Oleh: bantahansalafytobat | Februari 26, 2011

Tipu Muslihat Abu Salafy (bag. 4), “Siapa yang berdusta Ibnu Taimiyyah atau Abu Salafy?”


Abu Salafy berkata

Membongkar abu salafy

((Kepalsuan Atas Nama Salaful Ummah!

Dan sebelum saya menutup pembahasan ini, saya ingin mengajak Anda meneliti masalah ini dari tinjauan sejarah dan praktik kaum Salaf! Dimana kaum Wahhâbiyah sering kali dalam menolak atau menetapkan sesuatu keyakinan mendasarkannya atas praktik kaum Salaf; sahabat dan tabi’in serta generasi ketiga umat Islam!

Betapa sering kaum Wahhâbiyah menolak sebuah praktik tertentu yang dijalankan kaum Muslimin (selain wahhabi) dengan alasan bahwa Salaf umat ini tidak pernah mengerjakan praktik seperti itu!!

Dan untuk mendukung klaimnya, tidak jarang kaum Wahhâbiyah menolak data atau memalsu klaim bahwa Salaf tidak pernah mempraktikkannya! Sementara bukti-bukti saling menguatkan bahwa Salaf justru telah mempraktikkannya!

Dan dalam dunia pemalsuan klaim ijma’, sulit rasanya kita menemukan seorang tokoh yang berani memalsu lebih dari keberanian yang dimiliki Ibnu Taimiyah.
Dalam kasus kita ini, Ibnu Taimiyah dan para tokoh Wahhâbiyah tidak mau melewatkannya tanpa mengaku-ngaku dengan tanpa dasar bahwa tidak seorang pun dari Salaf yang melakukannya!

Ibnu Taimiyah berkata:
و لَم يذكر أحدٌ من العلماء أنه يشرع التوسل و الإستسقاء بالنبي والصالح بعد موته ولا فِي مغيبه، ولا استحبوا ذلك فِي الاستسقاء ولا فِي الاستنصار ولا غير ذلك مِن الأدعية. و الدعاءُ مخُّ العبادة

Dan tidak seoranmg pun dari para ulama mengatakan disyari’atkannya bertawassul dengan Nabi atau seorang shaleh setalah kematiannya dan di kala ia tidak hadir. Mereka tidak memustahabkan hal itu baik dalam istisqâ’ (doa memohon diturunkannya hujan), tidak pulah dalam doa memohon pertolongan dan doa-doa selainnya. Dan doa itu inti ibadah.”  (Ziyârahal Qubûr wa al Istijdâ’ bi al Maqbûr:43)

Dalam Risalah al-Hadiyyah as-Saniyyah disebutkan

Tidakk seorang pun dari Salaf umat ini; sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in yang memilih-milih menegakkan shaalat atau berdoa di sisi kuburn para nabi dan meminta dari mereka serta memohon bantuan/beristighatsah dengan mereka, tidak di kala ghaib mereka/di tempat jauh maupun di hadapan kuburan mereka.”  (Al Hadiyyah as Saniyyah:162. Terbitan al Manâr- Mesir)

Mungkin seorang pemula yang belum banyak mengetahui sajarah para sahabat dapat tertipu dengan ucapan di atas dan menganggapnya benar, akan tetapi anggapan itu akan segera sirna dan terbukti kepalsuan dan kebatilannya ketika ia telah mengetahui sejarah para sahabat walaupun hanya sekilas saja! Sebab ia akan dibuat melek dengan data-data akurat bahwa ternyata para sahabat, tabi’in dan generasi demi generasi umat Islam telah menjalankan prakti beristighatsah dengan Nabi saw….

Dalam kesempatan ini, saya hanya akan membawakan beberapa contoh sebagai pembuktian awal, dan bagi yang berminat mengetahuniya dengan lengkap dipersilahkan merujuk kitab-kitab para ulama Ahlusunnah yang khusus berbicara masalah tersebut! )).

Demikian perkataan Abu Salafy, lalu ia menyebutkan tiga atsar dari salaf yang mendukung aqidahnya ini, yaitu atsar dari Abu Bakr, kemudian dari Ali bin Abi Tholib dan Imam Malik radhiallahu ‘anhum.

Setelah itu Abu Salafy berkata :

((Inilah sekelumit data dan riwayat yang menerangkan kebiasaan dan praktik para as-Salaf ash-Shaleh; generasi sahabat dan tabi’in serta tabi’ut tabi’in dalam bertawassul, berdoa di hadapan pusara suci baginda Rasulullah saw. Serta memohon dari beliau untuik berkenan mendoakan dan memhohonkan ampun, maghfirah yang diklaim kaum Wahhâbiyah sebagai syirik dan menyekutukan Allah. Semoga sekelumit data di atas dapat membuka pikiran kita akan kebenaran praktik kaum Muslimin yang dikecam kaum Wahhâbiyah!)) demikian perkataan Abu Salafy (silahkan lihat http://abusalafy.wordpress.com/2008/05/22/226/)

Para pembaca yang dimuliakan Allah, dalam tulisan ini Abu Salafy dengan berani menyatakan bahwasanya kaum Wahhabiah (khususnya Ibnu Taimiyyah) telah berdusta atas nama salaful Ummah. Kemudian Abu Salafy menyebutkan riwayat-riwayat yang menunjukan kedustaan kaum Wahhabi. Oleh karena itu saya akan mencoba memaparkan hakekat yang sebenarnya siapakah yang telah berdusta…???

Saya mengingatkan kembali para pembaca agar membaca kembali tulisan-tulisan saya yang menjelaskan tipu muslihat dan kedustaan Abu Salafy. Yang telah menggelari dirinya dengan Abu Salafy untuk menipu umat, dan ternyata ia sama sekali tidak mengikuti madzhab salaf. Dalam tulisannya ini juga ia nekad berdusta atas nama salaf. Sungguh… tuduhan yang ia berikan kepada kaum Wahhabiyah lebih pantas untuk ia pikul. Wallahu musta’aan.

Abul Qoosim Al-Ashbahaani (wafat tahun 535 H) berkata tentang Ahlul Ahwaa’ :

يَحْتَجُّ بِقَوْلِ التَّابِعِي عَلَى قَوْلِ النَّبِيِّ  أَوْ بِحَدِيْثٍ  مُرْسَلٍ ضَعِيْفٍ عَلَى حَدِيْثٍ مُتَّصِلٍ قَوِيٍّ، … صَاحِبُ الْهَوَى كَالْغَرِيْقِ يَتَعَلَّقُ بِكُلِّ عُوْدٍ ضَعِيْفٍ أَوْ قَوِيٍّ … وَصَاحِبُ الْهَوَى لاَ يَتَّبِعُ إِلاَّ مَا يَهْوَى

“Pengikut hawa nafsu berdalil dengan perkataan tabi’in untuk menentang sabda Nabi, atau berdalil dengan hadits mursal yang dho’iif (lemah) untuk menentang hadits yang bersambung dan kuat… Pengikut hawa nafsu seperti orang yang tenggelam, ia bergantung pada setiap batang kayu yang lemah atau yang kuat… pengikut hawa nafsu tidaklah mengikuti kecuali nafsunya”(Al-Hujjah fii bayaan Al-Mahajjah 2/233-234)

Sungguh permisalan yang indah dari Abul Qoosim Al-Ashbahaani… pengikut hawa nafsu memang hanya mengikuti hawa nafsunya, ibarat seorang yang akan tenggelam maka tangannya berusaha meraih apa saja untuk menjadi tempat pegangan…. tidak peduli kayu yang lemah… yang ternyata tidak bisa menyelamatkannya.. Tatkala aqidah yang ia yakini tidak dibangun di atas dalil maka atsar apa saja yang bisa dijadikan hujjah maka ia segera berpegang teguh tidak perduli apakah dalil tersebut lemah atau tidak.

Sungguh yang sangat saya sayangkan adalah sikap ustadz Abu Salafy yang –jago mengkritik ilmu hadits Syaikh Al-Albani rahimahullah- ternyata berkali-kali berdalil dengan atsar salaf yang lemah untuk mendukung aqidahnya, sebagaimana telah lalu saya ungkapkan ulahnya ini tatkala menukil atsar dari Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu, Zainal Abidin, dan Ja’far Sahdiq rahimahumallah. (lihat http://www.firanda.com/index.php/artikel/31-bantahan/76-mengungkap-tipu-muslihat-abu-salafy-cs)

Demikian pula pada tulisan ini, ia berusaha menggambarkan kepada pembaca bahwa bertwassul kepada orang mati merupakan kebiasaan salaf, kebiasaan para sahabat dan para tabi’in.

Oleh karenanya saya ingin menjelaskan kedudukan atsar-atsar tersebut, apakah atsar-atsar tersebut shahih? ataukah lemah?

Pendahuluan :

Para pembaca yang budiman, permasalahan isnad merupakan permasalahan yang sangat penting, terlebih lagi sanad dari hadits-hadits atau atsar-atsar yang dijadikan dalil untuk permasalahan hukum. Terlebih lagi jika dijadikan dalil untuk permasalahan aqidah. Sesungguhnya aqidah yang benar merupakan keyakinan yang wajib diyakini oleh seorang mukmin hingga ia bertemu Robnya. Akan tetapi tentunya aqidah yang benar harus dibangun di atas dalil yang benar dan shahih. Maka sungguh merupakan hal yang sangat menyedihkan dan memilukan tatkala kita mendapati seseorang yang membangun aqidahnya di atas dalil yang lemah, di atas hadits yang dho’iif… apalagi dibangun di atas atsar yang lemah… terlebih lagi jika atsar yang lemah tersebut dijadikan tameng untuk membantah begitu banyak dalil dari Al-Qur’an maupun as-sunnah yang bertentangan dengan aqidahnya (baca = hawa nafsunya). Terlebih lagi jika atsar-atsar yang lemah tersebut digunakan untuk mencela para ulama bahkan menuduh mereka berdusta…!!!??

Yang sungguh menyedihkan ini semua telah terkumpul pada sang ustadz Abu Salafy, yang berulang-ulang menjadikan atsar yang lemah untuk memperolok-olok kaum wahhabi, bahkan menuduh mereka telah berdusta. Namun… siapakah yang sesungguhnya telah berdusta..???!!!

Syu’bah bin Al-Hajjaaj rahimahullah berkata :

إِنَّمَا نَعْلَمُ صِحَّةَ الْحَدِيْثِ بِصِحَّةِ الإِسْنَادِ

“Sesungguhnya kami hanyalah mengetahui shahihnya suatu hadits dengan shahihnya isnad” (At-Tamhiid, Ibnu Abdil Barr 1/57)

Sufyaan Ats-Tsauri rahimahullah berkata :

المَلاَئِكَةُ حُرَّاسُ السَّمَاءِ وَأَصْحَابُ الْحَدِيْثِ حُرَّاسُ الأَرْضِ

“Para malaikat adalah penjaga langit dan para ahli hadits adalah penjaga bumi” (Syarof Ashaab Al-Hadiits, Khathiib Al-Baghdaadi hal 91)

Ali bin Al-Madiini berkata :

التَّفَقُّهُ فِي مَعَانِي الْحَدِيْثِ نِصْفُ الْعِلْمِ، وَمَعْرِفَةُ الرِّجَالِ نِصْفُ الْعِلْمِ

“Mempelajari makna hadits adalah setengah ilmu dan mengenali rawi-rawi adalah setengah ilmu” (Siyar A’laam An-Nubalaa’ 11/48)

Ibnul Mubaarok berkata :

الإِسْنَادُ مِنَ الدِّيْنِ وَلَوْلاَ الإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

“Isnad bagian dari agama, kalau bukan karena isnad maka siapa saja yang berkehendak akan mengucapkan apa yang dia kehendaki” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam muqoddimah shahihnya)

Maka saya berkata –sebagaimana yang dikatakan para salaf- kepada Ustadz Abu Salafy tatkala ia berdalil dengan atsar-atsar tanpa menyebutkan sanadnya :

سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ

“Sebutkan nama-nama rawi-rawi kalian” (Sebagaimana yang dihikayatkan oleh Ibnu Sirin dari para salaf, lihat Muqoddimah shahih Muslim)

Adapun atsar-atsar yang dijadikan dalil oleh Abu Salafy adalah sebagai berikut:

Pertama : Atsar dari Abu Bakar radhiallahu ‘anhu

Abu salafy berkata ((Setelah wafat Rasulullah saw. Abu Bakar ra. datang melayatnya dan berkata:

اُذْكرْنا يا مُحمدُ عندَ رَبِّكَ، و لْنكُن فِي بالِكَ

Wahai Rasulullah, ingatlah kami di sisi Tuhanmu dan hendaknya kami selalu dalam benakmu.” (Ad-Durar as-Saniyyah; Sayyid Zaini Dahlan asy Syafi’i: 36))”

Firanda berkata :

Sanggahan terhadap Abu Salafy melalui poin-poin berikut:

Pertama : Saya sudah mengecek kitab Ad-Durar As-Saniyyah, dan ternyata Sayyid Zaini Dahlan tidak menyebutkan sama sekali sanad dari atsar ini. Dan ustadz Abu Salafy juga tidak menyebutkan sanad atsar ini, bukankah sang ustadz adalah pakar hadits yang jago mengkritik Syaikh Albani?

Kedua : Apakah buku Ad-Durar As-Saniyyah kitab hadits dan atsar??, tentunya bukan. Apakah Sayyid Dahlan meriwayatkan atsar-atsar dalam kitabnya ini dengan sanadnya sendiri?, tentu tidak !!. Ustadz Abu Salafy tentunya tahu akan hal ini, karena ia pakar hadits, atau lebih tepatnya pakar mengkritik syaikh Albani. Lantas kok bisa-bisanya ustadz Abu Salafy berdalil dengan sebuah atsar dari sebuah buku yang bukan buku hadits dan atsar, kemudian tanpa mengecek keabsahan sanad atsar tersebut, kemudian membangun sebuah aqidah di atas atsar yang tidak jelas seperti ini !!???

Ketiga : Atsar ini telah dihukumi lemah oleh pakar hadits Al-Haafizh Abul Fadhl Zainuddin Al-‘Irooqi Asy-Syafi’i (wafat tahun 806 H) dalam kitabnya “Al-Mughni ‘an haml Al-Asfaar”, ia berkata :

“Hadtis bahwasanya tatkala sampai kepada Abu Bakr kabar (tentang wafatnya nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-pen) maka beliaupun masuk ke rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan iapun menyolatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kedua matanya bercucuran air mata dan isakannya naik seperti suara menelan seteguk air, namun dalam kondisi demikian beliau tetap tegar baik sikap maupun perkataan. Maka beliaupun bertelungkup kepada Nabi lalu menyingkap kain yang menutup wajah Nabi…al-hadits hingga perkataan Abu Bakr : “Dan jagalah ia pada kami”. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ad-Dunyaa di kitab Al-‘Azaa’ dari hadits Ibnu Umar dengan sanad yang lemah” (Al-Mughni ‘an Haml Al-Asfaar dicetak bersama kitab Ihyaa’ di bagian catatan kaki. Lihat Ihyaa’ Uluumuddiin 4/459 cetakan Daar Ihyaa Al-Kutub Al-‘Arobiyyah)

Keempat : Isi dari atsar ini agak aneh, bagaimana Abu Bakar berkata “Wahai Muhammad”. Bukankah Allah telah berfirman

 
لا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا

Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain) (QS An-Nuur : 63)

Dalam ayat ini sangatlah tegas Allah mengharamkan terhadap umat ini untuk memanggil Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana jika sebagian kita memanggil sebagian yang lain. Hal ini jelas dipraktekan oleh para sahabat, oleh karenanya kita dapati dalam ribuan hadits para sahabat yang kedudukan mereka jauh dari kedudukan Abu Bakr jika memanggil Nabi maka mereka berkata “Yaa Rasuulallah” atau “Yaa Nabiyyallah”. Lantas bagaimana orang terbaik umat ini Abu Bakr As-Siddiiq radhiallahu ‘anhu memanggil Nabi dengan perkataan yang kasar “Wahai Muhammad” !!???.

Hal ini merupakan keanehan… dan sepertinya ustadz Abu Salafy juga sadar akan hal ini, oleh karenanya ia tidak amanah tatkala menerjemahkan atsar tersebut. Ia terjemahkan “Wahai Rasulullah”, padahal terjemahan yang benar adalah “Wahai Muhammad”.


Kedua : Atsar dari Ali bin Abi Tholib

Abu Salafy berkata :

((Al Hafidz Abu Abdillah Muhammad ibn Musa an-Nu’mâni meriwayatkan dalam kitabnya Mishbâh adz-Dzalâm Fî al-Mustaghîtsîn Bi Khairil Anâm dengan sanad bersambung kepada Sayyidina Ali ra., beliau berkata, “Ada seorang Arab baduwi datang tiga hari setelah kami mengebumikan Rasulullah saw.. orang itu melemparkan badannya ke pusara Nabi saw. Dan menaburkan tanahnya ke atas kepalanya sambil meratap:

يا رسولَ الله! قلتَ فسمِعْنَا قولَكَ، ووَعَيْتَ عن اللهِ سبحانه و وعَيْنَا عنْكَ، و كان فيما أنزَلَ: { و لو أنَّهُم إِذْ ظلَموا أنفُسَهُم جاءوكَ فاستغفروا اللهَ و استغفر لَهُم الرسولَ لَوجدُوا اللهَ توابًا رحيمًا} و قد ظَلأَمتُ نفسِيْ وجِئْتُكَ تستغفِر لِي. فَنُودِيَ منَ القبْرِ: إنه قد غُفِرَ لَكَ.

Wahai Rasulullah, engkau berkata dan aku mendengar ucapanmu, engkau mengerti dari Allah SWT dan aku mengerti darimu. Dan di antara yang Allah turunkan adalah, “Sekiranya mereka ketika berbuat zalim terhadap diri mereka datang kepadamu lalu mereka memohon ampunan dari Allah dan engkau memohonkan ampunan bagi mereka pastilah mereka mendapati Allah Maha penerima taubat dan Maha rahmat.” Aku telah menzalimi diriku dan aku datang kepadamu agar engkau memohonkan ampunan bagiku.”

Lalu terdengar suara dari pusara itu, orang itu telah diampuni.!”

Riwayat di atas telah disebutkan as-Samhûdi dalam kitabnya Wafâ’ al Wafâ’, 2/1361 dan beliau banyak menyebutkan riwayat-riwayat serupa pada Bab kedelapan)) demikian perkataan ustadz Abu Salafy

Firanda berkata :

Seperti kebiasaannya, tatkala ustadz Abu Salafy sadar bahwa atsar ini adalah atsar yang lemah maka iapun tidak menampilkan sanad atsar ini. Abu salafy hanya menyebutkan sumber ia mengambil atsar ini, yaitu dari kita Wafaa al Wafaa’ karya As-Samhuudi.

Berikut ini saya nukilkan langsung dari kitab Wafaa Al-Wafaa sehingga nampak jelas para perwai sanad atsar ini, As-Samhudi berkata :

“Atsar ini diriwayatkan oleh Abul Hasan Ali bin Ibrahim bin Abdillah Al-Karkhi, dari Ali bin Muhammad bin Ali, ia berkata : Telah mengabarkan kepada kemi Ahmad bin Muhammad bin Al-Haitsam At-Thooi, ia berkata : Telah mengabarkan kepadaku Ayahku dari ayahnya dari Salamah bin Kuhail dari Ibnu Sodiq dari Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu” (Wafaa al-Wafaa 4/1362-1362)

Perawi-perawi dalam sanad atsar ini adalah :

1.      Abul Hasan Ali bin Ibrahim bin Abdillah Al-Karkhi : Saya tidak menemukan tarjamah (biografi) perawi ini. Maka tolong ustadz Abu Salafy mendatangkan biografi perawi ini, jika tidak maka perwai ini adalah majhuul

2.      Ali bin Muhammad bin Ali : Saya juga tidak menemukan tarjamah (biografi) perawi yang dimaksud ini. Maka tolong ustadz Abu Salafy mendatangkan biografi perawi ini, jika tidak maka perwai ini adalah majhuul

3.      Ahmad bin Muhammad Al-Haitsam At-Thooi : Saya juga tidak menemukan tarjamah (biografi) perawi yang dimaksud ini. Maka tolong ustadz Abu Salafy mendatangkan biografi perawi ini, jika tidak maka perwai ini adalah majhuul

4.      Muhammad Al-Haitsam At-Thooi : Saya juga tidak menemukan tarjamah (biografi) perawi yang dimaksud ini. Maka tolong ustadz Abu Salafy mendatangkan biografi perawi ini, jika tidak maka perwai ini adalah majhuul

5.      Al-Haitsam At-Thoo’i (wafat 207 H), ia adalah Al-Haitsam bin ‘Adi At-Thoo’i, Abu Abdirrahman Al-Manbiji, kemudian Al-Kuufi.

Berikut perkataan para ulama hadits tentang perawi ini (sebagaimana penjelasan Ibnu Hajr Al-‘Asqolaani rahimahullah dalam Lisaanul Mizaan 8/361, tarjamah no 8312) ;

Imam Al-Bukhari berkata : “Tidak tsiqoh, ia berdusta”

Yahyaa bin Ma’iin berkata : “Tidak tsiqoh, ia berdusta”

Abu Dawud berkata : “Pendusta”

An-Nasaai berkata : “Matruuk”

6.      Salamah bin Kuhail (wafat 123 H), ia adalah Salamah bin Kuhail bin Hushoin Al-Hadhromi, Abu Yahya Al-Kuufi. Seorang tabiin tsiqoh (lihat biografinya di Tahdziibul Kamaal 11/313, tarjamah no 2467)

7.      Ibnu Shoodiq : Saya tidak menemukan biografinya, semoga ustadz Abu Salafy bisa mendatangkan biografinya. Akan tetapi saya kawatir ada tashiif dalam kitab Wafaa al-Wafaa. Yang seharusnya adalah Abu Soodiq –yang ma’ruuf meriwayatkan dari Ali bin Abi Tholib radhiallahu a’nhu- bukan Ibnu Shoodiq. Dan inilah yang benar, bahwa yang dimaksud dalam sanad adalah Abu Shodiq, karena termasuk yang meriwayatkan dari Abu Shdodiq adalah Salamah bin Kuhail dan Abu Shodiq sendiri meriwayatkan dari Ali bin Abi Tholib (lihat Tahdziib At-Tahdziib 4/538). Jika yang dimaksud adalah Abu Shodiq maka ia adalah –sebagaimana perkataan Ibnu Hajr rahimahullah- :

“Abu Shoodiq Al-Azdii Al-Kuufi Muslim bin Yaziid, Abu Shoodiq Al-Azdi Al-Kuufi. Dikatakan namanya adalah Muslim bin Yaziid, dan dikatakan juga (namanya adalah) Abdullah bin Naajid. Shoduuq, dan haditsnya dari Ali (bin Abi Tholib) mursal” (Taqriib At-Tahdziib 1161)

Ibnu Hajar juga berkata dalam kitabnya yang lain

“Ia melakukan irsaal dari Abu Mahdzuuroh, Ali bin Abi Thoolib, dan Abu Huroiroh” (Tahdziib At-Tahdziib 4/538)

8.      Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu: beliau adalah khalifah yang keempat dari Khulafaa Rosyidiin, dan telah dijamin masuk surga oleh Nabi shallalhu ‘alaihi wa sallam

Para pembaca yang dimuliakan Allah, setelah melihat biografi para perawi di atas maka bisa kita lihat ternyata beberapa penyakit dalam sanadnya, yaitu :

–         4 perawi yang majhul, padahal Abu salafy tahu bahwasanya sanad yang salah satu perawinya majhuul adalah sanad yang lemah. Bagaimana lagi kalau 4 perawi yang majhuul

–         Ada rawi pendusta yang bernama Al-Haitsam At-Thoo’i,  dan ustadz Abu Salafy sangatlah paham dan mengerti bahwa atsar yang pada sanadnya ada rawi pendusta berarti atsar palsu.

–         Abu Shodiq ternyata meriwayatkan dari Ali bin Abi Tholib secara mursal, maknanya ada rawi perantara antara Abu Shodiq dan Ali bin Abi Tholib, yang perawi perantara tersebut tidak diketahui hakekatnya.

Satu dari tiga ‘illah (penyakit) di atas sudah cukup membuat kita menolak atsar ini, apalagi ada tiga ‘illah. Oleh karenanya dipastikan bahwasanya atsar ini adalah atsar yang dusta dan palsu.


Ketiga : Atsar dari Imam Malik rahimahullah


Abu Salafy berkata :

((Khalifah Manshûr al-Abbasi bertanya kepada Imam Malik (yang selalu dibanggakan keterangannya oleh kaum Salafiyah Wahhâbiyah dalam menetapkan akidah, khususnya tentang Tajsîm), “Wahai Abu Abdillah, apakah sebaiknya aku menghadap kiblat dan berdoa atau menghadap Rasulullah? Maka Imam Malik menjawab:

لِمَ تَصْرِفُ وجْهَكَ عنهُ وهو وسيلَتُكَ ووسيلَةُ أبيكَ آدَمَ إلى يومِ القيامَةِ؟! بل اسْتَقْبِلْهُ واسْتَشْفِعْ بِهِ فَيُشَفِّعَكَ اللهُ، قال الله تعالى:  ولو أنَّهُم إِذْ ظلَموا أنفُسَهُم

Mengapa engkau memalingkan wajahmu darinya, sedangkan beliau adalah wasilahmu dan wasilah Adam ayahmu hingga hari kiamat?! Menghadaplah kepadanya dan mintalah syafa’at darinya maka Allah akan memberimu syafa’at. “Sekiranya mereka ketika berbuat zalim terhadap diri mereka…. “ (Wafâ’ al Wafâ’, 2/1376))) demikian perkataan Abu Salafy

Firanda berkata :

Para pembaca yang budiman, sekali lagi sang ustadz membawakan atsar ini tanpa menyebutkan sanad atsar ini.

Demikian pula As-Samhuudi dalam kitabnya Wafaa al-Wafaa juga tidak menyebutkan sanad atsar ini, ia hanya mengisyaratkan bahwasanya atsar ini telah diriwayatkan oleh Al-Qodhi ‘Iyaad dalam kitabnya As-Syifaa. Marilah kita melihat sanad atsar ini agar kita bisa menghukumi kedudukan atsar ini sebagaiman termaktub dalam kitab As-Syifaa 2/40-41

Sungguh antara Al-Qoodhi ‘Iyaadl dan Imam Malik ada 7 rawi.

Tentunya butuh waktu untuk mengecek satu persatu kedudukan rawi-rawi tersebut, oleh karenanya saya berharap ustadz Abu Salafy mendatangkan kedudukan rawi-rawi tersebut dalam al-jarh wa at-ta’diil, sehingga kita bisa mengetahui keabsahan atsar Imam Malik ini.

Akan tetapi pada kesempatan ini pembicaraan kita tertuju 2 rawi:

Pertama : Ya’quub bin Ishaaq bin Abi Israaiil

Kedua : Ibnu Humaid yang langsung meriwayatkan dari Imam Malik dalam sanad ini yaitu.

Adapun Ya’quub bin Ishaaq bin Abi Israa’il adalah maka dikatakan oleh Ad-Daaruquthni : “Laa ba’sa bihi” (Tariikh Bagdaad 16/425 dan Mausuua’ah Aqwaal Abil hasan Ad-Daaruquthni fii rijaalil hadiits wa ‘ilalihi 2/725). Adz-Dzahabi mengklasifikasikan Ya’quub bin Ishaaq bin Abi Israaiil pada tobaqoh ke 29 yaitu mereka yang wafat antara tahun 281 H hingga 290 H (lihat Taariikh Al-Islaam 21/337 no 602).

Adapun Ibnu Humaid maka ada dua kemungkinan

–         Kemungkinan pertama : Ibnu Humaid adalah Muhammad bin Humaid Al-Yasykari Abu Sufyaan Al-Ma’mari (wafat tahun 182 H), dan ia adalah perawi yang tsiqoh (lihat Taqriib At-Tahdziib hal 839 no 5872). Dan kemungkinan yang pertama ini (sebagaimana yang disangkakan oleh sebagian orang) adalah tidak mungkin, karena tatkala Ibnu Humaid adalah ini maka jelas dia tidak bertemu dengan Ya’quub bin Ishaaq bin Abi Israa’il, karena Ibnu Humaid ini meninggal sebelum lahirnya Ya’quub

–         Kemungkinan kedua (dan inilah kemungkinan yang benar): Muhammad bin Humaid bin Hayyaan At-Tamimi, abu Abdillah Ar-Roozi (wafat tahun 248 H) (lihat biografinya di Tahdziibul Kamaal 25/97, tahdziib At-Tahdziib 3/546, dan taqriib At-Tahdziib hal 839 no 8571), dan ia adalah perawi yang dho’iif, bahkan Abu Zur’ah menuduhnya berdusta.

Dari penjelasan di atas maka jelas bahwasanya dalam sanad atsar ini ada perawi yang lemah bahkan tertuduh dusta yaitu Muhammad bin Humaid bin Hayyaan Ar-Roozi. Ini menunjukan lemahnya atsar dari Imam Malik ini.

Selain itu ada ‘illah yang lain pada atsar ini yaitu inqithoo’ (terputusnya sanad), hal ini dikarenakan Ibnu Humaid ternyata tidak bertemu dengan Imam Malik, karena Imam Malik wafat pada tahun 179 H. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah telah menjelaskan dengan panjang lebar tentang lemahnya atsar ini (lihat Majmuu’ Al-Fataawaa 1/228-230, demikian juga Ibnu Abdil Haadi dalam kitabnya As-Shoorim Al-Munki fi ar-Rod ‘alaa As-Subki hal 415-419)

Bersambung…

Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 13-03-1432 H / 16 Februari 2011 M

Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja

http://www.firanda.com


Kategori

%d blogger menyukai ini: