Oleh: bantahansalafytobat | Juli 27, 2011

Perkataan Para Ulama Tentang Keberadaan Allah


Para Ulama telah sepakat mulai dari para sahabat, Imam Madzhab dan Imam Ahlussunnah wal jama’ah lain bahwa wajibnya menetapkan bahwa Allah diatas asry diatas semua mahluknya terpisah dari mahluknya dan Maha mengetahu semua mahluknya. Berikut ini nukilan beberapa Imam Ahlus Sunnah dalam masalah ini :

a.   Dari sahabat:

Berkata Abu Bakar Ash-Shiddiq : “Wahai manusia jika Muhammad adalah Ilah (sembahan) yang kalian sembah maka sungguh Muhammad telah meninggal. Akan tetapi jika Ilah kalian adalah Allah Yang di langit maka Ilah kalian tidak mati kemudian beliau membaca ayat :

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali ‘Imran : 144)

Lihat : Ar-Rodd ‘Alal Jamhiah hal. 44-45 no. 78 dan berkata Az-Dzahaby di kitab Al-‘Uluw hal. 62 ini hadits shohih.

Perkataan para sahabat seluruhnya : Berkata Adi bin ‘Umairoh radhiyallahu ‘anhu : “Saya keluar hijrah kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam kemudian ia menyebutkan kisah yang panjang kemudian dalam kisahnya itu dia mengatakan : “Maka tiba-tiba beliau dan yang bersamanya (para shahabat), mereka bersujud di atas wajah-wajah mereka, dan mereka yakin bahwa Ilah mareka di atas langit maka sayapun masuk Islam dan mengikuti beliau”. (Ijtimaul Juyusy : 90)

Ibnu Mas’ud berkata : Artinya : ”’Arsy itu diatas air dan Allah ‘Azza wa Jalla di atas ‘Arsy, Ia mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan”. Riwayat ini shahih dikeluarkan oleh Imam Thabrani di kitabnya ”Al-Mu’jam Kabir” No. 8987. dan lain-lain Imam. Imam Dzahabi di kitabnya ”Al-Uluw” hal : 103 berkata : sanadnya shahih,dan Muhammad Nashiruddin Al-Albani menyetujuinya (beliau meringkas dan mentakhrij hadits ini di kitab Al-Uluw).

b.   Dari Tabi’in :

Berkata Al-Auza’iy : “Kami berkata sedangkan para Tabi’in masih banyak tersebar : “Sesungguhnya Allah Yang Maha Tinggi Penyebutan-Nya berada di atas ‘Arsy-Nya dan kami beriman terhadap apa yang datang dari sunnah berupa sifat-sifat-Nya”. (Al-Uluw hal. 102, Ijtima‘ hal. 96, Fathul Bary 12/4-6 dan Al-Asma` Wash shifat karya Al-Baihaqy 2/150)

 

c.   Perkataan Imam Empat :

Berkata Abu Hanifah :

“Siapa yang mengatakan : Saya tidak mengetahui Rabbku apakah Dia di langit atau di bumi, maka dia kafir, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:

 

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“(Rabb) Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy.” (QS. Thoha : 5)

dan Arsy-Nya di atas tujuh langit”. Maka Abu Muti’ Al-Hakam bin Abdillah Al-Balkhy mengatakan kepada beliau : “(Bagaimana hukumnya) Apabila ada yang mengatakan bahwa Allah di atas Arsy istiwa` akan tetapi dia mengatakan bahwasanya saya tidak mengetahui apakah Arsy itu di langit atau di bumi ?”, beliau mengatakan : “Dia kafir sebab ia mengingkari akan keberadaannya di atas langit, karena sesungguhnya Allah Ta’ala berada di atas tempat yang paling tinggi dan Dia dimintai (do’a) dari atas dan bukan dari bawah”. (Lihat : Al-Fiqhul Akbar riwayat Abu Muthi’ hal. 40-44, Al-‘Uluw hal. 101-102 dan Mukhtashor Al-‘Uluw hal. 126)

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah setelah membawakan atsar ini : “Pada perkataan Abu Hanifah -di sisi para shahabatnya- yang masyhur ini (terkandung pengertian) bahwa ia mengkafirkan orang yang tawaqquf (tidak menentukan sikap) yaitu orang yang mengatakan : “Saya tidak mengetahui Rabbku apakah di langit atau di bumi”, maka bagaimanalagi (hukumnya) terhadap oyang yang menentang yang menafikannya (menolak Allah ada di atas langit) dan mengatakan : “(Allah) tidak ada di atas langit atau (dia mengatakan bahwa Allah) tidak ada di bumi dan tidak pula ada di atas langit???”, (Beliau) berhujjah atas kekafirannya dengan firman Allah :

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“(Rabb) Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy.” (QS. Thoha : 5)

beliau berkata : “Dan Arsy-Nya di atas tujuh langitNya”.”

 

Perkataan Imam Malik bin Anas :

Dari Yahya bin Yahya, beliau berkata : “Ketika kami berada di sisi Malik bin Anas maka datang seorang laki-laki kemudian dia mengatakan : “Wahai Abu ‘Abdillah (kunyah Imam Malik)

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“(Rabb) Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy.” (QS. Thoha : 5)

bagaimana istiwa` ?”. Maka Imam Malik menundukan kepalanya sampai beliau bercucuran keringat kemudian beliau mengatakan : “Istiwa` itu dipahami, kaifiyatnya (bagaimananya) tidak diketahui sedangkan beriman dengannya wajib dan bertanya tentangnya adalah bid’ah, dan saya tidak melihatmu kecuali seorang mubtadi’.”. Maka Imam Malik memerintahkan agar orang itu dikeluarkan.” Lihat : Syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah 2/398, Al-Asma` wa Ash-Shifat karya Al-Baihaqy 2/150-151, Ar-Rod ‘Alal Jahmiyah karya Ad-Darimy hal. 33 dan Al-‘Uluw hal. 102 dan selainnya.

 

Berkata Imam Syafi’iy :

Perkara dalam sunnah yang saya berada diatasnya dan yang saya melihat sahabat-sahabat kami yaitu para ahli hadits yang saya lihat dan saya mengambil (hadits) dari mereka seperti : Sufyan dan Malik dan selain keduanya (yaitu) : Berikrar dengan syahadat bahwa tidak ada Ilah yang berhak di sembah kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah dan bahwa Allah berada di atas Arsy-Nya di atas langit, mendekat kepada hamba-Nya sesuai kehendak-Nya dan bahwa Allah turun ke langit dunia sesuai dengan kehendak-Nya. (Ijtima`ul Juyusy hal. 122 dan Mukhtasur ‘Uluw hal. 176)

 

Adapun Imam Ahmad maka beliau ini dikenal dan tersohor dalam membela madzhab yang haq ini, bahkan beliau mengarang suatu kitab yang agung (yaitu) Ar-Rodd ‘Alal Jahmiyah waz-Zanadiqoh.

 

Perkataan Abul Hasan Al-Asy’ary rahimahullah[1] dalam kitabnya Ikhtilaful Mushollin wa Maqalatul Islamiyyin hal. 16 : “…Perkataan Ahlus Sunnah dan Ashabul hadits secara ringkas adalah Pengikraran terhadap Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, kitab- kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya dan apa-apa yang datang dari Allah dan apa-apa yang diriwayatkan Ats-Tsiqot (rawi-rawi terpercaya) dari Rasulullah, mereka tidak menolak sedikitpun dari hal tersebut bahwa Allah itu Satu, Esa, Sendiri, Maha Tegak, tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Dia …, dan bahwa Allah di atas Arsy-Nya sebagaimana firman-Nya Ta’ala :

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“(Rabb) Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy.” (QS. Thoha : 5)”

(Lihat juga Ikhtilaf Ahlil Qiblat fil ‘Arsy hal. 211 dan Al-Ibanah Fii Usulid Diyanah).

Imam yang lain :

1. Imam Ali bin Madini pernah ditanya : ”Apa perkataan Ahlul Jannah ?”. Beliau menjawab : Artinya : ”Mereka beriman dengan ru’yah (yakni melihat Allah pada hari kiamat dan di sorga khusus bagi kaum mu’minin), dan dengan kalam (yakni bahwa Allah berkata-kata), dan sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla di atas langit di atas ‘Arsy-NyaIaistiwaa”.

2. Imam Tirmidzi telah berkata : Artinya : ”Telah berkata ahli ilmu : ”Dan Ia (Allah) di atas ‘Arsy sebagaimana Ia telah sifatkan diri-Nya”. (Baca : ”Al-Uluw oleh Imam Dzahabi yang diringkas oleh Muhammad Nashiruddin Al-Albani di hal : 137,140,179,188,189 dan 218. Fatwa Hamawiyyah Kubra oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah hal: 51,52,53,54 dan 57).

3. Telah berkata Imam Ibnu Khuzaimah -Imamnya para imam- : Artinya : ”Barangsiapa yang tidak menetapkan sesungguhnya Allah Ta’ala di atas ‘Arsy-NyaIaistiwaa di atas tujuh langit-Nya, maka ia telah kafir dengan Tuhannya…”. (Riwayat ini shahih dikeluarkan oleh Imam Hakim di kitabnya Ma’rifah ”Ulumul Hadits” hal : 84).

4. Telah berkata Syaikhul Islam Imam Abdul Qadir Jailani -diantara perkataannya- : ”Tidak boleh mensifatkan-Nya bahwa Ia berada diatas tiap-tiap tempat, bahkan (wajib) mengatakan :SesungguhnyaIadi atas langit (yakni) di atas ‘Arsy sebagaimana Ia telah berfirman :” Ar-Rahman di atas ‘ArsyIaistiwaa (Thaha : 5). Dan patutlah memuthlakkan sifat istiwaa tanpa ta’wil sesungguhnya Ia istiwaa dengan Dzat-Nya di atas ‘Arsy. Dan keadaan-Nya di atas ‘Arsy telah tersebut pada tiap-tiap kitab yang. Ia turunkan kepada tiap-tiap Nabi yang Ia utus tanpa (bertanya) :”Bagaimana caranya Allah istiwaa di atas ‘Arsy-Nya ?” (Fatwa Hamawiyyah Kubra hal : 87). Yakni : Kita wajib beriman bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala istiwaa di atas ‘Arsy-Nya yang menunjukan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas sekalian mahluk-Nya. Tetapi wajib bagi kita meniadakan pertanyaan : ”Bagaimana caranya Allah istiwaa di atas ‘Arsy-Nya ?”. Karena yang demikian tidak dapat kita mengerti sebagaimana telah diterangkan oleh Imam Malik dan lain-lain Imam.

 

Hukum Bagi Yang Mengingkari Sifat Al-‘Uluw dan Istiwa’

 

Telah berlalu sebagian ucapan para Imam tentang hal ini. Dan berikut ini beberapa tambahan dari ucapan para ‘ulama Ahlus Sunnah :

@      Berkata Ibnu Khuzaimah rahimahullah : “Siapa yang tidak mengatakan bahwa Allah itu berada di atas langit-langit-Nya tinggi dan menetap di atas Arsy-Nya berpisah dari makhluk-Nya maka wajib dimintai tobat apabila dia bertobat maka diterima kalau tidak maka dipenggal lehernya kemudian dilemparkan ke tempat sampah agar manusia tidak terganggu dengan baunya”. (Disebutkan oleh Al-Hakim dalam Ma’rifatil ‘Ulumul Hadits hal. 152 dan Mukhtashor  ‘Uluw hal. 225).

@      Perkataan Imam ‘Abdurrahman bin Mahdy, sesungguhnya beliau berkata : “Tidak ada pengikut hawa nafsu yang lebih jelek dari pengikut Jahm (Jahmiyah) yang menyatakan bahwa tidak ada di atas langit sesuatu apapun, saya berpendapat –demi Allah-, mereka ini tidak boleh dinikahi dan tidak boleh diwarisi”. Lihat As-Sunnah karya Imam ‘Abdullah bin Ahmad 1/120, Syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah 1/220 dan lain-lainnya.

@      Dan ‘Abdurrahman bin Abi Hatim meriwayatkan -dalam kitab Ar-Rodd ‘Alal Jahmiyah- dari ‘Abdurrahman bin Mahdy bahwa beliau berkata : “Pengikut Jahm mengatakan : “Sesungguhnya Allah tidak mengajak bicara Nabi Musa”, dan mereka mengatakan : “Tidak ada di atas langit sesuatu apapun dan bahwa Allah tidak berada di atas Arsy”. Saya berpendapat mereka harus diminta bertobat, kalau mereka bertobat (maka itu yang diharapkan) dan bila tidak maka mereka harus dibunuh”. Lihat Al-Asma` wa Ash-Shifat 1/286, Al-’Uluw hal. 118, Ijtima‘ul Juyusy hal. 264 dan selainnya.

@      Dan dari Al-Ashma’iy dia berkata : Istri Jahm datang lalu singgah di tempat tukang samak maka berkatalah seorang lelaki disampingnya : “Allah berada di atas Arsy-Nya, maka dia (istri Jahm) berkata : “keterbatasan di atas keterbatasan”. Maka berkata Al-Ashma’iy : “Dia (istri Jahm) kafir dengan perkataan seperti ini”. Lihat Al-‘Uluw hal. 118 dan Mukhtashor Al-’Uluw hal. 270.

@      Dan Imam Ad-Darimy dalam kitabnya Ar-Rodd ‘Alal Jahmiyah membuat bab khusus (dengan judul) Bab Argumen Tentang Pengkafiran Jahmiyah, dan didalamnya (beliau mengatakan) : “…  dan kita mengkafirkan mereka juga karena mereka tidak tahu dimana Allah, tidak mensifati Allah dengan “dimana” padahal Allah telah mensifatkan dirinya dengan “dimana” dan Ar-Rasul shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam juga mensifatkan Allah dengannya, maka Allah berfirman :

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ

“Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-An’am : 18)

 

إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ

“Sesungguhnya Aku akan mengambilmu[2] dan mengangkat kamu kepada-Ku”. (QS. Ali ‘Imran : 55).

يَخَافُونَ رَبَّهُم مِّن فَوْقِهِمْ

“Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka”. (QS. An-Nahl : 50)

 

أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاء أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?,”.(QS. Al-Mulk : 16)

dan ayat-ayat yang semisalnya, maka ini semua adalah pensifatan dengan “dimana”. Dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam mensifati (Allah) dengan “dimana” tatkala beliau bertanya kepada budak wanita yang hitam : “Dimana Allah ?”,  dia menjawab : “Di atas langit”, beliau berkata : “Siapa saya ?”, dia menjawab : “Engkau adalah Rasulullah”, beliau lalu berkata : “Bebaskan dia karena dia adalah seorang wanita yang beriman”. Dan Jahmiyah dikafirkan dengan hal ini dan ini juga termasuk dari kekufuran mereka yang jelas”.

Dan beliau berkata : “Dan mereka (Jahmiyah) juga mengarahkan ibadah mereka kepada Ilah yang berada di bawah bumi yang paling bawah dan di atas permukaan bumi yang paling atas, di bawah langit yang ketujuh yang paling tinggi. Padahal sembahannya orang-orang yang shalat dari kalangan kaum mukminin yang mereka mengarahkan ibadah mereka kepada-Nya adalah Ar-Rahman yang berada di atas langit yang tujuh yang paling tinggi dan Dia Tinggi dan Menetap atas Arsy-Nya yang maha besar dan hanya milik-Nya nama-nama yang Husna (indah), Maha Berkah dan Tinggi nama-Nya. Maka kekafiran yang mana yang lebih jelas daripada apa yang kami hikayatkan dari mereka (Jahmiyah) selain dari (kekafiran) madzhab mereka”. Lihat Ar-Rodd ‘alal Jahmiyah hal. 202-203.


[1] Beliau ini telah di zholimi dengan kezholiman yang melampaui batas sehingga di nisbahkan kepada beliau perkataan-perkataan dan pendapat-pendapat yang beliau sendiri telah berlepas diri dari hal tersebut dan rujuk kepada keyakinan Ulama Salaf Ahlus Sunnah .

[2] Ada pendapat yang masyhur dan benar tentang مُتَوَفِّيْكَ ; Yang pertama bermakna قَابِضُكَ (mengambilmu) dan kedua bermakna مُنِيْمُكَ(menidurkanmu).

[sumber: Majalah An-Nashihah edisi I rubrik Aqidah]

About these ads

Responses

  1. kok wahabiyyun menggunakan ” Dusta ” untuk melegalkan Tajsim dan Tasybih ya…? Sayidina Abu bakar gak ngomong seperti itu kok ditambah tambahin….?

    Ibnu Mas`ud , Imam 4 Madzhab juga gak ngomong seperti itu , kenapa wahabiyyun penuh dusta….? Ingat lho Ijma` Ulama Meng Kafirkan Mujassim , kenapa kalian (wahabiyyun) sebarkan Tajsim…?

    • mudah2an mereka pd bertaubat,kang syahid…

    • Begitulah, orang yang dari faham mu’atilah (menolak sifat Allah) seperti jahmiyah dan yang sefaham (seperti mu’tazilah, asy ariyah) dan yang tidak faham hakikat manhaj ahlussunnah/manhaj salaf akan menuduh bahwa salafyun adalah mujasimah. ini karena kebodohan mereka atau ingin menjauhkan umat dari manhaj ahlussunnah.

      Adapun madzhab Salaf ahlussunnah wal jama’ah, mereka Menetapkan nama dan sifat bagi Allah dengan nama dan sifat yang Dia sifatkan diri-Nya dengannya dan dengan apa yang para rasul-Nya sifatkan di atas dua kaidah ‘menetapkan tanpa menyerupakannya dengan makhluk’ dan ‘menyucikan sifat Allah dari penyerupaan dengan makhluk akan tetapi tidak sampai menolak sifat tersebut’. Allah Ta’ala telah menggabungkan kedua kaidah ini dalam firman-Nya, “Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan-Nya dan Dia lah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

      Akidah Ahlussunnah beriman kepada sifat Allah tanpa :
      1. Tahrif yakni ; Merubah lafadz atau artinya.
      2. Ta’wil yakni ; Memalingkan dari arti yang zhahir kepada arti yang lain.
      3. Ta’thil yakni ; Meniadakan/menghilangkan sifat-sifat Allah baik sebagian maupun secara keseluruhannya.
      4. Tasybih yakni ; Menyerupakan Allah dengan mahluk.
      5. Takyif yakni ; Bertanya dengan pertanyaan : Bagaimana (caranya) ?

      berikut penjelasannya :
      1. At-Tahrif
      At-Tahrif secara bahasa bermakna menyimpangkan sesuatu dari hakikat, bentuk, dan kebenarannya. Adapun menurut istilah syariat, maknanya adalah memalingkan sebuah ucapan dari makna zhahirnya yang semula dipahami, kepada makna lain yang tidak ditunjukkan oleh rangkaian kalimatnya.

      At-Tahrif ada dua jenis:
      a. Yang dilakukan pada teks lafazh.
      Jenis yang ini terbagi kepada tiga bentuk:
      1. Mengubah harakatnya. Misalnya apa yang dilakukan oleh Jahmiah terhadap firman Allah Ta’ala:

      وَكَلَّمَ اللهُ مُوْسَى تَكْلِيْمًا

      “Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung.” (An-Nisa`: 164)
      Mereka merubah harakat ‘ha’ pada kata ‘Allah’ dari dhammah menjadi fathah untuk merubah posisi kata ‘Musa’ dari objek (maf’ul) menjadi pelaku (fa’il). Sehingga makna ayatnya: Dan Musa berbicara kepada Allah. Ini mereka lakukan untuk mengingkari bahwa Allah mempunyai sifat berbicara.
      2. Menambahkan hurufnya, yang demikian itu seperti men-tahrif bacaan اسْتَوَى yang artinya tinggi, menjadi اسْتَوْلَى yang artinya berkuasa. Ini dilakukan oleh Jahmiah karena mereka mengingkari sifat ketinggian Allah.
      3. Menambahkan kalimatnya, yang demikian itu seperti menambahkan kata (الرَّحْمَةُ) yang artinya rahmat, pada firman Allah: وَجَاءَ رَبُّكَ yang artinya “telah datang Rabbmu”, sehingga menjadi: وَجَاءَ رَحْمَةُ رَبِّكَ yang artinya “telah datang rahmat Rabbmu.”

      b. At-Tahrif yang dilakukan pada makna kata tanpa mengubah harakat dan lafadznya. Contohnya seperti ucapan sebagian ahli bid’ah terhadap firman Allah Ta’ala, “Bahkan kedua tangan-Nya terbentang.” (Al-Ma`idah: 64)
      Mereka mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tangan-Nya adalah kekuasaan atau nikmat-Nya..
      Di sini perlu ditegaskan bahwa ahli bid’ah yang suka melakukan tahrif tidak menamakannya dengan tahrif, tetapi menyebutnya sebagai ta`wil yang artinya penafsiran. Hal ini karena mereka tahu bahwa kata tahrif berkonotasi jelek dan tercela di dalam Al-Qur`an. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mentahrif (mengubah) perkataan dari tempat-tempatnya.” (An-Nisa`: 46)
      Pada ayat di atas Allah Ta’ala menisbatkan perbuatan tahrif kepada kaum Yahudi. Ini menunjukkan bahwa konotasi maknanya adalah jelek. Mereka mengganti istilah tahrif dengan istilah ta`wil agar bisa diterima oleh banyak kalangan dan dalam rangka melariskan dagangan kebid’ahan mereka di antara orang-orang yang tidak bisa membedakan antara keduanya.
      Hukum tahrif/ta’wil:
      Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin -di awal syarh Lum’ah Al-I’tiqad- menyebutkan adanya rincian dalam hukumnya, yang kesimpulannya sebagai berikut:

      Jika tahrifnya lahir dari niat yang bagus dan ijtihad dalam menemukan kebenaran -sebagaimana yang terjadi pada sebagian ulama sunnah, diantaranya adalah Al-Hafizh Ibnu Hajar, An-Nawawi, Al-Baihaqi dan selainnya-, maka tahrif seperti ini dimaafkan dan tidak menjadikan pelakunya keluar dari ahlussunnah. Akan tetapi jika tahrifnya lahir dari niat yang jelek maka: Jika tahrifnya tidak mempunyai dukungan dari sisi bahasa Arab, maka pelakunya dihukumi kafir, karena itu sama saja dengan mengingkari lafazh dalam Al-Qur`an.

      Tapi jika tahrifnya mempunyai dukungan dari sisi bahasa maka: Kalau tahrifnya itu merendahkan Allah atau menyifati Allah dengan sifat kurang maka pelakunya dihukumi kafir. Tapi kalau tahrifnya tidak seperti itu maka tidak dihukumi kafir, tapi dihukumi sebagai pelaku bid’ah.

      2. At-Ta’thil
      At-Ta’thil secara bahasa maknanya meninggalkan dan mengosongkan. Adapun menurut istilah syariat, maknanya adalah menolak makna yang benar di dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah. At-Ta’thil terbagi kepada dua jenis:

      1. Ta’thil yang bersifat kulli (menyeluruh), yaitu menolak nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala secara menyeluruh. Sebagaimana yang dilakukan oleh sekte Jahmiah dan yang sependapat dengan mereka, dimana mereka menolak semua nama dan sifat Allah kecuali satu sifat, yaitu sifat wujud (ada).
      2. Ta’thil yang bersifat parsial, yaitu menolak sebagian dan menetapkan sebagian yang lain, sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok Al-Mu’tazilah yang menolak sifat-sifat Allah Ta’ala dan menetapkan nama-nama-Nya. Demikian pula kelompok Al-Asya’irah yang hanya menetapkan 20 sifat, dan mirip dengannya Al-Kullabiyyah, dan Al-Maturidiyyah.
      Hukum ta’thil: Ta’thil yang sifatnya kulli hukumnya adalah kekafiran karena merendahkan Allah karena menganggap bahwa Allah tidak punya nama-nama dan sifat-sifat.

      3. At-Tamtsil
      At-Tamtsil secara bahasa maknanya menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Adapun menurut istilah syariat, maknanya adalah meyakini bahwa sifat-sifat Allah yang Maha Pencipta serupa dengan sifat-sifat makhluk ciptaan-Nya. Tamtsil juga terbagi menjadi dua jenis:
      1. Menyerupakan makhluk dengan Yang Maha Pencipta, yaitu menetapkan untuk makhluk sesuatu yang telah menjadi kekhususan Yang Maha Pencipta. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Nasrani ketika mereka mengatakan bahwa Nabi Isa adalah Allah Ta’ala, juga seperti keyakina sufi ekstrim bahwa para wali juga berperan dalam mengatur alam semesta.
      2. Menyerupakan Zat Yang Maha Pencipta dengan makhluk ciptaan-Nya, yaitu menetapkan untuk Zat yang Maha Pencipta sesuatu yang telah menjadi kekhususan makhluk-Nya. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Yahudi ketika mereka mengatakan bahwa Allah Ta’ala adalah kedua tangan Allah terbelenggu, dan seperti ucapan sekte al-musyabbihah bahwa tangan Allah sama seperti tangan makhluk. Wal’iyadzu billah.
      Hukum tamtsil: Tamtsil mengkafirkan pelakunya karena menyandarkan sifat kurang kepada Allah, yaitu bahwa sifat-Nya seperti sifat makhluk yang penuh dengan kekurangan.

      4. At-Takyif
      Takyif secara bahasa bermakna membagaimanakan atau bertanya dengan kata kaifa (bagaimana). Adapun secara istilah, maka takyif ada dua bentuk:
      1. Mengkhayalkan sifat-sifat Allah Ta’ala dalam bentuk tertentu yang dibayangkan di alam pikiran. Misalnya seseorang mengkhayalkan kaifiat kaki Allah dengan mengkhayalkan kaki yang sangat besar lagi hebat yang ada dalam pikirannya.
      2. Menanyakan kaifiat hakikat sifat Allah Ta’ala walaupun tanpa menyerupakannya dengan makhluk. Seperti pertanyaan seorang ahli bid’ah kepada Imam Malik tentang bagaimana caranya Allah istiwa` di atas arsy.
      Perbedaan antara takyif dan tamtsi adalah: Takyif menyerupakan sifat-sifat Allah Ta’ala dengan sesuatu yang tak ada wujudnya di luar alam pikiran (kenyataan), sedangkan tamtsil menyerupakan sifat-sifat Allah Ta’ala dengan sesuatu yang ada wujudnya di luar alam pikiran. Adapun persamaan keduanya adalah bahwa keduanya merupakan perbuatan menyerupakan Allah Ta’ala dengan makhluk, karena khayalan manusia juga adalah makhluk ciptaan Allah.
      Hukum takyif: Sama halnya dengan tamtsil, takyif juga adalah kekafiran karena keduanya adalah perbuatan menyamakan Allah dengan makhluk.

      SETELAH MENGETAHUI AKIDAH SALAF DALAM ASMA’ WA SIFAT INI , JIKA MASIH ADA YANG MENUDUH BAHWA SALAFY ITU MUJASIMAH, MAKA KETAHUILAH BAHWA DIA ADALAH PENEBAR FITNAH !!

  2. Bahasa Al Quran Allah di atas langit atau itu bukanlah bermakna tempat dan arah. Tetapi merupakan kalam-kalam pendekatan atau ungkapan untuk menetapkan keagungan dan ketinggian derajat Allah.

    Tempat dan arah adalah ciptaanNya, dan Dia tentu tidak dipengaruhi atau ciptanNya.

    Langit mempunyai awal dan akhir sedangkan Allah tidak mempunyai awal maupun akhir.

    Maka sifat Allah diatas langit tidaklah mungkin dimaknai zhahir, karena langit berawal dan akan berakhir sedangkan Keagungan, kebesaran dan ketinggian derajat Allah tidak berawal dan tidak berakhir.

    • bisa anda bawakan dalil yang menguatkan ucapan anda?
      Berikut penjelasannya agar tidak bingung :

      1. Dari dulu Allah itu ada dan tidak ada sesuatu apapun bersama-Nya kemudian Allah menciptakan makhluk maka tatkala Allah menciptakan mereka maka hanya ada dua kemungkinan, Allah menciptakan makhluk-Nya berada dalam diri-Nya atau menciptakannya diluar diri-Nya, yang pertama adalah bathil secara pasti dengan kesepakatan. Sebab Allah di sucikan dari hal-hal yang bertentangan dan disucikan merasuk di kotoran-kotoran, Maha Tinggi Allah dari hal tersebut.

      Hal itu mengharuskan Allah berpisah dari makhluk-Nya dan makhluk tidak mungkin bersatu dengan Allah.

      2. Dan dikatakan : kemungkinan Allah masuk (berada) di alam atau berpisah dengan Alam dan sungguh telah pasti dan harus Allah itu berpisah dengan alam, dan kalau berpisah maka mengharuskan Allah berada diatasnya, hal ini diperjelas dengan perkara berikut :

      3. Bahwasanya arah diatas adalah arah yang paling mulia dan itu menunjukkan sifat kesempurnaan, tidak ada kekurangan dari sisi manapun juga, maka dengan hal itu mengharuskan akan kekhususan Allah dengan hal tsb dan ini adalahi kelaziman Dzat-Nya maka tidak ada wujud selain Dzat-Nya kecuali Allah tinggi berada diatasnya.

      4. Sesungguhnya diketahui dengan akal yang sehat tidak mungkinnya ada dua wujud salah satunya tidak sederetan pada yang lain dan tidak berpisah darinya dari satu sisipun.

      (Lihat : Syarah Aqidah Thohawiyah hal 389-390, Dar`ut Ta’arudh Baina Al-Aql wan Naql 6/143-146 dan 7/3-10, Ar-Radd ‘Alal Jahmiyah karya Imam Ahmad hal 139 dan Al-Fatawa 5/152 dan yang lainnya.)

      Dalil-dalil secara fitroh:

      1. Bahwasanya seorang hamba yang masih berada dalam fitrohnya, ia akan mendapatkan suatu perkara yang dhorury (pasti) yaitu tatkala dia berdoa kepada Allah dalam keadaan gawat maka dia akan tujukan/arahkan hatinya kepada Allah yang Maha Tinggi dan berada diatas.
      2. Di mendapatkan gerakan mata dan tangannya dengan isyarat keatas mengikuti isyarat hatinya keatas dan ia mendapatkan hal itu secara dhorury (spontan dan pasti).
      3. Bahwasanya barbagai macam umat telah bersepakat akan hal itu tanpa disengaja.
      4. Mereka mengatakan dengan lisan-lisan mereka : “Bahwa kami mengangkat tangan-tangan kami kepada Allah dan mereka mengabarkan tentang diri-diri mereka bahwa hal itu mereka dapatkan pada hati-hati mereka secara dhorury (spontan dan pasti) mengarah keatas.

      (lihat : Naqdhut Ta`sis 2/447, At-Tahmid karya Ibnu Abdil Baar 7/137, Ar-Raddu ‘Alalal Jahmiyyah karya Ad-Darimy hal 37 dan lain-lain).

      • 1. perkataan anda ini kontradiktif, kalau tidak ada sesuatupun bersamanya, maka tidak ada yang lain selain Dia. Tidak ada yang namanya luar, sebab bila ada diluar Allah, maka Allah didalam ruang. Maka dalam bahasa Al Quran tidak ada yang namanya diluar dan di dalam Allah, yang ada adalah selain Allah. Jadi kedua kemungkinan itu adalah salah. Karena Allah tidak bisa disebut diluar atau di dalam.
        Adakah dalil yang menyatakan Allah menciptakan sesuatu diluar diriNya? bila mahluk dan Allah berdampingan, maka keduanya tentu berada dalam ruang yang melingkupi keduanya. Maka Allah tidak diluar maupun di dalam mahlukNya.,

        2. “Hal itu mengharuskan Allah berpisah dari makhluk-Nya dan makhluk tidak mungkin bersatu dengan Allah”.

        Mahluk memang tidak bersatu atau menjadi satu dengan Allah. Tetapi Allah juga tidak berpisah dan jauh dari mahlukNya. Karena Allah meliputi segala sesuatu.

        3. Arah di atas itu mulia bila dimuliakan Allah, bukan mulia dari asalnya. Secara Zhahir Arah itu tidak bersifat mulia atau hina, justru secara maknawi, atas itu disebut mulia daripada bawah, karena Allah memberikannya kemulyaan dengan mengajarkan bahwa arah atas secara maknawi adalah mulya….ingat secara maknawi bukan secara fisik atau indrawi.

        4. “Sesungguhnya diketahui dengan akal yang sehat tidak mungkinnya ada dua wujud salah satunya tidak sederetan pada yang lain dan tidak berpisah darinya dari satu sisipun”.

        ini adalah wujud mahluk. Sedangkan wujud Allah berbeda dengan wujud mahluk. Justru Allah yang membuat tidak mungkinnya ada dua wujud mahluk salah satunya tidak sederetan pada yang lain dan tidak berpisah darinya dari satu sisipun.

