Oleh: bantahansalafytobat | November 19, 2010

BANTAHAN 14 : HADITS / ATSAR LEMAH DAN PALSU TENTANG TAWASSUL (II)


hadits tawasul

Alhamdulillah, segenap puji hanya untuk Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Semoga sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada teladan kita yang mulya, Nabi Muhammad shollallaahu ‘alaihi wasallam, keluarga, para Sahabat serta orang-orang yang senantiasa mengikuti Sunnah beliau.
Saudaraku kaum muslimin….
Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya yang membahas hadits-hadits dan atsar lemah yang sering digunakan hujjah oleh penentang dakwah Ahlussunnah. Pada tulisan sebelumnya, telah dipaparkan kelemahan-kelemahan riwayat sampai pada syubhat yang ke-6. Bantahan ini ditulis untuk blog penentang dakwah Ahlussunnah yang menurunkan tulisan-tulisan berjudul :
–    Tawassul / Istighatsah (4); Hadis-Hadis tentang Legalitas Tawassul / Istighotsah
–    Tawassul / Istighatsah (5); Prilaku Salaf Saleh Penguat Legalitas Tawassul / Istighotsah
–    Kesesatan Paham yang Menafikan Tawassul
Silakan disimak kajian berikut ini, semoga Allah memberikan hidayahNya kepada kita semua…

(Untuk selanjutnya, kutipan di antara tanda “[[ ………]]”  adalah isi tulisan dari blog penentang Ahlussunnah)

Syubhat ke-7 : Persetujuan Ali bin Abi Thalib terhadap Perbuatan Seorang Arab Badui di Makam Nabi

Disebutkan dalam blog penentang dakwah Ahlussunnah :

[[

Berkata al-Hafidz Abu Abdillah Muhammad bin Musa an-Nukmani dalam karyanya yang berjudul “Mishbah adz-Dzolam”; Sesungguhnya al-Hafidz Abu Said as-Sam’ani menyebutkan satu riwayat yang pernah kami nukil darinya yang bermula dari Khalifah Ali bin Abi Thalib yang pernah mengisahkan: “Telah datang kepada kami seorang badui setelah tiga hari kita mengebumikan Rasulullah. Kemudian ia menjatuhkan dirinya ke pusara Rasul dan membalurkan tanah (kuburan) di atas kepalanya seraya berkata: Wahai Rasulullah, engkau telah menyeru dan kami telah mendengar seruanmu. Engkau telah mengingat Allah dan kami telah mengingatmu. Dan telah turun ayat; “Sesungguhnya Jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS an-Nisa: 64) dan aku telah menzalimi diriku sendiri. Dan aku mendatangimu agar engkau memintakan ampun untukku. Lantas terdengar seruan dari dalam kubur: Sesungguhnya Dia (Allah) telah mengampunimu”. (Lihat: Kitab “Wafa’ al-Wafa’” karya as-Samhudi 2/1361)
Dari riwayat di atas menjelaskan bahwa; bertawassul kepada Rasulullah pasca wafat beliau adalah hal yang legal dan tidak tergolong syirik atau bid’ah. Bagaimana tidak? Sewaktu prilaku dan ungkapan tawassul / istighotsah itu disampaikan oleh si Badui di pusara Rasul -dengan memeluk dan melumuri kepalanya dengan tanah pusara- yang di tujukan kepada Rasul yang sudah dikebumikan, hal itu berlangsung di hadapan Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib. Dan khalifah Ali sama sekali tidak menegurnya, padahal beliau adalah salah satu sahabat terkemuka Rasulullah yang memiliki keilmuan yang sangat tinggi dimana Rasulullah pernah bersabda berkaitan dengan Ali bin Abi Thalib KW:

– “Ali bersama kebenaran dan kebenaran bersama Ali” (Lihat: Kitab “Tarikh Baghdad” karya Khatib al-Baghdadi 14/321, dan dengan kandungan yang sama bisa dilihat dalam kitab “Shohih at-Turmudzi” 2/298)
– “Ali bersama al-Quran dan al-Quran bersama Ali, keduanya tidak akan pernah terpisah hingga hari kebangkitan” (Lihat: Kitab “Mustadrak as-Shohihain” karya al-Hakim an-Naisaburi 3/124)
– “Aku (Rasul) adalah kota ilmu dan Ali adalah pintu gerbangnya. Barangsiapa menghendaki (masuk) kota maka hendaknya melalui pintu gerbangnya” (Lihat: Kitab “Mustadrak as-Shohihain” 3/126)
– “Engkau (Ali) adalah penjelas kepada umatku tentang apa-apa yang mereka selisihkan setelah (kematian)-ku” (Lihat: Kitab Mustadrak as-Shohihain” 3/122)

]]

Bantahan :

Atsar tersebut lafadz aslinya adalah sebagai berikut :
قدم علينا أعرابي بعدما دفنا رسول الله – صلى الله عليه وسلم – بثلاثة أيام فرمى بنفسه إلى قبر النبي – صلى الله عليه وسلم – وحثا على رأسه من ترابه ، وقال : يا رسول الله قلت فسمعنا قولك ، ووعيت عن الله عز وجل فما وعينا عنك ، وكان فيما أنزل الله عليك {ولو أنهم إذ ظلموا أنفسهم جاءوك فاستغفروا الله واستغفر لهم الرسول لوجدوا الله توابا رحيما} وقد ظلمت نفسي وجئتك تستغفر لي فنودي من القبر إنه قد غفر لك
Kajian terhadap sanad atsar :

Al-Hafidz Muhammad bin Ahmad bin Abdil Hadi menyebutkan sanad atsar ini di dalam kitab As-Shoorimul Munkiy halaman 363-364:
روى أبو الحسن علي بن إبراهيم بن عبد الله بن عبد الرحمن الكرخي عن علي بن محمد بن علي ثنا أحمد بن محمد بن الهيثم الطائي ثنا أبي عن أبيه عن سلمة بن كهيل عن أبي صادق عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه
Abul Hasan Ali bin Ibrohim bin Abdillah bin Abdirrohman al-Karkhy meriwayatkan dari Ali bin Muhammad bin Ali (ia berkata ) telah mengkhabarkan kepada kami Ahmad bin Muhammad al-Haitsam at-Tho-i (ia berkata) telah mengkhabarkan kepada kami ayahku dari ayahnya dari Salamah bin Kuhail dari Abu Shodiq dari Ali bin Abi Tholib radliyallaahu ‘anhu.
Sebelum kita menyimak sedikit penjelasan dari al-Hafidz Muhammad bin Ahmad bin Abdil Hadi (yang lebih dikenal sebagai Ibnu Abdil Hadi) tentang sanad atsar tersebut, ada baiknya kita mengenal siapakah al-Hafidz Ibnu Abdil Hadi agar kita mengetahui kadar keilmuan beliau.
Al- Imam As-Suyuthy menyebutkan tentang biografi beliau dalam kitabnya Thobaqootul Huffadz dalam bab at-Thobaqoh al-Haadiyah wal ‘Isyruun juz 1 halaman 109. As-Suyuthy menyatakan tentang beliau sebagai al-Imam, al-Muhaddits (ahlul hadits), al-Hafidz, al-Faqiih (ahli fiqh), dan gelar pujian yang lain. Setelah itu disebutkan bahwa Ibnu Abdil Hadi  adalah termasuk murid Ibnu Taimiyyah yang mahir dalam fiqh, al-Ushul, dan bahasa Arab. Kemudian beliau menukil pujian – pujian Ulama’ lain terhadapnya, di antaranya adalah ahli tafsir terkenal Ibnu Katsir yang menyatakan :
كان حافظاً علامة ناقداً حصل من العلوم ما لا يبلغه الشيوخ ولا الكبار وبرع في الفنون وكان جبلا في العلل والطرق والرجال حسن الفهم جداً صحيح الذهن
“ Beliau adalah seorang hafidz, Allaamah (seorang yang sangat ‘alim), Naaqid (pengkritik derajat hadits), tercapai padanya ilmu-ilmu yang tidak bisa dijangkau para Syaikh dan Ulama’ yang besar, dan mahir dalam bidang-bidang (ilmu), beliau adalah (bagaikan) gunung dalam masalah ‘ilal (cacat-cacat pada hadits), dan jalan-jalan (periwayatan hadits), dan perawi-perawi (hadits). Beliau memiliki pemahaman yang sangat baik dan pemikiran yang shahih”
AlHafidz al-Mizzi –salah seorang guru Ibnu Katsir-mengatakan :
ما لقيته إلا واستفدت منه
“ tidaklah aku bertemu dengannya kecuali aku mendapatkan faedah darinya”
As-Suyuuthy menyatakan bahwa ucapan al-Mizzi tersebut juga diucapkan oleh al-Hafidz Adz-Dzahaby. (Para pembaca, al-Hafidz Adz-Dzahaby adalah salah seorang murid Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Pada saat awal menuntut ilmu hadits, al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqolaany bercita-cita dan berkeinginan besar ingin seperti Adz-Dzahaby, sehingga jika beliau minum air zam-zam juga berdoa kepada Allah agar dikaruniai keilmuan seperti al-Hafidz Adz-Dzahaby).
Kita kembali pada penjelasan al-Hafidz Ibnu Abdil Hadi tentang atsar ‘Ali bin Abi Tholib tersebut….
Setelah menyebutkan sanadnya, beliau menyebutkan sisi kelemahan yang ada pada atsar tersebut. Di dalam sanad tersebut dinyatakan bahwa Ahmad bin Muhammad alHaitsam at-Tho-i mendengar dari ayahnya, dan ayahnya mendengar dari ayahnya lagi (kakek Ahmad bin Muhammad al-Haitsam).  Al-Hafidz Ibnu Abdil Hadi  menyoroti perawi kakek dari Ahmad bin Muhammad al-Haitsam at-Tho-i:
والهيثم جد أحمد بن الهيثم أظنه ابن عدي الطائي ، فإن يكن هو ، فهو متروك كذاب ، وإلا فهو مجهول
“ dan al-Haitsam kakek Ahmad bin al-Haitsam, aku mengira ia adalah Ibnu ‘Adi at-Tho-i, kalau memang ia adalah orangnya, maka dia adalah matruk (ditinggalkan), dan pendusta. Jika bukan, maka ia adalah majhul (tidak dikenal).
Selanjutnya, al-Hafidz Ibnu Abdil Hadi menyebutkan keterangan para Ulama’ tentang al-Haitsam bin ‘Adi, di antaranya :
Yahya bin Ma’in menyatakan tentangnya: dia tidaklah terpercaya dan pendusta. Abu Dawud juga menyatakan bahwa dia adalah pendusta (Lihat kitab at-Taarikh karya Ibnu Ma’in no 1767).
Selain itu, dalam sanad atsar tersebut dinyatakan bahwa yang meriwayatkan dari ‘Ali adalah Abu Shodiq. Dalam kitab al-Jarh wat Ta’dil karya Ibnu Abi Haatim juz 8 halaman 199 no 875 disebutkan bahwa Abu Shodiq tersebut namanya adalah Muslim bin Yazid, ada juga yang menyatakan bahwa namanya adalah Abdullah bin Najidz. Dia meriwayatkan hadits dari ‘Ali secara mursal, maksudnya dia tidak pernah mendengar langsung dari ‘Ali bin Abi Tholib (sebagaimana dijelaskan oleh Abu Haatim ketika ditanya oleh anaknya Ibnu Abi Haatim). Sehingga, dalam sisi ini atsar tersebut terputus sanadnya.
Dari segi kandungan (matan) kita akan mendapati ketidakshahihan atsar tersebut, di antaranya dari :
1). Ketidaksesuaiannya dengan konteks ayat yang dibaca oleh Arab Badui tersebut:
وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا
“ Kalau seandainya mereka ketika mendzhalimi diri mereka sendiri mendatangimu (wahai Muhammad) sehingga mereka meminta ampunan kepada Allah, dan Rasul memintakan ampunan bagi mereka, niscaya mereka akan mendapati Allah sebagai Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”(Q.S AnNisaa’:64)
Ibnu Jarir AtThobary dalam tafsirnya menyatakan :
ولو أن هؤلاء المنافقين الذين وصف صفتهم في هاتين الآيتين، الذين إذا دعوا إلى حكم الله وحكم رسوله صدوا صدودا، إذ ظلموا أنفسهم باكتسابهم إياها العظيم من الإثم في احتكامهم إلى الطاغوت وصدودهم عن كتاب الله وسنة رسوله، إذا دعوا إليها جاءوك يا محمد حين فعلوا ما فعلوا من مصيرهم إلى الطاغوت، راضين بحكمه دون حكمك جاءوك تائبين منيبين فسألوا الله أن يصفح لهم عن عقوبة ذنبهم بتغطيته عليهم وسأل لهم الله رسوله مثل ذلك، وذلك هو معنى قوله: (فاستغفروا الله واستغفر لهم الرسول)
“ kalau seandainya orang-orang munafiqin  yang Allah sifatkan keadaannya adalam 2 ayat ini yang ketika dipanggil untuk berhukum dengan hukum Allah dan hukum RasulNya, mereka menolak dengan penolakan yang sangat. Jika mereka mendzholimi dirinya sendiri karena melakukan dosa besar dalam hal berhukum dengan thaghut dan penolakan mereka terhadap Kitabullah dan Sunnah RasulNya, ketika dipanggil kepadanya mereka datang kepadamu wahai Muhammad ketika melakukan perbuatan (berhukum dengan ) thaghut, mereka ridla dengan hukumnya selain hukummu, mereka datang kepadamu dalam keadaan bertaubat kembali (kepada Allah), sehingga mereka meminta kepada Allah untuk memaafkan mereka (dengan menghapuskan) siksaan akibat dosa mereka, dengan menutupnya terhadap mereka, dan Rasulullah meminta kepada Allah semisal dengan itu. Demikian itu adalah makna firman Allah : maka mereka meminta ampunan kepada Allah dan Rasul memintakan ampunan bagi mereka”
Jelas sekali bahwa konteks ayat tersebut adalah untuk seseorang pendosa yang ingin bertaubat,dia meminta ampunan kepada Allah juga dengan mendatangi Rasul semasa hidup beliau agar Nabi memohonkan ampunan baginya. Ayat tersebut merupakan bimbingan dari Allah agar seseorang yang berbuat dosa ‘mendatangi Nabi’, bukan ‘mendatangi makam/kuburan Nabi’. Jika Nabi masih hidup, seseorang bisa datang langsung kepada Nabi untuk memintakan ampunan untuknya kepada Allah. Namun, jikapun seseorang yang berdosa itu tidak mendatangi Nabi, namun memohon ampunan bagi Allah secara langsung, maka yang demikian ini sudah cukup bagi dia.
Hal ini semakin diperjelas dengan hadits :

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ ، قَالَ : كُنْتُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ حَرْمَلَةُ بن زَيْدٍ , فَجَلَسَ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، الإِيمَانُ هَهُنَا وَأَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى لِسَانِهِ ، وَالنِّفَاقُ هَهُنَا ، وَأَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى صَدْرِهِ وَلا يَذْكُرُ اللَّهَ إِلا قَلِيلا ، فَسَكَتَ عَنْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَرَدَّدَ ذَلِكَ عَلَيْهِ ، وَسَكَتَ حَرْمَلَةُ ، فَأَخَذَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِطَرَفِ لِسَانِ حَرْمَلَةَ ، فَقَالَ : ” اللَّهُمَّ اجْعَلْ لَهُ لِسَانًا صَادِقًا ، وَقَلْبًا شَاكِرًا ، وَارْزُقْهُ حُبِّي وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّنِي ، وَصَيِّرْ أَمْرَهُ إِلَى الْخَيْرِ ” ، فَقَالَ حَرْمَلَةُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ لِي إِخْوَانًا مُنَافِقِينَ كُنْتُ فِيهِمْ رَأْسًا أَفَلا أَدُلُّكَ عَلَيْهِمْ ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” لا ، مَنْ جَاءَنَا كَمَا جِئْتَنَا اسْتَغْفَرْنَا لَهُ كَمَا اسْتَغْفَرْنَا لَكَ ، وَمَنْ أَصَرَّ عَلَى ذَنْبِهِ فَاللَّهُ أَوْلَى بِهِ ، وَلا تَخْرِقْ عَلَى أَحَدٍ سَتْرًا

“ dari Ibnu Umar –semoga Allah meridlainya- beliau berkata : ‘Aku sedang berada di sisi Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam ketika datang Harmalah bin Zaid. Kemudian dia duduk di depan Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam, kemudian dia berkata : ‘Wahai Rasulullah, iman itu di sini’. (Ia mengisyaratkan pada lisannya). ‘Sedangkan kemunafikan itu ada di sini. (Ia mengisyaratkan dengan tangannya ke arah dadanya), ‘dan tidaklah berdzikir mengingat Allah kecuali hanya sedikit’. Maka Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam terdiam. Ia mengulanginya, dan Harmalah diam. Kemudian Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam memegang ujung lidah Harmalah dan berdoa : Ya Allah jadikanlah untuknya lisan yang jujur, hati yang bersyukur, dan berikan kepadanya kecintaan kepadaku dan kecintaan kepada orang yang mencintaiku, dan arahkan urusannya pada kebaikan”. Maka Harmalah berkata : Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki beberapa saudara munafiq. Aku menjadi pemimpin bagi mereka. Apakah aku tunjukkan pada mereka (untuk mendatangimu juga agar kau doakan)? Maka Nabi shollallaahu ‘alahi wasallam bersabda : ‘Tidak’. Barangsiapa yang datang kepada kami sebagaimana kedatanganmu, kami akan mintakan ampunan untuknya, sebagaimana kami mintakan ampunan untukmu. Barangsiapa yang terus dalam dosanya, maka Allahlah yang lebih berhak terhadapnya. Dan janganlah engkau merobek tirai seorangpun “ (diriwayatkan oleh atThobaroony dalam alMu’jamul Kabiir, al-Haitsamy menyatakan: perawi-perawinya adalah perawi-perawi As-Shohiih. Ibnu Hajar al-‘Asqolaany menyatakan dalam kitab al-Ishoobah (1/320) : sanadnya tidak mengapa).
Perhatikanlah saudaraku kaum muslimin…., ketika Harmalah menanyakan kepada Nabi apakah sebaiknya ia beritahukan cara tersebut agar ditiru oleh saudara-saudaranya yang lain, Nabi tidak menganjurkan. Beliau tidak memerintahkannya pada saat beliau hidup, apalagi pada saat beliau meninggal. Sama sekali beliau tidak mengatakan kepada Harmalah : ‘ya, beritahukan kepada mereka semua, dan semua orang yang ada kemunafikan pada dirinya dan banyak berdosa, agar mereka mendatangiku pada saat aku masih hidup, atau jika aku sudah meninggal, silakan mendatangi kuburanku’ atau ucapan semisalnya.
2) Tidak pernah ternukil dalam riwayat yang shohih ataupun hasan bahwa para Sahabat mencontoh perbuatan orang Arab Badui tersebut. Bahkan Ali bin Abi Tholib yang disebutkan dalam riwayat tersebut juga tidak pernah melakukannya. Silakan tunjukkan pada kami riwayat lain yang shohih ataupun hasan yang mendukung kisah ini, jika anda sekalian –wahai para penentang Ahlussunnah- memilikinya! Tidaklah ada pada kalian kecuali dalil – dalil yang sangat lemah bahkan palsu.
3) Lebih aneh lagi, dikisahkan dalam riwayat tersebut, bahwa setelah Arab Badui tadi melakukan tawassul di kuburan Nabi, kemudian terdengar suara dari makam Nabi : ‘Sesungguhnya Dia (Allah) telah mengampunimu’.
Subhaanallah, kedustaan yang luar biasa! Kalau seandainya Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam bisa berbicara dari dalam kuburnya, para Sahabat tidak akan hanya bertawassul pada beliau meminta istighfar Nabi jika mereka bersalah, tapi setiap ada permasalahan, mereka akan mendatangi kuburan Nabi, dan itu akan terus berlangsung sampai hari kiamat oleh orang-orang yang beriman. Tidak akan bermasalah penentuan kekhalifahan sepeninggal Nabi, semisal siapa yang akan menggantikan Utsman bin Affan, dan banyak permasalahan-permasalahan penting lainnya, tinggal ditanyakan di kuburan Nabi.
Masih sangat banyak keanehan –keanehan dari riwayat tersebut, selain telah kami tunjukkan sisi kelemahannya yang sangat dari sisi sanad, namun penjelasan tentang riwayat ini kami cukupkan sampai di sini. Semoga Allah Subhaanahu Wa Ta’ala memberikan petunjukNya kepada kita semua….
Penulis blog penentang Ahlussunnah tersebut tidak berilmu tentang hadits, namun sangat berani menyebutkan riwayat-riwayat yang lemah dan menyandarkannya sebagai ucapan Nabi.  Sebagai contoh ia menyebutkan hadits tentang Ali yang dinisbatkan ucapannya kepada Nabi :
Aku (Rasul) adalah kota ilmu dan Ali adalah pintu gerbangnya. Barangsiapa menghendaki (masuk) kota maka hendaknya melalui pintu gerbangnya” (Lihat: Kitab “Mustadrak as-Shohihain” 3/126)
Hadits tersebut diriwayatkan oleh Al-Haakim dalam Mustadrak, AtThobaroony dalam alMu’jamul Kabiir, Abusy Syaikh Ibnu Hayyan dalam As-Sunnah, juga diriwayatkan oleh atTirmidzi, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah. AdDaaruquthny menyatakan dalam al-‘Ilal : ‘Hadits ini mudhtarib (guncang), tidak tsabit’. AtTirmidzi menyatakan : ‘hadits ini munkar’. Al-Bukhari menyatakan : ‘sesungguhnya hadits ini tidak memiliki sisi yang shahih’. Ibnul Jauzi memasukkannya sebagai hadits yang maudlu’ (palsu) dalam kitabnya al-Maudlu’aat dan disepakati oleh Adz-Dzahaby. Al-Khotib al-Baghdady menukil pernyataan Yahya bin Ma’in bahwa hadits ini adalah dusta tidak ada asalnya (Silakan dilihat pada kitab Kasyful Khifaa’ karya Isma’il bin Muhammad al-‘Ajluuny juz 1 halaman 203).

Syubhat ke-8 : Riwayat Ibnu Abi Syaibah ttg Tawassulnya Seseorang di Kuburan Nabi pada Kekhalifahan Umar

[[

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang sahih. Dari riwayat Abu Salih as-Saman dari Malik ad-Dar –seorang bendahara Umar- yang berkata: Masyarakat mengalami paceklik pada zaman (kekhalifahan) Umar. Lantas seseorang datang ke makam Nabi seraya berkata: Ya Rasulullah mintakan hujan untuk umatmu, karena mereka hendak binasa. Kemudian datanglah seseorang dimimpi tidurnya dan berkata kepadanya: Datangilah Umar! Saif juga meriwayatkan hal tersebut dalam kitab al-Futuh; Sesungguhnya lelaki yang bermimpi tadi adalah Bilal bin al-Harits al-Muzni, salah seorang sahabat. (Lihat: Kitab “Fathul Bari” 2/577)

]]

Bantahan :

AlHafidz Ibnu Hajar al-‘Asqolaany menyebutkan dalam kitab Fathul Baari :
وَرَوَى اِبْن أَبِي شَيْبَة بِإِسْنَادٍ صَحِيح مِنْ رِوَايَة أَبِي صَالِح السَّمَّانِ عَنْ مَالِك الدَّارِيّ – وَكَانَ خَازِن عُمَر –
“ dan Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dengan sanad shahih dari riwayat Abu Sholih As-Sammaan dari Maalik ad-Daar” (Fathul Baari 2/577).
Sepintas orang akan menganggap riwayat ini sanadnya shohih semua, padahal seseorang yang mempelajari istilah dalam ilmu hadits akan paham terhadap isyarat dari al-Hafidz Ibnu Hajar ini bahwa riwayat Ibnu Abi Syaibah tersebut shohih sanadnya sampai Abu Sholih As-Sammaan. Jika kita kaji, ternyata perawi yang bernama Maalik Ad-Daar sebenarnya tidak dikenal di kalangan Ulama’ Ahlul Hadits. Al-Haitsamy menyatakan : ‘Maalik ad-Daar, aku tidak mengenalnya’ (lihat Majma’uz Zawaaid (3/125). Demikian juga yang dinyatakan oleh al-Hafidz al-Mundziri dalam kitab ‘AtTarghib wat Tarhiib’ (2/41).
Kemudian, Al-Hafidz Ibnu Hajar juga menyatakan :
وَقَدْ رَوَى سَيْف فِي الْفُتُوح أَنَّ الَّذِي رَأَى الْمَنَام الْمَذْكُور هُوَ بِلَال بْن الْحَارِث الْمُزَنِيُّ أَحَد الصَّحَابَة
“ dan Saif telah meriwayatkan di dalam kitab al-Futuh bahwasanya seseorang yang bermimpi tadi adalah Bilal bin al-Harits al-Muzany seorang Sahabat”
Saif yang dimaksud oleh Ibnu Hajar tersebut sebenarnya adalah Saif bin ‘Amr bin ad-Dhoby al-Asdy penulis kitab al-Futuh wad Durroh. Yahya bin Ma’in menyatakan bahwa ia adalah perawi yang lemah. Ibnu Hibban menyatakan : ‘Ia meriwayatkan riwayat-riwayat palsu dari al-atsbaat dan mereka berkata : sesungguhnya dia memalsukan hadits’. Abu Hatim menyatakan : matruk (ditinggalkan). Ibnu ‘Adi menyatakan : ‘keumuman haditsnya adalah munkar’ (Lihat ‘al-Mizan’ (2/197) dan Dhu’afaa’ anNasaa-i (187)). Sehingga, kita tidak bisa menerima pernyataan dari Saif tersebut bahwa yang bermimpi itu adalah Sahabat Bilal bin alHarits karena Saif adalah perawi yang ditinggalkan (matruk).
Selain kelemahan periwayatan tersebut, kisah ini bertentangan dengan petunjuk Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam kepada umatnya jika ditimpa kekeringan, hendaknya mereka melakukan sholat istisqo’. Demikian juga dengan istisqo’nya Umar dengan meminta kepada Abbas yang masih hidup untuk berdoa sebagaimana dalam riwayat al-Bukhari yang sudah jelas keshahihannya.

Syubhat ke-9 : Kisah Sahabat Bilal al-Habsyi

[[
Abu Darda’ dalam sebuah riwayat menyebutkan: “Suatu saat, Bilal (al-Habsyi) bermimpi bertemu dengan Rasulallah. Beliau bersabda kepada Bilal: ‘Wahai Bilal, ada apa gerangan dengan ketidak perhatianmu (jafa’)? Apakah belum datang saatnya engkau menziarahiku?’. Selepas itu, dengan perasa- an sedih, Bilal segera terbangun dari tidurnya dan bergegas mengendarai tunggangannya menuju ke Madinah. Lalu Bilal mendatangi kubur Nabi sambil menangis lantas meletakkan wajahnya di atas pusara Rasul. Selang beberapa lama, Hasan dan Husein (cucu Rasulallah) datang. Kemudian Bilal mendekap dan mencium keduanya”. (Tarikh Damsyiq jilid 7 Halaman: 137, Usud al-Ghabah karya Ibnu Hajar jilid: 1 Halaman: 208, Tahdzibul Kamal jilid: 4 Halaman: 289, dan Siar A’lam an-Nubala’ karya Adz-Dzahabi Jilid: 1 Halaman 358)
]]

Bantahan :
Penulis blog dengan judul tulisan Kesesatan Paham yang Menafikan Tawassul tersebut benar-benar tidak amanah. Ia menyebutkan rujukannya dalam kitab Siyar A’laamin Nubalaa’ jilid 1 halaman 358, namun ia tidak menyebutkan secara lengkap ucapan al-Hafidz Adz-Dzahaby setelah menyebutkan kisah tersebut. Padahal al-Hafidz Adz-Dzahaby sendiri menyatakan tentang kisah tersebut :
إسناده لين وهو منكر
“ sanad (kisah) tersebut lemah dan dia adalah munkar “.
Kisah itu diriwayatkan melalui jalur Ibrohim bin Muhammad bin Sulaiman bin Bilaal bin Abid Darda’ dari ayahnya dari kakeknya dari Ummud Darda’ dari Abud Darda’. Setelah dikisahkan bahwa Bilal mendekap dan mencium Hasan dan Husein, disebutkan :
فقالا له: يا بلال ! نشتهي أن نسمع أذانك. ففعل، وعلا السطح، ووقف، فلما أن قال: الله أكبر، الله أكبر ارتجت المدينة، فلما أن قال: أشهد أن لا إله إلا الله، ازداد رجتها، فلما قال: أشهد أن محمدا رسول الله، خرجت العواتق من خدورهن، وقالوا: بعث رسول الله، فما رؤي يوم أكثر باكيا ولا باكية بالمدينة بعد رسول الله، صلى الله عليه وسلم، من ذلك اليوم

“ Maka keduanya (Hasan dan Husein) berkata : ‘Wahai Bilal, kami ingin sekali mendengar adzanmu. Maka Bilal pun melakukannya (dia adzan), naik ke atap dan berdiri. Ketika dia mengucapkan :Allaahu Akbar Allaahu Akbar, Madinah bergemuruh. Ketika dia mengucapkan : Asyhadu an laa ilaaha illallaah… semakin bertambah gemuruhnya. Ketika dia mengucapkan : Asyhadu Anna Muhammadan Rasuulullaah. Keluarlah gadis-gadis dari tempat pingitannya, dan mereka berkata:  ‘Rasulullah dibangkitkan. Maka tidaklah terlihat pada suatu hari orang lebih banyak menangis di Madinah setelah (kematian) Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam dibandingkan hari itu” (Silakan dilihat Siyaar A’laamin Nubalaa’ karya Imam Adz-Dzahaby jilid 1 halaman 358).
Al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqolaany menyatakan tentang perawi yang bernama Ibrohim bin Muhammad bin Sulaiman bin Bilaal bin Abid Darda’:
إبراهيم بن محمد بن سليمان بن بلال بن أبي الدرداء فيه جهالة حدث عنه محمد بن الفيض الغساني انتهى ترجم له ابن عساكر ثم ساق من روايته عن أبيه عن جده عن أم الدرداء عن أبي الدرداء في قصة رحيل بلال إلى الشام وفي قصة مجيئه إلى المدينة وأذانه بها وارتجاج المدينة بالبكاء لأجل ذلك وهي قصة بينة الوضع

“ Ibrohim bin Muhammad bin Sulaiman bin Bilaal bin Abid Darda’  padanya terdapat ‘jahalah’ (tidak dikenal), yang meriwayatkan darinya adalah Muhammad bin alFaydl al-Ghossaany, -selesai-. Ibnu ‘Asakir menjelaskan biografinya kemudian menyebutkan riwayatnya dari ayahnya dari kakeknya dari Ummud Darda’ dari Abud Darda’ tentang kisah perjalanan Bilaal menuju Syam dan tentang kisah kedatangannya ke Madinah dan adzannya Bilaal dengannya dan gemuruhlah Madinah dengan tangis dengan sebab itu. Dan itu kisah yang jelas kepalsuannya”( Lihat Lisaanul Miizaan juz 1 halaman 107 no 320 tentang Ibrohim tersebut).
Sehingga jelas sekali bahwa kisah itu adalah munkar sebagaimana perkataan al-Hafidz Adz-Dzahaby, dan palsu seperti perkataan al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqolaany. Demikianlah, para penentang Ahlussunnah akan banyak menggunakan dalil-dalil yang lemah lagi palsu untuk melegalkan isi dakwah dan perbuatannya.
Setelah pada tulisan ini sebutkan bukti-bukti kelemahan atau kepalsuan hadits dan atsar yang disebutkan tentang tawassul, Insya Allah tulisan selanjutnya akan menunjukkan bukti kelemahan kisah bertabarruknya Imam Asy-Syafi’i di makam Imam Abu Hanifah. Hanya kepada Allahlah kita berserah diri dan memohon pertolongan.


Kategori

%d blogger menyukai ini: