah beliau memberontak kepada pemerintah??</p>
<p>Apakah beliau mengkafirkan orang yang melakukan dosa besar?, apakah beliau mengkafirkan pelaku zina, pemakan riba, dan pendusta??!!</p>
<p><strong>Jika menurut Habib beliau adalah khawarij maka sekali lagi tolong datangkan bukti !!!</strong></p>
<p><strong>Kesimpulan Ketiga </strong>: Berdasarkan hadits tentang khawarij yang diterapkan Habib Munzir kepada As-Syaikh Abdurrahman As-Sudais berarti ;</p>
<p>-         As-Syaikh As-Sudais kalau baca al-qur&#8217;an tidak baik, sehingga hanya sampai di tenggorokan saja, hatinya tidak tersentuh dengan kemuliaan dan kesucian Al-Qur&#8217;an</p>
<p>-         As-Syaikh As-Sudais semakin jauh dari agama Islam seperti cepatnya menjauhnya anak panah dari busurnya</p>
<p><strong>SANGGAHAN</strong></p>
<p><strong>Wahai Habib Munzir</strong>… anda mengatakan bahwa As-Syaikh As-Sudais tidak baik baca qur&#8217;annya sehingga hanya sampai di tenggorokan dan hatinya tidak tersentuh dengan kemuliaan dan kesucian Al-Qur&#8217;aan??? Apakah anda tahu isi hati As-Syaikh As-Sudais…??, apakah anda tidak pernah mendengar tangisan beliau tatkala membaca al-Qur&#8217;aan??? Apakah anda tidak tahu bagaimana lantunan bacaan beliau tatkala di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan menggetarkan hati-hati para makmum dan menjadikan mereka menangis berdoa kepada Allah??!!</p>
<p>As-Syaikh As-Sudais bukanlah termasuk khawarij akan tetapi semoga Syeikh As Sudais termasuk dalam hadits ini:</p>
<p>إِنَّ أَحْسَنَ النَّاسِ قِرَاءَةً : الَّذِي إِذَا قَرَأَ رَأَيْتَ أَنَّهُ يَخْشَى اللهَ</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya orang yang paling baik qiroah qur&#8217;annya adalah orang yang jika membaca al-qur&#8217;an engkau melihatnya takut kepada Allah&#8221; (As-Shahihah no 1583)</p>
<p><strong>Wahai Habib Munzir</strong>…anda mengatakan &#8220;banyak muslimin Ahlus Sunnah yang menganggap suara beliau bagus dan merdu…!!!&#8221;, lantas kenapa Habib Munzir??? Kenapa anda mesti sewot kalau banyak kaum muslimin yang senang mendengarkan suara beliau yang menggugah hati-hati kaum muslimin??!!, kenapa mesti sewot !!!</p>
<p><strong>Wahai Habib Munzir</strong>…anda mengatakan bahwa As-Syaikh As-Sudais semakin jauh dari agama Islam seperti cepatnya menjauhnya anak panah dari busurnya ?? hendaknya anda bertakwa kepada Allah, dan jagalah lisan anda…apa yang menyebabkan anda begitu membenci syaikh As-Sudais…sampai-sampai mengatakan demikian??? Dosa apakah yang dilakukan oleh As-Syaikh As-Sudais hingga anda mengatakan bahwa beliau semakin jauh dari agama Islam…, bahkan semakin jauh dengan begitu cepat seperti cepatnya menjauhnya anak panah dari busurnya??!!</p>
<p><strong>Kesimpulan Keempat</strong> : Habib Munzir menyatakan siap terus untuk memerangi orang-orang semacam Syaikh As-Sudais, bukan dengan mengangkat senjata, akan tetapi dengan menjelaskan kebatilan-kebatilan orang-orang semisal As-Syaikh As-Sudais.</p>
<p><strong>SANGGAHAN</strong></p>
<p>Wahai Habib Munzir…anda menyatakan <strong>&#8220;kita terus memerangi mereka&#8221;</strong>, anda ingin terus memerangi As-Syaikh As-Sudais dan ulama-ulama Arab Saudi….silahkan anda memerangi mereka dengan hujjah dan bayaan, bukan dengan tuduhan dan kepalsuan serta salah menukil perkataan ulama, apalagi memanipulasi perkataan ulama !!! silahkan…wahai Habib Munzir Al-Musaawaa…!!! Semoga Allah memberi petunjuk kepada Anda.</p>
<p>Wahai Habib Munzir…kaum muslim sudah terlalu paham siapakah sebenarnya yang harus diperangi; apakah seorang yang menegakkan tauhid, mengajak umat hanya beribadah kepada Allah, mengajak umat meninggalkan kesyirikan ataukah seorang yang sukanya menyeru umat untuk berdoa kepada selain Allah, berdoa kepada orang yang sudah mati, mengajari umat mencela ulama dan orang-orang shalih!!!</p>
<p><strong>Kesimpulan Kelima</strong> : Habib Munzir memandang As-Syaikh As-Sudais dan yang semisalnya dangkal ilmunya dalam syari&#8217;ah.</p>
<p>Habib Munzir berkata : &#8220;<strong>kita terus memerangi mereka</strong>, bukan dg senjata tentunya, karena mereka adalah saudara muslimin kita namun salah arah karena kedangkalannya dalam syariah, kita berusaha membenahinya semampunya&#8221;</p>
<p><strong>SANGGAHAN</strong></p>
<p><strong>Wahai Habib Munzir</strong>…. anda menuduh As-Syaikh As-Sudais dangkal ilmu agamanya…!!! Tidakkah anda tahu bahwa beliau adalah seorang yang menghafal Qur&#8217;an sejak kecil….telah meraih gelar doktor…!!!, beliau telah diberi kesempatan oleh Allah untuk menjadi imam di masjidil haram sekian lamanya…!!!??</p>
<p>Apakah anda tidak pernah mendengar khutbah-khutbah beliau yang menunjukan kefasihan beliau yang sangat luar biasa dalam bahasa Arab???. Apakah bahasa Arab anda lebih fasih dari beliau?? Ataukah…???!!!</p>
<p>Apakah anda hafal qur&#8217;an sebagaimana beliau…??? Ataukah hanya menghafal shalawatan-shalawatan???, ataukah benar sebagaimana dikatakan oleh sebagian pengikut anda bahwasanya anda menghapal 10 ribu hadits beserta sanad dan matannya???!!!! Sungguh saya ingin sekali mengetes dan mencoba ilmu dan hapalan anda…. Kalau memang benar anda hapal qur&#8217;annya melebihi hafalan As-Syaikh As-Sudais maka apakah lantas pantas bagi anda mengatakan As-Syaikh As-Sudais dangkal ilmunya??!! Bukankah ini adalah kesombongan semata???</p>
<p>Apalagi jika ternyata anda tidak hafal qur&#8217;an…??? Maka apakah anda tidak malu??!!!</p>
<p>Allah berfirman</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلا تَنَابَزُوا بِالألْقَابِ بِئْسَ الاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الإيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ</p>
<p><em>Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.</em> (QS Al-Hujuroot : 11)</p>
<p><strong>HABIB MUNZIR JUGA MENCELA ULAMA-ULAMA YANG LAINNYA</strong></p>
<p>Bukan hanya As-Syaikh Abdurrahman As-Sudais yang tidak selamat dari celaan Habib Munzir, bahkan ulama-ulama yang lain juga tidak selamat dari celaan dan cercaan Habib Munzir. Yang ini semua menunjukkan &#8220;kepribadian dan budi pekerti luhur dan kelembutan Habib Munzir&#8221;.</p>
<p>Diantara para ulama yang dicela Habib Munzir adalah :</p>
<p><strong>PERTAMA : Mencela As-Syaikh Bin Baaz </strong>rahimahullah.</p>
<p>Habib Munzir berkata :</p>
<p>&#8220;Beliau itu mufti arab saudi, saya tidak tahu apakah kini masih hidup atau telah wafat, ia bukan pakar hadits yg mencapai derajat Al Hafidh, atau Muhaddits, apalagi Hujjatul Islam, namun konon memang banyak hafal hadits dan ilmu sanad, namun saya telah menjawab banyak fatwanya sebagaimana buku saya yg bisa anda download di kiri web ini : Jawaban atas pertanyaan akidah.<br />
semua adalah fatwa beliau, dan dari fatwa fatwa itu saya mengetahui bahwa <strong>ia dangkal dalam ilmu hadits</strong>.</p>
<p>(lihat: http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&amp;Itemid=&amp;func=view&amp;catid=9&amp;id=24085#24085)</p>
<p>Habib Munzir juga berkata tatkala ditanya tentang kitab &#8220;Benteng tauhid&#8221; yang merupakan terjemahan dari kitab &#8220;Hishnut Tauhiid&#8221; karya As-Syaikh Bin Baaz rahimahullah, maka Habib Munzir berkata:</p>
<p>&#8220;Mengenai buku tsb sudah saya baca sekilas, masya Allah, saya tidak menyangka nama nama yg dianggap ulama dan selama ini kita dengar sebagai ahli hadits itu, <strong>betapa bobrok dan lemahnya hujjah hujjah me</strong>reka,<br />
saya tak percaya buku itu tulisan syeikh Al Utsaimin, Bin Bazz dll, karena terlihat <strong>jelas kedangkalan mereka dalam ilmu hadits</strong>.</p>
<p>Ada dua kemungkinan, orang saudi mengada ada dan mencantumkan nama ulama mereka sebagai penulisnya, atau&#8230;, apakah benar mereka yg menulisnya?, <strong>hanya sebatas itukah pemahaman mereka dalam hadits?</strong> <strong>Saya bisa menjawab semua yg dalam buku itu dalam beberapa jam saja, namun saya saat ini sibuk sekali</strong>. (lihat : http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&amp;Itemid=&amp;func=view&amp;catid=9&amp;id=20616#20616)</p>
<p>Habib Munzir ditanya :</p>
<p>&#8220;Saya ada kitab Fathul Baari syarah oleh Syeikh Abdullah b Baz dan kitab &#8216; Solat seperti Nabi&#8217; karangan Syeikh Albani. Saya baru tahu yg isinya ada unsur unsur Wahabi. Jadi sebaiknya apakah saran Habib untuk saya lakukan terhadap kitab itu. Buang saja atau dibakar atau ditanam supaya orang lain tak dapat baca?&#8221;</p>
<p>Habib Munzir Menjawab :</p>
<p>&#8220;Saran saya buku <strong>itu boleh dibakar</strong>, tapi baiknya disimpan saja untuk perbandingan masalah hingga kita tahu <strong>banyaknya kesalahan faham wahabi dalam menafsirkan hadits</strong></p>
<p>(lihat  : http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&amp;Itemid=&amp;func=view&amp;catid=8&amp;id=22830#22830 )</p>
<p>Habib Munzir juga berkata :</p>
<p>&#8220;Saudaraku yg kumuliakan, <strong>buku buku yg sudah melewati pengeditan/syarah dari Ibn Baz, sudah dirasuki hal hal yg menyimpang</strong> dari aswaja, baiknya dihindari.&#8221;</p>
<p>(lihat : http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&amp;Itemid=&amp;func=view&amp;catid=8&amp;id=22352#22352)</p>
<p>Habib Munzir juga berkata :</p>
<p>&#8220;Anda tahu imam mereka kini?, Mufti Saudi Arabia yg buta bernama Syeikh Ibn Bazz (membicarakan aib orang lain haram hukumnya, namun mengabarkan <strong>nama orang yg menyeru pd kesesatan ummat wajib hukumnya</strong> agar ummat tak terjebak), ia tak mengakui bahwa bumi ini bulat, ia berkata bahwa bumi ini datar seperti piring, ia tak percaya semua bukti otentik secara ilmiah, ia tetap berkeras bahwa bumi ini datar seperti piring.., yaitu bila kelewatan maka akan jatuh entah kemana, inilah akidah jumud abad ke 20&#8243;</p>
<p>(lihat http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&amp;Itemid=&amp;func=view&amp;catid=9&amp;id=3713#3713)</p>
<p><strong>Kesimpulan </strong>:</p>
<p>Pertama : Menurut Habib Munzir Syaikh Bin Baaz dangkal dalam ilmu hadits</p>
<p>Kedua : Menurut Habib Munzir tentang buku &#8220;Benteng Tauhid&#8221; :</p>
<p>-         menunjukan <strong>betapa bobrok dan lemahnya hujjah hujjah mereka </strong>(*yaitu Syaikh Bin Baaz, Syaikh Utsaimin dll),</p>
<p>-         saya tak percaya buku itu tulisan syeikh Al Utsaimin, Bin Bazz dll, karena terlihat <strong>jelas kedangkalan mereka dalam ilmu hadits</strong></p>
<p>-         Habib Munzir mampu membantah buku &#8220;Benteng Tauhid&#8221; hanya dalam beberapa jam saja, hanya saja beliau sibuk. Habib Munzir berkata : <strong>Saya bisa menjawab semua yg dalam buku itu dalam beberapa jam saja, namun saya saat ini sibuk sekali</strong></p>
<p>Ketiga : Menurut Habib Munzir buku sifat sholat Nabi dan buku Fathul baari syarah Syaikh Bin Baaz <strong>disarankan untuk boleh dibakar</strong>. Alasan Habib Munzir karena <strong>banyaknya kesalahan faham wahabi dalam menafsirkan hadits</strong></p>
<p>Keempat : Habib Munzir berkata : <strong>buku buku yg sudah melewati pengeditan/syarah dari Ibn Baz, sudah dirasuki hal hal yg menyimpang</strong></p>
<p>Kelima : Menurut Habib Munzir boleh menceritakan aib Syaikh Bin Baaz karena syaikh Bin Baaz menyeru pada kesesatan. Habib Munzir berkata : &#8220;Mufti Saudi Arabia yg buta bernama Syeikh Ibn Bazz (membicarakan aib orang lain haram hukumnya, namun mengabarkan <strong>nama orang yg menyeru pd kesesatan ummat wajib hukumnya </strong>agar ummat tak terjebak)&#8221;</p>
<p>Keenam : Habib Munzir menyatakan akidah Syaikh Bin Baaz jumuud karena Syaikh Bin Baaz menyatakan bahwa bumi tidak bulat. Habib Munzir berkata : &#8220;Ia tak mengakui bahwa bumi ini bulat, ia berkata bahwa bumi ini datar seperti piring, ia tak percaya semua bukti otentik secara ilmiah, ia tetap berkeras bahwa bumi ini datar seperti piring.., yaitu bila kelewatan maka akan jatuh entah kemana, inilah <strong>akidah jumud </strong>abad ke 20&#8243;</p>
<p><strong>SANGGAHAN</strong></p>
<p>Sungguh keji perkataan Habib Munzir sang ahli hadits…sampai-sampai mengatakan bahwa Syaikh Bin Baaz dangkal ilmu haditsnya.</p>
<p>Wahai Habib Munzir…tatkala anda mengatakan demikian apakah anda sudah mengukur keilmuan ilmu hadits Syaikh Bin Baaz?? Lalu anda membandingkannya dengan ilmu hadits anda yang hebat??!!</p>
<p>Wahai Habib Munzir…bagaimana anda mengetahui kerendahan ilmu hadits Syaikh Bin Baaz hanya dengan membaca kitab &#8220;Benteng Tauhid&#8221;?, <strong>apakah kitab tersebut sedang membicarakan ilmu hadits??!!. </strong>Bahkan anda menyatakan bahwa hujjah Syaikh Bin Baaz dalam kitab tersebut &#8220;Bobrok&#8221; dan &#8220;Lemah&#8221;. Maka pantas saja jika kemudian anda menganjurkan untuk membakar kitab-kitab syaikh Bin Baaz??!!</p>
<p>Bahkan anda menyatakan mampu untuk membantah kitab &#8220;Benteng Tauhid&#8221; tersebut hanya dalam waktu beberapa jam?!!!</p>
<p>Wahai Habib …kalau ada kesalahan dalam kitab “Benteng tauhid”, coba tunjukkan…</p>
<p>Wah.. anda benar-benar orang alim dan pakar hadits.</p>
<p>Kalau Syaikh Bin Baaz bisa anda bantah dalam beberapa jam…jangan-jangan bantahan-bantahan dalam artikel-artikel saya mungkin hanya dalam beberapa menit bisa anda bantah. Maka saya sangat berharap anda membantah artikel-artikel saya…</p>
<p>Wahai Habib Munzir…anda menghalalkan untuk mencela Syaikh Bin Baaz dengan menunjukkan cacat belia (yaitu butanya beliau) dengan alasan bahwa Syaikh Bin Baaz menyeru pada kesesatan…!!!, bahkan anda meyakini wajib bagi anda untuk mencela kebutaan Syaikh Bin Baaz…, maka;</p>
<p>-         Apakah demikian bantahan yang ilmiyah..!!!.</p>
<p>-         Apakah demikian akhlaknya seorang yang menyebut dirinya sebagai keturunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.</p>
<p>-         Apakah demikian Habib berbicara kepada seorang muslim paling tidak, kalau Anda tidak menganggap beliau (syeikh Ibnu Baz rahimahullah) seorang alim.</p>
<p>Wahai Habib…betapa banyak orang yang buta mata akan tetapi Allah memberi sinar dan cahaya kebenaran dalam hatinya. Betapa banyak orang yang buta akan tetapi lebih alim dan lebih bertakwa daripada orang yang bisa melihat. Kalau anda ingin mengkritik saya rasa tidak perlu mencela kebutaan Syaikh Bin Baaz.</p>
<p>Wahai Habib Munzir, anda telah mencerca Syaikh Bin Baaz dengan menyatakan bahwa akidah beliau jumud !!!, dan anda menuduh bahwasanya Syaikh Bin Baaz menyatakan bahwa bumi itu seperti piring dan tidak bulat??</p>
<p>Bisakah anda menyebutkan sumber perkataan Syaikh Bin Baaz tersebut??!!</p>
<p>Jika anda tidak mampu menyebutkannya <strong>berarti anda telah berdusta </strong>!!!!</p>
<p>Justru Syaikh Bin Baaz –yang saya dapati- dalam buku-buku beliau menyatakan bahwa bumi itu bulat. Silahkan anda membaca buku beliau Majmuu&#8217; Fataawaa Syaikh Bin Baaz 3/156-159 dan juga 9/228.</p>
<p>Wahai Habib Munzir…jika anda tidak bisa menyebutkan sumber perkataan Syaikh Bin Baaz maka ketahuilah <strong>bahwa dusta itu akhlak yang sangat buruk…apalagi dusta atas nama ulama ??!!!</p>
<p></strong></p>
<p><strong>KEDUA </strong>: Habib Munzir menudah para ulama sering menggunting perkataan para ulama aswaja</p>
<p>Habib Munzir berkata :</p>
<p>&#8220;Saudaraku yg kumuliakan, diantaranya tentunya <strong>Ibn Abdul Wahhab, Ibn Taimiyah, Al Baniy, Abdullah bin Bazz, Muhammad qutub, Utsaimin, Mufti Perlis Malaysia, dan banyak lagi.</strong></p>
<p>namun hati hati lho saudaraku, karena mereka juga <strong>sering : Gunting Tambal ucapan para ulama aswaja</strong>, mereka gunting ucapan Imam Nawawi, Imam Ibn Hajar, Imam Ibn Rajab, dan banyak lagi.</p>
<p>jika kita lihat sekilas tentunya bertentangan dg aswaja dan sefaham dg mereka, namun jika kita lihat pada tulisan aslinya, ternyata keterangannya jelas membantah ucapan itu, namun karena digunting, maka maknanya menjadi berubah bahkan sebaliknya&#8221;. (lihat : http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&amp;Itemid=&amp;func=view&amp;catid=9&amp;id=19677#19677)</p>
<p>Wahai Habib Munzir…anda  mengatakan para ulama di atas (Ibnu Taimiyyah, Muhammad bin Abdil Wahhab, Bin Baaz, Utsaimin, Al-Albani) SERING menggunting dan menambal perkataan para ulama aswaja???!!</p>
<p>Saya sangat berharap anda mendatangkan bukti-buktinya…!!!. Sungguh ini merupakan tuduhan yang sangat keji…yang arti dari tuduhan anda ini bahwasanya para ulama tersebut adalah <strong>para pendusta </strong>karena <strong>SERING </strong>menggunting dan menambal !!!!, bahkan berdusta kepada umat !!!</p>
<p>Wahai Habib Munzir bertakwalah kepada Allah…datangkanlah bukti anda…saya menunggu dengan sabar…bukankah anda mampu membantah syaikh Bin Baaz hanya dalam beberapa jam??, tentunya hanya butuh beberapa menit saja untuk mendatangkan bukti bahwa para ulama tersebut <strong>SERING </strong>berdusta kepada umat !!!</p>
<p>Para pembaca yang budiman, masih banyak cercaan Habib Munzir kepada para ulama seperti Al-Albani, Al-Utsaimin, dll, hanya saja saya rasa apa yang kami paparkan di atas sudah cukup untuk menggabarkan betapa alimnya dan tingginya ilmu hadits Habib Munzir dan betapa indahnya &#8220;budi pekerti dan tutur kata serta kelembutan hati beliau&#8221;. Saya sangat berharap permintaan-permintaan saya kepada Habib Munzir untuk segera mendatangkan bukti atas tuduhan-tuduhannya kepada para ulama tersebut…dan saya sangat menanti komentar dan koreksian Habib Munzir atas artikel-artikel yang saya tulis…. .</p>
<p>Selama ini saya belajar kepada guru-guru saya di masjid Nabawi seperti Ahli Hadits Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad yang mengajar di masjid Nabawi, demikian juga saya belajar di guru-guru saya di kuliyah hadits di Universitas Islam Madinah yang rata-rata mereka memiliki sanad dan pakar hadits…ternyata…saya tidak tahu kalau di tanah air tercinta ada seorang ahli dan pakar hadits seperti Habib Munzir. Siapakah diantara kita yang tidak ingin menimba ilmu dari orang yang seperti Habib Munzir yang merendahkan ilmu haditsnya Syaikh Bin Baaz, Syaikh Utsaimin, dan Syaikh Albani ???!!!</p>
<p><strong>Renungan </strong>:</p>
<p>Ibnu &#8216;Asaakir rahimahullah berkata :</p>
<p>واعلم يا أخي وفقنا الله وإياك لمرضاته وجعلنا ممن يخشاه ويتقيه حق تقاته أن لحوم العلماء رحمة الله عليهم مسمومة وعادة الله في هتك أستار منتقصيهم معلومة لأن الوقيعة فيهم بما هم منه براء أمره عظيم والتناول لأعراضهم بالزور والإفتراء مرتع وخيم والاختلاق على من اختاره الله منهم لنعش العلم خلق ذميم</p>
<p>&#8220;Ketahuilah wahai saudaraku –semoga Allah memberikan taufiqNya kepada kami dan juga kepada engkau menuju keridhoanNya serta mmenjadikan kita termasuk dari kalangan orang-orang yang takut dan bertakwa kepadaNya dengan ketakwaan yang sesungguhnya- bahwasanya daging para ulama –semoga Allah merahmati mereka- adalah beracun, dan kebiasaan Allah untuk merobek tirai para pencela mereka telah diketahui, karena mencela para ulama dengan perkara-perkara yang mereka sendiri berlepas diri merupakan perkara yang besar, dan mencela kehormatan mereka dengan kebohongan dan penipuan adalah lahan yang buruk, serta berdusta atas para ulama yang telah dipilih oleh Allah untuk menegakkan ilmu merupakan <strong>akhlak yang tercela</strong>&#8221; (Tabyiin Kadzib Al-Muftari hal 29)</p>
<p>Sungguh indah perkataan seorang penyair :</p>
<p>يَا نَاطِحَ الْجَبَلِ الْعَالِي لِيُكْلِمَهُ ******** أَشْفِقْ عَلَى الرَّأْسِ لاَ تُشْفِقْ عَلَى الْجَبَلِ</p>
<p>Wahai orang yang menanduk gunung yang tinggi untuk meruntuhkannya….kasihanilah kepalamu dan janganlah mengasihani gunung tersebut</p>
<p>Kota suci Mekah , 2 Dzulhijjah 1432 H bertepatan dengan 29 Oktober 2011, diedit kembali di Kota Nabi tanggal 17 Dzulhijjah 1432 H bertepatan dengan 14 November 2011</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja</p>
<p>www.firanda.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bantahansalafytobat.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bantahansalafytobat.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bantahansalafytobat.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bantahansalafytobat.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bantahansalafytobat.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bantahansalafytobat.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bantahansalafytobat.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bantahansalafytobat.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bantahansalafytobat.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bantahansalafytobat.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bantahansalafytobat.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bantahansalafytobat.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bantahansalafytobat.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bantahansalafytobat.wordpress.com/419/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bantahansalafytobat.wordpress.com&amp;blog=16552009&amp;post=419&amp;subd=bantahansalafytobat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bantahansalafytobat.wordpress.com/2011/11/26/habib-munzir-mencela-imam-masjidil-haram-syaikh-dr-abdurrahman-as-sudais/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ea85548627490456d5731e02afd96799?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bantahansalafytobat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bantahansalafytobat.files.wordpress.com/2011/11/fitnah.jpeg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">fitnah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ANTARA HABIB MUNZIR &amp; ISLAM JAMA&#8217;AH (Pernyataan Habib Munzir : Fatwa Orang Tidak Bersanad Adalah Batil)</title>
		<link>http://bantahansalafytobat.wordpress.com/2011/11/26/antara-habib-munzir-islam-jamaah-pernyataan-habib-munzir-fatwa-orang-tidak-bersanad-adalah-batil/</link>
		<comments>http://bantahansalafytobat.wordpress.com/2011/11/26/antara-habib-munzir-islam-jamaah-pernyataan-habib-munzir-fatwa-orang-tidak-bersanad-adalah-batil/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Nov 2011 14:19:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bantahansalafytobat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bantahan Ilmiyyah]]></category>
		<category><![CDATA[HABIB MUNZIR AL-MUSAWA]]></category>
		<category><![CDATA[sanad ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[benarkah ulama salafy tidak bersanad]]></category>
		<category><![CDATA[sanad palsu habib munzir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bantahansalafytobat.wordpress.com/?p=416</guid>
		<description><![CDATA[PENIPUAN TERHADAP UMAT ISLAM INDONESIA Penipuan besar-besaran telah dilakukan oleh Nur Hasan Ubaidah (pendiri sekte Isalam Jama&#8217;ah) kepada umat Islam di Indonesia. Nur Hasan Ubaidah tiba-tiba datang di Indonesia dengan mengaku-ngaku membawa sanad mangkul hingga Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam lantas menyatakan bahwa orang yang Islamnya tidak bersanad (tidak mangkul) maka islamnya diragukan. Ternyata… Nur [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bantahansalafytobat.wordpress.com&amp;blog=16552009&amp;post=416&amp;subd=bantahansalafytobat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PENIPUAN TERHADAP UMAT ISLAM INDONESIA</strong></p>
<div id="attachment_417" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://bantahansalafytobat.files.wordpress.com/2011/11/habmun10.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-417" title="habib munzir dan islam jama'ah" src="http://bantahansalafytobat.files.wordpress.com/2011/11/habmun10.jpg?w=150&#038;h=101" alt="" width="150" height="101" /></a><p class="wp-caption-text">habib munzir dan islam jama&#039;ah</p></div>
<p>Penipuan besar-besaran telah dilakukan oleh Nur Hasan Ubaidah (pendiri sekte Isalam Jama&#8217;ah) kepada umat Islam di Indonesia. Nur Hasan Ubaidah tiba-tiba datang di Indonesia dengan mengaku-ngaku membawa sanad mangkul hingga Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam lantas menyatakan bahwa orang yang Islamnya tidak bersanad (tidak mangkul) maka islamnya diragukan.</p>
<p>Ternyata… Nur Hasan Ubaidah ini mengaku-ngaku telah mengambil sanad dari kota Mekah negerinya kaum Wahabi. Jadi rupanya Nur Hasan Ubaidah ini mengambil sanad dari kaum wahabi !!???. Akan tetapi anehnya tidak seorangpun ulama di Kerajaan Arab Saudi yang berpemikiran ngawur seperti Nur Hasan Ubaidah ini.</p>
<p>Hingga sekarang Islam Jama&#8217;ah masih berusaha mengirim murid-muridnya ke Ma&#8217;had al-Harom di Mekah untuk berusaha menyambung sanad (karena konon isnad yang dibawa oleh Nur Hasan Ubaidah telah hilang atau kurang lengkap). Lagi-lagi Islam Jama&#8217;ah menguber-nguber sanad dari kaum Wahabi.</p>
<p>Berkembanglah pemikiran sesat sekte Islam Jama&#8217;ah ini di tanah air yang dibangun di atas kedustaaan besar-besaran dan penipuan besar-besaran terhadap kaum muslimin di Indonesia, bahwasanya siapa saja yang Islamnya tidak bersanad maka diragukan keabsahannya.</p>
<p>Anehnya… yang mau menerima doktrin Nur Hasan Ubaidah ini hanyalah sebagian masyarakat muslim Indonesia. Kalau seandainya doktrin dan propaganda Nur Hasan Ubaidah ini dilontarkan di Negara-negara Arab maka tentunya Nur Hasan Ubaidah ini akan dianggap sebagai badut pemain sirkus yang pintar melawak !!!!<br />
<strong><br />
MIRIP TAPI TAK SAMA !!</strong></p>
<p>Habib Munzir Al-Musaawa…. dengan mudahnya mencela para ulama wahabi (seperti syaikh Bin Baaz, Ibnu Al-&#8217;Utsaimiin, dan Syaikh Al-Albani) dengan berhujjah : <strong>ULAMA WAHABI TIDAK BERSANAD !!!!</strong><span id="more-416"></span></p>
<p>Sehingga murid-murid sang habib dan para pengagumnya menyerukan sebagaimana seruan sang Habib…: &#8220;Para ulama wahabi tidak bersanad !!!&#8221;, sehingga ilmu mereka diragukan…!!!, ilmu hadits mereka dangkal..!!!, Fatwa mereka batil dan tertolak…!!!</p>
<p>Dan tuduhan-tuduhan dan olok-olokan yang lainnya yang keluar dari mulut sang Habib beserta para pengagumnya.</p>
<p>Kalau dipikir-pikir pemikiran Habib Munzir agak mirip dengan doktrin Nur Hasan &#8216;Ubaidah pendiri sekte Islam Jama&#8217;ah, akan tetapi setelah direnungkan ternyata tidak sama.</p>
<p>Berikut saya sebutkan <strong>dua kesimpulan</strong> dari perkataan-perkataan Sang Habib tentang ulama yang tidak bersanad.</p>
<p><strong>PERTAMA </strong>: Habib Munzir menuduh ulama wahabi tidak punya sanad. Bahkan dengan berani Habib Munzir menantang dan berkata :</p>
<p>&#8220;Saudaraku, maaf, <strong>tunjukkan satu saja seorang ulama wahabi yg punya sanad kepada Muhadditsin?</strong>, atau sanad guru yg muttashil kepada Rasulullah saw, kami ahlussunnah waljamaah berbicara hadits kami mempunyai sanad kepada kutubussittah dan muhadditsin, kami bukan menukil dan <strong>menggunting gunting ucapan</strong> ulama lalu berfatwa semaunya.<br />
<strong>tiada ilmu tanpa sanad, maka fatwa tanpa sanad adalah batil</strong>.<br />
(lihat : http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&amp;Itemid=&amp;func=view&amp;catid=7&amp;id=9654#9654)</p>
<p>Bahkan Habib Munzir menuduh bahwasanya tidak ada satu orang wahabipun yang hafal 10 hadits beserta sanadnya.</p>
<p>&#8220;…<strong>Wahabi dan kelompoknya yg mereka itu tak hafal 10 hadits pun berikut sanad dan hukum matannya</strong>. hafal hadits berikut sanad dan matannya adalah hafal haditsnya, dan nama nama periwayatnya sampai ke Rasul saw berikut riwayat hidup mereka, guru mereka, akhlak mereka, kedudukan mereka yg ditetapkan para Muhadditsin, dan lainnya.</p>
<p><strong>namun wahabi cuma menukil dari buku sisa sisa yg masih ada saat ini, buku buku hadits yg ada saat ini hanya mencapai sekitar 80 ribu hadits</strong>, dan tak ada kitab yg menjelaskan semua periwayat berikut sejarahnya kecuali sebagian kecil hadit saja,.</p>
<p><strong>maka fatwa para penukil ini batil tanpa perlu dijawab</strong>, (lihat : http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&amp;Itemid=&amp;func=view&amp;catid=9&amp;id=23856#23856)</p>
<p><strong>KEDUA </strong>: Habib Munzir memvonis bahwa fatwa siapa saja yang tidak memiliki sanad adalah fatwa yang batil. Habib Munzir berkata, &#8220;<strong>tiada ilmu tanpa sanad, maka fatwa tanpa sanad adalah batil</strong>&#8220;, apalagi yang berfatwa adalah para wahabi maka fatwa mereka otomatis batil dan tidak perlu dijawab, sebagaimana dalam perkataan Habib Munzir, &#8220;<strong>maka fatwa para penukil ini batil tanpa perlu dijawab</strong>&#8220;</p>
<p>Karenanya begitu dengan mudahnya Habib Munzir membatilkan fatwa-fatwa Syaikh Utsaimin dengan hanya berdalih bahwa Syaikh Utsaimin tidak bersanad.</p>
<p>Habib Munzir berkata :</p>
<p>&#8220;Mengenai Utsaimin, ia bukan ulama hadits, <strong>ia tak mempunyai sanad dalam ilmu hadits</strong>, tidak mempunyai sanad kepada para muhadditsin, <strong>maka pendapatnya batil</strong> dan tak bisa dijadikan pegangan, mengenai hadits tsb&#8221; (http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&amp;Itemid=&amp;func=view&amp;catid=9&amp;id=25398#25398)</p>
<p>Demikian juga Habib Munzir menuduh Syaikh Albani tidak bersanad, dan dituduh hanya menipu umat sehingga umat hancur, dan dituduh sebagai tong kosong.</p>
<p>Habib Munzir berkata :</p>
<p>&#8220;Beliau (*Albani) itu bukan Muhaddits, karena Muhaddits adalah orang yg mengumpulkan hadits dan menerima hadits dari para peiwayat hadits, albani tidak hidup di masa itu, ia hanya menukil nukil dari sisa buku buku hadits yg ada masa kini…&#8221;</p>
<p>Habib Munzir berkata lagi :</p>
<p>&#8220;<strong>Sedangkan Albani tak punya satupun sanad hadits yg muttashil</strong>. berkata para Muhadditsin, <strong>&#8220;Tiada ilmu tanpa sanad&#8221; maksudnya semua ilmu hadits, fiqih, tauhid, alqur;an, mestilah ada jalur gurunya kepada Rasulullah saw, atau kepada sahabat, atau kepada Tabiin, atau kepada para Imam Imam, maka jika ada seorang mengaku pakar hadits dan berfatwa namun ia tak punya sanad guru, maka fatwanya mardud (tertolak), dan ucapannya dhoif, dan tak bisa dijadikan dalil untuk diikuti, karena sanadnya Maqtu&#8217;</strong>.</p>
<p>apa pendapat anda dengan seorang manusia muncul di abad ini lalu menukil nukil sisa sisa hadits yg tidak mencapai 10% dari hadits yg ada dimasa itu, lalu berfatwa ini dhoif, itu dhoif.</p>
<p>Saya sebenarnya tak suka bicara mengenai ini, namun saya memilih mengungkapnya ketimbang hancurnya ummat karena <strong>tipuan seorang tong kosong</strong>. (lihat :</p>
<p>http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&#038;Itemid=&#038;func=view&#038;catid=9&#038;id=22466#22466)</p>
<p>Inilah senjata Habib Munzir yang dianggap sangat ampuh dan sakti oleh para pengagumnya, sehingga untuk membantah para ulama wahabi tidak perlu adu argumen dalil, akan tetapi cukup dengan berkata &#8220;Para ulama wahabi tidak punya sanad maka fatwa mereka batil dan tertolak&#8221;</p>
<p><strong>PERIHAL SANAD</strong></p>
<p>Sebelum saya menyanggah penipuan Habib Munzir ini saya akan menjelaskan tentang hakekat sanad yang selalu dijadikan senjata oleh Habib Munzir untuk membatilkan perkataan para ulama wahabi.</p>
<p>Sanad/isnad merupakan kekhususan umat Islam. Al-Qur&#8217;an telah diriwayatkan kepada kita oleh para perawi dengan sanad yang mutawatir. Demikian pula telah sampai kepada kita hadits-hadits Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam dengan sanad-sanad yang shahih. Berbeda dengan kitab Injil dan Taurat yang ada pada kaum Nashrani dan Yahudi tanpa sanad yang bersambung dan shahih, sehingga sangat diragukan keabsahan kedua kitab tersebut.</p>
<p><em><strong>Isnad hadits</strong></em> adalah silsilah para perawi yang meriwayatkan matan (sabda) hadits dari Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>Para ahli hadits telah memberikan kriteria yang ketat agar suatu hadits dinilai sebagai hadits yang shahih, mereka ketat dalam menilai para perawi hadits tersebut. Karenanya mereka (para ahli hadits) mendefinisikan hadits shahih dengan definisi berikut :</p>
<p>مَا اتَّصَلَ سَنَدُهُ بِنَقْلِ الْعَدْلِ الضَّابِطِ عَنْ مِثْلِهِ إِلَى مُنْتَهَاهُ مِنْ غَيْرِ شُذُوْذٍ وَلاَ عِلَّةٍ</p>
<p>&#8220;Yaitu hadits yang sanadnya bersambung dengan penukilan perawi yang &#8216;adil dan dhoobith (kuat hafalannya) dari yang semisalnya hingga kepuncaknya tanpa adanya syadz dan penyakit (&#8216;illah)&#8221;</p>
<p>Yaitu para perawinya dari bawah hingga ke atas seluruhnya harus tsiqoh dan memiliki kredibilitas hafalan yang sempurna (lihat Nuzhatun Nadzor hal 58), serta sanad tersebut harus bersambung dan tidak ada &#8216;illahnya (penyakit) yang bisa merusak keshahihan suatu hadits.</p>
<p>Oleh karenanya dari sini nampaklah urgensinya pengecekan kevalidan isnad suatu hadits</p>
<p>Ibnu Siiriin berkata :</p>
<p>لَمْ يَكُوْنُوا يَسْأَلُوْنَ عَنِ الإِسْنَادِ فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ قَالُوْا : سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيْثُهُمْ وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلاَ يُؤْخَذُ حَدِيْثُهُمْ</p>
<p>&#8220;Mereka dahulu tidak bertanya tentang isnad, akan tetapi tatkala terjadi fitnah maka mereka berkata : &#8220;<strong>Sebutkanlah nama-nama para perawi kalian</strong>&#8220;, maka dilihatlah Ahlus sunnah dan diambilah periwayatan hadits mereka dan dilihatlah ahlul bid&#8217;ah maka tidak diambil periwayatan hadits mereka&#8221;</p>
<p>Perkataan Ibnu Siiriin rahimahullah ini dibawakan oleh Imam Muslim dalam muqoodimah shahihnya hal 15 di bawah sebuah bab yang berjudul :</p>
<p>بَابُ بَيَانِ أَنَّ الإِسْنَادَ مِنَ الدِّيْنِ وَأَنَّ الرِّوَايَةَ لاَ تَكُوْنُ إِلاَّ عَنِ الثِّقَاتِ وَأَنَّ جَرْحَ الرُّوَاةِ بِمَا هُوَ فِيْهِمْ جَائِزٌ بَلْ وَاجِبٌ وَأَنَّهُ لَيْسَ مِنَ الْغِيْبَةِ الْمُحَرَّمَةِ بَلْ مِنَ الذَّبِّ عَنِ الشَّرِيْعَةِ الْمُكَرَّمَةِ</p>
<p>&#8220;Bab penjelasan bahwasanya isnad bagian dari agama, dan bahwasanya riwayat tidak boleh kecuali dari para perawi yang tsiqoh, dan bahwasanya menjarh (*menjelaskan aib) para perawi -yang sesuai ada pada mereka- diperbolehkan, bahkan wajib (hukumnya) dan hal ini bukanlah ghibah yang diharamkan, bahkan merupakan bentuk pembelaan terhadap syari&#8217;at yang mulia&#8221;.</p>
<p><strong>Salah faham</strong></p>
<p>Sebagian orang salah faham dengan perkataan Ibnul Mubaarok rahimahullah :</p>
<p>الإِسْنَادُ مِنَ الدِّيْنِ وَلَوْلاَ الإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ</p>
<p>&#8220;Isnad adalah bagian dari agama, kalau bukan karena isnad maka setiap orang yang berkeinginan akan mengucapkan apa yang ia kehendaki&#8221;</p>
<p>Mereka memahami bahwasanya : &#8220;Perkataan Ibnul Mubarok ini menunjukkan bahwasanya orang yang tidak punya isnad bicaranya akan ngawur, dan sebaliknya orang yang punya isnad maka bicaranya pasti lurus&#8221;</p>
<p>Akan tetapi bukan demikian maksud perkataan Ibnul Mubaarok rahimahullah. Maksud perkataan beliau adalah : Tidak sembarang orang bisa menyampaikan hadits dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, akan tetapi menyampaikan hadits Nabi <strong>harus ada sanadnya</strong>. Dan <strong>jika sudah ada sanadnya maka HARUS diperiksa para perawinya</strong> sehingga bisa ketahuan haditsnya shahih ataukah lemah. Yang menunjukkan akan hal ini tiga perkara berikut :</p>
<p><strong>Pertama </strong>: Perkataan Ibnul Mubaarok ini dibawakan oleh Imam Muslim di bawah bab</p>
<p>بَابُ بَيَانِ أَنَّ الإِسْنَادَ مِنَ الدِّيْنِ وَأَنَّ الرِّوَايَةَ لاَ تَكُوْنُ إِلاَّ عَنِ الثِّقَاتِ وَأَنَّ جَرْحَ الرُّوَاةِ بِمَا هُوَ فِيْهِمْ جَائِزٌ بَلْ وَاجِبٌ وَأَنَّهُ لَيْسَ مِنَ الْغِيْبَةِ الْمُحَرَّمَةِ بَلْ مِنَ الذَّبِّ عَنِ الشَّرِيْعَةِ الْمُكَرَّمَةِ</p>
<p>&#8220;Bab penjelasan bahwasanya isnad bagian dari agama, dan bahwasanya riwayat tidak boleh kecuali dari para perawi yang tsiqoh, dan bahwasanya menjarh (*menjelaskan aib) para perawi -yang sesuai ada pada mereka- diperbolehkan, bahkan wajib (hukumnya) dan hal ini bukanlah ghibah yang diharamkan, bahkan merupakan bentuk pembelaan terhadap syari&#8217;at yang mulia&#8221;.</p>
<p><strong>Kedua </strong>: Persis sebelum menyampaikan perkataan ibnul Mubarok ini, Imam Muslim menyampaikan perkataan Sa&#8217;ad bin Ibrahim yang menjelaskan tentang kewajiban hanya meriwayatkan dari para perawi yang tsiqoh.</p>
<p>Imam Muslim berkata :</p>
<p>عن مسعر قال سمعت سعد بن إبراهيم يقول لا يحدث عن رسول الله صلى الله عليه وسلم إلا الثقات وحدثني محمد بن عبد الله بن قهزاذ من أهل مرو قال سمعت عبدان بن عثمان يقول سمعت عبد الله بن المبارك يقول الإسناد من الدين ولولا الإسناد لقال من شاء ما شاء</p>
<p>&#8220;Dari Mus&#8217;ir berkata : Saya mendengar Sa&#8217;d bin Ibraahim berkata : <strong>Tidaklah meriwayatkan hadits Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam kecuali para perawi yang tsiqoh</strong>….dari &#8216;Abdaan bin &#8216;Utsmaan berkata : Aku mendengar Abdullah bin Al-Mubaarok berkata : Isnad merupakan bagian dari agama, jika bukan karena isnad maka orang yang berkeinginan akan mengucapkan apa saja yang ia kehendaki&#8221;</p>
<p>Dan sebelumnya lagi Imum Muslim juga menyebutkan perkatan Ibnu Siiriin di atas &#8220;<strong>Sebutkanlah nama-nama para perawi kalian</strong>&#8220;</p>
<p><strong>Ketiga </strong>: Setelah itu Imam Muslim juga membawakan praktek Ibnul Mubaarok yang mengecek para perawi dalam sebuah sanad.</p>
<p>Imam Muslim berkata :</p>
<p>قلت لعبد الله بن المبارك يا أبا عبد الرحمن الحديث الذي جاء إن من البر بعد البر أن تصلي لأبويك مع صلاتك وتصوم لهما مع صومك قال فقال عبد الله يا أبا إسحاق عمن هذا قال قلت له هذا من حديث شهاب بن خراش فقال ثقة عمن قال قلت عن الحجاج بن دينار قال ثقة عمن قال قلت قال رسول الله صلى الله عليه وسلم قال يا أبا إسحاق إن بين الحجاج بن دينار وبين النبي صلى الله عليه وسلم مفاوز تنقطع فيها أعناق المطي ولكن ليس في الصدقة اختلاف وقال محمد سمعت علي بن شقيق يقول سمعت عبد الله بن المبارك يقول على رؤوس الناس دعوا حديث عمرو بن ثابت فإنه كان يسب السلف</p>
<p>&#8220;Abu Ishaaq bin &#8221;Isa berkata : Aku berkata kepada Abdullah bin Al-Mubaarok, Wahai Abu Abdirrahman, hadits yang datang bahwasanya : ((<em>Diantara berbakti setelah berbakti adalah engkau sholat untuk kedua orangtuamu beserta sholatmu dan engkau berpuasa untuk kedua orangtuamu bersama puasamu</em>)). Beliau berkata : Wahai Abu Ishaaq, dari manakah hadits ini?. Aku berkata, &#8220;Ini dari periwayatan Syihaab bin Khiroosy&#8221;. Ibnul Mubaarok berkata : &#8220;Ia tsiqoh, lalu ia meriwayatkan dari siapa?&#8221;.</p>
<p>Aku berkata, &#8220;Dari Al-Hajjaaj bin Diinaar&#8221;. Beliau berkata : &#8220;Ia tsiqoh, lalu Hajjaj meriwayatkan dari siapa?&#8221;</p>
<p>Aku berkata, &#8220;(langsung) Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda&#8221;. Beliau berkata, &#8220;Wahai Abu Ishaaq antara Hajjaaj bin Diinaar dan Nabi ada padang pasir yang besar, butuh banyak onta untuk bisa menempuhnya. Akan tetapi tidak ada perbedaan pendapat tentang bersedekah (atas nama kedua orang tua)&#8221;…</p>
<p>Ali bin Syaqiiq berkata : &#8220;Aku mendengar Abdullah bin Al-Mubaarok berkata di hadapan khalayak manusia : Tinggalkanlah periwayatan &#8216;Amr bin Tsaabit karena ia mencela para salaf&#8221; (Lihat Muqoddimah Shahih Muslim hal 16)</p>
<p>Dari sini kita faham bahwasanya perkataan Ibnul Mubaarok di atas semakin menguatkan akan urgensinya memeriksa kredibilitas para perawi dalam sebuah sanad. Dan perkataan Ibnul Mubaarok ini sama sekali tidak berkaitan dengan persangkaan Habib Munzir ; &#8220;Orang yang tidak bersanad maka fatwanya batil&#8221;</p>
<p><strong>Praktek al-jarh wa at-ta&#8217;diil</strong></p>
<p>Untuk menerapkan kriteria ini (yaitu pengecekan kedudukan dan kredibilitas para perawi hadits) maka para ulama ahli hadits menulis buku-buku al-jarh wa at-ta&#8217;diil yang menyebutkan tentang biografi para perawi, dengan menjelaskan kedudukan para perawi tersebut apakah tsiqoh ataukah dho&#8217;iif??.</p>
<p>Berbagai macam buku yang ditulis oleh para ulama,</p>
<p>-         Ada kitab-kitab yang khusus berkaitan dengan para perawi yang tsiqoh</p>
<p>-         Ada kitab-kitab yang khusus berkaitan dengan para perawi yang dho&#8217;if dan majruuh</p>
<p>-         Ada kitab-kitab yang menggabungkan antara para perawi yang tsiqoh dan dho&#8217;iif</p>
<p>-         Ada kitab-kitab yang berkaitan dengan para perawi yang menempati kota tertentu, seperti Taariikh Baghdaad, Taariikh Dimasq, Taariikh Waasith, dll</p>
<p>-         Ada kitab-kitab yang menjelaskan tentang para perawi kitab-kitab hadits tertentu, seperti ada kitab yang khusus menjelaskan para perawi dalam kitab Muwaatho&#8217; Imam Malik, ada kitab yang khusus menjelaskan tentang para perawi Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, ada kitab yang khusus menjelaskan tentang kedudukan para perawi al-kutub as-sittah</p>
<p>-         Dan jenis-jenis kitab yang lainnya, sebagaimana dijelaskan dalam buku-buku al-jarh wa at-ta&#8217;diil atau &#8216;ilmu ar-rijaal.</p>
<p>Karenanya dengan meneliti kedudukan para perawi tersebut –berdasarkan kaidah al jarh wa at-ta&#8217;diil yang diletakkan oleh para ahli hadits- maka akan jelas apakan sanad suatu hadits shahih ataukah lemah atau maudhuu&#8217; (palsu).</p>
<p>Alhamdulillah para ulama telah mengumpulkan hadits-hadits Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dalam banyak kitab-kitab hadits sebagaimana yang masyhuur diantaranya : Muwatthho&#8217; al-Imam Maalik, Musnad Al-Imam Ahmad, Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Shahih Ibnu Hibbaan, Shahih ibnu Khuziamah, Sunan Abi Dawud, Sunan At-Thirmidzi, Sunan An-Nasaai, Sunan Ibni Maajah, Mu&#8217;jam-mu&#8217;jam At-Thobrooni, Sunan Al-Baihaqi, dan kitab-kitab hadits yang laiinya. Yang seluruh penulis kitab-kitab tersebut meriwayatkan hadits dengan menyebutkan sanad mereka dari jalur mereka hingga Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, sehingga dengan penerapan kaidah ilmu mustholah al-hadits dan ilmu al-jarh wa at-t&#8217;adiil terhadap para perawi yang terdapat dalam sanad-sanad hadits maka bisa dinilai apakah suatu hadits dari kitab-kitab tersebut shahih ataukah dhoiif.</p>
<p>Karenanya untuk mengecek keabsahan hadits-hadits yang terdapat dalam kitab-kitab di atas adalah dengan mengecek para perawi yang termaktub dalam isnad-isnad dari para penulis kitab-kitab tersebut.</p>
<p>Sebagai contoh untuk mengecek shahih tidaknya sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Thirimidzi dalam kitab &#8220;sunan&#8221; beliau maka kita mengecek para perawi di atas Imam At-Thirimidzi (dalam hal ini adalah guru imam At-Thirmidzi) hingga keatas sampai Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p><strong>SANAD ZAMAN SEKARANG ??</strong></p>
<p>Di zaman kita sekarang ini masih banyak ahli hadits atau para syaikh atau para penuntut ilmu yang masih melestarikan kebiasaan para ahli hadits dalam meriwayatkan hadits dengan sanad. Sehingga banyak diantara mereka yang meriwayatkan hadits dengan beberapa model sanad hadits, diantaranya:<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/sanad.jpg" alt="" border="0" /><br />
<em>Pertama </em>: sanad yang bersambung kepada salah satu dari para penulis hadits. Ada sanad di zaman sekarang ini yang bersambung hingga Al-Imam Al-Bukhari atau kepada At-Thirmidzi, atau kepada Abu Dawud, atau</p>
<p><em>Kedua </em>: Sanad yang bertemu di guru-guru para penulis tersebut, atau bertemu di para perawi yang lebih di atasnya lagi (para guru dari para guru dari para penulis), atau</p>
<p><em>Ketiga </em>: Sanad yang melalui jalur lain hingga kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tanpa melalui jalur para penulis kitab-kitab tersebut.</p>
<p>Dari sini jelas bahwasanya fungsi sanad di zaman ini (jika berkaitan dengan sanad hadits-hadits Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam) maka kurang bermanfaat dari dua sisi:</p>
<p><em>Pertama </em>: Karena para perawi yang dibawah para penulis kitab-kitab hadits tersebut hingga perawi di zaman kita sekarang ini tidak bisa diperiksa kredibilitasnya karena biografi mereka tidak diperhatikan oleh para ulama dan tidak termaktub dalam kitab-kitab al-jarh wa at-ta&#8217;diil</p>
<p><em>Kedua </em>: Kalaupun jika seluruh para perawi tersebut (dari zaman kita hingga ke penulis kitab) kita anggap tsiqoh maka kembali lagi kita harus mengecek para perawi dari zaman gurunya para penulis kitab-kitab hadits tersebut hingga Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Maka seakan-akan kita ngecek langsung para perawi yang terdapat dalam sanad-sanad yang terdapat dalam kitab-kitab hadits tersebut.</p>
<p>Jadi keberadaan isnad dari zaman sekarang hingga nyambung ke para penulis kitab-kitab hadits tersebut kurang bermanfaat, itu kalau tidak mau dikatakan tidak ada faedahnya !!!</p>
<p>Adapun jenis isnad yang ketiga, yaitu periwayatan hadits yang diriwayatakan oleh seseorang di zaman sekarang hingga zaman Rasulullah –tanpa melalui jalur para penulis kitab-kitab hadits diatas- maka tentunya kita akan mendapatkan minimal sekitar 20 orang perawi. Dan 20 orang perawi tersebut tidak mungkin kita cek kredibilitas mereka karena tidak adanya kitab-kitab al-jarh wa at-tadiil yang menjelaskan biografi mereka.</p>
<p>Dari sebab-sebab inilah maka terlalu banyak para penuntut ilmu yang berpaling dari mencari sanad hadits-hadits Nabi di zaman sekarang ini karena tidak ada faedah besar yang bisa diperoleh. Namun meskipun demikian masih saja ada para penuntut ilmu dan para ulama yang masih melestarikan periwayatan hadits dengan sanad-sanad tersebut untuk melestarikan adatnya para ahli hadits. Akan tetapi sama sekali tujuan mereka bukan untuk dijadikan senjata sebagaimana senjata yang digunakan oleh Habib Munzir dan para pengagumnya.</p>
<p><strong>PEMBODOHAN MASYARAKAT MUSLIM INDONESIA</strong></p>
<p>Habib Munzir sering menyebutkan kalau ia memiliki sanad, sehingga mengesankan bahwa ilmu yang dia peroleh nyambung hingga Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Hal inilah yang dikenal dalam sekte Islam Jam&#8217;ah dengan istilah &#8220;<em><strong>MANGKUL</strong></em>&#8220;. Kemudian untuk mendukung aksinya ini maka Habib Munzir menuduh bahwa para ulama wahabi tidak seorangpun memiliki sanad…!!, bahkan tidak seorangpun yang hafal 10 hadits beserta sanadnya !!!. sungguh ini merupakan kedustaan dan pembodohan terhadap masyarakat Indonesia.</p>
<p>Jadilah pembodohan ini menjadikan para pengagum Habib Munzir memahami bahwasanya :</p>
<p>-         Seluruh ilmu tanpa sanad tidak bisa diterima</p>
<p>-       Orang yang memiliki sanad seakan-akan maksum (terjaga dari kesalahan) karena ilmunya mangkul, yaitu sampai kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Meskipun hal ini mungkin saja tidak terucap secara lisan, akan tetapi sikap mereka dan pembelaan mereka terhadap Habib Munzir menunjukan akan hal itu</p>
<p>-       Orang yang memiliki sanad hingga ke Imam As-Syafii seakan-akan paling paham tentang perkataan Imam As-Syafii karena ilmunya mangkul/sampai kepada Imam Asy-Syafi&#8217;i.</p>
<p><strong>SANGGAHAN</strong></p>
<p>Sanggahan terhadap propaganda Habib Munzir ini dari banyak sisi</p>
<p><strong>PERTAMA </strong>: Tuduhan Habib Munzir bahwa para ulama Wahabi tidak memiliki sanad merupakan tuduhan yang sangat dusta. Jangankan para ulama besar Wahabi, teman-teman saya (ustadz-ustadz yang ada di Indonesia) saja banyak yang memiliki sanad. Jadi jangan sampai Habib Munzir ini merasa ia adalah pendekar sanad satu-satunya, karena pendekar-pendekar junior wahabi ternyata sudah banyak yang memiliki sanad.</p>
<p><strong><br />
KEDUA </strong>: Terkhususkan tuduhan Habib Munzir terhadap As-Syaikh Albani bahwa beliau tidak memiliki sanad dan hanya seperti tong kosong yang menipu umat, maka ini merupakan tuduhan dusta dan sangat keji.</p>
<p>Syaikh Albani punya isnad, dan ini merupakan perkara yang ma&#8217;ruuf, beliau  memiliki ijazah hadits dari ‘Allamah Syaikh Muhammad Raghib at-Thobbaakh Al-Halabi yang kepadanyalah beliau mempelajari ilmu hadits, dan mendapatkan hak untuk menyampaikan hadits darinya. (silahkan lihat Hayaat Al-Albaani wa Aaatsaaruhu wa ats-Tsanaa&#8217; al-&#8217;Ulamaa &#8216;alaihi karya Muhammad Ibrahim As-Syaibaani hal 45-46). As-Syaikh Al-Albani pun telah menegaskan hal ini dalam beberapa kitabnya seperti dalam kitab Tahdziir As-Saajid hal 84-85 dan juga kita Mukhtshor Al-&#8217;Uluw hal hal 74</p>
<p>Dan sebagian murid Syaikh Albani –seperti Abu Ishaaq Al-Huwaini- mengambil sanad dari As-Syaikh Al-Albani (silahkan lihat juga http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=18495).</p>
<p>Kemudian kenapa begitu berani Habib Munzir mensifati Syaikh Al-Albani dengan <strong>TONG KOSONG </strong>!!!, bahkan Habib Munzir mengkhawatirkan hancurnya umat karena tipuan Tong Kosong !!!, <strong>Subhaanallah…tipuan apa yang telah dilancarkan oleh Syaikh Al-Albani wahai Habib Munzir…!!! ataukah anda yang sedang melancarkan tipuan kepada umat bahwa yang tidak punya sanad fatwanya batil???</strong></p>
<p><strong>KETIGA </strong>: Kaum muslimin telah faham bahwasanya sumber hukum  mereka adalah Al-Qur&#8217;an dan hadits-hadits Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, demikian juga ijmaa&#8217; para ulama. Dan tatkala terjadi perselisihan maka Allah memerintahkan kita untuk kembali kepada Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah.</p>
<p>Allah berfirman :</p>
<p>فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا</p>
<p><em>Jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. </em>(QS An-Nisaa : 59)</p>
<p>Allah tidak pernah mengatakan &#8220;Kembalilah kalian kepada orang yang bersanad&#8221;</p>
<p>Alhamdulillah Al-Qur&#8217;an dan hadits-hadits yang shahih telah dijaga oleh Allah.</p>
<p><strong>KEEMPAT </strong>: Propaganda Habib Munzir ini sama sekali tidak pernah dilakukan oleh para ulama dari madzhab manapun, baik dari madzhab Imam Abu Hanifah, atau madzhab Imam Malik, atau Madzhab Imam Ahmad, atau  madzhab Dzohiriyah. Bahkan tidak seorangpun dari ulama madzhab Syafi&#8217;iyah yang mengigau dengan propaganda Habib Munzir ini.</p>
<p>Silahkan buka kitab fiqih dari madzhab manapun…, atau kitab aqidah dari madzhab manapun…, atau kitab hadits dari madzhab manapun…, atau kitab ushul al-fiqh dari madzhab manapun….tidak seorangpun dari para ulama pernah berkata : <strong>&#8220;Fatwa anda tertolak karena anda tidak bersanad !!&#8221;</strong></p>
<p>Sering terjadi perdebatan dalam masalah fikih dikalangan para ulama madzhab…namun tidak seorangpun dari mereka tatkala membantah yang lain dengan berdalih <strong>&#8220;Pendapat anda batil karena anda tidak bersanad !!!&#8221;</strong></p>
<p>Bahkan tatkala ulama ahlus sunnah berdebat dengan para ahlul bid&#8217;ah dalam masalah aqidah maka para ulama ahlus sunnah membantah dengan cara menyebutkan dalil-dalil dari Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah. Sama sekali mereka tidak pernah berkata kepada Ahlul Bid&#8217;ah <strong>&#8220;Kalian di atas kebatilan karena tidak bersanad !!!&#8221;</strong></p>
<p>Karenanya propaganda Habib Munzir ini merupakan hal yang sangat lucu dan konyol…tidak seorangpun yang pernah menelaah kitab-kitab para ulama akan terpedaya dengan propaganda ini. Yang terpedaya hanyalah orang awam yang tidak mengerti kitab-kitab para ulama, yang tidak mengerti tentang ilmu hadits dan ilmu sanad, sebagaimana Nur Hasan &#8216;Ubaidah berhasil menipu dan membodohi banyak orang-orang awam yang jahil sehingga terperangkap dalam jaringan sekte Islam Jama&#8217;ah. Wallahul Musta&#8217;aan.</p>
<p><strong>KELIMA </strong>: Kalaupun kita menerima sanad yang dimiliki Habib Munzir maka kita harus mengecek para perawi yang terdapat dalam sanad tersebut, mulai dari Habib Munzir, gurunya, lalu guru dari guru Habib Munzir dst. Tentunya kita tidak akan mendapatkan perkataan para imam al-jarh wa at-ta&#8217;diil (seperti Syu&#8217;bah bin Hajjaaj, Al-Bukhari, Al-Imam Ahmad, Yahya bin Sa&#8217;iid, dll) tentang guru-guru Habib Munzir. Maka para perawi tersebut (guru-guru habib Munzir) dalam ilmu hadits dihukumi sebagai <em><strong>para perawi majhuul.</strong></em></p>
<p>Demikian juga kita harus mengecek kredibiltas hafalan dan ketsiqohan Habib Munzir sebagai perawi dan salah satu mata rantai sanad yang ia miliki. Apakah Habib Munzir Al-Musawa adalah seorang perawi yang tsiqoh yang kredibilitas hafalannya baik dan tinggi, ataukah malah sebaliknya sering pelupa dan tidak memiliki hafalan?. Kemudian dinilai juga dari kejujuran dalam bertutur kata?. Karena jika kita menerapkan kaidah para ahli hadits, maka jika ketahuan seorang perawi pernah berdusta sekali saja –bukan pada hadits Nabi shallalllahu &#8216;alaihi wa sallam- akan tetapi dusta pada perkara yang lain maka perawi ini dihukumi <strong><em>muttaham bil kadzib </em></strong>(tertuduh dusta), dan periwayatannya tertolak atau tidak diterima. Bagaimana lagi jika ketahuan sang perawi telah berdusta berkali-kali !!!, bagaimana lagi jika kedustaannya tersebut dalam rangka untuk menjatuhkan para ulama ??</p>
<p><strong>KEENAM </strong>: Sebagaimana Habib Munzir memiliki sanad ternyata terlalu banyak para penuntut ilmu wahabi yang juga memiliki sanad…!!!, maka fatwa siapakah yang diterima?, apakah fatwa Habib Munzir ataukah fatwa para penuntut ilmu wahabi tersebut??!!</p>
<p>Hanya saja Habib Munzir mengesankan kepada murid-mudirnya bahwa para wahabi tidak bersanad !!!, ini merupakan kedustaan yang sangat nyata seperti terangnya matahari di siang bolong.</p>
<p><strong>KETUJUH </strong>: Ngomong-ngomong manakah yang kita ikuti…Islam Jama&#8217;ah ala Nur Hasan &#8216;Ubaidah yang lebih dahulu punya sanad daripada Habib Munzir puluhan tahun yang lalu? Ataukah kita mengikuti Habib Munzir yang baru-baru saja memiliki sanad??!!.</p>
<p><strong>KEDELAPAN </strong>: Bukankah sering dua orang yang sama-sama memiliki sanad ternyata saling berselisih??. Lihat saja bagaimana para ulama saling berselisih pemahaman dalam banyak permasalahan agama sehingga timbulah madzhab-madzhab yang berbeda-beda. Bukankah para ulama besar pengikut madzhab As-Syafii memiliki sanad akan tetapi sering berselisih dengan para ulama pengikut madzhab Hanafi yang juga memiliki sanad??</p>
<p>Bukankah Imam Ibnu Hazm yang bermadzhab Dzohiriah –yang beliau banyak meriwayatkan hadits dengan sanadnya dalam kitab beliau Al-Muhalla- ternyata banyak menyelisihi para ualama empat madzhab yang juga memiliki sanad?</p>
<p>Bahkan… bukankah Imam As-Syafii yang memiliki sanad yang pernah berguru kepada Imam Malik yang juga memiliki sanad ternyata masing-masing dari mereka berdua memiliki madzhab tersendiri??, demikian juga halnya antara Imam Ahmad yang berguru kepada Imam As-Syafii??</p>
<p>Dari sini jelas bahwa isnad tidak melazimkan satu pemahaman, bahkan orang yang memiliki satu isnad bisa berselisih faham, bahkan bisa jadi murid menyelisihi guru. Lantas bagaimana bisa dianalogikan jika Habib Munzir memiliki sanad lantas secara otomatis lebih faham tentang agama??!!</p>
<p><strong>KESEMBILAN </strong>: Orang yang memiliki sanad yang shahih dalam periwayatan hadits tidak mesti lebih faham tentang agama daripada orang yang sama sekali tidak memiliki sanad, maka bagaimana lagi orang yang memiliki sanad yang dhoif karena banyak perawi yang majhuul??</p>
<p>Al-Imam Al-Bukhari telah membuat sebuah bab dengan judul :</p>
<p>بَابُ قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : رُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ</p>
<p>&#8220;Bab sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam : Betapa sering orang yang disampaikan lebih faham dari yang mendengarkan&#8221;.</p>
<p>Lalu Al-Imam Al-Bukhari membawakan sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam :</p>
<p>لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ فَإِنَّ الشَّاهِدَ عَسَى أَنْ يُبَلِّغَ مَنْ هُوَ أَوْعَى لَهُ مْنِهُ</p>
<p>&#8220;Hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir, karena bisa jadi yang hadir menyampaikan kepada orang yang lebih faham daripada dia&#8221; (HR Al-Bukhari no 67)</p>
<p>Al-Hafiz Ibnu Hajar berkata :</p>
<p>وَالْمُرَادُ رُبَّ مُبَلَّغٍ عَنِّي أَوْعَى أَيْ أَفْهَمُ لِمَا أَقُوْلُ مِنْ سَامِعٍ مِنِّي</p>
<p>&#8220;Maksudnya yaitu bisa jadi orang yang disampaikan sabdaku lebih menguasai yaitu lebih faham tentang sabdaku dari pada yang mendengarkan (langsung) dariku&#8221; (Fathul Baari 1/158)</p>
<p>Rasulullah juga bersabda :</p>
<p>نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيثًا فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيهٍ</p>
<p>&#8220;Semoga Allah menerangi wajah seseorang yang mendengar sebuah hadits dariku lalu ia menghafalkannya hingga menyampaikannya. Bisa jadi seorang membawa fiqih (ilmu) lalu ia sampaikan kepada yang lebih faqih daripadanya, dan bisa jadi seseorang membawa fiqih (ilmu) akan tetapi ia bukanlah seorang yang faqih&#8221; (HR Abu Dawud no 3662, At-Thirmidzi no 2656, Ibnu Maajah no 230)</p>
<p>Hadits ini menjelaskan bahwasanya bisa jadi seseorang memiliki riwayat hadits akan tetapi tidak faham dengan isi dari hadits tersebut, serta tidak bisa mengambil dan mengeluarkan huku-hukum dari hadits tersebut.</p>
<p>Al-Munaawi As-Syafii berkata :<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/habmun10_01.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Betapa banyak pembawa fiqih (ilmu) namun tidak faqiih, yaitu tidak mengambil (menggali) ilmu hukum-hukum dengan cara pendalilan, akan tetapi ia membawa riwayat tanpa memiliki sisi pendalilan dan pengeluaran hukum&#8221; (Faidul Qodiir 4/17)</p>
<p>Karenanya ilmu dan kefaqihan bukanlah dengan banyaknya riwayat dan banyaknya sanad, karena bisa jadi ada seseorang yang memiliki banyak riwayat dan sanad akan tetapi tidak faham atau kurang faham dengan isi dari hadits-hadits yang ia riwayatkan.</p>
<p>Ibnu Bathool rahimahullah berkata :<br />
<img src="http://firanda.com/images/stories/habmun10_02.jpg" alt="" border="0" /><br />
&#8220;Nabi &#8216;alaihis salaam sungguh telah menafikan ilmu dari orang yang tidak memiliki pemahaman, sebagaimana dalam sabda beliau &#8220;Betapa banyak orang yang membawa fiqih/ilmu akan tetapi tidak memiliki kefaqihan&#8221;</p>
<p>Imam Malik berkata : &#8220;Bukanlah ilmu dengan banyaknya periwayatan, akan tetapi ilmu adalah cahaya yang Allah letakan dalam hati&#8221;. Maksud Imam Malik adalah memahami makna-maknanya dan istinbaathnya (pengambilan hukum darinya)&#8221; (Syarh Shahih Al-Bukhaari karya Ibnu Batthool 1/157)</p>
<p>Kesimpulan dari hadits ini :</p>
<p><em>Pertama </em>: Bisa jadi seseorang memiliki riwayat atau sanad akan tetapi tidak faham dengan kandungan dari hadits yang ia riwayatkan.</p>
<p><em>Kedua </em>: Bisa jadi seseorang memiliki riwayat dan sanad akan tetapi orang yang membaca hadits yang ia riwayatkan lebih faham dengan isi hadits daripada yang memiliki sanad.</p>
<p><strong>KESEPULUH </strong>: Sungguh sangat menyedihkan jika kita dapati seseorang memiliki sanad akan tetapi tidak mengerti ilmu hadits….sanadnya itu hanya sebagai topeng yang melindungi kebodohannya dalam ilmu hadits, sehingga tatkala lisannya mulai berbicara tentang ilmu hadits akhirnya ngawur.</p>
<p>Apalagi murid-murid dan para pengagum Habib Munzir yang begitu mudahnya diberikan ijaazah oleh Habib Munzir. Silahkan perhatikan yang dibawah ini :</p>
<p>Pengagum Habib Munzir berkata :</p>
<p>&#8220;Dengan hormat saya hendak belajar kepada Habib walau sementara baru sebatas lewat internet.</p>
<p>1.        Mohon izin belajar kepada Habib yang bersanad keguruan sampai kepada Nabi Muhammad SAW</p>
<p>2.        Mohon ijazah untuk pengamalan amalan ahluh sunah wal jamaah…</p>
<p><strong>Habib Munzir</strong> menjawab :</p>
<p>&#8220;Saudaraku yg kumuliakan, selamat datang di web para pecinta Rasul saw, kita bersaudara dalam kemuliaan</p>
<p>1.      saudaraku tercinta, saya belum pantas menjadi murid yg baik, bagaimana saya menjadi guru, kita bersaudara dan saling menasihati karena Allah, namun sanad keguruan anda telah berpadu dg sanad keguruan saya hingga kepada Rasul saw.</p>
<p>2.      Saya Ijazahkan pada anda sanad keguruan saya kepada anda, yg bersambung sanadnya kepada Guru Mulia kita, hingga Rasulullah saw, ia adalah bagai rantai emas terkuat yg tak bisa diputus dunia dan akhirat, jika bergerak satu mata rantai maka bergerak seluruh mata rantai hingga ujungnya, yaitu Rasulullah saw, semoga Allah swt selalu menguatkan kita dalam keluhuran dunia dan akhirat bersama guru guru kita hingga Rasul saw.</p>
<p>Saya ijazahkan seluruh dzikir salafusshalih, semua doa Rijaalussanad dan semua doa dan dzikir dari seluruh para wali dan shalihin, munajat dan dzikir para Ahlusshiddiqiyyatul Kubra, kepada anda, Ijazah sempurna yg saya terima dari Guru Mulia kita Al Allamah Al Musnid Alhabib Umar bin hafidh yg sanadnya muttashil (bersambung) pada segenap para ulama, muhaddits, para wali dan shalihin. Ijazah ini mencakup seluruh surat dalam Alqur’an, wirid, dzikir, amalan sunnah, dan doa Nabi Muhammad saw dan doa para Nabi dan Doa seluruh Ummat Muhammad saw, dan seluruh Hamba Allah yg shalih. semoga anda selalu dalam kemuliaan Dzikir dan Cahya Munajat mereka. Amiin</p>
<p><strong>Saya Ijazahkan kepada anda sanad Alqur&#8217;anulkarim dalam tujuh Qira&#8217;ah, seluruh sanad hadits riwayat Imamussab&#8217;ah, seluruh sanad hadist riwayat Muhadditsin lainnya, seluruh fatwa dan kitab syariah dari empat Madzhab yaitu Syafii, Maliki, Hambali dan Hanafi, dan seluruh cabang ilmu islam, yg semua itu saya terima sanad ijazahnya dari Guru Mulia Al Allamah Al Musnid Alhabib Umar bin Hafidh, yg bersambung sanadnya kepada guru guru dan Imam Imam pada Madzhab Syafii dan lainnya, dan berakhir pada Rasulullah saw…</strong></p>
<p>(lihat: http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&amp;Itemid=&amp;func=view&amp;catid=9&amp;id=26683#26683),</p>
<p>Gampangnya Habib Munzir memberikan sanad ijazah kepada orang-orang awam tanpa persyaratan dan bahkan hanya sekedar melalui internet sering beliau lakukan.</p>
<p>Silahkan lihat : (http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&amp;Itemid=&amp;func=view&amp;catid=9&amp;id=25448#25448), lihat juga (http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&amp;Itemid=&amp;func=view&amp;catid=7&amp;id=22111#22111), lihat juga (http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&amp;Itemid=&amp;func=view&amp;catid=9&amp;id=21894#21894), dll</p>
<p>Perhatikanlah wahai para pembaca…dengan begitu mudahnya Habib Munzir memberi ijazah kepada seseorang yang meminta isnadnya hanya melalui internet ?!!</p>
<p><strong>Lantas apakah jika orang tersebut telah diberi ijazah oleh Habib Munzir berarti ia telah menguasai seluruh qiro&#8217;ah sab&#8217;ah al-qur&#8217;aan dan juga menguasai seluruh fatwa dari empat madzhab, seluruh riwayat hadits dari imam saba&#8217;ah??!!!</strong> . Sementara orang yang meminta tersebut siapakah dia?, seorang alimkah dia?!! Belajar di mana?? Tahu nawhu shorof atau tidak?, menguasai ilmu ushul fiqh atau tidak?, menguasai ilmu mustolah hadits atau tidak?, menguasai fikih empat madzhab atau tidak??</p>
<p>Habib Munzir sendiri apakah menguasai seluruh ilmu yang ia ijazahkan?, menguasai tujuh qiroo&#8217;ah?, menguasai seluruh hadits-hadits yang diriwayatkan oleh imam sab&#8217;ah?, menguasai seluruh fatwa dan kitab-kitab syari&#8217;ah empat madzhab??!!! Sunnguh sangat a&#8217;lim Habib Munzir ini?, bahkan ana rasa mungkin tidak ada seorang yang lebih &#8216;alim dari Habib Munzir di zaman ini.</p>
<p>Pantas saja jika beliau digelari dengan al-&#8217;Allaamah al-Fahhaamah (silahkan lihat http://assajjad.wordpress.com/2009/03/05/biografi-habib-munzir-al-musawa/)</p>
<p>Bisa jadi seseorang tidak memiliki sanad akan tetapi ia adalah seorang yang &#8216;alim. Sebaliknya….</p>
<p>-         Percuma punya banyak sanad jika masih saja meriwayatkan hadits-hadits yang lemah, apalagi tidak mengerti tentang ilmu takhriij.</p>
<p>-         Percuma punya isnad sampai Imam As-Syafii tapi berdusta atas nama Imam As-Syafii dan juga berdusta atas nama Ibnu Hajar</p>
<p>-         Percuma punya isnad kalau membolehkan kesyirikan beristighootsah kepada mayat</p>
<p>-         Percuma punya banyak isnad kalau sering keliru dalam membicarakan ilmu hadits</p>
<p>-         Percuma punya banyak isnad kalau tukang mencela para ulama, karena ini bukan akhlaknya orang yang mempunyai sanad.</p>
<p>-         Percuma punya banyak isnad kalau menuduh para ulama sebagai pendusta tukang menggunting perkataan ulama (padahal dia sendiri yang tukang gunting)</p>
<p>-         Percuma punya banyak isnad kalau menuduh para ulama wahabi tidak punya isnad (yang ini merupakan kedustaan yang sangat nyata..!!!!)</p>
<p><strong>KESEBELAS </strong>: Tidak semua orang yang memiliki sanad dan meriwayatkan hadits maka otomatis aqidahnya merupakan aqidah yang lurus. Ini merupakan perkara yang sangat mendasar dan diketahui oleh semua orang yang baru belajar ilmu mustholah al-hadits.</p>
<p>Karenanya para ulama ahli al-jarh wa at-ta&#8217;diil menyebutkan (dalam kitab-kitab Ad-Du&#8217;afaa&#8217; dan kitab-kitab yang secara spesifikasi membicarakan tentang para perawi yang lemah) bahwasanya banyak perawi hadits yang memiliki pemahaman bid&#8217;ah, baik bid&#8217;ah khawarij, bid&#8217;ah syi&#8217;ah, bid&#8217;ah irjaa&#8217;, bid&#8217;ah qodariyah dan lain-lain yang menyebabkan riwayat para perawi tersebut tertolak. Dan masih banyak sebab-sebab lain yang menyebabkan periwayatan seseorang yang memiliki sanad tertolak</p>
<p>Sementara kesan yang dibangun oleh Habib Munzir bahwasanya jika seseorang telah memiliki sanad yang bersambung kepada Nabi maka melazimkan seakan-akan ia adalah orang yang ma&#8217;sum yang tentunya aqidahnya lurus. Tentu hal ini merupakan kelaziman yang tidak lazim.</p>
<p><strong>KEDUA BELAS</strong> : Kelaziman dari hal ini, maka seluruh dai dan ulama yang tidak bersanad tidak diterima perkataan dan fatwa mereka, dan fatwa mereka dihukumi sebagai fatwa yang batil. Saya rasa sebaiknya Habib Munzir memberi masukan kepada Majelis Ulama Indonesia yang selama ini tatkala berfatwa tidak mencantumkan sanad mereka !!! yang menunjukkan bahwa fatwa-fatwa mereka selama ini adalah fatwa yang batil.</p>
<p>Demikian juga masukan kepada ribuan dai yang di Indonesia, bahkan masukan kepada jutaan dai yang ada di dunia agar berhenti berdakwah dan hendaknya mencari sanad dahulu agar perkataan dan fatwa mereka bisa diterima dan tidak bernilai batil !!!</p>
<p>Dari dua belas sisi bantahan di atas maka jelas bahwasanya perkataan Habib Munzir : &#8220;Orang yang tidak bersanad fatwanya batil dan tertolak&#8221; adalah kesalahan yang fatal !!!</p>
<p>Kota Nabi -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam-, 24-12-1432 H / 20 November2011 M</p>
<p>Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja</p>
<p>www.firanda.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bantahansalafytobat.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bantahansalafytobat.wordpress.com/416/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bantahansalafytobat.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bantahansalafytobat.wordpress.com/416/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bantahansalafytobat.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bantahansalafytobat.wordpress.com/416/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bantahansalafytobat.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bantahansalafytobat.wordpress.com/416/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bantahansalafytobat.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bantahansalafytobat.wordpress.com/416/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bantahansalafytobat.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bantahansalafytobat.wordpress.com/416/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bantahansalafytobat.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bantahansalafytobat.wordpress.com/416/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bantahansalafytobat.wordpress.com&amp;blog=16552009&amp;post=416&amp;subd=bantahansalafytobat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bantahansalafytobat.wordpress.com/2011/11/26/antara-habib-munzir-islam-jamaah-pernyataan-habib-munzir-fatwa-orang-tidak-bersanad-adalah-batil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ea85548627490456d5731e02afd96799?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bantahansalafytobat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bantahansalafytobat.files.wordpress.com/2011/11/habmun10.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">habib munzir dan islam jama&#039;ah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/sanad.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/habmun10_01.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/habmun10_02.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Nasehat HABIB-HABIB WAHABI kepada HABIB-HABIB SUFI+ SYI&#8217;AH</title>
		<link>http://bantahansalafytobat.wordpress.com/2011/11/26/nasehat-habib-habib-wahabi-kepada-habib-habib-sufi-syiah/</link>
		<comments>http://bantahansalafytobat.wordpress.com/2011/11/26/nasehat-habib-habib-wahabi-kepada-habib-habib-sufi-syiah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Nov 2011 14:12:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bantahansalafytobat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahlul Bait]]></category>
		<category><![CDATA[Habib Ahlussunnah vs Habib sufi dan syiah]]></category>
		<category><![CDATA[HABIB MUNZIR AL-MUSAWA]]></category>
		<category><![CDATA[ahlul bait]]></category>
		<category><![CDATA[bantahan habib munzir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bantahansalafytobat.wordpress.com/?p=412</guid>
		<description><![CDATA[Sungguh merupakan suatu kemuliaan tatkala seseorang ternyata termasuk Ahlul Bait, tatkala seseorang merupakan cucu dan keturunan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, menjadi keturunan orang yang paling mulia yang pernah ada di atas muka bumi. Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah mengingatkan kita untuk memperhatikan para Ahlul Bait. Kita sebagai seorang ahlus sunnah, bahkan sebagai seorang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bantahansalafytobat.wordpress.com&amp;blog=16552009&amp;post=412&amp;subd=bantahansalafytobat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_414" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://bantahansalafytobat.files.wordpress.com/2011/11/rasulullah1.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-414" title="ahlul bait" src="http://bantahansalafytobat.files.wordpress.com/2011/11/rasulullah1.jpg?w=150&#038;h=101" alt="" width="150" height="101" /></a><p class="wp-caption-text">ahlul bait</p></div>
<p>Sungguh merupakan suatu kemuliaan tatkala seseorang ternyata termasuk Ahlul Bait, tatkala seseorang merupakan cucu dan keturunan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, menjadi keturunan orang yang paling mulia yang pernah ada di atas muka bumi.</p>
<p>Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah mengingatkan kita untuk memperhatikan para Ahlul Bait. Kita sebagai seorang ahlus sunnah, bahkan sebagai seorang muslim harus menghormati keturunan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam jika keturunan Nabi tersebut adalah orang yang bertakwa.</p>
<p>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p>وأهلُ بَيتِي، أُذكِّرُكم اللهَ في أهل بيتِي، أُذكِّرُكم اللهَ في أهل بيتِي، أُذكِّرُكم اللهَ في أهل بيتِي<br />
<em><br />
&#8220;Dan keluargaku, aku mengingatkan kalian kepada Allah tentang ahlu baiti (keluargaku), aku mengingatkan kalian kepada Allah tentang keluargaku, aku mengingatkan kalian kepada Allah tentang ahlu baiti keluargaku&#8221;</em> (HR Muslim no 2408)<span id="more-412"></span></p>
<p>Yaitu Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk bertakwa kepada Allah dalam memperhatikan hak-hak Ahlul Bait, dan memerintahkan kita untuk menghormati mereka. Hal ini menunjukkan bahwa Ahlul Bait memiliki manzilah dalam Islam.<br />
Abu Bakar radhiallahu &#8216;anhu pernah berkata kepada Ali bin Abi Thholib :</p>
<p>وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَرَابَةُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أحبُّ إليَّ أنْ أَصِلَ من قرابَتِي<br />
<em><br />
&#8220;Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh kerabat Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam lebih aku sukai untuk aku sambung (silaturahmi) daripada kerabatku sendiri&#8221;</em> (HR Al-Bukhari no 3711)</p>
<p>Sungguh begitu bahagianya tatkala saya bertemu dengan cucu-cucu Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam di Kota Nabi shallallahu yang tegar dan menyerukan sunnah Nabi dan memerangi kesyirikan dan kebid&#8217;ahan. Begitu bahagianya saya tatkala sempat kuliah di Unversitas Islam Madinah program jenjang Strata 1 selama 4 tahun (tahun 2002 &#8211; 2006) di fakultas Hadits yang pada waktu itu dekan kuliah hadits adalah <strong>Doktor Husain Syariif al-&#8217;Abdali </strong>yang merupakan Ahlul Bait…yang menegakkan sunnah-sunnah leluhurnya dan memberantas bid&#8217;ah yang tidak pernah diserukan oleh leluhurnya. Alhamdulillah hingga saat artikel in ditulis beliau masih menjabat sebagai <strong>Dekan </strong>Fakultas Hadits</p>
<p>Akan tetapi merupakan perkara yang sangat menyedihkan tatkala saya mendapati sebagian ahlul bait yang menjadi pendukung bid&#8217;ah…pendukung aqidah dan amalan yang tidak pernah diserukan oleh Leluhur mereka habibuna Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Bahkan betapa banyak orang syi&#8217;ah Rofidoh yang mengaku-ngaku sebagai cucu-cucu Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Bahkan mereka mengkafirkan ahlul bait yang sangat dicintai oleh Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yaitu istri beliau &#8216;Aisyah radhiallahu &#8216;anhaa. Demikian juga mereka mengkafirkan lelaki yang paling dicintai Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yaitu Abu Bakar radhiallahu &#8216;anhu. Wallahul Musta&#8217;aan…</p>
<p>Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaa&#8217;ah terhadap Ahlul Bait adalah sikap tengah antara sikap berlebih-lebihan (ghuluw) dan sikap kurang/keras kepada Ahlul Bait.</p>
<p>Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah mengenal keutamaan orang yang menggabungkan antara keutamaan takwa dan kemuliaan nasab.</p>
<p>-         Maka barangsiapa diantara Ahlul Bait yang merupakan sahabat Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam maka Ahlus Sunnah mencintainya karena tiga perkara, karena sebagai sahabat Nabi, karena ketakwaannya dan karena kekerabatannya dengan Nabi.</p>
<p>-         Barangsiapa diantara Ahlul Bait yang bukan merupakan sahabat akan tetapi bertakwa maka Ahlus Sunnah mencintainya karena dua perkara, karena ketakwaannya dan karena kekerabatannya.</p>
<p>Ahlus Sunnah meyakini bahwa <strong>kemuliaan nasab mengikuti kemuliaan takwa dan iman.</strong></p>
<p>Adapun barangsiapa diantara Ahlul Bait yang tidak bertakwa maka kemuliaan nasabnya tidak akan memberi manfaat baginya. Allah telah berfirman :</p>
<p>إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ</p>
<p><em>Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu</em> (QS Al-Hujuroot : 13).</p>
<p>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p>وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ</p>
<p><em>&#8220;Barang siapa yang amalannya memperlambatnya maka nasabnya tidak akan bisa mempercepatnya&#8221;</em> (HR Muslim no 2699)</p>
<p>Al-Imam An-Nawawi mengomentari hadits ini :</p>
<p>مَعْنَاهُ مَنْ كَانَ عَمَلُهُ نَاقِصًا لَمْ يُلْحِقْهُ بِمَرْتَبَةِ أَصْحَابِ الأَعْمَالِ فَيَنْبَغِى أَنْ لاَ يَتَّكِلَ عَلَى شَرَفِ النَّسَبِ وَفَضِيْلَةِ الآبَاءِ وَيُقَصِّرُ فِى الْعَمَلِ</p>
<p>&#8220;Makna hadits ini yaitu barang siapa yang amalnya kurang maka nasabnya tidak akan membuatnya sampai pada kedudukan orang-orang yang beramal, maka seyogyanya agar ia tidak bersandar kepada kemuliaan nasabnya dan keutamaan leluhurnya lalu kurang dalam beramal&#8221; (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 17/22-23)</p>
<p>Ibnu Rojab Al-Hanbali berkata :</p>
<p>فَمَنْ أَبْطَأَ بِهِ عَمَلُهُ أَنْ يَبْلُغَ بِهِ الْمَنَازِلَ الْعَالِيَةَ عِنْدَ اللهِ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ فَيُبَلِّغُهُ تِلْكَ الدَّرَجَاتِ، فَإِنَّ الله تَعَالَى رَتَّبَ الْجَزَاءَ عَلَى الأَعْمَالِ لاَ عَلَى الأَنْسَابِ كَمَا قَالَ تَعَالَى فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّوْرِ فَلاَ أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلاَ يَتَسَاءَلُوْنَ</p>
<p>&#8220;Barangsiapa yang amalnya lambat dalam mencapai derajat yang tinggi di sisi Allah maka nasabnya tidak akan mempercepat dia untuk mencapai derajat yang tinggi tersebut. <strong>Karena Allah memberi ganjaran/balasan atas amalan dan bukan atas nasab </strong>sebagaimana firman Allah</p>
<p>فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلا يَتَسَاءَلُونَ (١٠١)</p>
<p><em>&#8220;Apabila sangkakala ditiup Maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya&#8221; </em>(QS Al-Mukminun : 101)&#8221; (Jaami al-&#8217;Uluum wa al-Hikam hal 652)</p>
<p>Ibnu Rojab berkata selanjutnya:</p>
<p>&#8220;Dan dalam Musnad (*Ahmad) dari Mu&#8217;adz bin Jabal bahwasanya Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tatkala mengutus beliau ke negeri Yaman maka Nabi keluar bersama beliau sambil memberi wasiat kepada beliau, lalu Nabi berpaling dan menghadap ke kota Madinah dengan wajahnya dan berkata :</p>
<p>إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِي الْمُتَّقُوْنَ، مَنْ كَانُوْا حَيْثُ كَانُوْا</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya orang-orang yang paling dekat dengan aku adalah orang-orang yang bertakwa, siapa saja mereka dan di mana saja mereka&#8221;</em> (*HR Ahmad no 22052)</p>
<p>Dan At-Thobroni mengeluarkan hadits ini dengan tambahan :</p>
<p>إِنَّ أَهْلَ بَيْتِي هَؤُلاَءِ يَرَوْنَ أَنَّهُمْ أَوْلَى النَّاسِ بِي وَلَيْسَ كَذَلِكَ، إِنَّ أَوْلِيَائِي مِنْكُمُ الْمُتَّقُوْنَ مَنْ كَانُوْا وَحَيْثُ كَانُوْا<br />
<em><br />
<strong>&#8220;Sesungguhnya Ahlul Bait mereka memandang bahwasanya mereka adalah orang yang paling dekat denganku, dan perkaranya tidak demikian</strong>, sesungguhnya para wali-waliku dari kalian <strong>adalah orang-orang yang bertakwa, siapapun mereka </strong>dan di manapun mereka&#8221;</em> (*HR At-Thobroni 20/120 dan Ibnu Hibbaan dalam shahihnya no 647. Al-Haitsaimy dalam Majma&#8217; Az-Zawaid (10/400) berkata : Isnadnya jayyid (baik), demikian juga Syu&#8217;aib Al-Arnauuth berkata : Isnadnya kuat)</p>
<p>Dan semua ini didukung oleh sebuah hadits yang terdapat di Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari &#8216;Amr bin Al-&#8217;Aash bahwasanya beliau mendengar Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p>إِنَّ آلَ أَبِي فُلاَنٍ لَيْسُوْا لِي بِأَوْلِيَاءِ وَإِنَّمَا وَلِيِّي اللهُ وَصَالِحُو الْمُؤْمِنِيْنَ</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya keluarga ayahku –yaitu si fulan- bukanlah para waliku, dan hanyalah para waliku adalah Allah, dan orang-orang mukmin yang sholih&#8221; </em>(*HR Al-Bukhari no 5990 dan Muslim no 215)</p>
<p>Rasulullah memberi isyarat bahwa walaa&#8217; kepada beliau tidak diperoleh dengan nasab meskipun dekat nasabnya, akan tetapi diperoleh dengan keimanan dan amalan sholeh. Maka barangsiapa yang imannya dan amalannya semakin sempurna maka walaa&#8217;nya semakin besar kepada Nabi, sama saja apakah ia memiliki nasab yang dekat dengan Nabi ataukah tidak. Dan dalam penjelasan ini seorang (penyair) berkata :</p>
<p>لعمرُك ما الإنسانُ إلَّا بِدِيْنِهِ              فَلاَ تَتْرُكِ التَّقْوَى اتِّكالاً عَلَى النَّسَبِ</p>
<p>لَقَدْ رَفَعَ الإِسْلاَمُ سَلْمَانَ فَارِسٍ            وَقَدْ وَضَعَ الشِّرْكُ النَّسِيبَ أبا لَهَبِ</p>
<p><em>&#8220;Tidaklah seseorang (bernilai) kecuali dengan agamanya</p>
<p>Maka janganlah engkau meninggalkan ketakwaan dan bersandar kepada nasab</p>
<p>Sungguh Islam telah mengangkat Salman Al-Farisi (*yang bukan orang arab)</p>
<p>Dan kesyirikan telah merendahkan orang yang bernasab tinggi si Abu Lahab&#8221;.</em></p>
<p>(Demikian perkataan ibnu Rojab, Jaami&#8217; al-&#8217;Uluum wa al-Hikam, hal 653-654, Syarah hadits ke 36)</p>
<p>Al-Imam An-Nawawi mengomentari hadits di atas:</p>
<p>ومعناه إِنما وليي من كان صالحا وإِن بَعُدَ نَسَبُه مِنِّي وليس وليي من كان غير صالح وان كان نسبه قريبا</p>
<p>&#8220;Dan maknanya adalah : Yang menjadi Waliku hanyalah orang yang sholeh meskipun nasabnya jauh dariku, dan tidaklah termasuk waliku orang yang tidak sholih meskipun nasabnya dekat&#8221; (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 3/87)</p>
<p>Sungguh sangat menyedihkan ternyata di tanah air Indonesia ada sebagian Ahlul Bait yang menjadi pendukung bid&#8217;ah dan aqidah yang menyimpang. Sehingga sebagian masyarakat muslim Indonesia langsung tertarik dengan dakwah yang diserukannya. Bahkan sebagian masyarakat Indonesia menyangka bahwa apa saja yang dibawa dan didakwahkan olehnya itulah kebenaran.</p>
<p>Padahal di sana masih banyak Ahlul Bait (para Habib) yang menyeru kepada sunnah Nabi dan memerangi bid&#8217;ah.</p>
<p>Oleh karenanya pada artikel ini saya ingin menjelaskan kepada para pembaca bahwasanya para habib bukan hanya mereka-mereka yang menyeru pada acara bid&#8217;ah (habib-habib sufi) atau mereka-mereka yang menyeru kepada kekufuran (seperti habib-habib syi&#8217;ah rofidhoh) akan tetapi masih banyak habib-habib yang menyeru kepada tauhid dan sunnah serta memerangi kesyirikan dan bid&#8217;ah.</p>
<p><strong>HABIB-HABIB MENOLAK MAULID</strong></p>
<p>Berikut ini nasehat yang datang dari lubuk hati yang paling dalam yang ditulis oleh para habib wahabi kepada para habib yang gemar melaksanakan perayaan maulid Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam:</p>
<p>&#8220;Segala puji bagi Allah penguasa alam semesta, Yang Maha pemberi petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari para hambaNya kepada jalan yang lurus. Sholawat dan salam tercurahkan kepada manusia tersuci yang telah diutus sebagai rahmat untuk alam dan juga tercurahkan kepada keluarganya  serta seluruh para sahabatnya.</p>
<p>Kemudian daripada itu, di antara <strong>Prinsip-prinsip yang agung </strong>yang berpadu di atasnya hati-hati para ulama dan kaum Mukminin adalah <strong>meyakini (mengimani) bahwa petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah petunjuk yang paling sempurna, dan syari’at yang beliau bawa adalah syari’at yang paling sempurna</strong>, Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p>الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا (٣)</p>
<p><em>Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu. </em>(QS. Al maidah:3)</p>
<p>Dan meyakini (mengimani) bahwa mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan agama yang dipanuti oleh seorang muslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:</p>
<p><em>Tidak sempurna iman salah seorang di antara kamu sehingga aku lebih dia cintai dari ayahnya, anaknya, dan semua manusia. </em>(HR. al-Bukhari &amp; Muslim)</p>
<p>Beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam adalah penutup para nabi, Imam orang-orang yang bertaqwa, Pemimpin anak-cucu Adam, Imam Para Nabi jika mereka dikumpulkan, dan Khatib mereka jika mereka diutus, si Pemilik al-Maqoom al-Mahmuud dan Telaga yang akan dihampiri, Pemilik bendera pujian, pemberi syafa’at manusia pada hari kiamat, Pemilik al-Washiilah dan al-Fadhiilah. Allah telah mengutusnya dengan membawa kitab suci yang terbaik, dan Allah telah memberikan kepadanya syari&#8217;at yang terbaik, dan Allah menjadikan umatnya sebagai umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p>لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا (٢١)</p>
<p><em>Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. </em>(QS. al-Ahzab: 21)</p>
<p>Dan di antara kecintaan kepada beliau adalah mencintai keluarga beliau (Ahlul Bait), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:</p>
<p>Aku mengingatkan kalian kepada Allah pada Ahlu Bait (keluarga)ku. (HR. Muslim).</p>
<p>Maka <strong>wajib bagi keluarga Rasulullah (Ahlul Bait) untuk menjadi orang yang paling yang mulia dalam mengikuti Sunnah Beliau </strong>Shallallahu ‘alaihi wasallam, paling meneladani petunjuknya, dan wajib atas mereka untuk merealisasikan cinta yang sebenarnya (terhadap beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, red.), serta menjadi manusia yang paling menjauhi hawa nafsu. Karena Syari’at datang untuk menyelisihi penyeru hawa nafsu, Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p>فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (٦٥)</p>
<p><em>Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. </em>(QS. An-Nisa’: 65)</p>
<p>Kecintaan yang hakiki pastilah akan malazimkan Ittiba’ yang benar. Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p>قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (٣١)</p>
<p>Katakanlah:”Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali ‘Imran: 31)</p>
<p><em>Seseorang bukan hanya sekedar berafiliasi kepada beliau secara nasab sudah cukup untuk menjadikannya sesuai dengan kebenaran dalam segala perkara yang tidak mungkin untuk disalahkan atau berpaling darinya.</em></p>
<p>Dan di antara fenomena yang menyakitkan hati seseorang yang diterangi oleh Allah Ta’ala pandangannya dengan cahaya ilmu, dan mengisi hatinya dengan cinta dan kasih sayang kepada keluarga NabiNya (ahlul bait), khususya jika dia termasuk Ahlul Bait, dari keturunan beliau yang mulia : Adalah terlibatnya sebagian anak-cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia (Ahlul Bait/Habaib) dalam berbagai macam penyimpangan syari’at, dan pengagungan mereka terhadap syi’ar-syi’ar yang tidak pernah dibawa oleh al-Habib al-Mushtafa Shallallahu ‘alaihi wasallam.</p>
<p>Dan di antara syi’ar-syi’ar yang diagungkan yang tidak berdasarkan petunjuk moyang kami Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut adalah <strong>bid’ah peringatan Maulid Nabi </strong>dengan dalih cinta. Dan ini merupakan sebuah penyimpangan terhadap prinsip yang agung ini (*yaitu sempurnanya syari&#8217;at dan petunjuk Nabi), dan tidak sesuai dengan Maqasidu asy-Syari&#8217;at yang suci yang telah menjadikan <strong>ittiba’ (mengikuti) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai standar utama yang dijadikan rujukan oleh seluruh manusia dalam segala sikap dan perbuatan (ibadah) mereka.</strong></p>
<p>Karena kecintaan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengharuskan <strong>ittiba’ (mengikuti) </strong>beliau Shallalllahu ‘alaihi wasallam secara lahir dan batin. Dan tidak ada pertentangan antara mencintai beliau dengan mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan ittiba’ (mengikuti) beliau merupakan landasan kecintaan kepadanya. Dan orang-orang yang mengikuti beliau secara benar (Ahlul ittiba’) adalah mereka yang meneladani <strong>sunnahnya</strong>, menapak tilas petunjuknya, membaca sirah (perjalanan hidup)nya, mengharumi majelis-majelis mereka dengan pujian-pujian terhadapnya tanpa membatasi pada hari tertentu, dan tanpa sikap berlebihan dalam menyifatinya serta menentukan tata cara yang tidak berdasar dalam syari’at Islam.</p>
<p>Dan di antara yang membuat perayaan tersebut sangat jauh dari petunjuk Nabi adalah sikap berlebih-lebihan (pengkultusan) kepada beliau dengan perkara-perkara yang beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri tidak mengizinkannya dan tidak meridho dengan hal itu. Sebagian sikap berlebih-lebihan tersebut dibangun di atas Hadits-hadits yang bathil dan aqidah-aqidah yang rusak. Telah valid dari Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wasallam pengingkaran terhadap sikap-sikap yang berlebihan seperti ini, dengan sabdanya:</p>
<p><em>Janganlah kalian berlebih-lebihan kepadaku seperti orang-orang nasrani yang berlebih-lebihan terhadap putra maryam. </em>(HR. al-Bukhari)</p>
<p>Maka bagaimana dengan faktanya, sebagian majelis dan puji-pujian dipenuhi dengan lafazh-lafazh bid’ah, dan istighatsah-istighatsah syirik.</p>
<p><strong>Dan perayaan Maulid Nabi merupakan amalan/perbuatan yang tidak pernah dilakukan dan diperintahkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak pernah pula dilakukan oleh seorangpun dari kalangan Ahlul Bait yang mulia, seperti ‘Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husein, Ali Zainal Abidin, Ja’far ash-Shadiq, serta tidak pernah pula diamalkan oleh para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam –Radhiyallahu ‘anhum ajma’in—begitu pula tidak pernah diamalkan oleh seorang pun dari para tabi’in dan para pengikut tabi&#8217;in, dan tidak pula Imam Madzhab yang empat, serta tidak seorangpun dari kaum muslimin pada periode-periode pertama yang dimuliakan.</strong></p>
<p>Jika ini tidak dikatakan bid’ah, lalu apa bid’ah itu sebenarnya? Dan Bagaimana pula apabila mereka bersenandung dengan memainkan rebana?, dan terkadang dilakukan di dalam masjid-masjid? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan -tentang acara seperti ini dan yang semisalnya-  suatu perkataan sebagai pemutus yang tidak ada pengecualian di dalamnya: <em>&#8220;Semua bid’ah itu sesat&#8221;. </em>(HR. Muslim).</p>
<p>Wahai Tuan-tuan Yang terhormat! Wahai sebaik-baiknya keturunan di muka bumi, sesungguhnya kemulian Asal usul dan nasab merupakan kemulian yang diikuti dengan taklif (pembebanan), yakni melaksanakan sunnah Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan berusaha untuk menyempurnakan amanahnya setelah sepeninggalnya, dengan menjaga agama, menyebarkan dakwah yang dibawanya.</p>
<p>Dan sikap seseorang yang mengikuti apa yang tidak dibolehkan oleh syari’at tidak mendatangkan kebenaran sedikitpun, dan merupakan amalan yang ditolak oleh Allah Ta’ala, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:</p>
<p><em>Barangsiapa mengada-adakan sesuatu yang baru di dalam urusan (agama) kami ini yang bukan termasuk di dalamnya, maka ia tertolak.</em> (HR. al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Waspadalah dan bertakwalah kalian kepada Allah, wahai para Ahlu bait Nabi!, Jangan kalian diperdayakan oleh kesalahan orang yang melakukan kesalahan, dan kesesatan orang yang sesat, sehingga kalian menjadi para pemimpin di luar garis petunjuk! Demi Allah, tidak seorangpun di muka bumi ini lebih kami inginkan untuk mendapatkan hidayah daripada kalian, karena kedekatan kekerabatan kalian dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.</p>
<p>Ini merupakan seruan dari hati-hati yang mencintai dan menginginkan kebaikan bagi kalian, dan menyeru kalian untuk selalu mengikuti sunnah leluhur kalian (*Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam) dengan meninggalkan bid’ah maulid ini dan seluruh amalan yang tidak diketahui oleh seseorang dengan yakin bahwa itu merupakan sunnah dan agama yang dibawanya, maka bersegeralah dan bersegeralah, Karena : <em>Barang siapa yang lambat dalam amalnya, niscaya nasabnya tidak akan mempercepat amalnya tersebut. </em>(HR. Muslim).</p>
<p>Yang menanda tangani risalah di atas yaitu:</p>
<p>1. Habib Syaikh Abu Bakar bin Haddar al-Haddar (Ketua Yayasan Sosial Adhdhamir al-Khairiyah di Tariim)</p>
<p>2. Habib Syaikh Aiman bin Salim al-&#8217;Aththos (Guru Ilmu Syari’ah di SMP dan Khatib di Abu ‘Uraisy)</p>
<p>3. Habib Syaikh Hasan bin Ali al-Bar (Dosen Kebudayaan Islam Fakultas Teknologi di Damam dan Imam serta khatib di Zhahran.</p>
<p>4. Habib Syaikh Husain bin Alawi al-Habsyi (Bendahara Umum ‘Muntada al-Ghail ats-Tsaqafi al-Ijtima’I di Ghail Bawazir)</p>
<p>5. Habib Syaikh Shalih bin Bukhait Maula ad-Duwailah (Pembimbing al-Maktab at-Ta’awuni Li ad-Da’wah wal Irsyad wa Taujih al-Jaliyat, dan Imam serta Khatib di Kharj).</p>
<p>6. Habib Syaikh Abdullah bin Faishal al-Ahdal (Ketua Yayasan ar-Rahmah al-Khairiyah, dan Imam serta Khatib Jami’ ar-Rahmah di Syahr).</p>
<p>7. Habib Syaikh DR. ‘Ishom bin Hasyim al-Jufri (Ustadz Musaa&#8217;id Fakultas Syari’ah Jurusan Ekonomi Islam di Universitas Ummu al-Qurra’, Imam dan Khotib di Mekkah).</p>
<p>8. Habib Syaikh ‘Alawi bin Abdul Qadir as-Segaf (Pembina Umum Mauqi’ ad-Durar )</p>
<p>9. Habib Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Maqdi (Pembina Umum Mauqi’ ash-Shufiyah, Imam dan Khotib di Damam).</p>
<p>10. Habib Syaikh Muhammad bin Muhsi al-Baiti (Ketua Yayasan al-Fajri al-Khoiriyah, Imam dan Khotib Jami’ ar-Rahman di al-Mukala).</p>
<p>11. Habib Syaikh Muhammad Sami bin Abdullah Syihab (Dosen di LIPIA Jakarta)</p>
<p>12. Habib Syaikh DR. Hasyim bin ‘Ali al-Ahdal (Prof di Universitas Ummul Qurra’ di Mekkah al-Mukarramah Pondok Ta’limu al-Lughah al-‘Arabiyah Li Ghairi an-Nathiqin Biha)</p>
<p>Sumber: (http://www.islammemo.cc/akhbar/arab/2009/03/08/78397.html), atau di (http://www.islamfeqh.com/News/NewsItem.aspx?NewsItemID=1002), atau di (http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=164925), atau di</p>
<p>Sepak Terjang Para Habib Memberantas Syirik dan Bid&#8217;ah</p>
<p>Untuk lebih mengenal sepak terjang para Habib wahabi yang getol membela sunnah leluhur mereka dan memerangi bid&#8217;ah yang tidak pernah diajarkan oleh leluhur mereka, maka kami sangat berharap kepada para pembaca sekalian untuk mengunjungi website-website berikut ini:</p>
<p><strong>Pertama :<a href="http://firanda.com/Pertama%20:%20www.dorar.net" target="_blank"> www.dorar.net</a></strong> , sebuah website yang dimiliki dan dikelola oleh <strong>Habib &#8216;Alawi bin &#8216;Abdil Qoodir As-Saqqoof</strong>. Dalam web ini para pembaca bisa melihat sepak terjang beliau dalam berdakwah di atas manhaj salaf dan memberantas bid&#8217;ah.</p>
<p>Bahkan dalam website beliau ada penjelasan tentang bahwa nasab As-Syaikh Abdul Qoodir Al-Jailaani dan juga As-Syaikh Ahmad Ar-Rifaa&#8217;i bukanlah termasuk Ahlul Bait. Karena dalam rangka melariskan pemahaman yang sesat maka kaum sufi menisbahkan kedua Syaikh ini kepada Ahlul Bait. (silahkan lihat : http://www.dorar.net/enc/firq/2400)</p>
<p><strong>Kedua : www.alsoufia.com</strong>, website ini dimiliki dan dikelola Habib Muhammad bin Abdillah Al-Maqdiy. Dalam web ini sangat nampak bagaimana usaha Habib Muhammad Al-Maqdy untuk membantah bid&#8217;ah sufi.</p>
<p><strong>Ketiga : alalbayt.com</strong>, dalam web ini juga para pembaca yang budiman bisa melihat betapa banyak Ahlul Bait yang berjuang membela sunnah leluhur mereka dan memberantas ajaran baru (bid&#8217;ah) yang tidak pernah dilakukan oleh leluhur mereka. Bahkan para pembaca akan dapati bagaimana Ahlul Bait wahabi membantah Ahlul Bait Sufi dan Ahlul Bait Syi&#8217;ah</p>
<p>Demikian juga kami sangat berharap para pembaca untuk menelaah kitab-kitab berikut yang ditulis oleh para habib wahabi untuk membantah para habib sufi.</p>
<p><strong>Pertama </strong>: kitab  نسيم حاجر في تأكيد قولي عن مذهب المهاجر, karya Mufti Hadromaut Habib Al-&#8217;Allaamah Abdurrohman bin Abdillah As-Saqqoof (wafat tahun 1375 H), yang kitab ini sungguh menggoncang para sufi di kita Hadromaut di Yaman. Silahkan mendownloadnya di (http://www.soufia-h.com/soufia-h/book/naseem-hajer.rar). Adapun resensi buku ini bisa dilihat di (http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=171629)</p>
<p><strong>Kedua </strong>: Kitab  التصوف بين التمكين والمواجهة, karya Habib Muhammad bin Abdillah Al-Maqdi. Silahkan mendownload kitab tersebut di (http://d1.islamhouse.com/data/ar/ih_books/single3/ar_altasouf_bain_altamkeen.pdf),</p>
<p><strong>Ketiga </strong>: Kitab   إلى أين أيها الحبيب الجفري؟, ini adalah kitab karya Habib Doktor Kholduun Makkiy Al-Hasaniy yang disusun untuk membantah Habib Ali Al-Jufri. Kitab ini sangat penting dan memiliki keterkaitan dengan Habib Munzir. Karena Habib Ali Al-Jufri dan Habib Munzir sama-sama berguru kepada guru yang sama yaitu <strong>Habib Umar bin Hafiizh, yang Habib Umar bin Hafiiz inilah yang pernah dihadirkan oleh Habib Munzir di Jakarta dan digelari sebagai Al-Musnid.</strong></p>
<p>Habib Umar bin Hafiz inilah yang memberi kata pengantar bagi kitab Muridnya Habib Al-Jufri yang berjudul معالم السلوك للمرأة المسلمة yang telah dibantah oleh Habib Doktor Kholduun Makky Al-Hasaniy.</p>
<p>Habib Doktor Kholduun Makky Al-Hasaniy berkata di pengantar kitabnya tersebut :</p>
<p>&#8220;Dan gurunya Habib Umar bin Hafiizh telah memberikan kata pengantar terhadap buku ini, ia telah memuji kitab dan penulisnya (Habib Ali Al-Jufri) dengan pujian yang sangat tinggi. Bahkan sang guru telah menyifati buku tersebut dengan menyatakan bahwa buku tersebut adalah nafas-nafas (tulisan-tulisan) yang penuh keberkahan dan peringatan-peringatan yang mulia… telah dialirkan oleh Allah pada lisan Habib Al-Jufriy. Dan sang guru telah memuji Allah atas dimudahkannya dicetaknya kitab ini.</p>
<p>Jadi kitab ini adalah karya As-Syaikh Habib Al-Jufry dan telah diberkahi dan diberi pengantar oleh gurunya Habib Umar bin Hafiizh. Dengan demikian maka Habib Al-Jufry bertanggung jawab atas perkara-perkara yang ia tuliskan dalam buku ini&#8221; (lihat kitab Ila aina Ayyuhal Habiib Al-Jufriy hal 17).</p>
<p>Silahkan mendownload kitab ini di (http://www.4shared.com/document/bw_ToTWs/____.html)</p>
<p>Habib Al-Jufri ini memiliki kesalahan-kesalahan fatal dalam masalah aqidah, bukan di sini perinciannya. Akan tetapi sekedar untuk wawasan maka silahkan lihat (http://www.youtube.com/watch?v=wPSbtto9wmM&amp;feature=related).</p>
<p>Dan lihat cara ibadahnya (http://www.youtube.com/watch?v=EhO2OfBFZns&amp;feature=related)</p>
<p>Dan Al-Jufriy ini juga suka mencela para ulama wahabi dan merendahkan mereka, sama seperti teman sejawatnya Habib Munzir. Silahkan lihat (http://www.youtube.com/watch?v=WBLWOOCJRrg).</p>
<p><strong>Penutup : Mendoakan para habib :</strong></p>
<p>Harapan besar senantiasa kita gantungkan kepada Allah agar para habib syi&#8217;ah atau sufi mau menerima nasehat yang disampaikan oleh para habib Wahabi. Sungguh betapa bahagia tatkala kita mendapati para habib mendakwahkan warisan leluhur mereka yaitu sunnah-sunnah Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan meninggalkan peribadatan bid&#8217;ah yang tidak pernah dikerjakan oleh leluhur mereka…</p>
<p>Dengan nama-nama Allah yang Husna dan sifat-sifat-Nya yang ‘Ulya, semoga Allah mewafatkan kita dan seluruh kaum Muslim di dalam agama Islam yang di bawa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.</p>
<p>Semoga Allah Ta’ala selalu memberikan hidayah dan petunjuk-Nya kepada kita dan kaum muslim serta  terkhusus kepada para Habib sehingga menjadi panutan yang menuntun umat kepada jalan Allah yang lurus dan bukan menuntun kepada jalan kesesatan dan kekafiran. Allahumma aamiin…</p>
<p>Sungguh indah untaian do&#8217;a Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tatkala beliau membuka sholat malam beliau</p>
<p>اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ اهْدِنِى لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ أَنْتَ تَهْدِى مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ</p>
<p>&#8220;Yaa Allah, Robny malaikat Jibri&#8217;, Mikail, dan Isroofiil, Pencipta langit dan bumi, Yang Maha mengetahui yang gaib maupun yang nampak…sesungguhnya Engkau yang menjadi Hakim diantara hamba-hambaMu pada perkara yang mereka perselisihkan…berilah aku petunjuk dengan idzinMu kepada kebenaran dari apa yang diperselisihkan…Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk bagi siapa saja yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus&#8221;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kota Nabi -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam-, 27-12-1432 H / 23 November2011 M</p>
<p>Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja</p>
<p>www.firanda.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bantahansalafytobat.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bantahansalafytobat.wordpress.com/412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bantahansalafytobat.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bantahansalafytobat.wordpress.com/412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bantahansalafytobat.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bantahansalafytobat.wordpress.com/412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bantahansalafytobat.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bantahansalafytobat.wordpress.com/412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bantahansalafytobat.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bantahansalafytobat.wordpress.com/412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bantahansalafytobat.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bantahansalafytobat.wordpress.com/412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bantahansalafytobat.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bantahansalafytobat.wordpress.com/412/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bantahansalafytobat.wordpress.com&amp;blog=16552009&amp;post=412&amp;subd=bantahansalafytobat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bantahansalafytobat.wordpress.com/2011/11/26/nasehat-habib-habib-wahabi-kepada-habib-habib-sufi-syiah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ea85548627490456d5731e02afd96799?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bantahansalafytobat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bantahansalafytobat.files.wordpress.com/2011/11/rasulullah1.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">ahlul bait</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