        Kalau boleh tahu siapa yang mensyarah kitab ini….???

        Dalil-dalil fitrah yang anda sebutkan adalah dalil-dalil akan kefitrahan hambaNya dalam merasakan keagungan Allah, dan itu disimbolkan dengan sikap mereka, bukan menunjukkan Allah secara zhahir bertempat dan berarah.

        Secara akal sehat justru Allah tidak jauh dari mahluknya dan berada di atas arsy, sedangkan dibawahnya adalah mahluk. Sekarang siapakah yang memecahkan atom/materi, yang membelah sel, siapa yang berbuat atas segala kejadian di alam ini ? Semua itu adalah Allah. Apakah perbuatanNya berpisah daripada diriNya?

  3. Para ulama yang berkata dengan perkataan Allah di atas langit dan semacamnya tidaklah mengartikannya dengan bertempat dan berarah. tapi mereka memaknainya sebagai ungkapan ketinggian dan kebesaran Allah.

    • ulama siapa yang berkata demikian ?

      • komentar Sulaiman Al-khitabi atas hadist abu dawud yang sanadnya dari Jabir bin Muhammad bin Jubair bin Math’am dari ayahnya dari kakeknya bahwa seorang Arab Badui datang kepada Rasulullah kemudian berkata : “wahai Rasulullah, jika telah berusaha dengan sungguh-sungguh dan keluarga-keluarga telah tiada”. Rasulullah bersabda : “celakalah kamu, apakah kamu tahu siapa Allah itu?”.
        Orang itu berkata dengan jarinya seperti mununjuk ke langit “arsyNya di atas langit-langitNya”.
        Ibnu Bisyar menambahkan “Allah di atas arsyNya di atas langit-langitNya”. Hadist itu disebutkan oleh Bukhari dalam ath Tarikh.
        Al-Khitabi berkata dalam sebuah komentarnya tentang kalimat “sesungguhnya Allah di atas arsyNya”. :
        “Perkataan ini jika sesuai dengan zhahir nya, maka merupakan bentuk kaifiyah, kaiyifiyah kepada Allah dan sifat-sifatNya yang muntafiyah, dapat dipahami bahwa yang dimaksudkan adalah pembenaran sifat ini dan tidak menetapkan/mendefinisikan seperti keadaan ini. Akan tetapi, hanya merupakan kalam-kalam pendekatan kata-kata yang dimaksudkan sebagai bentuk penetapan akan keagungan Allah. Dan yang dimaksudkan hanya sebagai upaya pemahaman kepada penanya dari sudut yang ia pahami. Jika orang Arab tersebut tidak punya pengetahuan dengan makna dari kalam itu, ada kata yang dihilangkan dari kata dhamir, maka makna ucapannya ‘apakah kamu tahu siapakah Allah itu?’ berarti ‘tahukah kamu apa keagungan Allah?”

        Saya kutip dari buku DR Said Ramadhan Al-Buthi ‘Salafi sebuah fase sejarah, bukan Mazhab’

  4. Assalamu’alaykum

    silahkan di simak materi dan komen-nya

    http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/07/dimanakah-allah-ini-jawaban-al-imaam.html

    semoga bermanfaat

  5. Dari dulu abul jauzza sangat kental aroma tajsimnya. Hadist yg ditulis oleh abul jauzza itu dipertentangkan kesahihannya, jadi tidak bisa dijadikan landasan masalah akidah. Saya hanya ingin mengatakan bahwa sifat-sifat Allah yg mengandung tasybih beserta tajsim bila dimaknai secara zhahir, itu artinya mengandung kesamaran. Dan Allah telah menjelaskan bahwa ayat-ayat mutasyabihat itu mempunyai takwil. Adapun salaf itu beriman dgn kata zhahirnya sebagaimana datangnya, dan sebagian besar tidak memberitahukan takwilnya karena kehati-hatian mereka dan sifat mereka yg takut kepada Allah.

    • hmmm…

      kalo begitu, jika saya sedang membaca al-Qur’an,
      ketika melewati kata-kata di dalam al-Qur’an yg dipahami dalam kamus Arab – Indonesia..
      yang mempunyai arti, “tangan”, “wajah”

      apa yang harus saya lakukan akhi ?
      apakah mendiamkannya, melewati kata2 tersebut ?

      atau tetap di lafalkan, akan tetapi sembari berusaha untuk menyingkirkan arti (sesuai kamus) yang sudah terlanjur melekat di dalam memori otak ?

      mohon pencerahannya

      Jazakallahu khayr.

      • sudah jelas kaidah dalam asma’ wa sifat :
        kita imani lafadz nya tanpa :
        menolak, memalingkan arti, menyamakan dg mahluk, dan menanyakan bagaimananya.. tapi sifat Allah sesuai dg Keagungan-Nya

  6. Sudah jelas kaidah salaf sebagaimana pemahaman mereka yang shahih terhadap nash-nash asma wa shifat adalah mereka beriman kepada semua yang diturunkan oleh Allah dan melakukan tanzih, mensucikan Allah dari sifat-sifat yang tidak layak bagi Allah, sehingga makna zhahir sebuah ayat sifat yang tidak sesuai dengan keagunganNya maka ditakwil dengan 2 takwil, yaitu takwil ijmali/tafwidh dan takwil tafsili.

    Hal ini juga dilakukan oleh ulama-ulama wahabi yang mentakwil ‘Allah meliputi segala sesuatu’ dan ‘dimanapun engkau menghadap disitu wajah Allah’, maka takwil terhadap nash yang mengandung kesamaran/mutasyabihat dikarenakan makna zhahir ayat itu mengandung penyerupaan dan tidak sesuai / layak bagi Allah, maka sudah dijelaskan oleh Allah, bahwa ayat itu mempunyai takwil.

    Oleh karena itulah Imam Ahmad mentakwil ‘turunnya Allah’ dengan turunnya perintah Allah, Imam bukhari mentakwil ‘tertawa Allah’ dengan rahmat dsbnya.

    ———————————————————————————————-
    “kalo begitu, jika saya sedang membaca al-Qur’an,
    ketika melewati kata-kata di dalam al-Qur’an yg dipahami dalam kamus Arab – Indonesia..
    yang mempunyai arti, “tangan”, “wajah”

    apa yang harus saya lakukan akhi ?
    apakah mendiamkannya, melewati kata2 tersebut ?

    atau tetap di lafalkan, akan tetapi sembari berusaha untuk menyingkirkan arti (sesuai kamus) yang sudah terlanjur melekat di dalam memori otak ?”

    Sekarang coba anda baca hadist nabi “surga ditelapak kaki ibu”……

    Tentu kita tidak melewatinya, tidak juga mendiamkannya, tetap kita lafazkan sesuai perkataannya….. jadi bahasa dan terjemahannya tidak perlu berubah…. yang perlu berubah itu adalah pemahamannya dari makna zhahir ayat kepada pemahaman maknanya yang tidak sama dengan makna zhahirnya ….anda tentu paham maksud saya …kalau anda tidak paham, saya rasa itu karena hati anda memang tidak mau menerimanya.

    Nah kalau anda sudah paham dengan contoh diatas…tentu anda akan paham bagaimana memahami ayat-ayat sifat yang mutasyabihat.

    • Quote :

      .. jadi bahasa dan terjemahannya tidak perlu berubah..

      _________________________________________________

      hmmm…
      jadi yang ada di dalam nash (al-Qur’an dan as-Sunnah) tetep di baca ya

      …tangan, kaki, wajah, mata, dyl

      sebagaimana para sahabat -radliyallahu’anhum- melafadzkan.nya…
      tanpa berpusing-pusing ria menyamakan.nya dengan makhluk, memalingkan maknanya, .. :)

      Syukron, wa hadakallahu

      Jazakallahukhayr yaa akhi.

  7. @dianth
    mereka nggak mau baca fiqh al akbar nya imam hanafi dan imam syafii sih kang, yo wiss…??

    • maklumlah mas…. masih beku…

  8. dianth>>>Adapun salaf itu beriman dgn kata zhahirnya sebagaimana datangnya, dan sebagian besar tidak memberitahukan takwilnya karena kehati-hatian mereka dan sifat mereka yg takut kepada Allah
    ———————————————————————————————Apa ada dalil mereka tidak mentakwil karena ke Hati2 an?
    Jika mereka mereka saja memahaminya seperti itu tanpa takwil, apa kita harus merasa lebih berilmu dari pada mereka?dari pada Imam 4 mazhab, ulama2 kibar lainnya??
    Cukup lah menetapkan apa yang Allah sendiri tetapkan atas diri Nya, setelah itu diam….mohon jadi renungan, beginilah pemahaman kami, sebagaimana pemahaman para sahabat..

    wallahu a’lam

  9. “ada dalil mereka tidak mentakwil karena ke Hati2 an?”

    Mereka bukan tidal mentakwil, tetapi sebagian besar mereka tidak memberitahukan takwilnya.

    Karena Allah telah berfirman : “tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah dan orang-orang yang mendalam pengetahuannya”

    Mereka menyadari bahwa Allah yang lebih mengetahuinya takwilnya, sedangkan takwil mereka hanyalah tafsiran belaka.

    “Cukup lah menetapkan apa yang Allah sendiri tetapkan atas diri Nya, setelah itu diam….mohon jadi renungan, beginilah pemahaman kami, sebagaimana pemahaman para sahabat..”

    Semua ahlussunah menetapkan apa yang ditetapkanNya.

    tetapi sebagaimana kata Imam Sulaiman Al Khitabi, sifat-sifat Allah yang mengandung kesamaran/mutasyabihat karena mengandung kecenderungan tajsim dan menetapkan kafiyah bagi Allah, maka Imam mengatakan :
    ‘pembenaran sifat ini dan tidak menetapkan/mendefinisikan seperti keadaan ini’

    Artinya sifat-sifat itu ditetapkan secara zhahir bahasanya tanpa tha’til dan tahrif, namun tidak menetapkan maknanya sebagaimana zhahir bahasanya.

    sudah saya contohkan kita menetapkan dan beriman kepada sabda rasul bahwa “surga ditelapak kaki Ibu’, tetepi kita tidak menetapkan maknanya secara zhahir, tapi mempunyai takwil.

    mohon jadi renungan, beginilah pemahaman kami, sebagaimana pemahaman para sahabat..

    • Sebutkan satu saja perkataan sahabat yang berpendapat seperti anda…

  10. tuk yg berfaham spt ibnu taymiah…

    ..Berkata Al-Allamah Taqiyyuddin Al-Husniyy di dalam kitabnya ( Daf-U Subha Man Sabbaha Wa Tamarrad) m/s 88..

    silahkan lanjut di :http://jihadwahabi.blogspot.com/2008/08/kubur.html

    wallahu a’lam

  11. kan saya sudah tuliskan dalilnya bahwa ayat-ayat mutasyabihat itu ada takwilnya.

    Para sahabat tentu paham makna ayat dan hadist ini :

    [QS 57:3] Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

    Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

    : “Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan tidak ada
    sesuatupun selain-Nya” (H.R. al Bukhari dan lainnya)

    Bukankah Allah sudah ada tanpa bertempat, tanpa arah.

    kemudian Allah yang menciptakan langit, arsy dan mahluk lainnya.

    Lalu apakah kemudian sifatNya berubah dari Ada tanpa tempat dan arah, berubah menjadi bertempat dan berarah?

    Bila Allah mengungkapkan keagungan dan ketinggianNya dengan mengatakan Dia diatas langit, apakah kita mesti memahaminya menjadi bertempat dan berarah?

    sedangkan bertempat dan mempunyai arah yaitu diatas langit bertentangan dan berlawanan dengan sifatNya yang ada tanpa ada arah dan tempat sejak awalnya.

    maka jelas ini adalah termasuk ayat-ayat mutasyabihat. dan ada takwilnya.

    dan sudah dijelaskan oleh para Imam yang bersambung sanadnya dengan para sahabat, bahwa Allah ada tanpa tempat dan arah.

    sebagaimana perkataan Imam hanafi dalam perdebatannya dengan orang atheis…. Allah tidak bertempat dan tidak ditempatkan.

    sebagaimana Imam malik yang mengusir orang yang memahami istiwa Allah dengan makna zhahirnya,

    sebagaimana Imam Hanbali yang mentakwil turunnya Allah dengan turunnya perintah Allah.

    justru yang perlu wahabi tuliskan adalah perkataan sahabat yang mengatakan diatas langit itu berarti tempat dan arah.

    “Cukup lah menetapkan apa yang Allah sendiri tetapkan atas diri Nya, setelah itu diam….mohon jadi renungan, beginilah pemahaman kami, sebagaimana pemahaman para sahabat..”

    saya sepakat dengan perkataan ini, dengan catatan diamnya para sahabat itu tidaklah berarti para sahabat memaknainya dengan makna zhahir sebagaimana pemahaman wahabi.

  12. Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Nashr dan Muhammad bin Yuunus An-Nasaa’iy secara makna,
    mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yaziid Al-Muqri’ :
    Telah menceritakan kepada kami Harmalah, yaitu Ibnu ‘Imraan : Telah menceritakan kepadaku Abu Yuunus Sulaim bin Jubair maulaa Abu Hurairah, ia berkata :
    Aku mendengar Abu Hurairah membaca ayat ini :

    ‘Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya’ hingga firman-Nya ta’ala : ‘Maha Mendengar lagi Maha Melihat’ (QS. An-Nisaa’ : 58).

    Ia (Abu Hurairah) berkata :
    “Aku melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam meletakkan ibu jarinya pada telinganya, dan jari telunjuknya ke matanya”.

    Abu Hurairah berkata :
    “Aku melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat itu seraya meletakkan kedua jarinya tersebut”.

    Ibnu Yuunus berkata : Berkata Al-Muqri’ :
    “Yaitu, sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat, yaitu Allah mempunyai pendengaran dan penglihatan”.

    Abu Daawud berkata : “Hadits ini merupakan bantahan terhadap sekte Jahmiyyah”

    [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 4728; dishahihkan sanadnya oleh Al-Albaaniy dalam Shahih Sunan Abi Daawud 3/156].

  13. Telah menceritakan kepada kami Muusaa bin Ismaa’iil :
    Telah menceritakan kepada kami Juwairiyyah, dari Naafi’, dari ‘Abdullah (bin ‘Umar),
    ia berkata :
    Disebutkan Dajjaal di sisi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam,

    lalu beliau bersabda :
    “Sesungguhnya Allah tidak tersembunyi dari kalian.
    Sesungguhnya Allah itu tidak buta sebelah matanya
    – lalu beliau berisyarat dengan tangannya ke matanya – .

    Dan bahwasannya Al-Masiih Ad-Dajjaal itu buta sebelah matanya yang kanan seakan-akan matanya itu seperti buah anggur yang mengapung (menonjol keluar)”
    [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 7407].

    ______________________________________

    حدثنا موسى بن إسماعيل: حدثنا جويرية، عن نافع، عن عبد الله قال: ذكر الدجال عند النبي صلى الله عليه وسلم، فقال: (إن الله لا يخفى عليكم، إن الله ليس بأعور – وأشار بيده إلى عينه – وإن المسيح الدجال أعور العين اليمنى، كأن عينه عنبة طافية).

  14. @tuk di renungkan bagi kaum mujassimah…

    ﴿ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىءٌ ﴾ (سورة الشورى: ۱۱)

    Maknanya: “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi, dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya)”. (Q.S. as-Syura:11)

    ﴿ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ ﴾ (سورة الإخلاص :4)

    Maknanya: “Dia (Allah) tidak ada satupun yang menyekutui-Nya”. (Q.S. al Ikhlash : 4)

    ﴿ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا ﴾ (سورة مريم :65)

    Maknanya: “Allah tidak ada serupa bagi-Nya”. (Q.S. Maryam : 65)

    imam asy-Syafi’i –semoga Allah meridlainya-say :

    ” ءَامَنْتُ بِمَا جَاءَ عَنِ اللهِ عَلَى مُرَادِ اللهِ وَبِمَا جَاءَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ r عَلَى مُرَادِ رَسُوْلِ اللهِ ”

    “Aku beriman dengan segala yang berasal dari Allah sesuai apa yang dimaksudkan Allah dan beriman dengan segala yang berasal dari Rasulullah sesuai dengan maksud Rasulullah”, yakni bukan sesuai dengan yang terbayangkan oleh prasangka dan benak manusia yang merupakan sifat-sifat benda (makhluk) yang tentunya mustahil bagi Allah.

    Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda :

    ” إذا رأيتم الذين يتبعون ما تشابه منه فأولئك الذين سمى الله فاحذروهم ” (رواه أحمد والبخاري ومسلم وأبو داود والترمذي وابن ماجه)

    Maknanya: “Jika kalian menyaksikan orang-orang yang mengikuti ayat-ayat Mutasyabihat al Qur’an, maka mereka inilah yang disebutkan oleh dalam Al Imran : 7, waspadai dan jauhi mereka”. (H.R. Ahmad, al Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Turmudzi dan Ibnu Majah)

    Imam ath-Thahawi telah menukil ijma’ para ulama salaf yang menegaskan:

    “تعالـى (يعني الله) عن الحدود والغايات والأركان والأعضاء والأدوات”.

    “Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya).

    Al Imam ath-Thahawi juga mengatakan:

    ” ومن وصف الله بمعنى من معانـي البشر فقد كفر”.

    “Barangsiapa menyifati Allah dengan salah satu sifat manusia maka ia telah kafir”.

    Di antara sifat-sifat manusia adalah bergerak, diam, turun, naik, duduk, bersemayam, memiliki anggota badan, baik yang kecil maupun yang besar dan lain sebagainya.

  15. Kitab ini “as-Saif ash-Shaqil Fi ar-Radd ‘Ala ibn Zafil” adalah karya al-Imam al-Hafizh Taqiyyuddin as-Subki (756 H);

    al-Bayhaqi telah mengutip dalam kitab Manaqib Ahmad dari pemimpin ulama madzhab Hanbali –yang juga putra dari pimpinan ulama madzhab Hanbali–; yaitu Imam Abu al-Fadl at-Tamimi, bahwa beliau (Abu al-Fadl) berkata: “Imam Ahmad sangat mengingkari terhadap orang yang mengatakan bahwa Allah sebagai benda (jism). Dan ia (Imam Ahmad) mengatakan bahwa nama-nama Allah itu diambil dari tuntunan syari’at dan dengan dasar bahasa. Sementara para ahli bahasa mengatakan bahwa definisi “jism” (benda) hanya berlaku bagi sesuatu yang memiliki panjang, lebar, volume, susunan, bentuk, (artinya yang memiliki dimensi), padahal Allah Maha Suci dari pada itu semua. Dengan demikian Dia (Allah) tidak boleh dinamakan dengan “jism” (benda), karena Dia Maha Suci dari makna-makna kebendaan, dan penyebutan “jism” pada hak Allah tidak pernah ada di dalam syari’at; maka itu adalah sesuatu yang batil”.

    penjelasan lainnya,

    al-Bayhaqi dalam kitab Manaqib Ahmad berkata: “Telah mengkabarkan kepada kami al-Hakim, berkata: Mengkabarkan kepada kami Abu Amr ibn as-Sammak, berkata: Mengkabarkan kepada kami Hanbal ibn Ishak, berkata: Aku telah mendengar pamanku Abu Abdillah (Ahmad ibn Hanbal) berkata: ”Mereka (kaum Mu’tazilah) mengambil dalil dalam perdebatan denganku, –ketika itu di istana Amîr al-Mu’minîn–, mereka berkata bahwa di hari kiamat surat al-Baqarah akan datang, demikian pula surat Tabarak akan datang. Aku katakan kepada mereka bahwa yang akan datang itu adalah pahala dari bacaan surat-surat tersebut.

    Dalam makna firman Allah “Wa Ja’a Rabbuka” (QS. al-Fajr 23), bukan berarti Allah datang, tapi yang dimaksud adalah datangnya kekuasaan Allah. Karena sesungguhnya kandungan al-Qur’an itu adalah pelajaran-pelajaran dan nasehat-nasehat”.

    Dalam peristiwa ini terdapat penjelasan bahwa al-Imâm Ahmad tidak meyakini makna “al-Majî’” (dalam QS. al-Fajr di atas) dalam makna Allah datang dari suatu tempat. Demikian pula beliau tidak meyakini makna “an-Nuzûl” pada hak Allah yang (disebutkan dalam hadits) dalam pengertian turun pindah dari satu tempat ke tempat yang lain seperti pindah dan turunnya benda-benda. Tapi yang dimaksud dari itu semua adalah untuk mengungkapkan dari datangnya tanda-tanda kekuasaan Allah,

    karena mereka (kaum Mu’tazilah) berpendapat bahwa al-Qur’an jika benar sebagai Kalam Allah dan merupakan salah satu dari sifat-sifat Dzat-Nya, maka tidak boleh makna al-Majî’ diartikan dengan datangnya Allah dari suatu tempat ke tampat lain. Oleh karena itu al-Imâm Ahmad menjawab pendapat kaum Mu’tazilah dengan mengatakan bahwa yang dimaksud adalah datangnya pahala bacaan dari surat-surat al-Qur’an tersebut. Artinya pahala bacaan al-Qur’an itulah yang akan datang dan nampak pada saat kiamat itu”.

    penjelasan lain..

    Tafsir Ibnu katsir menolak makna dhahir (lihat surat al -a’raf ayat 54, jilid 2 halaman 295)

    {kemudian beristawa kepada arsy} maka manusia pada bagian ini banyak sekali perbedaan pendapat , tidak ada yang memerincikan makna (membuka/menjelaskannya) (lafadz istiwa)

    dan sesungguhnya kami menempuh dalam bagian ini seperti apa yang dilakukan salafushalih, imam malik, imam auza’I dan imam atsuri, allaits bin sa’ad dan syafi’I dan ahmad dan ishaq bin rawahaih dan selainnya dan ulama-ulama islam masa lalu dan masa sekarang.

    Dan lafadz (istawa) tidak ada yang memerincikan maknanya seperti yang datang tanpa takyif (memerincikan bagaimananya) dan tanpa tasybih (penyerupaan dgn makhluq) dan tanpa ta’thil(menafikan) dan (memaknai lafadz istiwa dengan) makna dhahir yang difahami (menjerumuskan) kepada pemahaman golongan musyabih yang menafikan dari (sifat Allah) yaitu Allah tidak serupa dengan makhluqnya…”

  16. jika ada yang mengatakan Alloh tidak bertempat karena beralasan ingin mensucikan Alloh dari sifat makhlukNya yang memiliki tempat……sekarang kita mengetahui dengan jelas bahwa makhluk itu sesuatu yang “ADA” dan “ADA”nya makhluk merupakan sifat yang melekat pada semua makhluk….Apakah kita akan mengatakan bahwa Alloh itu “TIDAK ADA” karena ingin mensucikan sifat Alloh dari sifat makhlukNYa ?????

    Mohon pencerahan dari mas Prass dan Diant tapi sederhana saja ya penjelasannya biar saya paham…..

    • Allah mempunyai sifat, mahluk juga punya sifat.

      Ada sifat mahluk yang seperti sifat Allah, seperti sifat melihat, mendengar, atau ‘ada’ atau wujud seperti kata mas hanif.

      Tetapi ada yang menjadi sifat mahluk dan bukan merupakan sifat Allah, sebagaimana Ada Sifat Allah yang tidak mungkin merupakan sifat mahluk.

      Contohnya mahluk itu bersifat bergantung pada penciptanya, sedangkan Allah sifatnya adalah berdiri sendiri. Allah tidak berawal dan tidak berakhir, mahluk itu baru dan akan sirna.

      Mensucikan Allah dari tempat bukan sekedar ingin mensucikan Alloh dari sifat makhlukNya yang memiliki tempat, tetapi mensucikan Allah dari sifat yang tidak layak dan memang bukan sifatNya.

      Salah satu Sifat Allah itu adalah Qidam, atau Awal, sebagaimana quran mengatakan : [QS 57:3] Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

      Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam bersabda: “Allah ada pada azal (Ada tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya”. (H.R. al-Bukhari, al-Bayhaqi dan Ibn al-Jarud)

      Jadi Allah itu telah ADA, tanpa ada sesuatu selainNya, termasuk tempat, arah, langit, arsy dan apapun itu selain diriNya.

      Itu artinya sifat Allah Awal tanpa tempat dan arah, karena tempat dan arah adalah sesuatu selain diriNya.

      bertempat dan berarah adalah tidak sesuai dengan sifatNya, seperti sifat lemah, tidak sesuai dengan sifatNya yang Maha kuat.

      wujud Allah tidaklah bisa disetarakan dengan wujud mahluk, karena wujud mahluk adalah perbuatanNya, dan wujud mahluk tetap ada selama Dia membuatnya ada.

      • bismillah…Mas Dianth -semoga Alloh merohmati kita-…saya ada beberapa permasalahan, mohon dijelaskan lagi ya…
        1) jika kita menetapkan sifat melihat (sama’) dan sifat mendengar (bashor) bagi Alloh, apakah bisa dikatakan bahwa kita menyerupakan Alloh dengan makhlukNya atau melakukan tasybih (penyerupaan sifat Alloh dengan sifat makhlukNya) , mengingat makhluk juga memiliki sifat melihat dan mendengar ??

        2)Apa bedanya dengan ucapan seseorang “Saya beriman dan menetapkan sifat Al Wajh dan Al Yad bagi Alloh sebagaimana ditetapkan dalam Al Quran tanpa diketahui kaifiyah sifatnya dan saya meyakini sifat Al Wajh dan Al Yad Alloh tidak serupa (berbeda) dengan makhluk” apakah ucapan ini juga teranggap tasybih atau tajsim??

        3) Kapan sifat-sifat yang disebutkan dalam Al Quran dan Hadits itu dikatakan layak bagi Alloh dan kapan pula kita menyatakan sifat-sifat itu tidak layak bagi Alloh sehingga kita harus menta’wilnya (memalingkan dari makna dzohir)???

        4) Bukankah kita tidak tahu tentang hakikat zat Alloh sedikitpun….lalu darimana kita bisa menyatakan bahwa sifat yang Alloh sebutkan untuk diriNya dalam Al Quran seperti Al Wajh, Al Yad, dll kita katakan tidak layak bagi Alloh….sementara Alloh sendiri berfirman dlm surat Al Baqoroh “Aantum a’lamu amillah” artinya “Apakah kalian yang lebih tahu ataukah Alloh yang lebih tahu?” apalagi ini terkait tentang permasalahan ghoib yang kita tidak mungkin bisa tahu kecuali dengan wahyu…

        jazakumulloh khoiron Mas,semoga Alloh menambah dan memberkahi ilmu kita…tolong dijawab per point ya…barokallohfiik

  17. kenapa mas Prass dan mas Diant menuduh Salafiyyun Ahlus Sunah wal Jama’ah melakukan tajsim dan tasybih ???? Padahal para ulama kita hanya menetapkan sifat yang Alloh tetapkan bagi diriNYa dalam Al Quran dan sifat yang rasululloh tetapkan bagi Alloh dalam hadits yang shohih…Apakah Anda tidak beriman dengan ayat-ayat Al Quran dan hadits nabi????? atau Anda hanya beriman dengan sebagian ayat lalu menolak ayat-ayat lain yang banyak yang menetapkan sifat Alloh…..ketika Ahlus Sunah dan Ulamanya menetapkan sifat Wajah, sifat Tangan, sifat ketinggian Al ‘Uluw bagi Alloh sebagaimana disebutkan dalam Al Quran bukan berarti Ahlus Sunah menetapkan sifat jism (badan) atau arah bagi Alloh….lafadz jism dan arah terlalu global, tidak ada satupun dari ulama salafiyyun yang menetapkan sifat Jism (badan) dan arah bagi Alloh sepengetahuan saya…. jadi Anda BERDUSTA jika mengatakan Salafiyyun demikian…Para Ulama Ahlus Sunah Salafiyyun menetapkan sifat Al Wajh, Al Yad, dan Al ‘Uluw bagi Alloh sesuai dengan ketinggian dan kebesaranNya…..dan menetapkan sifat Al Wajh, Al Yad bagi Alloh BERBEDA dengan makhlukNya…jadi siapa yang mujassimah dan musyabbihah???? kapankah Ulama Salafiyyun mengatakan Sifat Alloh seperti sifat makhlukNya atau melakukan tasybih???

    • sejak kapan kaum sawah menamakan ahlusunnah..?
      silahkan baca kitab2 klasik,siapa itu aswaja…oke biar nte agak dikit faham..

      • sekali lagi maaf mas Prass -semoga Alloh merohmati kita-, kaum sawah seperti saya mungkin memang tidak pantas menamakan diri sebagai ahlus sunah…Jadi, agar saya bisa lebih faham…tolong dijelaskan juga ya pertanyaan saya kepada Mas Dianth yang di atas ada 4 point (on september 23)…tolong dijawab per point ya

        kalo Mas Prass juga bantu jelaskan ke saya, mudah-mudahan saya bisa dikit faham….jazakumulloh khoiron Mas doanya…semoga Alloh benar-benar memberikan pemahaman kepada saya dan kita semua…amin

    • para ulama yang saleh, para salafus saleh menetapkan sifat yang dengan kaidah tanzih.

      beriman dengan ayat-ayat Al Quran dan hadits nabi tidaklah berarti harus menafsirkan makna bahasa dari nash sesuai zhahirnya,

      bahkan Allah mengatakan dengan jelas bahwa beriman dengan ayat-ayat Al Quran yang mutasyabihat tidak boleh dimaknai dengan makna zhahirnya karena mempunyai takwil.

      “Dialah yang menurunkan Al-Kitab (al-Qur’an) kepada kamu, diantara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat. Itulah pokok-pokok isi al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (dari padanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (surat Ali-Imron ayat 7)

      kalau anda mengatakan : Para Ulama Ahlus Sunah Salafiyyun menetapkan sifat Al Wajh, Al Yad, dan Al ‘Uluw bagi Alloh sesuai dengan ketinggian dan kebesaranNya…..dan menetapkan sifat Al Wajh, Al Yad bagi Alloh BERBEDA dengan makhlukNya…

      maka itu sebagaimana firman Allah artinya tidak dimaknai zhahir, karena apa yang ditetapkan oleh para salafus saleh adalah bahasanya sebagaimana datangnya ayat. Bukan maknanya, atau tafsirnya karena makna dan tafsirnya bukanlah makna zhahir tetapi seperti kata Allah “tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (dari padanya) melainkan orang-orang yang berakal.”

      yang mujasimmah tentulah yang menetapkan maknanya dengan makna zhahir terhadap kata-kata yang makna zhahirnya adalah jisim atau menjadikannNya berjisim.

  18. sebagai bahan diskusi ;

    kalo begitu ‘umar al_Khattab jatuh pada ke-”Kafir”-an, (??)

    Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari Ismaa’iil,
    dari Qais, ia berkata :

    Ketika ‘Umar baru datang dari Syaam, orang-orang menghadap kepadanya dimana ia waktu itu masih di atas onta tunggangannya.

    Mereka berkata :
    “Wahai Amiirul-Mukminiin, jika saja engkau mengendarai kuda tunggangan yang tegak, niscaya para pembesar dan tokoh-tokoh masyarakat akan menemuimu”.

    Maka ‘Umar menjawab : “Tidakkah kalian lihat, bahwasannya perintah itu datang dari sana ?
    – Dan ia (‘Umar) berisyarat dengan tangannya ke langit”

    [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 13/40; shahih].

    ____________________________________________________________

    حدثنا وكيع عن إسماعيل عن قيس قال : لما قدم عمر الشام استقبله الناس وهو على البعير فقالوا : يا أمير المؤمنين لو ركبت برذونا يلقاك عظماء الناس ووجوههم ، فقال عمر : لا أراكم ههنا ، إنما الامر من هنا – وأشار بيده إلى السماء .

    • kalau hadist ini memang sahih, tidaklah mesti menjelaskan isyarat tangannya ke langit berarti Allah bertempat atau berada diatas langit secara hakiki. tetapi wahyu / perintah itu turun melalui perantara malaikat jibril yang ada di langit.

  19. Abul-Hasan Al-Asy’ariy -rahimahullah- ;

    “Bahwasannya Allah subhaanahu wa ta’ala mempunyai dua mata tanpa perlu ditanyakan bagaimananya (kaifiyah-nya),

    sebagaimana Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman :

    ‘Yang berlayar dengan pemeliharaan (pengawasan mata) Kami”
    (QS. Al-Qamar : 14)”
    [Al-Ibaanah, hal. 9; Daar Ibni Zaiduun, Cet. 1].
    ____________________________________________________________

    وأن له سبحانه عينين بلا كيف، كما قال سبحانه

    • perkataan atau terjemahan “mempunyai dua mata” sangat-sangat saya ragukan berasal dari Imam Asy ari.

      maaf, kami berpegang teguh pada akidah Imam Asy ari sendiri yang berkeyakinan Allah tidak berjisim.

  20. Imaam Abul-Hasan Al-Asy’ariy -rahimahullah- (lagi) ;

    Ikhtilaaful-Mushalliin wa Maqaalatul-Islaamiyyin,

    pada bab : ‘Apakah Allah berada di suatu tempat tertentu, atau tidak berada di suatu tempat, atau berada di setiap tempat ?’ ;

    maka beliau berkata :

    “Mereka (para ulama) berbeda pendapat tentang permasalahan tersebut menjadi tujuh belas pendapat.

    Diantara pendapat-pendapat tersebut adalah pendapat Ahlus-Sunnah dan Ashhaabul-Hadiits yang mengatakan bahwa Allah tidak bersifat mempunyai badan (seperti makhluk), dan tidak pula Dia menyerupai sesuatupun (dari makhluk-Nya).

    Dan bahwasannya Dia berada di atas ‘Arsy sebagaimana firman-Nya : ‘(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy’ (QS. Thaha : 5).

    Kami tidak mendahului Allah dengan satu perkataanpun tentangnya, namun kami mengatakan bahwa Allah bersemayam (istiwaa’) tanpa menanyakan bagaimananya.

    Dan bahwasannya Allah mempunyai dua tangan sebagaimana firman-Nya : ‘Kepada yang telah Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku’ (QS. Shaad : 75).

    Dan bahwasannya Allah turun ke langit dunia sebagaimana yang terdapat dalam hadits”.

    Kemudian beliau (Al-Imam Al-Asy’ariy) berkata :
    “Mu’tazillah berkata : ‘Allah bersemayam (istiwaa’) di atas ‘Arsy-Nya’ ; dengan makna menguasai (istilaa’).

    Dan mereka menta’wilkan pengertian tangan (Allah) dengan nikmat.

    (Dan juga menakwilkan) firman-Nya :
    ‘Yang berlayar dengan mata-mata Kami’ (QS. Al-Qamar ; 14), yaitu : dengan ilmu Kami”

    [Maqaalatul-Islaamiyyiin, hal. 210-211, 218]

    ____________________________________________________________

    إختلفوا في ذلك على سبع عشرة مقالة منها قال أهل السنة وأصحاب الحديث إنه ليس بجسم ولا
    يشبه الأشياء وإنه على العرش كما قال : (الرحمن على العرش استوى). ولا نتقدم بين يدي الله
    بالقول، بل نقول استوى بلا كيف وإن له يدين كما قال : (خلقت بيدي) وإنه ينزل إلى سماء الدنيا كما
    جاء في الحديث.

    ثم قال : وقالت المعتزلة استوى على عرشه بمعنى إستولى وتأولوا اليد بمعنى النعمة وقوله
    تجري بأعيننا أي بعلمنا

    ____________________________________________________________

    Mujasimmah-kah…

    Al-Imam Abul-Hasan ‘Aliy bin Isma’il bin Abi Bisyr Al-Asy’ariy Al-Bashriy -rahimahullah- (??)

    • “Mereka (para ulama) berbeda pendapat tentang permasalahan tersebut menjadi tujuh belas pendapat.

      Diantara pendapat-pendapat tersebut adalah pendapat Ahlus-Sunnah dan Ashhaabul-Hadiits yang mengatakan bahwa Allah tidak bersifat mempunyai badan (seperti makhluk), dan tidak pula Dia menyerupai sesuatupun (dari makhluk-Nya).

      Dan bahwasannya Dia berada di atas ‘Arsy sebagaimana firman-Nya : ‘(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy’ (QS. Thaha : 5).

      Kami tidak mendahului Allah dengan satu perkataanpun tentangnya, namun kami mengatakan bahwa Allah bersemayam (istiwaa’) tanpa menanyakan bagaimananya.

      lihat perkataan Imam ini Allah tidak bersifat mempunyai badan (seperti makhluk), bertentangan dengan kutipan anda sebelumnya

      “Bahwasannya Allah subhaanahu wa ta’ala mempunyai dua mata tanpa perlu ditanyakan bagaimananya (kaifiyah-nya)”.

      juga kutipan anda berikutnya :

      Dan bahwasannya Allah mempunyai dua tangan

      Dan bahwasannya Allah turun ke langit dunia sebagaimana yang terdapat dalam hadits”.

      Saya meragukan perkataan Imam demikian terjemahannya, atau memang telah terjadi perubahan pada kitab-kitabnya.

  21. Ibnu ‘Umar -radliyallahu’anhu-

    ____________________________________________________________

    Telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin Manshuur :

    Telah menceritakan kepada kami Ya’quub (yaitu Ibnu ‘Abdirrahman) :

    Telah menceritakan kepadaku Abu Haazim, dari ‘Ubaidullah bin Miqsam :

    Bahwasannya ia melihat kepada ‘Abdullah bin ‘Umar bagaimana ia menirukan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

    Ia (Ibnu ‘Umar) berkata :
    “Allah ‘azza wa jalla memegang langit-langit-Nya dan bumi-bumi-Nya dengan tangan-Nya, lalu berfirman :

    ‘Aku adalah Allah’

    – lalu Ibnu ‘Umar menggenggam jari jemarinya dan membentangkannya -.

    Aku adalah Raja

    -hingga aku aku melihat ke mimbar bergerak/goyang di bagian bawah karena sesuatu darinya-.

    Hingga aku pun ingin berkata :
    “Apakah ia telah menggantikan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam (dalam berkhutbah) ?”

    [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2788].

    ____________________________________________________________

    حدثنا سعيد بن منصور. حدثنا يعقوب (يعني ابن عبدالرحمن). حدثني أبو حازم عن عبيدالله بن
    مقسم؛أنه نظر إلى عبدالله بن عمر كيف يحكي رسول الله صلى الله عليه وسلم قال “يأخذ الله عز وجل
    سماواته وأرضيه بيديه. فيقول: أنا الله. (ويقبض أصابعه ويبسطها) أنا الملك” حتى نظرت إلى المنبر
    يتحرك من أسفل شيء منه. حتى إني لأقول: أساقط هو برسول الله صلى الله عليه وسلم؟

    ____________________________________________________________

    Mujasimmah-kah…

    ‘Abdullah bin ‘Umar bin Khattab -radliyallahu’anhu- (??)

  22. saya meyakini bahwa para sahabat dan salafus saleh tidak berkeyakinan tajsim kepada Allah.

    kalau hadist ini memang sahih,
    Saya memahami maksud perbuatan Abdullah bin ‘Umar bin Khattab -radliyallahu’anhu untuk mengambarkan keagungan dan kebesaran Allah bukan untuk menggambarkan Allah mempunyai tangan, jari atau anggota badan lainnya (jisim).

    hadist diatas ‘Abdullah bin ‘Umar bin Khattab -radliyallahu’anhu mengatakan ‘aku adalah Raja’ karena Abdullah adalah manusia yang mempunyai anggota badan sehingga mengenggam bagi manusia itu zhahirnya adalah dengan jari dan tangan.

    sedangkan Allah berkata : ‘aku adalah Allah’. bukan jisim yang terbagi atau tersusun atau mempunyai anggota tubuh.

    Sehingga “Allah ‘azza wa jalla memegang langit-langit-Nya dan bumi-bumi-Nya dengan tangan-Nya,”

    tidak bisa disamakan makna memegang dan tanganNya dengan makna menggengam yang dilakukan abdullah bin Umar radliyallahu’anhu dengan tangannya.

  23. bismillah…saya pun telah sepakat alhamdulillah dengan Mas Dianth -semoga Alloh memberkahi ilmu kita- bahwa tidak boleh melakukan tajsim (mengatakan Alloh berjism atau memilik tubuh seperti makhluk, misalkan mengatakan Alloh memiliki kepala, hidung, leher, rambut, lidah, gigi, kulit, dll)

    atau tidak bolehnya melakukan tasybih (menyerupakan sifat Alloh seperti sifat makhluknya, misalkan mengatakan pendengaran Alloh seperti pendengaran manusia, atau mengatakan tangan Alloh seperti tangan manusia, dll )…

    jadi Alhamdulillah saya tidak melakukan tajsim dan tasybih…tapi atsar di bawah ini perlu kita renungkan….

    Ishaaq bin Raahuyah (dikenal juga sebagai Ishaaq bin Ibrahim) –salah seorang guru Imam al-Bukhari- menyatakan :

    إِنَّمَا يَكُونُ التَّشْبِيهُ إِذَا قَالَ يَدٌ كَيَدٍ أَوْ مِثْلُ يَدٍ أَوْ سَمْعٌ كَسَمْعٍ أَوْ مِثْلُ سَمْعٍ فَإِذَا قَالَ سَمْعٌ كَسَمْعٍ أَوْ مِثْلُ سَمْعٍ فَهَذَا التَّشْبِيهُ وَأَمَّا إِذَا قَالَ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى يَدٌ وَسَمْعٌ وَبَصَرٌ وَلَا يَقُولُ كَيْفَ وَلَا يَقُولُ مِثْلُ سَمْعٍ وَلَا كَسَمْعٍ فَهَذَا لَا يَكُونُ تَشْبِيهًا وَهُوَ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابهِ

    { لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ }

    “Hanyalah dikatakan sebagai sikap penyerupaan (Allah dengan makhluk,pent) adalah jika seseorang menyatakan tangan (Allah) bagaikan tangan (makhluk), atau seperti tangan (makhluk), pendengaran (Allah) seperti (pendengaran) makhluk. Jika menyatakan bahwa pendengaran (Allah) seperti pendengaran (makhluk), maka itu adalah sikap penyerupaan. Adapun jika seseorang berkata sebagaimana perkataan Allah : Tangan, Pendengaran, Penglihatan, dan tidak menyatakan ‘bagaimana’ (kaifiyatnya), dan tidak mengatakan seperti pendengaran (makhluk), maka yang demikian ini bukanlah penyerupaan. Yang demikian ini adalah sebagaimana yang Allah nyatakan dalam KitabNya :

    لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

    “Tidak ada yang semisal denganNya suatu apapun, dan Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Lihat Sunan AtTirmidzi bab Maa Jaa-a fi fadhli as-Shodaqoh juz 3 halaman 71).

    • Apa yang dikatakan Guru Imam Bukhari itu sebetulnya adalah isbat sekaligus tafwidh.

      Isbat pada kata nya, artinya tidak tha’til, dan menetapkan sebagaimana datangnya ayat, “Adapun jika seseorang berkata sebagaimana perkataan Allah : Tangan, Pendengaran, Penglihatan, dan tidak menyatakan ‘bagaimana’ (kaifiyatnya), dan tidak mengatakan seperti pendengaran (makhluk), maka yang demikian ini bukanlah penyerupaan” itu maksudnya adalah tetap mengatakan sebagaimana datangnya namun tidak menetapkan kaifiyat dan menyerupakannya dengan mahluk…..

      tetapi sayangnya perkataan ini disalahpahami menjadi dimaknai secara zhahir.

      “jika seseorang menyatakan tangan (Allah) bagaikan tangan (makhluk), atau seperti tangan (makhluk), pendengaran (Allah) seperti (pendengaran) makhluk. Jika menyatakan bahwa pendengaran (Allah) seperti pendengaran (makhluk)maka itu adalah sikap penyerupaan”

      tidak serupa seperti mahluk sebenarnya bukanlah tangan secara zhahir, karena tangan yang kita pahami adalah dalam kerangka mahluk, kita tidak bisa atau tidak mengetahui tangan diluar kerangka mahluk, itu artinya tangan disi bukan tangan dalam makna bahasa secara zhahir, karena makna tangan secara zhahir makna bahasa adalah tangan dalam pengetahuan kita (mahluk). Jelas ini adalah hal yang samar dan sekali lagi hal yang samar ini adalah mutasyabihat, dan sekali lagi saya katakan bahwa ayat mutasyabihat mempunyai takwil, bukan bermakna zhahir.

  24. @Hanif

    bismillah…Mas Dianth -semoga Alloh merohmati kita-…saya ada beberapa permasalahan, mohon dijelaskan lagi ya…
    1) jika kita menetapkan sifat melihat (sama’) dan sifat mendengar (bashor) bagi Alloh, apakah bisa dikatakan bahwa kita menyerupakan Alloh dengan makhlukNya atau melakukan tasybih (penyerupaan sifat Alloh dengan sifat makhlukNya) , mengingat makhluk juga memiliki sifat melihat dan mendengar ??
    ———————————————————————————————
    > sifat melihat dan mendengar dan melihat bukanlah sifat jisim, seperti telinga dan mata yang mempunyai bentuk, ukuran dan susunan.
    Sifat ini adalah sifat yang dinyatakan sendiri oleh Allah sebagai sifatNya dan secara makna bahasa serta akal, sifat ini layak menjadi sifatNya yang sesuai dan tidak bertentangan dengan keagungan dan kesucianNya.
    Sifat ini secara nash dan akal pasti merupakan sifatNya, maka bukanlah tasybih bila secara makna bahasa serupa dengan sifat manusia, tetapi kita tetap memahami adanya perbedaan sifat ini bila disandarkan kepada Allah yang Maha tidak terbatas dan bila dianugrahkan kepada manusia yang terbatas dan lemah.
    ————————————————————————————————

    2)Apa bedanya dengan ucapan seseorang “Saya beriman dan menetapkan sifat Al Wajh dan Al YAd bagi Alloh sebagaimana ditetapkan dalam Al Quran tanpa diketahui kaifiyah sifatnya dan saya meyakini sifat Al Wajh dan Al Yad Alloh tidak serupa (berbeda) dengan makhluk” apakah ucapan ini juga teranggap tasybih atau tajsim??

    ———————————————————————————————–
    > Selama tidak beritikad bahwa Al Wajh dan Al YAd bagi Alloh adalah anggota tubuh atau jisim maka itu bukanlah tajsim.
    Itu artinya tidak dimaknai dengan makna zhahir, karena makna bahasa secara zhahir dari wajah dan tangan adalah anggota tubuh.
    Kalau beritikad bahwa tangan dan wajah adalah makna hakiki, walaupun tidak serupa dengan mahluk tetap saja tajsim, karena telah menetapkan kaifiyah dan bentuk walaupun tidak diketahui ataupun tidak ditanyakan tetapi sudah berkeyakinan ada kaifiyah bagi Allah, karena menetapkan kaifiyah disini berarti menetapkan anggota tubuh pada Allah, walaupun tidak serupa dengan mahluk.
    Bila tangan dan wajah secara hakiki/ zhahir itu bukan bermakna anggota tubuh/jisim maka itu adalah perkataan yang absurd, karena tidak sesuai dengan makna bahasa.

    Renungkan Firman Allah : Yang mengajar manusia dengan perantara kalam.
    Apa artinya kita menetapkan sesuatu bila bahasanya sudah Absurd, padahal bahasa dan kaidahnya adalah anugrah dari Allah agar kita memahami ayat-ayatNya.
    ———————————————————————————————

    3) Kapan sifat-sifat yang disebutkan dalam Al Quran dan Hadits itu dikatakan layak bagi Alloh dan kapan pula kita menyatakan sifat-sifat itu tidak layak bagi Alloh sehingga kita harus menta’wilnya (memalingkan dari makna dzohir)???
    ———————————————————————————————
    > Sifat itu tidak layak bagi Allah bila ada keserupaan dengan sifat mahlukNya yang bertentangan dan tidak sesuai dengan keagungan, dan kesucian atau kesempurnaan sifat-sifat Allah.

    Allah ta’ala berfirman :

    : “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya , dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya”. (Q.S. as-Syura: 11)

    Sifat Pencipta berbeda dengan sifat ciptaanNya, segala sifat yang berhubungan dengan Tuhan sebagai pencipta, tidak akan serupa dengan sifat mahluk sebagai ciptaan.

    contoh : tangan, tidak bisa disandarkan pada Allah secara hakiki, karena tangan yang bermakna anggota tubuh, telah menjadikan Allah tersusun, berukuran dan berbentuk. Itu artinya Allah mempunyai batas-batas. Dan Mustahil Allah terbatas atau mempunyai batas, karena tidak sesuai dengan keagungan dan kebesaranNya. Batasan itu adalah sifat mahluk yang merupakan ciptaan Allah.
    ———————————————————————————————

    4) Bukankah kita tidak tahu tentang hakikat zat Alloh sedikitpun….lalu darimana kita bisa menyatakan bahwa sifat yang Alloh sebutkan untuk diriNya dalam Al Quran seperti Al Wajh, Al Yad, dll kita katakan tidak layak bagi Alloh….sementara Alloh sendiri berfirman dlm surat Al Baqoroh “Aantum a’lamu amillah” artinya “Apakah kalian yang lebih tahu ataukah Alloh yang lebih tahu?” apalagi ini terkait tentang permasalahan ghoib yang kita tidak mungkin bisa tahu kecuali dengan wahyu…
    ——————————————————————————————-
    > Hakikat zat Allah memang betul hanya Allah yang mengetahuinya, maka jangan kita samakan zat Allah dengan zat mahluk, dengan demikian tidak layak kita samakan zat mahluk yang berjisim dengn zat Allah. Oleh karena itulah, bila ada ayat Allah yang zhahirnya menyamakan sifat Allah dengan sifat jisim, maka itu artinya ada kesamaran, dan Allah telah memberikan petunjuk dan wahyuNya bahwa ayat-ayat yang mutasyabihat itu mempunyai takwil.

    Adapun sifat mendengar dan melihat, berkuasa, hidup, wujud, berkehendak, itu semua bukanlah sifat jisim. berbeda dengan telinga, mata, tangan, tubuh, turun, naik, berpindah, semua itu sifat jisim. dan jisim itu adalah sifat zat mahluk, (kita sendiri tahu itu adalah sifat zat kita) jadi tidak mungkin Allah bersifat seperti sifat zat mahluk, artinya mustahil Allah berjisim dan segala sifat jisim.

    Adapun sifat-sifat maknawi/ruhani itu tidak kita nafikan dari Allah, walaupun secara bahasa makna bahasa ada keserupaan dengan sifat ruhani manusia, karena sifat maknawi bila disandarkan kepada Allah adalah tidak terbatas sesuai dengan ketidakterbatasannya, oleh karena itulah kita menerjemahkan namanya dengan kata Maha didepannya, ini sesuai dan layak bagiNya. Sehingga tidak akan serupa jadinya dengan sifat ruhani mahluk yang tetap terbatas karena mahluk itu diatur dan bergantung pada yang obsolut/mutlak.

    Bandingkan dengan sifat jisim yang dalam makna apapun tetap terbatas, lalu bagaimana kita bisa menetapkan sifat yang terbatas menjadi maha/tidak terbatas? tentu ini adalah makna yang absurd. Karena kita tidak mungkin mengatakan yang terbatas itu tidak mempunyai batas. Dan sekali lagi saya katakan, yang terbatas itu tidak mungkin menjadi sifat Allah.

    jazakumulloh khoiron ,semoga Alloh menambah dan memberkahi ilmu kita……barokallohfiik

    • karena kesibukan ana lama ga nanggapi koment nih…
      saya mau menanggapi kometar anda tapi tlg jawab dulu pertanyaanku ini:
      1. bagaimana dg sifat kalam ? apakah anda terima atau anda takwil juga?
      2. apa makna istiwa’ menurut anda apa pula makna yad, wajhu, uluw? (jgn lupa dalil nya ya..)

      • karena kesibukan ana lama ga nanggapi koment nih…

        1. Ahlussunah wal jamaah menerima sifat Kalam. Tanpa huruf dan suara.

        2. Makna Istiwa :

        oleh Al-Nawawi dalam al-Majmu` Sharh al-Muhadhzab sbb;

        “Kami percaya bahwa “Ar-Rahman bersemayam atas arsy”, dan kami tidak tahu hakikat dan apa yang dimaksud (la na`lamu haqiqata mi`na dhalika wa al-murada bihi), pada saat yang sama kami percaya bahwa “tidak ada yang serupa dengan-Nya” (42:11) dan Dia Maha Tinggi di atas semua makhluk yang ditinggikan. Ini adalah jalan Salaf atau paling tidak mayoritasnya, dan inilah jalan paling selamat karena tidak perlu untuk membahas terlalu dalam masalah-masalah semacam ini”. (al-Majmu` Sharh al-Muhadhdhab jilid 1 hal:25)

        Imam Abdul Qohir al-Baghdadi telah mengutip pernyataan Imam Abu al-Hasan al-Ash`ari dalam Usul al-Din sbb ;

        “Penetapan bahwa Allah Maha Tinggi di atas arsy adalah sebuah perbuatan di mana Dia telah memberi nama istiwa sehubungan dengan arsy, persis sebagaimana Dia telah menciptakan sebuah perbuatan bernama ityan (datang) sehubungan dengan orang tertentu, tetapi hal ini tidaklah mengakibatkan baik turun atau gerakan” (`Abd al-Qahir al-Baghdadi, Usul al-Din hal:113)

        Al-Bayhaqi dalam al-Asma’ wa al-Sifatnya telah pula menyatakan:

        “Abu al-Hasan `Ali al-Ash`ari mengatakan Allah Maha Tinggi mengakibatkan sebuah perbuatan sehubungan dengan arsy, dan Dia menamai perbuatan itu istiwa, sebagaimana Dia mengakibatkan perbuatan-perbuatan lain sehubungan dengan hal-hal lain, dan Dia memberi nama perbuatan itu sebagai rizq, ni’mat, atau perbuatan lain dari –Nya. ( al-Asma’ wa al-Sifat jilid 2 hal:308)

        Al-Tamimi kemudian berkomentar lebih lanjut sehubungan dengan apa yang dinyatakan oleh Imam Ahmad, dengan berkata:

        [Istiwa’]: Ini bermakna ketinggian (`uluw) dan terangkat, kenaikan (irtifa`). Allah Maha Tinggi adalah selalu tinggi (`ali) dan terangkat/mulia (rafi`) tanpa permulaan, sebelum Dia menciptakan Arsy. Dia di atas segala sesuatu (huwa fawqa kulli shay’), dan Dia ditinggikan atas segala sesuatu (huwa al-`ali `ala kulli shay’). Dia mengkhususkan Arsy hanya karena maknanya nyata yang membuatnya berbeda dari segala yang lain, yaitu Arsy adalah benda terbaik dan paling tinggi di antara yang lain. Allah Ta’ala dengan demikian memuji Diri-Nya dengan mengatakan bahwa Dia “menetapkan Diri-Nya di atas Arsy”, yaitu bahwa Dia meninggikan Diri-Nya Sendiri atasnya (`alayhi `ala). Adalah boleh untuk mengatakan bahwa Dia menetapkan Diri-Nya Sendiri dengan sebuah perjanjian atau pertemuan dengannya. Allah Maha Tinggi dari semua itu! Allah tidak berkenaan dengan perubahan, penggantian tidak juga batasan, baik sebelum atau sesudah penciptaan Arsy.(Tabaqat al-Hanabila jilid hal:296-297).

        Al-Tabari dalam Tafsirnya, ketika menafsirkan ayat

        ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ إِلَى ٱلسَّمَآءِ فَسَوَّٰهُنَّ سَبْعَ سَمَٰوَٰتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

        “Kemudian Dia menuju kepada (thumma istawa) langit dan dijadikan-Nya tujuh langit “(Al-Baqarah :29)

        menyatakan ;

        “Arti istiwa pada ayat ini adalah ketinggian (‘uluw) dan ditinggikan… tetapi jika orang mengklain bahwa ini berarti prepindahan untuk Allah, katakana padanya: Dia Maha Tinggi dan Ditinggikan atas langit dengan ketinggian dari kekuasaan dan kekuatan, bukan ketinggian dari perpindahan dan pergerakan ke sana dan ke sini”.

        Ahli Bahasa dari Ash`ariah al-Raghib al-Asfahani (w. 402H) mengatakan bahwa istawa `ala memiliki arti istawla `ala (“Dia menguasai”) dan dia mengutip ayat istiwa (20:5) sebagai sebuah contoh dari makna ini: “Hal ini berarti bahwa segala sesuatu sama dalam hubungannya dengan Dia, dalam arti bahwa tidak ada hal yang lebih dekat dengan Dia disbanding dengan yang lain, karena Dia tidak seperti badan yang berada secara tertentu di suatu tempat dan bukan di tempat lain” (al-Zabidi hal : 132)

        Ibn Al-Jauzi menyebutkan alasan lain untuk membolehkan tafsiran ini: “Siapa saja yang mengartikan “Dan Dia beserta kamu” (57:4) dalam arti “Dia beserta kamu dalam pengetahuan”, semestinya membolehkan lawannya untuk menafsirkan istiwa sebagai “al-qahr”, menguasai. (Shubah al-Tashbih hal:23)

        Dalilnya :
        yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. (Al Furqon ayat 2)

        “Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Agung dan Maha Pengampun. Tiada Tuhan selain Allah, Tuhan yang menguasai Arsy yang Agung. Tiada Tuhan selain Allah. Tuhan yang menguasai langit dan bumi. Tuhan Yang Maha Mulia dan menguasai ‘Arsy’”. (HR. Bukhari 7/154 dan Muslim 4/2092).

        Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Az-Zumar: 67)

        Yang mengetahui perkara yang ghaib
        dan nyata. Maha tinggi Dia dari apa-apa yang
        mereka persekutukan (al mukminun 92).

        dan lain-lain…

        Makna yad dam wajhu anda bisa lihat sendiri tafsir para ahli tafsir termasuk Ibnu Abbas yang menakwilkan wajah Allah dengan Zat Allah.

        Adapun makna Ulluw adalah ketinggian Allah secara maknawi bukan ketinggian tempat dan arah.

        Dia menciptakan langit dan bumi dengan hak. Maha Tinggi Allah daripada apa yang mereka persekutukan. (surah an Nahl ayat 3)

        Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Az-Zumar: 67)

        Yang mengetahui perkara yang ghaib
        dan nyata. Maha tinggi Dia dari apa-apa yang
        mereka persekutukan (al mukminun 92).

      • dari komentar anda, telah jelaslah bahwa anda terpengaruh faham jahmiyyah/mau’tazilah dan anak cucunya… semoga Allah memberi hidayah kpd antum.. Sesungguhnya akidah ahlussunnah wal jama’ah tidaklah demikian.
        Ketahuilah bahwa faham jahmiyyah dan mu’tazilah menafikan sifat-sifat Allah Ta’ala, baik sebagian maupun seluruhnya. mereka lebih mengutamakan akal dari pada nash. Tahukah anda kenapa jahmiyah dan mu’tazilah sampai mengatakan Al-Qur’an itu mahluk ? karena mereka menolak sifat kalam atau mengatakan bahwa kalam Allah tanpa suara dan huruf.. Lihatlah betapa besar kerusakan yang ditimbulkan karena menolak sifat2 Allah Ta’ala.!!

        1. Apakah Allah berfirman dengan suara ?
        Anda hanya menggunakan akal saja dalam menentukan sifat Allah, anda terima apa yg menurut akal anda benar dan anda tolak apa yang menurut akal anda salah dan sebagian anda tahrif jika anda sulit memahaminya.

        Dalil-dalil dan atsar para salaf telah menunjukkan bahwa Allah ta’aalaa berbicara dengan suara dan huruf.
        Diantara dalil yang menunjukkan bahwa Allah ta’aalaa berbicara dengan suara adalah
        sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
        يحشر الله العباد فيناديهم بصوت يسمعه من بعد كما يسمعه من قرب أنا الملك أنا الديان
        Artinya: “Allah akan mengumpulkan hamba-hamba pada hari kiamat, kemudian Allah memanggil mereka dengan suara yang terdengar dari jarak jauh seperti suara yang terdengar dari jarak dekat: Aku adalah Al-Malik (Maha Raja), Aku adalah Ad-Dayyaan (Maha Membalas)…(HR. AL-Bukhary, dari Abdullah bin Unais radhiyallahu ‘anhu).

        Berkata Al-Bukhary rahimahullah:
        وَأَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنَادِي بِصَوْتٍ يَسْمَعُهُ مَنْ بَعُدَ كَمَا يَسْمَعُهُ مَنْ قَرُبَ ، فَلَيْسَ هَذَا لِغَيْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ ذِكْرُهُ، وَفِي هَذَا دَلِيلٌ أَنَّ صَوْتَ اللهِ لا يُشْبِهُ أَصْوَاتَ الْخَلْقِ ، لأَنَّ صَوْتَ اللهِ جَلَّ ذِكْرُهُ يُسْمَعُ مِنْ بُعْدٍ كَمَا يُسْمَعُ مِنْ قُرْبِ
        “Dan sesungguhnya Allah azza wa jalla
        memanggil dengan suara , dimana orang yang jauh mendengar suara ini seperti orang yang dekat, maka ini tidak mungkin dimiliki oleh selain Allah ‘azza wa jalla, dan ini dalil bahwa suara Allah tidak sama dengan suara-suara makhluk , karena suara Allah didengar dari jarak jauh seakan-akan didengar dari jarak dekat” (Khalqu Af’aalil ‘Ibaad hal: 98).

        Dan dari Abu Sa’iid Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
        يقول الله عز و جل يوم القيامة: يا آدم، يقول: لبيك ربنا وسعديك، فينادى بصوت إن الله يأمرك أن تخرج من ذريتك بعثا إلى النار
        “Allah ‘azza wa jalla berkata di hari kiamat: Wahai Adam! Adam menjawab: Iya wahai Rabb kami. Maka Allah memanggil dengan suara: Sesungguhnya Allah akan memasukkan dari keturunanmu ba’tsan ke dalam neraka …” (HR. Al-Bukhary)

        Berkata Abdullah bin Ahmad bin Hambal: “Aku bertanya kepada bapakku tentang sebuah kaum yang mengatakan bahwa Allah berbicara dengan Musa tanpa suara”. Maka bapakku (Imam Ahmad bin Hambal) berkata:
        بلى إن ربك عز وجل تكلم بصوت هذه الأحاديث نرويها كما جاءت
        “Tidak demikian, sesungguhnya Rabbmu ‘azza wa jalla berbicara dengan suara , hadist-hadist ini kami riwayatkan sebagaimana datangnya” (Diriwayatkan Abdullah dalam As-Sunnah no:533)

        Adapun dalil bahwa kalamullah terdiri dari huruf maka diantaranya:
        Dari Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata:
        بينما جبريل قاعد عند النبي صلى الله عليه و سلم سمع نقيضا من فوقه فرفع رأسه فقال هذا باب من السماء فتح اليوم لم يفتح قط إلا اليوم فنزل منه ملك فقال هذا ملك نزل إلى الأرض لم ينزل قط إلا اليوم فسلم وقال أبشر بنورين أوتيتهما لم يؤتهما نبي قبلك فاتحة الكتاب وخواتيم سورة البقرة لن تقرأ بحرف منهما إلا أعطيته
        “Ketika Jibril sedang duduk di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba Jibril mendengar suara pintu dari arah atas, kemudian mengangkat kepalanya, seraya berkata: “Ini adalah pintu langit, telah dibuka hari ini, belum pernah dibuka kecuali hari ini”
        Maka turunlah seorang malaikat dari pintu tersebut, kemudian Jibril berkata: “Ini adalah seorang malaikat yang turun ke bumi, dia belum pernah turun kecuali hari ini”
        Maka malaikat tersebut mengucap salam dan berkata: “Bergembiralah dengan dua cahaya, yang diberikan kepadamu, belum pernah diberikan kepada seorang nabipun sebelummu, Faatihatul Kitab (Al-Faatihah) dan ayat-ayat akhir surat Al-Baqarah, tidaklah kamu membaca satu huruf di dalam keduanya kecuali kamu akan diberi” (HR. Muslim).

        ‘Abdullah bin Mas’uud radhiyallahu ‘anhu mengatakan:
        تعلموا القرآن فإنه يكتب بكل حرف منه عشر حسنات ويكفر به عشر سيئات ، أما إني لا أقول : { الم } ولكن أقول : ألف عشر ولام عشر وميم عشر.
        “Pelajarilah Al-Quran, karena sesungguhnya akan ditulis dari setiap hurufnya sepuluh kebaikan, dan diampuni dengannya sepuluh kejelekan, ketahuilah aku tidak mengatakan bahwa Aliif Laam Miim (itu satu huruf), akan tetapi aku katakana: Aliif sepuluh, Laam sepuluh, dan Miim sepuluh” (HR. Ibnu Abi Syaibah 10/461, hadist shahih mauquf atas Ibnu Mas’uud, dan memiliki hukum marfu’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam).

        Dan penetapan ahlussunnah terhadap sifat-sifat Allah yang tercantum di dalam Al-Quran dan As-Sunnah disertai keyakinan bahwa sifat-sifat tersebut tidak serupa dengan sifat-sifat makhluk, sebagaimana firman Allah:
        لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (11) [الشورى/11]
        Artinya: “Tidak ada yang serupa denganNya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha melihat” (QS. Asy-Syuuraa:11)
        Allah Maha Melihat dan Mendengar, akan tetapi penglihatan dan pendengaran Allah tidak sama dengan penglihatan dan pendengaran makhlukNya.

        2. Mentahrif makna istiwa, yad dan wajh.
        Ketahuilah, apa yang anda sampaikan bukanlah mentakwil makna tapi mentahrif !!
        Jika anda mentahrif istiwa dengan menguasai maka :
        - konsekuensi maknanya : Arsy tadinya bukan termasuk dlm kekuasaan Allah, kemudian Allah menguasainya (istiwa”). Naudzubillah min dzalik !!
        - jika makna istiwa adalah menguasai, maka kekuasaan Allah tidak hanya pada arsy saja, namun semua mahluknya, maka mengartikan dg menguasai tidaklah tepat.
        - Apakah anda akan mengatakan Allah beristiwa di tanah, gunung dsb krn anda mengartikan istiwa adalah menguasai ?
        - Ucapan anda ini menganut metode yahudi dalam menyimpangkan makna !!
        Tidakkah mereka menyadari bahwa merubah arti dari dhahirnya adalah perilaku kaum Yahudi yang dikecam oleh Allah?!:

        Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya.

        (QS. An-Nisa’: 46)

        Lalu orang-orang yang zhalim mengganti ucapan yang tidak dierintahkan kepada mereka.

        (QS. Al-Baqarah: 59)
        Mereka disuruh mengucapkan hiththah, yang artinya bebaskanlah kami dari dosa. Namun mereka pelesetkan menjadi hinthah, yang artinya beri kami gandum.

        Memang, urusan peleset-memelesetan ini orang Yahudi merupakan biangnya. Celakanya, sikap seperti inilah yang ditiru oleh sebagian orang jahil. Mereka menjadikan agama sebagai bahan pelesetan. Seperti yang dilakukan oleh para pelawak yang memelesetkan ayat-ayat Allah dan syi’ar-syi’ar agama.
        MAKA APA PERBEDAANYA DG YAHUDI, JIKA YAHUDI MERUBAH LAFADZ hiththah mereka pelesetkan menjadi hinthah, DG ORANG JAHMIYAH DKK YANG MERUBAH LAFADZ ISTIWA’ DG ISTAULA (MENGUASAI)….!!

        Abul-Hasan Al-Asy’ariy sangat mengingkari ta’wil istiwaa’ dengan istilaa’ (menguasai) sebagaimana perkataannya :
        وقالت المعتزلة أن الله استوى على عرشه بمعنى استولى
        “Mu’tazilah berkata bahwasannya Allah ber-istiwaa’ di atas ‘Arsy-Nya dengan makna berkuasa (istaulaa)” [Maqaalaatul-Islaamiyyiin, 1/284].
        وكذا لو كان مستويا على العرش بمعنى الإستيلاء، لجاز أن يقال : هو مستو على الأشياء كلها ولم يجز عند أحد من المسلمين أن يقول : إن الله مستو على الأخلية والحشوش، فبطل أن يكون الإستواء [على العرش] : الإستيلاء.
        “Begitu pula apabila istiwaa’ di atas ‘Arsy itu bermakna menguasai (istilaa’), maka akan berkonsekuensi untuk membolehkan perkataan : ‘Allah ber-istiwaa’ di atas segala sesuatu’. Namun tidak ada seorang pun dari kaum muslimin yang membolehkan untuk berkata : ‘Sesungguhnya Allah ber-istiwaa’ di tanah-tanah kosong dan rerumputan’. Oleh karena itu, terbuktilah kebathilan perkataan bahwa makna istiwaa’ (di atas ‘Arsy) adalah istilaa’ (menguasai)” [Al-Ibaanah, hal. 34].

        Kebalikannya, Asyaa’irah malah menetapkannya :
        “Jika ada yang mengatakan bahwa memaknai istawa dengan istaula (menundukkan) memberikan pemahaman bahwa seakan-akan Allah sebelumnya tidak menguasai arsy lalu kemudian Allah menundukkan dan menguasainya, Jawab; Jika demikian bagaimana dengan firman Allah: Wa Huwa al-Qahur Fawqa ’Ibadih” (QS. al-An’am: 18), yang dengan jelas mengatakan bahwa Allah menguasai para hamba-Nya, adakah itu berarti sebelum Allah menciptakan para hamba tersebut Dia tidak menguasai mereka?! Adakah itu berati Allah tidak menguasai mereka lalu kemudian menguasai dengan menundukkan mereka?! Bagaimana mungkin dikatakan demikian, padahal para hamba itu adalah makhluk-makhluk yang baru, Allah yang menciptakan mereka dari tidak ada menjadi ada.

        Justru sebaliknya, –kita katakan kepada mereka– (kaum Musyabbihah): Jika makna ayat tersebut seperti yang kalian dan orang-orang bodoh sangka bahwa Allah bertempat dengan Dzat-Nya di atas arsy, maka itu berarti menurut kalian Allah berubah dari satu keadaan kepada keadaan yang lain, karena arsy itu makluk Allah. Artinya menurut pendapat kalian Allah berubah dari tidak butuh kepada arsy kemudian menjadi butuh kepadanya setelah Dia menciptakannya. (Dengan demikian harus dipahami bahwa arsy itu baru, sementara istawa adalah sifat Allah yang azali). Maka itu, makna bahwa makna Allah Maha Tinggi adalah dalam pengertian keagungan dan derajat-Nya, bukan dalam pengertian tempat, karena Allah Maha Suci dari membutuhkan kepada tempat dan arah” [Ithaf as-Sadah al-Muttaqin Bi Syarh Ihya’ ’Ulumiddin, j. 2, h. 108-109 – dinukil dari blog Asyaa’irah dalam negeri : http://salafiah.net/content/aqidah-ahlussunnah-allah-ada-tanpa-tempat-wahhabiyyah-musyabbihah-menyelewengkan-firman-alla%5D.

        Para ulama salaf, tidak mengenal pengertian istiwaa’ dengan istilaa’ (menguasai).
        Muhammad bin Ahmad bin Nadlr bin Binti Mu’awiyyah bin ’Amru rahimahullah berkata :
        كان أبو عبد الله الأعرابي جارنا وكان ليلة أحسن ليل وذكر لنا أن ابن أبي دؤاد سأله أتعرف في اللغة استوى بمعنى إستولى فقال لا أعرفه
        “Abu ‘Abdillah Al-A’rabiy[5] adalah tetangga kami. Malam-malamnya adalah malam paling indah. Diceritakan kepada kami bahwa Ibnu Abi Du’ad bertanya kepadanya : “Apakah engkau mengetahui dalam bahasa Arab bahwa makna istawaa (bersemayam) itu adalah istaulaa’ (menguasai) ?”. Maka beliau menjawab : “Aku tidak mengetahuinya” [Diriwayatkan oleh Adz-Dzahabi dalam Al-‘Ulluw, berserta Mukhtashar-nya oleh Al-Albaaniy hal. 194 no. 240; dengan sanad jayyid].

        Abul-Hasan Al-Asy’ariy berhujjah dengan hadits Mu’aawiyyah bin Al-Hakam radliyallaahu ‘anhu tentang sifat istiwaa’ Allah ta’ala di atas ‘Arsy, dengan perkataannya :
        وروت العلماء أن رجلا أتى النبي صلى الله عليه وسلم بأمة سوداء فقال: يا رسول الله إني أريد أن أعتقها في كفارة، فهل يجوز عتقها ؟
        فقال لها النبي صلى الله عليه وسلم: أين الله ؟ قالت: في السماء، قال فمن أنا ؟ قالت: أنت رسول الله، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: أعتقها فإنها مؤمنة .
        وهذا يدل على أن الله عز وجل على عرشه فوق السماء.
        “Dan para ulama meriwayatkan bahwasannya ada seorang laki-laki mendatangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan budak perempuannya yang berkulit hitam. Ia berkata : ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ingin membebaskannya untuk kaffarah. Apakah aku boleh membebaskannya ?’. Lalu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada budak tersebut : ‘Di manakah Allah ?’. Budak itu menjawab : ‘Di langit’. Beliau kembali bertanya : ‘Siapakah aku ?’. Ia menjawab : ‘Engkau adalah utusan Allah’. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Bebaskanlah ia, karena sesungguhnya ia wanita mukminah’. Hadits ini menunjukkan bahwa Allah ‘azza wa jalla di atas ‘Ars-Nya yang berada di atas langit” [Al-Ibaanah, hal. 36-37].

        Namun apa yang dilakukan oleh para pengaku Asy’ariyyuun ? Mereka menolaknya, dan bahkan membuat berbagai trik untuk melemahkannya. Contohnya, seperti yang dilakukan oleh pengaku Asy’ariyyuun : Hasan As-Saqqaaf, yang kemudian diikuti oleh muqallid-nya : http://abusalafy.wordpress.com/2010/02/15/tuhan-itu-tidak-di-langit-2/.
        Telah ada bahasan di blog ini tentang hadits Mu’aawiyyah bin Al-Hakam. Silakan baca : http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/06/shahih-hadits-muawiyyah-bin-al-hakam.html dan http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/08/hadits-jaariyyah-riwayat-maalik-bin.html.

        Kesimpulan kita, ‘aqidah Abul-Hasan Al-Asy’ariy dan Ahmad bin Hanbal rahimahumallaah pada point ini berbeda dengan ‘aqidah Asyaa’irah.

        Abul-Hasan Al-Asy’ariy menjelaskan posisinya dalam hal ini :
        حكم كلام الله تعالى أن يكون على ظاهره وحقيقته، ولا يخرج الشيء عن ظاهره إلى المجاز إلا بحجة ….. كذلك قوله تعالى: (لما خلقت بيدي) على ظاهره أو حقيقته من إثبات اليدين
        ……بل واجب أن يكون قوله تعالى: (لما خلقت بيدي) إثبات يدين لله تعالى في الحقيقة غير نعمتين إذا كانت النعمتان لا يجوز عند أهل اللسان أن يقول قائلهم: فعلت بيدي، وهو يعني النعمتين
        “Hukum dari (makna) firman Allah ta’ala adalah sesuai dengan dhahir dan hakekatnya. Tidak boleh dipalingkan sedikitpun dari makna dhahirnya kepada makna majaaz kecuali dengan hujah… Begitu pula dengan makna firman Allah ta’ala : ‘kepada yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku’ (QS. Shaad : 75) adalah sebagaimana dhahirnya dan hakekatnya dari penetapan sifat dua tangan (Allah)….

        Bahkan wajib untuk menjadikan makna firman Allah ta’ala : ‘kepada yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku’ untuk menetapkan dua tangan untuk Allah ta’ala secara hakekatnya, bukan dengan makna dua nikmat. Karena dalam bahasa ‘Arab tidak boleh seseorang mengatakan : ‘amiltu bi-yadai (aku berbuat dengan dua tanganku), dengan makna dua nikmat” [Al-Ibaanah, hal. 41].

        Setali tiga uang ‘aqidah Abul-Hasan adalah ‘aqidah Al-Imaam Ahmad bin Hanbal rahimahumallaah sebagaimana tertera dalam Kitaabul-‘Aqiidah saat menjelaskan sifat wajah :
        ومذهب أبي عبد الله أحمد بن حنبل رضي الله عنه أن لله عز وجل وجها لا كالصور المصورة والأعيان المخططة بل وجهة وصفه بقوله {كل شيء هالك إلا وجهه} ومن غير معناه فقد ألحد عنه وذلك عنده وجه في الحقيقة دون المجاز
        “Dan madzhab Abu ‘Abdillah Ahmad bin Hanbal radliyallaahu ‘anhu, bahwasannya Allah ‘azza wa jallaa mempunyai wajah yang tidak seperti bentuk-bentuk (makhluk-Nya) dan benda-benda yang terlukis. Bahkan sifat wajah telah Ia sifatkan dengan firman-Nya : ‘segala sesuatu pasti binasa kecuali wajah-Nya’ (QS. Al-Qashshaash : 88). Dan barangsiapa yang mengubah maknanya, sungguh ia telah berbuat ilhad kepada-Nya. Sifat wajah itu menurutnya (Al-Imam Ahmad) adalah sebagaimana hakekatnya, bukan dalam makna majaz” [Kitaabul-‘Aqiidah, riwayat A-Khallaal, hal. 103].
        Ibnu ‘Abdil-Barr – sebagaimana dikutip oleh Adz-Dzahabiy dalam kitab Al-‘Ulluw – berkata :
        أهل السنة مجمعون على الإقرار بالصفات الواردة في الكتاب والسنة وحملها على الحقيقة لا على المجاز إلا أنهم لم يكيفوا شيئا من ذلك . وأما الجهمية والمعتزلة والخوارج فكلهم ينكرها ولا يحمل منها شيئا على الحقيقة ويزعمون أن من أقر بها مشبه وهم عند من أقر بها نافون للمعبود
        “Ahlus-Sunnah telah bersepakat untuk mengakui sifat-sifat yang tertuang dalam Al-Kitab dan As-Sunnah dan membawanya kepada makna hakekat, tidak kepada makna majaaz. Namun, mereka tidak men-takyif sesuatupun dari sifat-sifat tersebut. Adapun Jahmiyah. Mu’tazilah, dan Khawaarij; semuanya mengingkarinya dan tidak membawanya kepada makna hakekatnya. Dan mereka menyangka bahwa siapa saja yang mengatakannya (yaitu membawa makna sifat Alah sesuai dengan hakekatnya) berarti telah menyerupakan-Nya dengan makhluk. Padahal, mereka di sisi orang yang menetapkan sifat Allah secara hakiki, sama saja menafikkan yang disembah (yaitu Allah)” [Mukhtashar Al-‘Ulluw, hal. 268-269 no. 328

        Jumhur Asyaa’irah dalam hal ini menerapkan metode tafwiidl (menyerahkan maknanya kepada Alah ta’ala) dan sebagian mereka memilih metode ta’wiil. Namun mereka sepakat menolak menetapkan sifat Allah sebagaimana dhahirnya atau hakekatnya (haqiqiy). Cukuplah satu bait syi’ir dalam kitab Al-Jauharah berikut sebagai bukti :
        وكل نص أوهم التشبيها * اوله أو فوض ورم تنزيها
        “Setiap nash yang mengandung penyerupaan (terhadap makhluk)
        takwilkanlah atau serahkanlah dan berishkanlah Allah (dari kekurangan)”.
        Dan inilah praktek ta’wil Asyaa’irah yang diwakili oleh Abu Manshuur ‘Abdul-Qaahir Al-Baghdaadiy Al-Asy’ariy rahimahullah :
        وقد تأول بعض أصحابنا هذا التأويل - أي : تأويل اليد بالقدرة - وذلك صحيح على المذهب
        “Sebagian shahabat kami memang telah melakukan ta’wil dalam perkara ini – yaitu ta’wil sifat tangan dengan kekuasaan (qudrah) - . Hal itu shahih dalam madzhab” [Ushuuluddiin, hal. 111].

        Hampir menjadi satu kenyataan aksiomatik jika ada orang yang menetapkan sifat dua tangan kepada Allah ta’ala secara hakiki, tuduhan-tuduhan mujassimah/musyabihah akan nyasar kepadanya, terutama sekali dari lisan-lisan Asy’aariyyuun.
        Kesimpulan kita, ‘aqidah Abul-Hasan Al-Asy’ariy dan Ahmad bin Hanbal rahimahumallaah pada point ini secara umum berbeda dengan ‘aqidah Asyaa’irah.

        Bersambung (insya Alloh)

    • @ Dianth -semoga Alloh memberi taufik dan ilmu yang bermanfat pada kita-

      1) “bukanlah tasybih bila secara makna bahasa serupa dengan sifat manusia, tetapi kita tetap memahami adanya perbedaan sifat ini bila disandarkan kepada Allah”
      —————————————————————————————-
      > jika saya mengatakan makna al yad, al wajh dan nuzul secara bahasa serupa dengan sifat manusia, tetapi kita tetap memahami adanya perbedaan sifat ini bila disandarkan kepada Alloh…Maka ucapan ini bukanlah tasybih menurut Mas Dian….jadi, pada hakikatnya kita telah sependapat bahwa ucapan di atas bukanlah tasybih…

      2) “Selama tidak beritikad bahwa Al Wajh dan Al YAd bagi Alloh adalah anggota tubuh atau jisim maka itu bukanlah tajsim.”
      ————————————————————————————–
      > saya pun tidak beritikad bahwa al wajh dan al yad bagi Alloh adalah anggota tubuh…saya hanya menetapkan makna secara bahasa al yad dan al wajh bagi Alloh sebagaimana datang dalam al quran tanpa menetapkan kaifiyat sifat tadi….dan terhadap kaifiyat sifat al wajh dan al yad, saya pun tafwidh (menyerahkannya kepada Alloh)…jadi ucapan ini juga bukan tajsim menurut Mas Dian sendiri

      jika ucapan di atas bukan merupakan tajsim ataupun tasybih, kenapa kita harus mentakwil??? bukankah lebih baik kita beriman terhadap ayat alquran sebagaimana datangnya sebagaimana atsar-atsar para ulama salaf yang menunjukkan demikian…yakni mereka (para ulama salaf) tidak mentakwilnya,

      seandainya para sahabat dan ulama salaf kita mentakwilnya tentu wajib bagi mereka untuk menjelaskan pada umat takwilannya….karena ini merupakan permasalahan akidah yang wajib diyakini oleh umat dan bukankah tidak boleh menyembunyikan ilmu di saat ilmu itu dibutuhkan ….. wabillahittaufiq

      • Anda harus memahami ucapan saya dengan baik….

        perhatikan firman Allah ini :

        yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. (Al Furqon ayat 2)

        Saya memahami bahwa segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah memiliki ukuran dan itu artinya segala sesuatu yang berukuran adalah ditetapkan atau diciptakan. Dengan demikian Allah tidak memiliki ukuran, karena ukuran adalah ketetapan Allah dengan segala sifatnya seperti batasan dan bentuk. dan Allah tidak ada yang menetapkannya. Dengan demikian Allah bukan jisim atau berjisim atau bersusun atau beranggota tubuh, karena jisim dengan segala sifatnya adalah berukuran dengan batasan dan bentuk-bentuknya.

        mendengar dan melihat bukan jisim, bukan bentuk dan bukan ukuran maupun batasan. Dia adalah sifat Allah yang mutlak ada padaNya tanpa ukuran bentuk dan batasannya.

        Sedangkan sifat mendengar dan melihat manusia itu anugrah Allah dengan yang menetapkannya dengan ukuran dan batasannya bagi manusia.

        sedangkan tangan, kaki, wajah makna zhahirnya adalah jisim, itu artinya sesuatu yang mutlak memiliki ukuran bentuk dan batasan.

        Tiada makna zhahir lain dari makna tangan, kaki dan wajah selain anggota tubuh.

        Kalau anda katakan makna zhahirnya bukan anggota tubuh…anda cari bahasa planet lain saja. Dan saya rasa sudah tidak bermanfaat lagi diskusi ini kalau anda tidak memahami makna bahasa sama sekali.

  25. setahu saya, pendengaran dan penglihatan juga memiliki batas dan ukuran…

    dulu waktu di sekolah saya mendapatkan materi pelajaran dari guru saya bahwa ” frekuensi pendengaran yang dapat didengar manusia berkisar antara 20 – 20.000 Hz, dan ada hewan-hewan tertentu yang dapat mendengar frekuensi < 20 Hz "

    Kita pun mengakui bahwa "Pendengaran manusia berbeda dengan pendengaran hewan"…jika ada 2 hal bisa dibandingkan maka secara otomatis hal tersebut memilki batas dan ukuran…jika pendengaran tidak memiliki batas seperti kata Mas Dianth tentu ucapan di atas adalah salah…

    bukankah ini juga menunjukkan bahwa pendengaran memilki batas dan ukuran…???

    selain itu " daya penglihatan seorang yang normal dan orang yang memiliki kelainan mata juga berbeda " perbedaan-perbedaan ini bukankah menunjukkan bahwa penglihatan juga memiliki batas dan ukuran…

    kenapa Mas Dianth tidak mentakwil sifat Mendengar dan Melihat seperti sifat Yad, Nuzul ?? padahal sama-sama memiki batas dan ukuran..

    Berkata Imam Abul Abbas bin Juraij yang bergelar “Syafi’i Kedua” —kebetulan beliau semasa dengan al-Asy’ari—, “Kami tidak setuju dengan takwil Mu’tazilah,Asy’ariyah, Jahmiyah, Mulhidah, Mujassimah, Musyabbihah, Karamiyah, Mukayyifah. Akan tetapi kami menerimanya tanpa takwil dan beriman dengannya tanpa tamtsil" lihat Siyar A’lam an-Nubala’ (14/201)

    Berkata Imam Abul Hasan al-Karji dari ulama Syafi’iyah pada abad kelima, “Para ulama Syafi’iyah selalu tidak mau jika mereka dinisbatkan kepada Asy’ariyah. Bahkan mereka berlepas diri dari semua pemahaman madzhab Asy’ari, melarang pengikut dan para sahabat mereka mendekat kepada madzhab tersebut, sesuai dengan berita yang aku terima dari beberapa ulama dan para imam.”

    Kemudian belian mencontohkan seperti syaikh Syafi’iyah pada masanya, Imam Abu Hamid al-Isfirayini-yang bergelar dengan “Syafi’i Ketiga”—, seraya berkata, “Sudah dimaklumi bersama tegasnya Syaikh (al-Isfirayini) terhadap ,ahli kalam, sehingga beliau memilah antara ushul fiqh Syafi’i dengan ushul Asy’ari. Sikap yang sama diperlihatkan pula oleh Abu Ishaq asy-Syirazi dalam kedua kitab beliau, al-Luma’ dan at-Tabshirah. Sampai-sampai jika ada persamaan antara perkataan Asy’ari dengan perkataan ulama Syafi’iyah, beliau tetap bedakan dan berkata, ‘Perkataan ini adalah pendapat para sahabat kami dan dengannya berpendapatlah Asy’ariyah.’ Beliau tidak pernah menggolongkan Asy’ariyah ke dalam pengikut Syafi’i. Hal itu dikarenakan benci kepada ushul fiqh mereka. Bagaimana pula sikap mereka terhadap ajaran mereka?” lihat ljtima’ Juyusy Islamiyah (hal. 62).

  26. Abul-Hasan Al-Asy’ariy berkata :
    حكم كلام الله تعالى أن يكون على ظاهره وحقيقته، ولا يخرج الشيء عن ظاهره إلى المجاز إلا بحجة ….. كذلك قوله تعالى: (لما خلقت بيدي) على ظاهره أو حقيقته من إثبات اليدين
    ……بل واجب أن يكون قوله تعالى: (لما خلقت بيدي) إثبات يدين لله تعالى في الحقيقة غير نعمتين إذا كانت النعمتان لا يجوز عند أهل اللسان أن يقول قائلهم: فعلت بيدي، وهو يعني النعمتين

    “Hukum dari (makna) firman Allah ta’ala adalah sesuai dengan dhahir dan hakekatnya. Tidak boleh dipalingkan sedikitpun dari makna dhahirnya kepada makna majaaz kecuali dengan hujah… Begitu pula dengan makna firman Allah ta’ala : ‘kepada yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku’ (QS. Shaad : 75) adalah sebagaimana dhahirnya dan hakekatnya dari penetapan sifat dua tangan (Allah)….

    Bahkan wajib untuk menjadikan makna firman Allah ta’ala : ‘kepada yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku’ untuk menetapkan dua tangan untuk Allah ta’ala secara hakekatnya, bukan dengan makna dua nikmat. Karena dalam bahasa ‘Arab tidak boleh seseorang mengatakan : ‘amiltu bi-yadai (aku berbuat dengan dua tanganku), dengan makna dua nikmat” [Al-Ibaanah, hal. 41].

    Setali tiga uang ‘aqidah Abul-Hasan adalah ‘aqidah Al-Imaam Ahmad bin Hanbal rahimahumallaah sebagaimana tertera dalam Kitaabul-‘Aqiidah saat menjelaskan sifat wajah :
    ومذهب أبي عبد الله أحمد بن حنبل رضي الله عنه أن لله عز وجل وجها لا كالصور المصورة والأعيان المخططة بل وجهة وصفه بقوله {كل شيء هالك إلا وجهه} ومن غير معناه فقد ألحد عنه وذلك عنده وجه في الحقيقة دون المجاز

    “Dan madzhab Abu ‘Abdillah Ahmad bin Hanbal radliyallaahu ‘anhu, bahwasannya Allah ‘azza wa jallaa mempunyai wajah yang tidak seperti bentuk-bentuk (makhluk-Nya) dan benda-benda yang terlukis. Bahkan sifat wajah telah Ia sifatkan dengan firman-Nya : ‘segala sesuatu pasti binasa kecuali wajah-Nya’ (QS. Al-Qashshaash : 88).

    Dan barangsiapa yang mengubah maknanya, sungguh ia telah berbuat ilhad kepada-Nya. Sifat wajah itu menurutnya (Al-Imam Ahmad) adalah sebagaimana hakekatnya, bukan dalam makna majaz” [Kitaabul-‘Aqiidah, riwayat A-Khallaal, hal. 103].

    Ibnu ‘Abdil-Barr – sebagaimana dikutip oleh Adz-Dzahabiy dalam kitab Al-‘Ulluw – berkata :
    أهل السنة مجمعون على الإقرار بالصفات الواردة في الكتاب والسنة وحملها على الحقيقة لا على المجاز إلا أنهم لم يكيفوا شيئا من ذلك . وأما الجهمية والمعتزلة والخوارج فكلهم ينكرها ولا يحمل منها شيئا على الحقيقة ويزعمون أن من أقر بها مشبه وهم عند من أقر بها نافون للمعبود
    “Ahlus-Sunnah telah bersepakat untuk mengakui sifat-sifat yang tertuang dalam Al-Kitab dan As-Sunnah dan membawanya kepada makna hakekat, tidak kepada makna majaaz. Namun, mereka tidak men-takyif sesuatupun dari sifat-sifat tersebut. Adapun Jahmiyah. Mu’tazilah, dan Khawaarij; semuanya mengingkarinya dan tidak membawanya kepada makna hakekatnya. Dan mereka menyangka bahwa siapa saja yang mengatakannya (yaitu membawa makna sifat Alah sesuai dengan hakekatnya) berarti telah menyerupakan-Nya dengan makhluk. Padahal, mereka di sisi orang yang menetapkan sifat Allah secara hakiki, sama saja menafikkan yang disembah (yaitu Allah)” [Mukhtashar Al-‘Ulluw, hal. 268-269 no. 328].

  27. Wahhabi, apaan sih itu? Bukankah Al-Wahhab itu Asma Allah dari sekian Asmaul HusnaNya? Bolehkah kita menggunakannya untuk menghina orang atau menyebut orang dengan maksud merendahkan? Dengan kata lain, bolehkah menghina dengan memakai nama Allah? Tolong jawab pertanyaan saya ini dengan dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah? Maafkanlah saya kalau saya baru belajar.

  28. Pengakuan Al-Qurthubi bahwa Ulama Salaf Berpendapat Allah di ATAS

    قوله تعالى: (ثُمَّ اسْتَوى عَلَى الْعَرْشِ) هذه مسألة الاستواء، وللعلماء فيها كلام وإجراء. وقد بينا أقوال العلماء فيها في الكتاب (الأسنى في شرح أسماء الله الحسنى وصفاته العلى) وذكرنا فيها هناك أربعة عشر قولا. والأكثر من المتقدمين والمتأخرين أنه إذا وجب تنزيه الباري سبحانه عن الجهة والتحيز فمن ضرورة ذلك ولواحقه اللازمة عليه عند عامة العلماء المتقدمين وقادتهم من المتأخرين تنزيهه تبارك وتعالى عن الجهة، فليس بجهة فوق عندهم، لأنه يلزم من ذلك عندهم متى اختص بجهة أن يكون في مكان أو حيز، ويلزم على المكان والحيز الحركة والسكون للمتحيز، والتغير والحدوث. هذا قول المتكلمين. وقد كان السلف الأول رضي الله عنهم لا يقولون بنفي الجهة ولا ينطقون بذلك، بل نطقوا هم والكافة بإثباتها لله تعالى كما نطق كتابه وأخبرت رسله. ولم ينكر أحد من السلف الصالح أنه استوى على عرشه حقيقة. وخص العرش بذلك لأنه أعظم مخلوقاته، وإنما جهلوا كيفية الاستواء فإنه لا تعلم حقيقته.

    (Tafsir Al-Qurthubi jilid 7 hal. 219 cetakan Dar Al-Kutub Al-Mishriyyah 1964)

    Artinya:

    Firman Allah: (ثُمَّ اسْتَوى عَلَى الْعَرْشِ) ini adalah masalah istiwa`. Para ulama mempunyai diskusi khusus dan uraian panjang lebar tentang ini. Kami sudah menjelaskannya dalam kitab “Al Asnaa fii syarh Asmaa` Allah Al Husna”, di sana kami menyebutkan ada empat belas pendapat. Pendapat kebanyakan dari kalangan mutaqaddimin dan muta`akhkhirin adalah bahwa Allah Allah harus dibersihkan dari arah dan penempatan ruang. Maka, semua konsekuensinya juga harus dihilangkan. Demikian pendapat para ulama mutaqaddimin dan para pentolan dari kalangan muta`khkhirin. Yaitu, membersihkan Allah dari sifat arah, sehingga Allah tidak berada di atas menurut mereka. Karena menurut mereka itu berkonsekuensi bahwa Allah bertempat atau menempati ruang. Kalau sudah menempati ruang berarti harus ada gerakan dan diam di tempat yang menaungi serta adanya perubahan dan hal-hal baru (evolusi). Ini adalah pendapat ulama mutakallimin.

    Akan tetapi salaf al awwal (ulama salaf generasi pertama) –semoga Allah meridhai mereka- tidak pernah menafikan arah dan tidak pula membicarakannya. Justru mereka semua menetapkan itu semua bagi Allah sebagaimana disebutkan dalam kitab-Nya dan disampaikan oleh Rasul-Nya dan tidak ada seorangpun dari kalangan salafus shalih yang mengingkari bahwa Allah istiwa` (bersemayam) di atas arsy-Nya secara hakiki. Arsy dikhususkan untuk itu karena dia adalah makhluk Allah terbesar. Mereka hanya tidak tahu bagaimana kaifiyah (bentuk) istiwa` (bersemayam) itu, karena hal tersebut tidak diketahui bentuknya.”

    Kemudian Al-Qurthubi juga berkata dalam kitabnya yang lain berjudul Al-Asna fii syarh Asma`il Allah Al-Husna juz 2 hal. 132[1] setelah menyebutkan adanya empat belas pendapat tentang makna istiwa dia berkata:

    وَ أظهر هذه الأقوال –وإن كنت لا أقول به ولا أختاره – ما تظاهرت عليه الآي والأخبار أن الله سبحانه على عرشه كما أخبر في كتابه وعلى لسان نبيه بلا كيف بائن من جميع خلقه. هذا جملة مذهب السلف الصالح فيما نقل عنهم الثقات حسب ما تقدم.

    “Dan pendapat yang paling jelas adalah –meski aku tidak sependapat dan tidak memilihnya- adalah pendapat yang berlandaskan ayat dan hadits yang banyak bahwa Allah di atas Arsy-Nya sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Kitab dan melalui lisan Nabi-Nya tanpa kaifiyah, terpisah dari semua makhluk-Nya. Ini adalah pendapat semua ulama salaf shalih berdasarkan riwayat orang-orang terpercaya sampai kepada mereka.”

    Perhatikan baik-baik kalimat Al-Qurthubi di atas. Dengan jelas dia mengakui bahwa penetapan Allah di atas Arsy itu adalah pendapat para ulama salaf. Anehnya, dia tidak menyetujui pendapat itu. Tapi yang penting di sini bukanlah pendapat Al-Qurthubi tapi pengakuannya bahwa itu adalah pendapat ulama salaf. Sehingga, kita tentu dapat memilih siapa yang lebih layak diikuti, Al-Qurthubi ataukah para ulama salafus shalih tersebut.

    Oleh Ustadz Anshari Taslim, 21 Oktober 2010

    [sumber: alponti.multiply.com]


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 37 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: