Oleh: bantahansalafytobat | Oktober 7, 2011

Catatan Kecil untuk Dianth


Bsmillahirahman nirrahim..

Berhubung komentar dianth yang masuk banyak, maka secara khusus saya akan memberikan catatan kecil spesial buat dianth.

Pertama : Masalah Takwil.

Dalam berbgai komentarnya secara bersemangat, dianth berusaha meyakinkan bahwa Sifat-sifat Allah Ta’ala yang tidak sesuai dengan akalnya yang dia katakan semua sifat bermakna jism harus ditakwil. Sebenarnya  ini hanyalah mengikuti sekte yang di aikuti yaitu Jahmiyah. sekte inilah yang pertama kali menolak sifat-sifat Allah Ta’ala. kemudian diikuti oleh mu’tazilah dan Asy-ariyah.

Kaum Mu’aththilah itu terbagi-bagi ke dalam beberapa kelompok. Diantara mereka ada pihak yang mengingkari Nama dan Sifat Allah secara mutlak semacam kelompok Jahmiyah. Ada pula pihak yang mengingkari Sifat saja semacam kelompok Mu’tazilah. Ada pula yang mengingkari sebagian Sifat dengan tetap menetapkan Nama-Nama Allah semacam kelompok Asyaa’irah (yang mengaku-aku pengikut Imam Abul Hasan Al Asy ‘ari-pent). Diantara mereka ada yang terjerumus dalam sikap tafwidh (menyerahkan lafazh, makna dan kaifiyah Sifat hanya kepada Allah-pent). Ada yang mensifati Allah dengan sifat-sifat yang saling bertolak belakang seperti, “Allah itu tidak hidup juga tidak mati, tidak mendengar juga tidak melihat (mungkin maksud beliau tidak tuli, wallahu a’lam-pent), tidak bisu tapi juga tidak berbicara, dst.” Itu semua mereka lakukan dengan alasan untuk menghindar dari penyerupaan/tamtsil. Pendapat terakhir ini adalah madzhab orang-orang mulhid/atheis di kalangan sekte Bathiniyah.

Mereka menuduh Ahlussunnah wal jama’ah melakukan tasbih / tasjim. dan ini adalah tuduhan yang sudah lama dan telah dibantah oleh para ulama ahlussunnah.  Tuduhan ini karena mereka tidak memahami kaidah dalam menetapkan Asma wa Sifat.

PADAHAL YANG BENAR BAHWA AHLUSSUNNAH PERTENGAHAN ANTARA MUTASYABIHAH/MUJASIMAH (yang menyerupakan sifat Allah dengan sifat mahluk ) DENGAN MUATILAH (yang menolak sifat Allah Ta’ala)

Sebenarnya para ulama telah banyak menulis bantahan kepada faham mu’atilah ini. seperti Ar-Raddu ‘Alal Jahmiyah karya Imam Ahmad bin Hambal rahimahulloh.

Anehnya sekte yang sudah ditinggalkan oleh pendirinya yaitu Imam abul hasan AlAsy ariy ternyata masih banyak yang memegangnya erat-erat. ibarat puntung rokok yang sudah dibuang tetap saja ada yang memungutnya..

Tapi apakah dianth benar-benar melakukan takwil ?

Ternyata dianth tidaklah melakukan takwil seperti ucapannya namun ia melakukan TAHRIF !!. Mungkin dianth belum bisa membedakan antara takwil dan tahrif. Atau mungkin dianth sengaja melakukan tahrif dengan dalih takwil..?

Perbedaan takwil dan tahrif :

Setiap lafadz harus difahami sesuai dhohirnya sampai ada dalil yang mengartikan lain. Takwil adalah memaknai suatu nash disertai dengan dalil, sedangkan tahrif mengartikan lain dari nash tanpa didukung dalil. maka takwil dikatakan sebagai tafsir.

Tahrif terjadi pada dalil (merubah lafazh maupun maknanya, lihat Mudzakkirah ‘alal ‘Aqidah Al Wasithiyah hlm 6 oleh Syaikh Al Utsaimin-pent) sedangkan ta’thil terjadi pada madlul/makna yang ditunjukkan dalil. “Syaikh Utsaimin juga mendefinisikan ta’thil sebagai pengingkaran Nama atau Sifat yang seharusnya ditetapkan dimiliki Allah, dengan bentuk ta’thil kulli/total seperti yang dilakukan oleh Jahmiyah atau ta’thil juz’i/sebagian’ seperti yang dilakukan oleh Asy’ariyah” [yang ada dalam tanda petik adalah tambahan dari penterjemah]. (Sehingga setiap orang yang melakukan tahrif pasti melakukan ta’thil akan tetapi tidak setiap orang yang melakukan ta’thil itu mesti melakukan tahrif, lihatlah Syarah ‘Aqidah Wasithiyah Syaikh Shalih Al Fauzan hlm 15 -pent).

Misalnya, ada seseorang yang mengomentari firman Allah Ta’ala, “Bahkan kedua Tangan Allah terbentang” dengan menyatakan “(dua Tangan) itu artinya dua Kekuatan-Nya.” Maka orang ini telah terjerumus dalam tindakan tahrif terhadap dalil dan sekaligus melakukan ta’thil terhadap madlul/makna yang ditunjukkan oleh dalil; yaitu Tangan yang hakiki. Dengan demikian kita mengetahui bahwa kelompok Mufawwidhah/pelaku tafwidh (diantara mereka Syaikh Hasan Al Banna pendiri Jama’ah Al Ikhwan Al Muslimin, semoga Allah mengampuninya dan memberi hidayah taufiq kepada para pemujanya-pent) termasuk dalam jajaran penolak Sifat (Mu’aththilah).

Makna Takwil

Disini harus didudukkan makna takwil berdasarkan pendapat salaf yang diikuti oleh ibnu Taimiyah dan pengikutnya yang menjulukkan diri sebagai Salafi agar kita dapat membuat keputusan yang adil tentang sikap ibnu Taimiyah yang sebenarnya tentang Takwil

  • Takwil menurut Kholaf dan Asya’irah

Takwil dikalangan Kholaf sangat popular dengan makna:

صرف اللفظ عن الظاهر بقرينة تقتضي ذلك

Takwil adalah memalingkan sebuah kata dari Žahirnya dengan petunjuk-petunjuk yang menyertainya.

Definisi ini merupakan istilah Mutaakhirin yang berbeda dengan takwil secara bahasa dan perkataan salaf

  • Takwil Menurut Salaf dan Ibnu Taimiyah

Dalam Mukhtar Shihhâh dikatakan:

التأويل تفسير ما يؤول إليه شيئ تقتضي ذلك

Ta’wil adalah tafsir yang dikembalikan sesuatu kepadanya (Mukhtar Sihhâh: unsur-unsur أول

Dalam Lisaanul arab dikatakan bahwa ia berarti رجع و عاد yang artinya kembali (Lisân al arab: unsur-unsur أول)

Secara ringkas dalam bahasa arab kata takwil bermuara kepada dua hal:

Pertama: tempat kembalinya sesuatu, yaitu hakikat yang perkataan dikembalikan kepadanya.
sebagaiman kita tahu bahwa kalam itu bisa Khobariyah atau Thalabiyah, maka:
Takwil Khobar adalah hakikat dan kejadiannya (kejadian yang sebenarnya): Seperti dalam firman Allah :

هَذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ

Artinya: inilah ta’wil mimpiku yang dahulu itu

maksudnya inilah hakikat dan kejadian sebenarnya dari mimpi yang pernah dia alami

Allah juga berfirman:

هَذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا تَأْوِيلَهُ يَوْمَ يَأْتِي تَأْوِيلُهُ يَقُولُ الَّذِينَ نَسُوهُ مِنْ قَبْلُ

Artinya: Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) Al Quran itu. Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al Quran itu, berkatalah orang-orang yang melupakannya sebelum itu

Maksudnya: mereka hanyalah menunggu terjadinya hal yang sama dengan yang diberitakan oleh Allah berupa janji dan ażab

Sedangkan ta’wil Thalabiyah yang merupakan amr (perintah) dan nahy (larangan) adalah sama dengan perbuatan yang diperintahkan untuk melaksanakannya dan beramal dengannya dan juga  sama dengan larangan yang ditinggalkan. Hal ini seperti perkataan Aisyah Radiyallâhu anhu:

((كان النبيّ صلّى الله عليه وسلّم يقول في ركوعه وسجوده؛ سبحانك اللهم ربنا وبحمدك، أللهمّ اغفرلي. يتأوّل القرآن؟))

Artinya: Nabi Shallallâhu alaihi Wasallam pernah membaca:

سبحانك اللهم ربنا وبحمدك، أللهمّ اغفرلي

pada ruku dan sujudnya. (Aisyah berkata) : engkau mentakwilkan Al qur’an?

Maksudnya apakah engkau melaksanakan amalan sesuai dengan firman Allah:

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ

Artinya: maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya.

Kedua: takwil dengan makna tafsir

Yaitu perkataan yang digunakan untuk menjelaskan sebuah lafaz hingga dapat dipahami maknanya. Inilah yang dimaksud dari perkataan para Mufassirin تأويل قوله تعالى yang sering digunakan oleh para Mufassirin. Bahkan Ibnu Jarir al Thabarî menamai kitabnya:


جامع البيان عن تأويل آي القرآن

Berdasarkan makna yang pertama maka takwil dari apa yang diberitakan oleh Allah tentang sifat dan perbuatanNya adalah sama dengan keadaan yang sebenarnya. Hal tersebut adalah hak Allah subhanahu wataala yang tidak diketahui oleh selainNya dan tidak ada celah bagi kita untuk mengetahuinya dan melingkupinya.

Ibnu Taimiyah juga mengatakan:

“Sesungguhnya lafadz ta’wil menurut pemahaman orang-orang yang suka bertentangan (yakni Ahlul Kalam), bukanlah ta’wil yang dimaksud dalam At-Tanzil (wahyu yang diturunkan). Bahkan bukan pula yang dikenal oleh para ulama tafsir terdahulu.

Sesungguhnya para ulama tafsir Al-Qur’an terdahulu memahami lafadz ta’wil dengan maksud tafsir. Ta’wil semacam ini dapat diketahui oleh ulama yang mengetahui tafsir Al-Qur’an. Oleh sebab itulah Imam Mujahid, imamnya ahli tafsir dan murid Ibnu Abbas, pernah menanyakan seluruh tafsir Al-Qur’an kepada Ibnu Abbas, dan Ibnu Abbas pun telah menjelaskan tafsir seluruhnya. Ketika beliau (Mujahid) mengatakan : “Sesungguhnya orang-orang yang benar-benar ahlil-ilmi (Ar-Rasikhum fi Al-’Ilmi) jika memahami tentang ta’wil, maka maksud ta’wil itu adalah tafsir yang telah disebutkan pada ibnu Abbas”.

Adapun lafal ta’wil menurut At-Tanzil (wahyu yang diturunkan), maknanya adalah “hakikat”, yakni sesuatu yang menjadi asal sebuah pembicaraan. Dan itu sama dengan hakikat-hakikat yang telah diberitakan oleh Allah Ta’ala, misalnya ta’wil tentang hari akhir yang telah diberitakan oleh Allah ialah kejadian yang akan terjadi di hari akhir itu sendiri (hakikat kejadiannya). Ta’wil tentang apa yang Dia beritakan mengenai Diri-Nya itu sendiri yang Maha Suci lagi tersifati dengan sifat-sifat Maha Tinggi. Ta’wil (dalam arti hakikat) inilah yang tidak dapat diketahui kecuali oleh Allah Ta’ala sendiri

Selengkapnya lihat http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/07/02/506/

Dalam menyikapi nash-nash Al Kitab dan As Sunnah kita wajib membiarkan penunjukannya sebagaimana zhahir nash tanpa perlu menyimpangkan maksudnya. Ini adalah kaidah yang sangat penting. Penetapan Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah termasuk perkara ghaib sehingga hal itu tidak bisa dijangkau dengan akal dan rasio semata

Makna zhahir dari Nama dan Sifat tersebut hanya bisa dipahami melalui bahasa Arab, karena Al Qur’an turun dengan bahasa ini. Begitu pula Rasul yang kepada beliau diturunkan Al Qur’an adalah orang yang berbahasa Arab. Orang-orang yang diajak bicara oleh beliau di masa itu juga orang-orang yang berbahasa Arab. Mereka bisa memahami Al Qur’an dengan bahasa tersebut.

Allah Ta’ala berfirman, “Dia (Al Qur’an) dibawa turun oleh Ar Ruh Al Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy Syu’araa’: 193-195)

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Kami menjadikan Al Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya).” (QS. Az Zukhruf: 3)

Maka setiap muslim wajib memahami nash-nash sesuai dengan makna zhahirnya yaitu menurut bahasa Arab selama tidak ada dalil dari syar’i yang .

Orang-orang yang memahami makna nash-nash Nama dan Sifat Allah merupakan bentuk penyerupaan/tamtsil. Pemahaman seperti ini mendorong mereka untuk melakukan penolakan/ta’thil. Kemudian mereka berusaha menentukan makna lain yang bisa diterima oleh akal mereka, dan mereka pun berselisih dalam menentukannya. Mereka menyebut tindakan ini sebagai ta’wil/tafsir, padahal sesungguhnya mereka telah melakukan tahrif/penyimpangan. Alangkah benar ungkapan orang yang mengomentari tingkah mereka ini: Mereka itu bukan menolong Islam, tapi menghancurkan filsafat juga tidak.

Memahami Sifat Allah Secara Zhohir adalah Ijma’ (Kesepakatan Para Ulama)

Al Imam Al Khothobiy rahimahullah mengatakan, “Madzhab salaf dalam mengimani sifat Allah adalah menetapkan dan memahaminya secara zhohir (tekstual), mereka menolak menyebutkan hakikat (kaifiyah) sifat tersebut dan mereka tidak melakukan tasybih (menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk)”. (Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, Al Hafizh Syamsuddin Adz Dzahaby, Tahqiq: Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, hal. 38, Al Maktab Al Islami, cetakan kedua, 1412 H)

Al Hafizh Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah, “Ahlus Sunnah berijma’ (bersepakat) dalam menetapkan sifat Allah yang terdapat dalam Al Kitab dan As Sunnah, mereka memahaminya sesuai dengan hakikatnya dan bukan dipahami secara majas. Namun ingatlah mereka tidak menyebutkan kaifiyah sifat tersebut (seperti menggambarkan bagaimana bentuk tangan dan wajah Allah, pen). Berbeda halnya dengan Jahmiyah, Mu’tazilah dan Khowarij; mereka semua mengingkari sifat Allah, mereka tidak mau memahami sesuai dengan makna hakikatnya. Mereka malah menganggap bahwa orang-orang yang menetapkan sifat sebagai musyabbihah (menyerupakan Allah dengan makhluk). Namun menurut mereka yang menetapkan sifat bagi Allah (yaitu Ahlus Sunnah) menilai bahwa Mu’tazilah,cs–lah yang telah menafikan (meniadakan) Allah sebagai sesembahan.” (idem)

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Para salaful ummah dan para imam telah bersepakat (berijma’) bahwa nash-nash yang menjelaskan sifat Allah haruslah dipahami secara zhohir (tekstual) sesuai dengan sifat yang layak bagi Allah tanpa melakukan tahrif (penyelewengan makna). Dan ingatlah bahwa memahami secara sifat Allah secara zhohir tidak berarti kita menyamakan Allah dengan makhluk.” (Taqribut Tadmuriyah, hal. 46).

MUNGKIN DIANTH BINGUNG /TIDAK BISA MEMAHAMI BAHWA TIDAK SELAU/OTOMATIS/ TIDAK BERARTI MENGIMANI LAFADZ SECARA DHOHIR ITU BERARTI MENYERUPAKAN ALLAH TA’ALA

Karena ada kaidah lain yang ditetapkan ahlussunnah, yaitu :

selain menetapkan lafadz yang diterangakn dan Al-Qur’an dan As-Sunnah, juga ada kaidah tidak boleh melakukan tasbih (menyerupakan sifat Allah dengan sifat mahluk) tha’til (menolak sifat baik lafadz maupun makna), takyif (menanyakan bagaimananya) dan tahrif (menyimpangkan makna kepada makna lain).

Karena Seluruh Sifat Allah adalah tinggi, penuh dengan kesempurnaan dan sanjungan. Berbeda dengan mahluknya, Sifat-Sifat yang dipunyai Allah sesuai dengan keagungan-Nya yang Maha Tinggi.

sebenarnya mudah dalam memahami nama dan sifat Allah, apa yang dikatakan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah kita imani, jangan kita tolak, jangan kita berani merubah lafadznya, jangan pula kita menyamakan dengan mahluk-Nya dan jangan kita bertanya bagaimananya.

SELESAI, INSYA ALLAH SELAMAT

Namun kadang subhat datang dan akalpun  bermain..

Nama-Nama Allah tidak boleh ditetapkan dengan akal akan tetapi harus dengan dalil syar’i.

Ini berarti Nama-Nama Allah adalah perkara tauqifi (penetapannya membutuhkan dalil syar’i-pent) yang penetapannya bersumber dari Al Kitab dan As Sunnah. jadi Nama-Nama Allah adalah tauqifi, yang dibatasi dengan Nama-Nama yang tercantum dalam Al Kitab dan As Sunnah saja.

Tuduhan: Menetapkan Sifat Allah Berarti Melakukan Tasybih

orang yang sefaham dengan jahmiyah menyebut mereka yang menetapkan sifat semacam itu sebagai mujassimah atau musyabbihah, yang berarti menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Inilah yang diisyaratkan oleh Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni.

Beliau rahimahullah mengatakan, “Mu’tazilah, Jahmiyah dan semacamnya yang menolak sifat Allah, mereka menyebut setiap orang yang menetapkan sifat bagi Allah sebagai mujassimah atau musyabbihah. Bahkan di antara mereka menyebut para Imam besar yang telah masyhur (seperti Imam Malik, Imam Asy Syafi’i, Imam Ahmad dan pengikut setia mereka) sebagai mujassimah atau musyabbihah (yang menyerupakan Allah dengan makhluk).”

Tuduhan seperti ini sudah disanggah oleh ulama-ulama terdahulu. Perhatikan kalam mereka berikut ini.

Nu’aim bin Hammad Al Hafizh rahimahullah mengatakan, “Siapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, maka dia kafir. Siapa yang mengingkari sifat Allah yang Allah tetapkan bagi diri-Nya, maka dia kafir. Namun, menetapkan sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya atau yang ditetapkan oleh Rasul-Nya tidaklah disebut tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk).”

Ishaq bin Rohuwyah rahimahullah mengatakan, “Yang disebut tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk), jika kita mengatakan, ‘Tangan Allah sama dengan tanganku atau pendengaran-Nya sama dengan pendengaranku.’ Inilah yang disebut tasybih. Namun jika kita mengatakan sebagaimana yang Allah katakan yaitu mengatakan bahwa Allah memiliki tangan, pendengaran dan penglihatan; dan kita tidak sebut, ‘Bagaimana hakikat tangan Allah, dsb?’ dan tidak pula kita katakan, ‘Sifat Allah itu sama dengan sifat kita (yaitu tangan Allah sama dengan tangan kita)’; seperti ini tidaklah disebut tasybih. Karena ingatlah Allah Ta’ala berfirman,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Asy Syuro: 11)

Syaikh Al Albani rahimahullah mengatakan, “Seandainya menetapkan ketinggian bagi Allah Ta’ala (di atas seluruh makhluk-Nya) bermakna tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk), maka setiap orang yang menetapkan sifat yang lainnya bagi Allah Ta’ala seperti menetapkan bahwa Allah itu Qodir (Maha Kuasa), Allah itu saami’ (Maha Mendengar) atau Allah itu bashiir (Maha Mendengar), orang-orang yang menetapkan seperti ini juga haruslah disebut musyabbihah. Namun tidak seorang muslim pun pada hari ini yang mereka menisbatkan diri pada Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengatakan bahwa orang yang menetapkan sifat-sifat tadi bagi Allah adalah musyabbihah (melakukan tasybih atau menyerupakan Allah dengan makhluk), berbeda dengan para penolak sifat Allah yaitu Mu’atzilah, dll.” (Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 67.)

Ringkasnya, jika kita yang menyatakan Allah di atas langit adalah musyabbihah, maka seharusnya engkau katakan pula pada orang-orang yang menetapkan sifat mendengar, melihat, bahkan sifat wujud adalah musyabbihah karena sifat-sifat ini juga ada pada makhluk. Namun, pasti engkau akan mengelak, tidak mau mengatakan demikian.

Jadi, jika kami mengatakan bahwa Allah di atas langit, di atas seluruh makhluk-Nya, itu bukanlah berarti Allah serupa dengan makhluk. Jadi kami yang menetapkan sifat bukanlah musyabbihah, seperti kleim Anda.

Justru orang yang menolak sifat Allah atau mengatakan, ‘Allah tidak berada di atas langit’, karena tidak boleh kita pahami ayat-ayat yang menyatakan demikian secara zhohirnya, namun makna yang lainnya’; mereka itulah sebenarnya musyabbihah? Kok, tuduhan ini bisa berbalik?

Ini buktinya. Perlu diketahui bahwa setiap orang yang menolak sifat Allah (mu’athilah) sebelumnya mereka terlebih dahulu menyerupakan sifat Allah dengan makhluk (melakukan tasybih). Sebelumnya mereka berpikir, “Kalau kita menetapkan sifat tangan, wajah, dan sifat lainnya bagi Allah, maka ini sama saja kita menyerupakan Allah dengan makhluk”. Lalu agar sifat Allah tidak sama dengan makhluk, setelah itu mereka menolak sifat Allah, yaitu menolak sifat tangan, wajah, dan sifat lainnya. Inilah pemikiran mu’athilah (para penolak sifat) pertama kali. Sehingga para ulama mengatakan, “Kullu mu’athil musyabbih”, yaitu setiap orang yang menolak sifat Allah, mereka juga adalah orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk (melakukan tasybih). Karena takut menyerupakan Allah, akhirnya mereka menolak sifat Allah. Jadi siapakah sebenarnya yang musyabbihah atau mujassimah?

lihat

http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/2955-menyanggah-abusalafy-1-keyakinan-yang-benar-mengenai-sifat-allah.html

http://muslim.or.id/aqidah/kaidah-kaidah-penting-untuk-memahami-nama-dan-sifat-allah-3.html

KEDUA : Masalah Mengambil pendapat ulama

Pegangan kita manhaj ahlussunnah/ salaf adalah Al_qur’an dan As-Sunah yang dipahami oleh sahabat radhiallahu ‘anhu. Adapun perkataan ulama setelahnya maka bisa diambil dan ditolak jika bertentangan dengan manhaj salaf.

Karena tidak ada manusia yang maksum dan setiap ulama punya kesalahan / ketergelinciran. maka apakah kita hendak mengumpulkan kesalahan demi kesalahan para ulama ataukah kita hendak mengumpulkan kebenaran dan kebaikan dari para ulama ? Jika kita mengumpulkan kesalahan ulama yang kita anggap sesuai dengan akal kita maka kita akan menjadi ZINDIQ. Perkataanulama yang sesuai hawa nafsu diambil sedangkan perkataan ulama yang tidak sesuai hawa nafsu ditolak, maka akan menjadi rusaklah agama orang tsb.

Contoh : Imam nawawi rahimahulloh tergelincir dalam masalah sifat, meskipun dia adalah jabal (pakar) dalam bidang laniya yang banyak. Mka kita tidak mengambil kesalahanny namun mengambil ilmu lain dari beliau dan tetap mndudukan dan menghormati beliau sebagi ulama besar.

Barangsiapa mengambil rukhsah dari setiap ketergelinciran ulama maka hilang agamanya

Imam adz-Dzahabi rahimahullah menyebutkan tentang biografi Khalifah al-Mu’tadhidh Billah:
bahwa Isma’il al-Qadhi, dia berkisah: Satu kali aku masuk menemui Khalifah. Kemudian beliau menyodorkan kepadaku sebuah kitab. Akupun melihatnya. Ternyata kitab itu berisi kumpulan rukhsah-rukhsah (hukum-hukum yang paling ringan) dari pendapa ulama yang keliru.

Maka aku berkata: “Penulis kitab ini zindiq (orang ingin merusak islam, tapi menampakkan diri sebagai muslim).”

Khalifah menjawab: “Bukankah hadits-hadits yang jadi landasan ini shahih?”

Aku jawab: “Ya, namun ulama yang membolehkan khamr tidak membolehkan mut’ah. Ulama yang membolehkan mut’ah, tak membolehkan nyanyian. Tidaklah seorang alim ulama melainkan punya satu ketergelinciran (pendapat yang keliru). Barangsiapa yang mengambil pendapat yang keliru dari setiap ulama, agamanya akan hilang.”

Kemudian Khalifah memerintahkan kitab itu untuk dibakar.

(Sumber: Siyar A’lam an-Nubala 13/465)

(Bersambung insya Allah)


Kategori

%d blogger menyukai ini: